“YANG SAYA CINTAI BERBEDA KEYAKINAN”

Bahan renungan:

Efesus 4:17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.

Hal paling banyak ditanyakan oleh anak-anak muda kepada saya mengenai pasangan adalah masalah berbeda keyakinan. Sebelum kita bahas lebih lanjut, mungkin Anda perlu mengerti bahwa tidak ada area abu-abu di dalam Firman Tuhan. Hanya ada hitam dan putih. Mungkin supaya Anda lebih mudah mengerti apa yang saya maksud, saya ilustrasikan dengan Sorga dan Neraka. Anda tidak bisa berdiri di antara Sorga dan Neraka. Tidak ada pilihan C dalam hal ini. Hanya ada A atau B, Sorga atau Neraka, Hidup Dalam Kebenaran atau Di Luar Kebenaran, Hidup Di Dalam Kristus atau Di Luar Kristus. Saya sangat percaya 99% kebenaran bukanlah sebuah kebenaran, tidak peduli seberapa menarik cara menyampaikannya. Saya rasa Anda setuju dengan saya dalam hal ini. Nah, sekarang mari kita lanjutkan.

Suatu hari seorang teman saya datang dan meminta nasihat mengenai hubungannya dengan seorang pria muslim. Teman saya ini adalah seorang Kristen. Mereka sedang merencanakan pernikahannya dalam beberapa bulan ke depan. Hubungan mereka sudah berjalan sekitar 4-5 tahun. Perlu Anda ketahui bahwa Indonesia tidak mengijinkan pernikahan berbeda keyakinan, setidaknya di atas kertas. Meski begitu, tidak sedikit orang yang berbeda keyakinan menikah di negara tercinta kita ini. Salah satu caranya adalah salah satu orang mesti rela diubah keyakinannya untuk ditulis di akte pernikahan. Jadi, misalnya Anda Kristen dan pasangan Anda Muslim, salah satu harus mengalah demi kepentingan administrasi. Memang embel-embelnya adalah perpindahan keyakinan itu hanya untuk memudahkan pembuatan surat pernikahan dan setelah menikah masing-masing dapat kembali menjalankan keyakinanannya.

Kembali ke kasus teman saya. Dia bertanya kepada saya apa yang harus dia perbuat. Teman saya menyatakan bahwa dia begitu mencintai sang pria. “Urusan “pindah agama” ini sifatnya hanya sementara saja, hanya untuk keperluan surat pernikahan,” begitu jelasnya. Lalu saya bertanya kepadanya, “Apa yang akan pacar kamu lakukan kalau kamu tidak mau menikah secara Islam?” Teman saya menjawab, “Dia tidak mau melanjutkan lagi hubungan kami.” Sejenak saya tertegun mendengar jawaban itu, sambil dalam hati saya bertanya, “TUHAN, nasihat apa yang harus saya berikan kepada teman saya ini?” Beberapa saat kemudian, saya menjawab apa yang Tuhan taruh di hati saya, saya katakan, “Kamu tahu bahwa YESUS itu sangat mengasihi kamu, DIA mati untuk kamu, dan DIA adalah satu-satunya Juruselamat dan Tuhan yang hidup?” Teman saya mengangguk mengiyakan. Lalu saya katakan, “Jika calon suami kamu begitu memegang teguh apa yang dia yakini, bahkan dia rela kehilangan kamu daripada meninggalkan keyakinannya, kenapa kamu rela meninggalkan TUHAN yang hidup demi pria seperti itu?” Kini gantian teman saya tertegun dan mengerenyitkan dahi. Selang beberapa waktu, akhirnya teman saya tetap memutuskan menikahi sang pria dan dia rela keyakinannya “berpindah” sebagai Muslim di surat pernikahan mereka. Jangan Anda tanya kepada saya bagaimana hubungan pernikahan mereka saat ini. Saya yakin Anda bisa menduganya setelah membaca penjelasan saya di bawah.

Teman, orang di luar sana yang mengatakan “Mudah-mudahan bisa masuk Sorga” saja dapat memegang keyakinannya begitu kuat, bahkan rela kehilangan orang yang dicintai demi keyakinannya itu, kenapa kita, orang-orang yang telah ditebus dengan darah YESUS yang mahal, yang dikasihi lebih dari segalanya oleh DIA, yang telah mendapatkan jaminan masuk Kerajaan Sorga, rela meninggalkan YESUS hanya demi CINTA. Saya tidak bermaksud membuat Anda tertuduh, saya hanya ingin memberikan Anda pencerahan supaya Anda dapat membuat keputusan yang bijak sebelum Anda melangkah lebih jauh.

Saya sangat percaya ketika Firman Tuhan katakan dalam 2 Korintus 6:14 bahwa gelap dan terang tidak dapat bersatu, artinya apa pun usaha yang Anda lakukan, Anda akan selalu bertemu dengan kenyataan bahwa gelap dan terang tidak dapat bersatu. Ada pasangan-pasangan yang setelah membaca renungan ini mungkin tetap memutuskan untuk jalan terus dan merasa yakin “Saya pasti bisa, hubungan saya dan pasangan saya selama ini tidak ada masalah,” saya ingin katakan, mungkin setelah berjalan 5 tahun, 10 tahun, 25, tahun, atau bahkan 50 tahun, Anda pasti tetap akan bertemu dengan satu kenyataan seperti yang Firman Tuhan katakan di atas bahwa gelap dan terang tidak dapat bersatu. (penulis: @mistermuryadi)

Advertisements

5 thoughts on ““YANG SAYA CINTAI BERBEDA KEYAKINAN”

  1. Dear Hagahtoday.com

    Singkat cerita saya berasal dari keluarga non-kristen (Buddhist), semua keluarga saya begitu menjunjung tinggi nilai dan norma agama buddhist, termasuk saya sebelum mengenal Tuhan, ketika saya duduk di bangku kelas SMP3 tahun 2010, saya mengenal Yesus dan pergi ke gereja,orang tua saya begitu menentang akan keputusan saya, sampai hari ini masih seperti itu .
    singkat cerita tahun 2012 saya dibaptis di salah satau gereja di kota saya secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua saya, sampai saat ini saya masih berpegang teguh dengan iman saya terhadap Tuhan.

