TUHAN HANYA RANCANGKAN YANG BAIK

jesus-christ2Tidak terasa sudah 16 tahun saya mengikut Tuhan Yesus. Dengan latar belakang keluarga yang sama sekali tidak mengenal TUHAN, hari ini saya sangat bersyukur karena rencana dan rancanganNYA indah bagi hidup saya dan keluarga saya. DIA menjanjikan masa depan yang indah dan penuh dengan harapan (Yeremia 29:11). Oh, saya senang sekali dengan ayat ini.

Kebenaran mengenai Pribadi TUHAN dan siapa saya di mata TUHAN menjaga hidup saya selama bertahun-bertahun sampai hari ini. Bahwa DIA adalah Tuhan yang penuh dengan kasih dan pengampunan.

Sekitar 14 tahun lalu, ketika keluarga saya percaya YESUS, saya sering memberi kesaksian kepada teman-teman saya di persekutuan. Saya katakan, “Saya bersyukur kalau TUHAN mengijinkan keluarga saya mengalami kemiskinan dan penderitaan, karena dengan cara itu, kami jadi mengenal YESUS. Dan bla bla bla..” Teman, berkali-kali saya mengatakan hal tersebut di depan banyak orang percaya. Namun, hari ini saya sadari bahwa apa yang katakan itu SALAH, bahkan menyesatkan. Setelah saya mengerti kebenaran TUHAN, ternyata cara saya bersaksi menggunakan kalimat di atas adalah pembunuh IMAN Kristen nomor satu. Saya menyebutnya sebagai FAITH KILLER NUMBER ONE.

(Baca juga: TUHAN ADALAH BAPA YANG SANGAT BAIK)

Hari ini saya masih sering bersaksi mengenai keluarga saya, namun dengan kata-kata dan kalimat yang sangat berbeda. Saya katakan, “Saya bersyukur TUHAN selalu rancangkan apa yang baik bagi saya dan keluarga saya. Di tengah begitu banyak masalah dan keputusan yang salah di dalam keluarga saya, TUHAN selalu datang menolong dan terus memberi kesempatan bagi keluarga saya untuk mengenalNYA.” Dua cara penyampaian yang berbeda, bukan?

Saya berharap artikel yang akan Anda baca ini dapat membuat Anda semakin mengenal karakter Tuhan yang kita sembah.

Firman Tuhan katakan dalam Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Teman, Firman Tuhan di atas dengan sangat jelas mengatakan bahwa TUHAN tidak merancangkan kecelakaan dan rancanganNYA mendatangkan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan. Artinya, jika terjadi sesuatu yang buruk di dalam hidup kita, itu bukanlah rencana TUHAN, karena DIA tidak pernah rancangkan yang buruk.

Banyak orang mengatakan, “Oh ya, TUHAN memang tidak merancangkan yang buruk, tapi TUHAN mengijinkannya.” Teman, saya heran kenapa orang cenderung menyalahkan TUHAN karena kesalahan dan keputusan yang salah yang mereka perbuat sendiri. Saya berikan contoh. Misalnya, ada orang tua memiliki anak terlahir cacat. Banyak orang kemudian mengatakan TUHAN tidak adil. Kalau mau jujur, coba ditanyakan ke orangtuanya. Apakah mereka suka meminum minuman keras? Apakah mereka melakukan hubungan incest? Apakah mereka menggunakan narkoba? Apakah mereka merokok? Bukankah di setiap bungkus rokok sudah dijelaskan bahwa merokok dapat menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan, dan lain-lain. Pada saat Anda merokok, bukankah artinya Anda menyetujui untuk mengalami risiko yang sudah tertera di bungkus rokok tersebut?

Anak yang lahir cacat bukanlah hukuman TUHAN atas manusia dan bukanlah rencana TUHAN atas manusia. Seperti saya katakan, TUHAN hanya rancangkan yang baik untuk kita semua.

