MENGAPA MULUT KITA CENDERUNG MENGUCAPKAN YANG BURUK?

Bahan renungan:

Matius 6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

Ayat di atas adalah formula untuk gagal, sekaligus berhasil. Untuk gagal, kuatir dan ucapkan kekuatiran kita. Sedangkan untuk berhasil, percaya dan ucapkan janji Tuhan.

(Baca juga: JANGAN TERPESONA ATAU TERPIKAT DENGAN MASALAH)

“Tidak masalah dengan apa yang saya ucapkan, Tuhan pasti mengerti.” Teman, Tuhan sangat mengerti hidup kita, itu sebabnya Dia memberikan Firman-Nya untuk menuntun kita kepada jalan keluar dan kemenangan.

Apa yang kita ucapkan ketika sedang kuatir sangatlah penting. Amsal 18:21 mengatakan, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Ya, ucapan kita sepenting hidup dan mati. Hidup kita dipertaruhkan di sini.

Jika kematian tidak masalah, silakan kita mengucapkan hal-hal yang mendatangkan kematian. Namun, jika kita mengharapkan kehidupan, kemenangan, dan keberhasilan, kita perlu serius memperhatikan apa yang kita ucapkan.

Dalam banyak kasus konseling, saya menemukan salah satu alasan mengapa seseorang cenderung mengucapkan yang negatif adalah karena orang tersebut tidak tahu harus mengucapkan apa dalam kondisi tertekan. Mulutnya kelu ketika ingin mengucapkan janji Tuhan, sedangkan sangat lancar untuk mengucapkan yang buruk.

Ya, untuk melepaskan ucapan negatif, kita tidak perlu diajari. Daging kita memiliki kencenderungan melakukan hal itu.

Jika kita menginginkan perubahan dan mengharapkan kehidupan, kita perlu belajar mengisi hati dan pikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan. Mungkin kita berkata, “Tapi, saya bukan pendeta, sulit bagi saya untuk menghafal ayat Firman Tuhan.” Teman, jika kita dapat menghafal nama-nama club dan pemain sepakbola, dan mengingat merk baju, tas, sepatu, dan kosmetik, kita pasti dapat menghafal ayat Firman Tuhan. Ini hanya masalah kebiasaan.

Kita perlu menghafal ayat-ayat janji Tuhan dan kisah-kisah mukjizat di Alkitab. Kita perlu meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan kebenaran tersebut secara berulang-ulang. Hal yang sama kita lakukan untuk mengingat nama para pemain sepakbola atau merk baju, tas, dan sepatu. Kita melihat, mendengar, memperhatikan, memikirkan, dan membicarakan hal tersebut secara berulang-ulang.

(Baca juga: FOKUS PADA MASALAH, HANYA MEMBUAT MASALAH BERTAMBAH BESAR)

Sehingga, ketika masalah atau tekanan datang, hati kita dapat teguh percaya kepada janji Tuhan, sementara mulut kita mengucapkan janji tersebut untuk mengingatkan diri kita mengenai betapa baik dan dashyatnya Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s