    Disisi lain, tahun 2016 saya di hadapi dengan pergumulan yang sangat besar di hidup saya.
    saya punya pacar (non-kristen) tapi kenal Yesus dan sempat ingin pindah ke kristen sebelum kita pacaran, saya sudah kenal dia sejak SMP sebagai teman, ketika dia pergi kuliah di USA dia mulai kenal Yesus disana dan berencana untuk pindah ke kristen, tanpa dorongan atau paksaan dri saya. Tetapi orang tua pacar saya tidak merestui hubungan kami, mereka tidak setuju kalau kita pindah agama dan menikah, intinya harus 1 agama yaitu cuma buddhist, agama didalam keluarga pacara saya 10x lipat lebih kental dari agama yang ad di family aku. Terutama mamanya, beliau merasa bahwa aku mempengaruhi anaknya untuk pindah ke kristen, dan mamanya juga merasa saya anak yg tidak baik, karena berani dan ngotot pindah k kristen padahal orang tua sya menentang.

    Apa yang harus kami lakukan? Saat ini kami berdua dipojokkan dengan pilihan yang berat.
    Apa kan Tuhan melihat status agama hambaNya?

    • Shalom Lily. Salam kenal sebelumnya.

      Pertama, Tuhan tidak pernah melihat status agama, yang Dia lihat adalah iman. Iman artinya percaya kepada Yesus dan hidup sesuai apa yang Yesus katakan. Jadi, apakah kalian berdua percaya kepada Yesus? Firman Tuhan mengajarkan supaya kita mencari pasangan yang sepadan (artinya memiliki iman yang sama, yaitu iman kepada Yesus).

      Zaman sekarang banyak orang Kristen KTP saja. Percuma juga kalau sama-sama Kristen, tapi tidak beriman atau tidak percaya kepada Yesus. Intinya, cari orang yang cinta Yesus. Kalau dia cinta Yesus, dia pasti cinta kamu. Jadi, masalahnya bukan Kristen atau tidak Kristen, tapi percaya kepada Yesus atau tidak.

      Nah, jika kalian berdua sudah percaya Yesus, jangan takut dengan masalah orang tua. Orang tua kalian sebenarnya hanya inginkan yang terbaik untuk kalian, tetapi mungkin “kacamata” yang mereka gunakan berbeda dengan kalian.

      Firman Tuhan ajarkan kita untuk mengasihi orang lain. Jadi, lakukanlah kasih kepada orang tua Anda, supaya mereka dapat melihat Yesus hidup di dalam hidup kalian. Supaya mereka tahu ketika kalian percaya kepada Yesus, sikap kalian menanggapi masalah ini berbeda.

      Saya percaya kasih dapat mengubah hati orang tua kalian yang keras. Di tengah situasi seperti itu, jangan malah mendebat atau membuat konflik atau gap dengan orang tua, melainkan kasihi mereka.

      Tuhan Yesus memberkati.

  2. Dear Hagahtoday.com

    Singkat cerita saya berasal dari keluarga non-kristen (Buddhist), semua keluarga saya begitu menjunjung tinggi nilai dan norma agama buddhist, termasuk saya sebelum mengenal Tuhan, ketika saya duduk di bangku kelas SMP3 tahun 2010, saya mengenal Yesus dan pergi ke gereja,orang tua saya begitu menentang akan keputusan saya, sampai hari ini masih seperti itu .
    singkat cerita tahun 2012 saya dibaptis di salah satau gereja di kota saya secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua saya, sampai saat ini saya masih berpegang teguh dengan iman saya terhadap Tuhan.

    Disisi lain, tahun 2016 saya di hadapi dengan pergumulan yang sangat besar di hidup saya.
    saya punya pacar (non-kristen) tapi kenal Yesus dan sempat ingin pindah ke kristen sebelum kita pacaran, saya sudah kenal dia sejak SMP sebagai teman, ketika dia pergi kuliah di USA dia mulai kenal Yesus disana dan berencana untuk pindah ke kristen, tanpa dorongan atau paksaan dri saya. Tetapi orang tua pacar saya tidak merestui hubungan kami, mereka tidak setuju kalau kita pindah agama dan menikah, intinya harus 1 agama yaitu cuma buddhist, agama didalam keluarga pacara saya 10x lipat lebih kental dari agama yang ad di family aku. Terutama mamanya, beliau merasa bahwa aku mempengaruhi anaknya untuk pindah ke kristen, dan mamanya juga merasa saya anak yg tidak baik, karena berani dan ngotot pindah k kristen padahal orang tua sya menentang.

    Apa yang harus kami lakukan? Saat ini kami berdua dipojokkan dengan pilihan yang berat.
    Apa kan Tuhan melihat status agama hambaNya?

  3. Pingback: Cintailah orang yang mencintai Tuhan Yesus, Allah yang kamu kenal! | priskilasaragih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s