Contoh kedua: Hamil di luar nikah. Banyak yang mengatakan kenapa TUHAN mengijinkan kehamilan ini terjadi. Teman, silakan ditanyakan ke wanita yang bersangkutan apakah dia mengabaikan nasihat orangtuanya? Apakah dia mengabaikan nasihat pembimbing rohaninya? Apakah dia dengan sadar memilih untuk melakukan hubungan di luar nikah sekalipun dia tahu itu salah? Sama seperti contoh pertama, hamil di luar nikah pun bukan rencana TUHAN atas manusia. TUHAN tidak pernah rencanakan itu dalam kehidupan Anda dan saya.

Contoh ketiga: Saya pernah melayani orang yang sakit diabetes dan dia mengatakan dia bersyukur kalau TUHAN memberinya penyakit itu karena lewat penyakit itu dia dapat belajar merendahkan hati. Saya kemudian bertanya kepadanya, untuk apa Yesus memberikan diriNYA di atas kayu salib, disiksa, dihina, dan darahNYA tercurah untuk menanggung segala sakit penyakit kita jika TUHAN juga yang menyebabkan atau mengijinkan kita sakit?

Apakah menurut Anda TUHAN kita mengidap kepribadian ganda? DIA mengatakan bilur-bilur darahNYA telah menyembuhkan kita 2000 tahun lalu (1 Petrus 2:24), namun DIA juga yang mengijinkan sakit penyakit itu muncul dalam hidup kita. Tidak masuk akal, bukan? Ibaratnya kita dipanggil dari gelap kepada terang, tapi ternyata di dalam terang tersebut kita disiksa dan menderita.

Semua contoh di atas yang saya berikan adalah supaya Anda tidak percaya begitu saya dengan pengajaran yang menyesatkan. Mungkin ayat dari Yakobus 1:13-15 bisa membantu menjelaskan, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan MAUT.”

god's LoveTeman, pemikiran yang mengatakan TUHAN merencanakan atau mengijinkan hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita adalah pemikiran yang keliru! YESUS justru datang ke dunia supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10b). Kita tidak dipanggil TUHAN dari gelap untuk miskin, menderita sakit penyakit, dan mati mengenaskan. NO NO NO! BIG NO! Justru Yesus menyelamatkan kita untuk memulihkan dan menolong kita, untuk menyembuhkan segala penyakit kita, untuk mengangkat kita dari keterpurukan, untuk memberkati kita, dan untuk menjadikan kita anak-anak kesayanganNYA. DIA datang untuk memberikan yang terbaik dan hanya yang terbaik bagi anak-anakNYA. Saya harap ini menjadi kabar sukacita untuk kita semua.

Saya teringat dengan kisah ADAM dan HAWA di Taman Eden. Ketika mereka jatuh ke dalam dosa, TUHAN mencari mereka dan kemudian Adam menyalahkan Hawa dan TUHAN. Adam menolak untuk mengambil tanggung jawab bahwa Tuhan sudah memperingati dia agar tidak memakan buah tersebut dan Adam menolak untuk mengakui bahwa keputusan dia memakan buah itu karena keputusannya sendiri. Teman, Adam makan buah tersebut bukan karena Hawa menawarkan, bukan juga karena ular, tapi karena dia memutuskan untuk mengiyakan tawaran Hawa dan melupakan perintah TUHAN kepadanya untuk tidak memakan buah tersebut.

Teman, keputusan Anda adalah tanggung jawab Anda. Jika Anda memutuskan sesuatu berdasarkan Firman Tuhan, hasilnya akan sesuai dengan yang Firman Tuhan janjikan. Berlaku juga sebaliknya.

Saya tidak menulis artikel ini untuk menghakimi atau menyudutkan Anda. Sama sekali bukan itu tujuannya. Saya mengatakan ini karena ada kabar gembira untuk setiap kita yang telah membuat keputusan-keputusan yang salah, yaitu Tuhan sanggup memulihkan segala sesuatu yang salah. DIA sanggup jadikan segalanya baru. Tidak ada kata terlambat di dalam TUHAN dan janji-janjiNYA tidak pernah gagal di dalam hidup kita.

