MENGENAL MEFIBOSET SI TIMPANG

Bahan renungan:

2 Samuel 9:13 Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.

Siapakah Mefiboset? Mefiboset adalah anak dari Yonatan dan sekaligus cucu dari Raja Saul. Daud menjadi raja atas Israel melalui pertumpahan darah yang sangat dahsyat. Adalah sebuah kebiasaan raja-raja pada zaman dahulu, ketika seseorang mengambil alih kerajaan, mereka membasmi semua garis keturunan raja sebelumnya. Namun, demi persahabatan dengan Yonatan, Daud membiarkan keturunan Saul hidup.

(Baca juga: BUATLAH KEPUTUSAN BERDASARKAN FIRMAN TUHAN)

Suatu hari, Daud bertanya kepada para panglimanya, “Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul (2 Samuel 9:1a)?” Ternyata masih ada, namanya Mefiboset. Secara fisik, Mefiboset bukanlah orang yang sempurna. Kedua kakinya timpang (2 Samuel 4:4).

Mari kita melihat sisi rohani kisah di atas. Daud melambangkan Bapa Sorgawi yang penuh kasih. Yonatan melambangkan Yesus. Dan, Mefiboset melambangkan Anda dan saya, manusia yang tidak sempurna. Melalui kisah Mefiboset, saya ingin kita mengerti bahwa Bapa Sorgawi mengasihi kita bukan karena kita sempurna.

Perhatikan. Dalam 2 Samuel 9:1b, Daud berkata, ” … aku akan menunjukkan kasihku kepadanya …” Seharusnya Mefiboset dibunuh oleh Daud, karena Mefiboset berpotensi melakukan kudeta dan mengklaim kursi raja. Namun, Daud menunjukkan kasihnya kepada Mefiboset karena perjanjian yang dia lakukan dengan Yonatan (2 Samuel 9:7). Sama seperti Bapa. Dia menunjukkan kasih-Nya kita, karena Yesus telah menanggung segala dosa dan pelanggaran kita di kayu salib.

Mefiboset, si timpang, akhirnya makan sehidangan dengan Raja Daud. Bukan hanya itu, Mefiboset juga tinggal di istana yang sama dengan Daud, menikmati segala yang Daud miliki, bahkan Daud mengembalikan segala kepunyaan Saul kepada Mefiboset (2 Samuel 9:7).

Tidakkah kisah ini berbicara sesuatu yang luar biasa mengenai kasih Bapa?

(Baca juga: KITA YANG DIUNTUNGKAN KETIKA IKUT PERINTAH TUHAN)

Teman, kita tidak perlu menjadi orang yang sempurna untuk menikmati kebaikan dan kemurahan Bapa. Karena kebenarannya, tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Bapa tidak memberkati kita karena kita sempurna, Dia memberkati kita karena apa yang telah Yesus lakukan bagi kita di atas kayu salib. Kita dipandang layak bukan karena perbuatan kita, melainkan karena darah Yesus yang senantiasa membasuh kita. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s