TEOLOGI MENYESATKAN: “TUHAN YANG MEMBERI, TUHAN YANG MENGAMBIL”

Bahan renungan:

Ayub 1:21b “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Kalimat di atas pasti tidak asing bagi Anda, khususnya ketika Anda berada ke sebuah ibadah pemakaman. Banyak orang percaya mengutipnya setiap kali mengalami kehilangan orang-orang atau sesuatu yang mereka kasihi.

Dan parahnya, akibat dari itu semua, banyak orang mempercayai bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mengambil. Sejauh yang dimaksud adalah Tuhan mengambil semua yang buruk dari hidup kita, saya setuju. Tetapi jika yang dimaksud adalah Tuhan mengambil sesuatu yang baik dari kita, atau dengan kata lain, DIA memberikan yang buruk kepada kita, saya tidak setuju. Ironisnya, definisi kedua yang paling banyak diyakini.

Padahal, jika Anda mempelajari nama-nama Tuhan, seperti Jehovah Jireh, El-Shaddai, Jehovah Rapha, Jehovah Tsidkenu, Jehovah Shalom, dan lain sebagainya, tidak ada satu pun nama Tuhan yang diartikan mengambil. Semuanya adalah tentang Tuhan yang memberi, menyembuhkan, menyediakan, memulihkan, memelihara, menuntun, dan lain sebagainya.

Baiklah, kalimat di atas dicetuskan oleh Ayub ribuan tahun lalu, dan dipopulerkan oleh hamba-hamba Tuhan di ibadah-ibadah pemakaman. Karena kalimat ini seperti memiliki rima di telinga, akhirnya dengan mudah melekat di hati banyak orang.

Bagaimana dengan kebenarannya? Apakah benar Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil?

Anda perlu tahu bahwa ketika melontarkan kalimat ini, kondisi Ayub sedang depresi dan yang paling fatal, saat itu Ayub hanya mengenal Tuhan dari kata orang saja. Anda perlu membalik halaman Alkitab Anda ke Ayub 42:5-6. Di sana dituliskan Ayub merevisi perkataannya, dikatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku MENCABUT perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Teman, Ayub sudah menyesali opini-opininya yang salah tentang Tuhan, termasuk perkataannya mengenai, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil.” Di akhir cerita, Ayub menyadari bahwa Tuhan bukanlah Tuhan yang mengambil, melainkan Tuhan yang memberi. Dan, kita tahu kisah Ayub berakhir dnegan happy ending, kehidupannya dipulihkan.

Pertanyaan saya, sementara Ayub saja sudah tersadar akan kekeliruan perkataannya, kenapa banyak di antara kita masih berpikir Tuhan yang mengambil? Bukankah Tuhan telah membuktikan bahwa DIA Maha Pemberi dengan cara memberikan AnakNYA yang tunggal? Jika demikian, bagaimana mungkin kita masih mengatakan bahwa DIA adalah Tuhan yang mengambil? (penulis: @mistermuryadi)

8 comments

  1. Mohon maaf sebelumnya, karna TUHAN berkuasa atas maut, TUHAN yang memberi kehidupan, TUHAN pula yang dapat mengambilnya. karna TUHAN Maha Kuasa, Maka TUHAN pasti tahu segalanya, apapun yang terjadi dibumi dan alam semesta ini pastilah TUHAN mengetahuinya, saya kurang sependapat dengan pemikiran demikian karna jelas semua cobaan yang Ayub alami itu lewat ijinnya TUHAN. Saya pribadi memiliki pemahaman bahwa Hidup dan Mati adalah milik TUHAN, tidak ada satu ciptaanpun yang mengetahui akan hal itu.

    1. Shalom. Salam kenal. Saya pun sependapat dengan Anda sejauh mengatakan Tuhan berkuasa memberi kehidupan dan mengambil kehidupan. Hanya saja menurut Yohanes 10:10 Dia telah memutuskan hanya untuk memberi kehidupan.