(Baca juga: ANAK KESAYANGAN TUHAN)

Saya akan tutup artikel ini dengan sebuah cerita. Ada seorang anak yang cekcok dengan orangtuanya dan kabur dari rumah dengan sepeda motornya. Anak ini mengebut dan melanggar lampu merah. Di sebuah perempatan dia ditabrak oleh mobil dan kakinya patah dan dia harus masuk ke rumah sakit. Selama beberapa hari di rumah sakit, dia dikunjungi oleh pelayan-pelayan TUHAN dan kemudian anak ini bertobat dan memutuskan untuk sekolah ALKITAB dan menjadi hamba TUHAN. Ketika dia menjadi hamba TUHAN, dia bersaksi, “Untung dulu TUHAN ijinkan terjadi kecelakaan di dalam hidup saya, kalau tidak, saya tidak pernah menjadi hamba TUHAN seperti saat ini.” Seberapa sering kita mendengar anak-anak TUHAN bersaksi seperti ini. Banyak orang mengira TUHAN yang ijinkan kecelakaan, kemiskinan, dan penderitaan.

Perhatikan bagan di bawah ini baik-baik.

Slide8 copy

Tuhan hanya merancangkan yang terbaik untuk Anda dan saya, lihat garis hidup Anda dari awal sampai akhir, indah. Mazmur 139:16 katakan, “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” Saya percaya hari-hari yang Tuhan bentuk adalah hari-hari yang indah.

Namun dalam perjalanan hidup kita, kita sering memutuskan banyak hal yang salah dan tidak sesuai dengan Firman TUHAN. Kita sering gagal dan lakukan kesalahan. Kita mengalami sesuatu yang buruk akibat dari keputusan-keputusan kita sendiri. Teman, di saat kita berbuat sesuatu yang salah, DIA setia ada di sana menopang hidup kita (Mazmur 37:24). DIA mengangkat kita kembali. DIA pulihkan lagi hidup kita. DIA membawa kita kembali kepada rencanaNYA yang indah. Dan sekalipun kita kembali memutuskan sesuatu yang salah lagi, TUHAN tetap setia. Dia tidak pernah meninggalkan kita (Ibrani 13:5), kasihNYA yang besar selalu mengejar kita untuk membawa kita kembali kepada rencanaNYA yang luar biasa. (penulis: @mistermuryadi)

========================================================================

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

Advertisements

11 thoughts on “TUHAN HANYA RANCANGKAN YANG BAIK

  1. Puji Tuhan
    mungkin baru sedikit orang indonesia yg mempunyai pewahyuan firman tentang kebaikan Tuhan seperti anda, dan saya dukung itu…
    seharusnya orang percaya diindonesia lebih lagi mengenal kasih karunia Tuhan seperti ini…

    mungkin ini sedikit masukan yg saya bisa bagikan bagi teman2 yg masih meragukan kebaikan Tuhan…
    saya percaya, untuk melihat seorang manusia yg melakukan 100% kehendak Allah adalah ketika Yesus turun menjadi seorang manusia…
    Yesus melakukan 100% kehendak Allah, jadi jika anda ingin melihat 100% kehendak Allah, lihat bagaimana Yesus hidup dibumi…
    1. Yesus menyembuhkan SEMUA orang yg sakit yg dibawa kepadaNya (matius 8:16, kisah 10:38)
    jadi, jika Yesus berkehendak semua orang sakit sembuh maka begitupun juga Tuhan…
    Allah menginginkan semua orang sehat…
    sekali lagi saya katakan, Yesus tidak datang memberikan sakit penyakit tapi menyembuhkan semua orang sakit…
    bahkan Yesus sendiri menyuruh murid2Nya untuk menyembuhkan orang sakit matius 10:7-8
    2. Yesus memberi makan 5000 orang yang KELAPARAN…
    jadi, Yesus menghilangkan kelaparan, bukan pemberi kelaparan!!!
    jika Yesus ingin manusia tidak kelaparan, maka Allah pun demikian…
    coba teman2 sekalian melihat kembali apa yg Yesus lakukan dibumi…

