HANYA DI RUMAH BAPA ADA KELIMPAHAN DAN KEAMANAN

Bahan renungan:

Lukas 15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

Saya pernah menonton sebuah film yang menceritakan seorang warga negara Amerika yang sedang diburu oleh polisi Inggris. Tanpa henti, orang tersebut terus berlari menuju kedutaan besar Amerika di Inggris. Sesampainya di depan kedutaan, tanpa menunggu pagar terbuka, dengan tangkas dia memanjat pagar kedutaan Amerika dan melompat masuk ke dalam kedutaan tersebut. Seketika, polisi Inggris menghentikan langkahnya dan tidak melanjutkan perburuan tersebut. Di dalam kedutaan itu, dia disuguhkan makanan dan dilayani dengan sangat baik.

(Baca juga: HARAPAN ANDA PENTING, TETAPI CARA MERAIHNYA JUGA PENTING)

Anda tahu alasannya? Meskipun gedung kedutaan Amerika tersebut terletak di Inggris, tetapi gedung itu mewakili negara Amerika. Jika polisi Inggris itu menyerang kedutaan Amerika, hal itu sama saja dengan menyerang negara Amerika, akibatnya akan terjadi perang antara kedua negara tersebut. Selama orang tersebut berada di dalam kedutaan Amerika, orang itu aman.

Begitu juga halnya dengan hidup kita. Mungkin saat ini Anda sedang diburu kemiskinan, hutang, sakit penyakit, ketakutan, kekuatiran, stres, dan depresi. Seperti kisah si bungsu dalam ayat renungan kita di atas, dia menyadari keadaannya, bahwa di luar rumah bapanya hanya ada penderitaan dan kelaparan. Si bungsu memutuskan untuk kembali ke rumah bapanya, karena dia tahu di rumah sang bapa ada kelimpahan, ketenangan, damai, sukacita, dan keamanan.

Seseorang pernah berkata kepada saya, “Tetapi, saya sudah Kristen dan saya rajin ke gereja.” Banyak orang tidak mengerti arti dari kembali ke rumah bapa tidak hanya bicara mengenai menjadi orang Kristen dan pergi ke gereja setiap minggu, melainkan bicara mengenai mengarahkan dan menyerahkan seluruh hidup kita kepada Bapa.

Seringkali, kita menaruh satu kaki di rumah bapa, sementara kaki satunya masih menjulur ke luar. Kita menaruh tubuh kita di rumah bapa, sementara hati dan pikiran kita masih tertinggal di kubangan babi.

(Baca juga: IBLIS BUKAN LAWAN YANG SEBANDING DENGAN ANDA)

Seperti si bungsu, mungkin ketika dia merantau, dia bertemu dengan sahabat baru, kebiasaan baru, dan lingkungan baru. Namun, ketika dia menyadari keadaannya, dikatakan dia pergi kembali kepada bapanya. Artinya, dia meninggalkan semua hal yang selama ini salah. Dia meninggalkan pergaulan, pekerjaan, sahabat, kebiasaan, dan komunitasnya yang salah, dan kembali ke rumah bapanya. (penulis: @mistermuryadi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s