KADANG DALAM BERKOMITMEN KITA PERLU MENGABAIKAN PERASAAN

Bahan renungan:

Ibrani 12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan MENGABAIKAN kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Saya tidak mengatakan bahwa Anda harus menjadi orang yang tidak berperasaan. Saya percaya, Tuhan memberikan kita perasaan untuk sebuah tujuan yang baik. Yang saya maksud adalah, terkadang dalam berkomitmen, Anda perlu mengabaikan perasaan-perasaan tertentu yang berpotensi membuat Anda meninggalkan komitmen Anda.

(Baca juga: TUHAN CIPTAKAN KITA UNTUK MELAKUKAN PERBUATAN BAIK)

Saya berikan contoh. Sejak kurang lebih lima tahun yang lalu, saya berkomitmen untuk menulis renungan di hagahtoday.com setiap hari. Saat ini sudah ada lebih dari 1500 renungan dan artikel yang dapat Anda akses kapan saja dan di mana saja untuk membantu iman Anda bertumbuh dan mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Beberapa kali, dalam sehari, saya merilis dua tulisan, renungan dan artikel panjang. Yeah, and it’s all free, how cool is that!

Bagaimana saya dapat konsisten melakukan hal tersebut, banyak orang bertanya demikian. Jawabannya sederhana, karena saya berkomitmen untuk melakukannya. Tentu saya dalam perjalanan saya melakukannya ada begitu banyak tantangan yang berpotensi menyebabkan saya berhenti. Kadang, tidak dapat saya pungkiri, pikiran saya memberikan alasan-alasan yang cukup masuk akal yang dapat membuat saya berhenti menulis sementara waktu. Namun, saya selalu ingat bahwa saya telah berkomitmen, bahwa alasan utama saya melakukan hal tersebut adalah untuk membantu diri saya sendiri membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari, lalu membantu orang lain dalam melakukan perjalanan imannya.

Pernah suatu kali saya pulang ke rumah, tengah malam, dalam keadaan sakit kepala yang amat sangat karena kelelahan. Tubuh saya sudah memohon untuk tidur, mata saya sulit diajak bekerjasama, tangan dan kaki saya sangat lelah, perasaan saya memaksa untuk merelakan satu hari tanpa renungan, tetapi hati saya teguh untuk menulis sebuah renungan sebelum tidur. Saya masih melanjutkan menulis renungan selama satu jam setengah malam itu dalam keadaan kepala yang sangat sakit dan perasaan yang tidak karuan.

Yesus mengajarkan teladan yang sama. Saya percaya, perasaan di hati Yesus campur aduk ketika Diri-Nya disiksa, dipermalukan, dan dianiaya. Terlebih lagi, ketika Dia ditinggalkan oleh para murid. Namun, Yesus mengabaikan semua perasaan itu dan terus melakukan komitmen-Nya untuk naik ke atas kayu salib.

(Baca juga: ANDA ADALAH MUKJIZAT YANG TUHAN KIRIM UNTUK KELUARGA ANDA)

Teman, jangan biarkan perasaan-perasaan Anda menguasai dan menghalangi komitmen Anda terhadap hal yang benar dan berguna bagi banyak orang. Sekali lagi, bukan berarti perasaan Anda tidak penting. Hanya saja Anda perlu menyadari bahwa komitmen Anda jauh lebih penting dari perasaan-perasaan negatif Anda. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.