    dan ini mungkin tambahan terakhir tentang kebaikan Allah…
    Allah itu kasih berarti kasih itu Allah?
    benarkan? hehehe
    sekarang coba liat di 1korintus 13:4-7
    inilah sifat2 Allah
    jika kasih itu sabar, berarti Allah itu sabar, jika kasih itu murah hati maka Allah itu murah hati, jika kasih itu TIDAK PEMARAH, berarti Allah itu TIDAK PEMARAH…
    masih banyak lagi kebenaran firman yg dapat membuktikan Allah itu baik & iblis itu jahat, Allah itu pemberi seluruh kebaikan & iblis itu pemberi seluruh keburukan…

    dan bagi admin, aku suka nama websitenya (hagah)… hehehe

    • Menurut saya, bukankah malah bagus jika kita melihat bahwa Tuhan tidak hanya memilih orang yang sempurna untuk menjadi pelayanNYA?

      Dan, saya percaya bukan rencana Tuhan untuk membuat orang-orang tersebut cacat. Tuhan justru ingin mereka sembuh dan menjadi berkat bagi banyak orang.

  2. Terimakasih atas artikelnya, telah membahas salah satu pertanyaan terbesar manusia.

    Sesuatu yang mungkin saya kurang mengerti adalah mengenai penderitaan atau kesusahan yang bukan daripada Allah. Saya setuju sekali, dari artikel Bapak bahwa Tuhan tidak akan memberikan yang buruk. Memang suatu yang aneh sekali, jika Allah itu baik, mengapa ada hal-hal buruk terjadi dalam kehidupan kita. Jika Allah Maha Kuasa, mengapa Tuhan tidak mencegah hal itu terjadi?

    Namun, Mengapa banyak misionaris mati dalam pelayanan karena sakit penyakit. Mereka yang memberitakan Yesus yang mati bagi dosa, namun mati pun sakit. Mengapa Paulus mengalami banyak penderitaan dalam pelayanan bahkan mati martir?

    JIka kematian Tuhan Yesus sempurna, dosa pun lunas ditanggungNya, mengapa untuk kesehatan pun kematianNya tidak sempurna, sehingga masih ada yang sakit? Bukankah “sakit penyakit” juga ditanggungNya. Mengapa masih ada kanker yang penyebabnya 90% genetik? Bukankah seharusnya kutuk sudah dipatahkan?

    Mengapa hidup banyak kesulitan? Apakah salah saya, juga salah orang-orang di atas saya, generasi saya sebelumnya? Jika mau diusut, tidak ada seorang pun yang benar dan luput dari kesalahan. Sedihnya saya harus menanggung kesalahan orangtua saya, dan mungkin akan ditanggung anak saya kelak.

    Jika semua yang terjadi dalam hidup kita adalah sebab-akibat? Mengapa tampaknya semua tidak adil? Ada orang lebih jahat, hidup lebih salah, namun akibatnya (secara fisik dan materi) lebih baik?

    Mengapa ada orang hidup tidak beres, sampai akhir mati baik-baik, hidup lebih kaya, hidup lebih sehat? (tidak peduli mereka mati masuk neraka). Sedangkan hamba Tuhan saya yang begitu saleh, sudah melayani setia meninggal karena kanker? Ah, hidup ini misteri. Saya hanya percaya segala sesuatu mendatangkan kebaikan dan Dia tidak pernah memberikan hal buruk.

