PATUTKAH KITA MENSYUKURI SAKIT PENYAKIT KITA?

Bahan renungan:

Ulangan 28:21-22 TUHAN akan melekatkan penyakit sampar kepadamu, sampai dihabiskannya engkau dari tanah, ke mana engkau pergi untuk mendudukinya. TUHAN akan menghajar engkau dengan batuk kering, demam, demam kepialu, sakit radang, kekeringan, hama dan penyakit gandum; semuanya itu akan memburu engkau sampai engkau binasa.

Jika Anda membaca keseluruhan Ulangan 27-30, Anda akan tahu bahwa sakit penyakit merupakan kutuk atau hukuman dari Tuhan. Tidak pernah sekalipun Alkitab menyatakan sakit penyakit sebagai berkat.

(Baca juga: KESEMBUHAN TERJADI SAAT KITA MEMBACA DAN MERENUNGKAN JANJI TUHAN)

Saat Musa bertanya kepada Bangsa Israel, “Pilihlah pada hari ini kutuk atau berkat,” Anda perlu tahu bahwa kesembuhan dan kesehatan adalah berkat dan sakit penyakit adalah kutuk. Di zaman itu, tidak seorang pun bersyukur saat ditimpa kutuk. Malah, mereka ketakutan. Mereka baru bersyukur ketika menerima berkat.

Ada dua poin yang ingin saya sampaikan terkait pernyataan saya di atas.

Yang pertama, sejak Perjanjian Baru dimulai, yaitu ketika terjadi penumpahan darah Yesus, Tuhan tidak lagi mengutuk kita dengan sakit penyakit atau mengijinkan malapetaka terjadi dalam hidup kita. Saat Yesus mati di atas kayu salib, Dia telah menanggung setiap kutuk dan hukuman yang seharusnya kita terima. Tentu tidak masuk akal jika Firman Tuhan mengatakan Yesus telah menanggung segala penyakit kita (Yesaya 53:4), sementara kita mengira Dia masih mengijinkan sakit penyakit dan malapetakan bagi hidup kita.

Yang kedua, jangan bersyukur untuk sakit penyakit Anda. Suatu hari, ketika mengikuti sebuah kebaktian, saya mendengar seorang pemimpin pujian mengajak jemaat mengucap syukur untuk sakit penyakit dan kemiskinan yang Tuhan ijinkan. Teman, Tuhan bukanlah dalang di balik sakit penyakit atau musibah yang Anda alami. Bagaimana mungkin Bapa yang telah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal memberikan kita hal yang buruk? Berhentilah mensyukuri sakit penyakit Anda.

(Baca juga: KENAPA YANG KITA HARAPKAN TIDAK TERJADI?)

Sebaliknya, mulailah mengucap syukur untuk bilur-bilur-Nya yang menjadi jaminan kesembuhan bagi tubuh Anda (1 Petrus 2:24). Mengucap syukurlah bahwa nama Yesus jauh lebih berkuasa dari segala sakit penyakit. (penulis: @mistermuryadi)

4 thoughts on “PATUTKAH KITA MENSYUKURI SAKIT PENYAKIT KITA?

  1. Shallom koh…
    Yg mau saya tanyakan bagaimana dgn pengajaran yg mengatakan jika Tuhan “menghajar” kita spy kita ingat dan berbalik kpd-NYA ; entah itu lewat sakit atau musibah? Dan jg pengajaran yg mengatakan Tuhan itu jg seperti bapa/ayah di dunia yg kadang2 jg perlu menghukum anaknya saat melakukan kesalahan.. mohon pencerahannya koh makasih.. Jbu

    • Shalom Handry.

      Jika ada pengajaran seperti itu, mungkin yang perlu diperhatikan terlebih dahulu adalah pengajaran tersebut mengambil ayat dari mana? Apakah Firman Tuhan mengatakan demikian, atau hanya opini hamba Tuhan yang membagikannya?

      Saya tidak menentang para hamba Tuhan. Saya hanya mengatakan bahwa segala sesuatu yang kita percayai perlu berdasar pada kebenaran Firman Tuhan.

      Beberapa orang mengambil pengajaran tersebut ayat dari Ibrani 12:6 yang mengatakan bahwa Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.

      Jika pengajaran yang kamu maksud diambil dari Ibrani 12:6, kata “menghajar” di ayat itu, dalam bahasa Yunani, bukan menghajar dalam arti menghancurkan, merusak, mencelakai, atau menyebabkan penderitaan, tetapi menghajar dalam arti mendidik atau mengajari.

      Beda loh pemahaman antara menghajar dengan tujuan mencelakai dan menghajar dengan tujuan mendidik.

      Seperti halnya seorang ayah mendidik anaknya supaya rajin belajar. Apakah mungkin sang ayah dengan sengaja menularkan sakit penyakit, memberikan musibah, atau mencelakai sang anak supaya sang anak menjadi rajin? Kalau pun ada ayah yang demikian, sudah pasti dia bukanlah ayah yang baik yang mengasihi anaknya.

      Namun Tuhan adalah Bapa yang baik. Dia adalah kasih. Kasih tidak pernah mencelakai atau merugikan.

      Tuhan tidak pernah sekalipun memiliki keinginan untuk mencelakai atau merugikan kita. Yeremia 29:11 jelas mengatakan bahwa rancangan-Nya bukanlah rancangan kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera.

      Lalu, bagaimana cara Tuhan “menghajar” atau mendidik kita?

      2 Timotius 3:16 menjelaskan, bahwa Tuhan mendidik, mengajar, menyatakan kesalahan, dan memperbaiki kelakukan kita melalui kebenaran Firman Tuhan. Roma 2:4 juga mengatakan bahwa Tuhan menuntun kita kepada pertobatan dengan kemurahan hati-Nya.

      Pernahkah kamu membaca ada satu saja peristiwa di mana Yesus, ketika Dia melayani di dunia ini, menghajar orang-orang berdosa melalui sakit penyakit atau musibah? Saya pribadi tidak pernah menemukan peristiwa tersebut.

      Jika Yesus adalah Pribadi yang suka “menghajar”, saya percaya orang-orang berdosa tidak akan suka berada di dekat Yesus. Namun Alkitab menceritakan sebaliknya. Orang-orang berdosa senang berada di dekat Yesus. Banyak di antara orang berdosa yang bertobat karena merasakan kasih Yesus yang begitu besar terhadap mereka. Bahkan Yesus disebut sebagai sahabat orang berdosa.

      Semoga dapat memberikan pencerahan. JBU too.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s