      Saya tidak mengatakan bahwa kematian di luar kuasa Tuhan. Beberapa contoh kematian di Alkitab, seperti yang terjadi pada Henokh, Adam, Musa, Abraham, terjadi atas kehendak Tuhan. Mereka menjadi tua dan kemudian meninggal. Tentu saja itu terjadi seijin Tuhan. Kita pun suatu hari hari akan menjadi tua dan meninggal. Tuhanlah yang mengijinkan hal tersebut.

      Hanya saja saya tidak sependapat bahwa semua kematian itu berasal dari Tuhan. Terutama dalam konteks Tuhan yang mengambil. Salah satu contoh yang ekstrim adalah bunuh diri. Menurut Anda, apakah kematian dengan cara tersebut terjadi atas seijin Tuhan? Atau, apakah menurut Anda, Tuhan yang mengambil nyawa orang-orang yang bunuh diri?

      Jika Anda menjawab tidak. Saya sependapat dengan Anda. Itu membuktikan bahwa ada hal-hal buruk yang terjadi di luar ijin Tuhan. Atau dengan kata lain, terjadi atas kehendak manusia.

      Bunuh diri adalah salah satu contoh bahwa sekalipun Tuhan tidak mengijinkan, hal buruk itu dapat tetap terjadi atas kehendak manusia.

      Tuhan Yesus memberkati.

  2. Apakah salah kalau Tuhan mengambil?
    Apakah kematian manusia adalah kejahatan Tuhan?
    Kita bukan pemilik, kawan! Kita hanya pengelola, Dia yang memiliki, apakah yang memiliki tidak boleh mengambil?

      1. Tuhan mengambil karena dia yg memberikan hidup kpd setiap manusia & dia berhak mengambil, karena dia menyayangi org tersebut & karena waktu org tersebut mmg sudah habis didunia, dia mengambil bkn berarti dia melakukan sesuatu hal yg jahat melainkan baik, lagipula sudut pandang anda kurang begitu menangkap apa yg dimaksudkan dlm ayat tersebut, sebab alkitab itu ayat2nya penuh dgn perumpamaan kata2 mutiara & jg ibarat yg artinya kalo ditelan secara mentah2 tanpa dicerna terlebih dahulu maka akan menimbulkan berbanyak opini & kesalahpahaman dari setiap org yg cuman membaca tetapi tdk dicerna dgn baik.

      2. Saya setuju dengan Anda. Tuhan yang menciptakan kita, Dia berhak sepenuhnya atas hidup kita.

        Saya juga tidak memungkiri suatu hari nanti kita semua akan kembali ke rumah Bapa. Beberapa kali saya mendoakan agar Tuhan mengambil nyawa orang-orang yang memang meminta didoakan demikian. Karena, mereka mengalami sakit yang parah dan sudah tidak ingin berlama-lama di dunia.

        Konteks yang saya maksud dalam artikel saya adalah ketika seseorang, misalnya, menggunakan narkoba atau sering kebut-kebutan di jalan, lalu masuk rumah sakit dan meninggal. Sudah jelas hal demikian terjadi bukan karena Tuhan yang mengambil, di mana seolah-olah Tuhan yang mengijinkan hal tersebut terjadi. Apalagi jika dikatakan Tuhan mengijinkan hal tersebut karena Tuhan sayang.

        Semoga dapat memberi pencerahan. Tuhan Yesus memberkati.

  3. Tolong jelaskan kematian yesus apakah bukan Tuhan yang mengambil?
    Lalu semua yang terjadi pada ayub apakah semata mata krn iblis dan tdk ada intervensi Tuhan? Yg artinya Tuhan yg mengambil?

    1. Shalom.

      Saya tuliskan beberapa ayat yang membuktikan bahwa Yesus bukan kehilangan Nyawa-Nya dalam arti ada yang mengambil nyawa Yesus. Firman Tuhan jelas mengatakan Yesus menyerahkan Nyawa-Nya.

      Tentu ada perbedaan antara diambil dan menyerahkan. Diambil berarti kuasa berada di tangan yang mengambil. Sedangkan menyerahkan berarti, keputusan ada di tangan pemilik nyawa tersebut, yang dalam hal ini adalah Yesus.

      Matius 20:28* sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

      Lukas 23:46* Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

      Yohanes 10:14* Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15* sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

      Tuhan Yesus memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.