  3. Hi ko Zaldy,
    Terima kasih buat renungannya.
    Ko Zaldy blg, Tuhan tidak prnh membiarkan hal2 buruk terjadi dlm kehidupan kita. Sedikit pertanyaan, bgaimana dng cerita Ayub yang dicobai Iblis? Bukankah itu disebabkan krn Tuhan “mengijinkan” hal itu terjadi menimpa Ayub? Mgp Tuhan membiarkan iblis menguji ayub?
    Mohon pencerahannya. Trims.

  4. Wah, thanks banget ya untuk komennya dan sudah meluruskan bagi pembaca yang mungkin salah mengerti. Beberapa poin sudah ditambahkan supaya tidak terjadi kerancuan seperti yang dituliskan di atas.

    Sedikit tambahan.

    Inti tulisan di atas adalah bukan TUHAN yang menginginkan seseorang mengalami cacat atau hamil di luar nikah. Kita sering menyalahkan TUHAN atas keputusan salah yang kita ambil. Poinnya seperti itu. Mungkin ada pertanyaan “Jadi ini semua salah saya?” Yes, that’s the point.

    Mungkin ada juga yang berkata “Ah,TUHAN tidak memberi tahu saya kok. DIA tidak memberitahu saya kalau itu salah.” Mmmh, ALKITAB sudah ada sejak kita semua yang hidup hari ini belum lahir dan kalau pun kita tidak membaca ALKITAB, Tuhan sendiri akan menyatakan kepada kita semua untuk menghindari hal-hal buruk terjadi di dalam hidup kita. Ayatnya di Rom 1:19.

    Dan orang mengalami cacat atau hamil di luar nikah atau kondisi buruk lainnya, bukanlah hukuman TUHAN atas manusia karena manusia melanggar perintah TUHAN. Karena semua dosa, hukuman, dan kutuk yang harusnya kita tanggung sudah ditanggung oleh YESUS (Gal 3:13). Kalau begitu, kenapa kita masih mengalami hal-hal buruk dalam hidup kita? Silakan dicek kembali keputusan2 yang pernah kita ambil dalam hidup kita dan berapa ‘lampu merah’ yang sudah kita abaikan. Semua yang buruk adalah akibat keputusan-keputusan kita yang salah. Bukan karena murka TUHAN, bukan karena hukuman TUHAN.

    Sekali lagi ini bukan untuk men-judge siapa pun, tapi justru supaya kita menemukan jalan keluar yang benar dan hidup kita bisa dipulihkan.

    Mungkin ayat ini bisa membantu menjelaskan
    Yak 1:13* Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. 14* Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. 15* Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan MAUT.

    Anyway, thanks untuk komennya. Sangat membangun dan memberkati.

    • Halo,
      Artikel yg menarik krn saya baru saja mulai memikirkannya td mlam. 😀 saya setuju dengan pandangan bahwa manusia juga harus hidup dgn bertanggung jawab. tapi omong2 bagaimana tanggapan Anda ttg ayat ini?

      Yohanes 9:1-3
      Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya.
      Murid- murid- Nya bertanya kepada- Nya: ” Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: ” Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan- pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.

      Dan lagi, bagaimana Anda tahu bahwa apa yg Tuhan rancangan “selalu baik” buat Anda? Seberapa Anda yakin ttg definisi “kebaikan” itu sendiri? Atau apakah kita sebagai manusia benar2 tahu ttg “kebaikan” dan “keburukan” sbuah kehidupan? 🙂
      demi kesembuhan sang anak, orang tua harus memberi obat2 yg pahit dan melakukan sejumlah terapi yg tdk menyenangkan utk anaknya. Demi masa depan anak, orang tua harus memberi dia masuk dlm sebuah proses belajar yg mungkin harus menyita waktu senang2 anak bersama dgn teman2nya. Demi perkembangan murid, sang guru harus memberikan ujian2/tugas yg sulit yg mungkin terasa tdk nyaman.
      Lalu Bagaimana Anda memandang mereka yg harus lahir di bawah kolong jembatan, bagaimana dgn mereka yg lahir namun tidak melihat orang tua, apakah sebuah kesalahan mengapa mereka lahir demikian? Apakah itu bukan kehendak Tuhan?
      Bagaimana Anda memandang diri Anda yg lahir dalam keluarga yg tidak mengenal Allah sblmnya? Apakah itu dapat dikatakan buruk? Lalu yg “baik” itu harusnya bagaimana?

      Salam, 🙂

      • Terima kasih sebelumnya sudah memberikan komentar mengenai artikel ini. Satu hal yang saya selalu pegang dalam hidup saya bahwa TUHAN hanya merancangkan yang baik untuk semua anak2NYA. Tuhan dan Iblis itu tidak berteman. Mereka tidak bermain jadi polisi baik dan polisi jahat. Tuhan dan Iblis bertolakbelakang sama sekali. Saya berharap kita bisa pegang pernyataan ini terlebih dahulu.

        Banyak orang menghubungkan dengan kisah AYUB dan kemudian mengatakan bahwa Tuhan dan iblis itu memiliki hubungan dan saling membantu satu dengan yang lain untuk menguji manusia. Jika dilihat sepintas, kisah Ayub terkesan seperti itu. Tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi. Dan sama sekali jauh dari itu. Mungkin nanti saya akan buatkan satu tulisan khusus mengenai AYUB. Tapi intinya, Tuhan dan iblis bukan sobat lama yang saling membantu satu sama lain.

        Kita bahas sedikit mengenai pertanyaan kamu di Yoh 9:1-3. Di ayat ini Yesus melihat seseorang yang buta sejak lahir. Di terjemahan bahasa Yunani-nya dikatakan orang ini buta akibat generasi-generasi sebelumnya (entah ayah, kakek, buyut, atau moyangnya). Tidak dijelaskan secara spesifik dalam cerita ini apa yang dimaksudkan dengan perkataan itu.

        Dan kemudian, kembali ke ayat di atas, murid2nya bertanya apakah ini karena dosa orang tersebut atau dosa orangtuanya. Dan Yesus katakan “bukan.”

        Banyak sekali fakta penting dalam peristiwa ini. Saya coba jelaskan satu per satu ya.

        Yesus berkata DIA datang untuk menanggung dosa manusia. Jadi benar menurut cerita ini, bagi Yesus bukan dosa yang menyebabkan seseorang dihukum Tuhan. Menurut pandangan bangsa Israel pada zaman itu yang mengikuti Taurat Musa, perbuatan dosa selalu mendatangkan hukuman TUHAN atas manusia. Intinya, murid-murid Yesus bertanya “Apakah orang ini buta akibat dosa?” Pertanyaan ini sama artinya dengan “Apakah orang ini menjadi buta karena dihukum Tuhan?” Kurang lebih seperti itu. Dan Puji TUHAN, Yesus katakan “BUKAN”. Apa yang terjadi terhadap orang yang buta ini adalah akibat apa yang pernah terjadi di generasi sebelum dia, tidak diceritakan secara spesifik, tapi yang jelas bukan karena hukuman TUHAN.

        Justru saat itu YESUS menyatakan bahwa pekerjaan2 Allah harus dinyatakan. Artinya harus ada yang diluruskan tentang pemikiran murid-muridNYA dan pemikiran kebanyakan orang Israel pada zaman itu. Harus diluruskan bahwa bukan TUHAN yang menyebabkan orang tersebut buta dan hal itu bukanlah hukuman dari TUHAN, tapi akibat dari apa yang pernah dilakukan oleh generasi sebelum dia.

        Semoga bisa menjawab pertanyaan Anda. Saya akan lanjutkan dengan jawaban untuk pertanyaan berikutnya.

        Tuhan memang mendidik kita dan mengkoreksi hidup kita jika kita menyimpang dari jalan yang salah. Namun cara TUHAN mendidik kita bukan dengan sakit penyakit atau kemiskinan. Karena dua hal tersebut ditebus oleh YESUS saat DIA naik ke atas kayu salib. Jadi bukan TUHAN yang menyebabkan seseorang sakit atau miskin. Seperti yang saya bahas di dalam artikel di atas.

        Saya percaya TUHAN mendidik kita dengan Firman Tuhan sesuai dengan apa yang tertulis dalam 2 Tim 3:16.

        Sebagai orangtua, apakah mungkin jika anak kita nakal atau bandel kemudian sebagai hukumannya kita suntik dia dengan virus AIDS? Apakah pada saat kita melihat anak kita sulit dikasih tahu kemudian kita hajar anak kita sampai kakinya harus diamputasi? Saya rasa tidak ada orang tua yang sayang terhadap anaknya yang melakukan hal tersebut.

        Saya yakin hal yang sama yang TUHAN ajarkan kepada kita. Ketika DIA melihat kita berjalan ke arah yang salah, DIA akan mendidik kita dengan FirmanNYA, mungkin dengan cara yang keras atau juga dengan cara yang lembut, mungkin dengan cara yang membuat kita tidak nyaman atau kita tidak suka. Tapi yang jelas bukan dengan hal-hal yang akan mencelakai kita.

        Ciri-ciri didikan TUHAN itu sederhana, pasti mendatangkan buah kebenaran, kebaikan, damai, dan sukacita.

        Jadi tidak benar jika TUHAN memberikan sakit penyakit atau kecelakaan untuk mengajar atau menghajar kita. Misalnya sakit kanker stadium 4. Apakah kita akan mendapatkan kebaikan, damai, sukacita pada saat mengalami kanker stadium 4? Saya rasa yang ada malah ketakutan dan kekuatiran. Jadi jelas itu bukan dari TUHAN.

        Ada orang yang saya layani mengatakan dengan kekeuh bahwa penyakit diabetes yang dia derita itu adlaah dari TUHAN dan TUHAN sedang mengajarkan dia rendah hati. Tapi hari-hari yang dia jalani saat ada penyakit itu bukan mendatangkan damai, sukacita, dan kebaikan, tapi keluhan, ketakutan, dan kekuatiran. Menurut saya jelas itu bukan dari TUHAN.

        Kita lanjut ke pertanyaan berikutnya.

        Mengenai anak2 yang lahir di kolong jembatang. Seperti artikel saya di atas. Saya yakin dan percaya itu bukan kehendak TUHAN, bukan keinginan TUHAN, dan sama sekali bukan rencana TUHAN. Lalu kenapa mereka tinggal di situ? Pertanyaan ini paling tepat jika Anda tanyakan ke orangtua anak2 tersebut. Mereka pasti punya jawaban yang akurat. Dan sekali lagi, itu bukan karena TUHAN.

        Yang terakhir.
        Bagaimana cara saya memandang kebaikan TUHAN? Hari ini saya melhat kebaikan TUHAN buat hidup saya itu 100% baik. Dari DIA tidak ada kejahatan sama sekali. DIA hanya rancangkan yang terbaik bagi hidup saya. Bagaimana saya tahu TUHAN itu selalu baik? Sederhana, saya memilih untuk percaya kepada apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan, bukan oleh apa yang mata saya lihat, bukan apa yang orang lain katakan, atau oleh apa yang perasaan saya katakan.

        Hanya ada satu kata bagi saya untuk menggambarkan TUHAN, yaitu TUHAN adalah KASIH (1Yoh4:8 dan 16). Kata-kata ini telrihat sederhana, bahkan saking sederhananya, banyak orang yang melewatkan makna dari ayat ini. Karena TUHAN itu kasih, maka hal yang selalu saya temui ketika berjumpa denganNYA adalah KASIHNYA dan hanya KASIHNYA.

        Masalah saya lahir di keluarga yang tidak mengenal TUHAN bagi saya itu bukan rencana atau rancangan TUHAN. Saya tahu seperti apa keluarga saya hidup sebelum seperti saat ini mereka mengenal TUHAN.

        Saya lahir dari keluarga yang sama sekali tidak peduli TUHAN, yang terpenting hanya uang, uang, dan uang. Tidak terhitung berapa banyak keputusan yang orangtua saya lakukan untuk mengabaikan TUHAN dalam hidup mereka. Bagaimana saya bisa tahu? Karena setelah mereka bertobat, mereka bercerita kepada saya mengenai hal itu. Bagaimana mereka mengabaikan TUHAN dan ingin melakukan segalanya dengan cara mereka sendiri dan kekuatan mereka sendiri.

        Tapi hari ini saya bersyukur, TUHAN tetap setia sampai hari ini dan DIA terus menopang keluarga saya sekalipun ada begitu banyak keputusan yang salah yang sudah kami lakukan.

        Saya harap jawaban ini bisa membantu kamu.

  5. hi Zaldy,

    nice testimony and teaching. I pretty much agree to it. It’s a good article for you pick a critical issue in a Christian life, which looks insignificant but on the other hand affects the way we come to know God and his ways, that we often don’t notice that HOW we say things is actually a mirror of our own understanding of the issue.

    However, I have a couple of feedback I want to point out from your article: “Saya berikan contoh. Misalnya anak yang terlahir cacat. Banyak orang kemudian mengatakan TUHAN tidak adil. Kalau mau jujur, coba ditanyakan ke orangtuanya. Sudah berapa kebenaran dan suara TUHAN yang mereka langgar dan terus langgar sehingga menyebabkan anaknya lahir dalam keadaan cacat.”

    First, I want to point out to your first example above. By relating the case of a deformed baby since birth to how the parents disobey God, you implicitly say that the baby being born deformed is some kind of a punishment from God. While this might be the case sometimes, it isn’t ALWAYS the case. Some obedient parents might as well get this “misfortune” and we can’t simply say that they have done something wrong. On the other hand, if you tried to say this in terms of, for example, a mother keeps smoking or consuming a lot of chemical-contained products during pregnancy which leads to this misborn, that would make more sense and could be considered as well as a misconduct or disobedience. But unfortunately you didn’t specify this, which might lead to another misconception I mentioned earlier.

    Second example, the premarital pregnancy.
    “Contoh kedua: Hamil di luar nikah. Banyak yang mengatakan kenapa TUHAN mengijinkan hal ini terjadi. Teman, silakan ditanyakan ke wanita yang bersangkutan sudah berapa banyak kebenaran dan suara TUHAN yang dia langgar sehingga menyebabkan dia hamil di luar nikah. Semua contoh di atas yang saya berikan adalah bukti bahwa bukan TUHAN yang ijinkan hal-hal tersebut terjadi di dalam hidup kita, tapi semua terjadi karena keputusan-keputusan kita yang salah dan tidak sesuai dengan Firman Tuhan.”

    I don’t see the point that you include this example. I mean, I totally understand your point here. However, it would be better if you rephrase the hypothetical question of the public anonymous you mentioned as “banyak yang mengatakan kenapa TUHAN mengijinkan hal ini terjadi” by specifying what “hal ini” is, as it might refer to 2 things: (1) the pregnancy or (2) the so-called devoted Christian having premarital intercourse that leads to pregnancy. Those are 2 different things. As for the first (the pregnancy), we all get the understanding ever since we were in Biology class (I don’t have to explain further about this). While for the second, perhaps that’s what you wanted to emphasize more in this case.

    My point is, please be extra careful as well in giving cases as examples. I don’t think those 2 examples you mentioned fit the point you’re trying to say. Or even if they are meant to fit, they needed to be rephrased or perhaps specified in order to avoid another misleading conception about how we respond to all this “God’s will” issue, which I’m sure you have wanted to go against through this article. The problematical issue concerning examples is, although it is a minor part of an article that supports a thesis statement, it can be very powerful if it’s written concisely and in the right context, or it can be misleading when it’s not clearly expressed (vague).

    Keep up the good work!! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s