APAKAH DOA DAPAT MEMBUAT ORANG LAIN PERCAYA KEPADA YESUS?

Kisah Para Rasul 4:29-31 Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.” Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.

Beberapa peristiwa terjadi secara beruntun setelah para murid dipenuhi Roh Kudus di sebuah ruang atas di Yerusalem. Petrus berkhotbah di hadapan 3000 orang, para rasul mengadakan banyak mukjizat di Yerusalem, disusul dengan Petrus dan Yohanes disidang oleh para tua-tua, ahli Taurat, dan seluruh pemimpin Yahudi.

(Baca juga: MARI KITA BELAJAR MENEGUR DENGAN KASIH)

Mereka diancam dan dilarang keras untuk menceritakan nama Yesus. Mendengar hal itu, para murid lain berdoa kepada Tuhan.

Garis bawahi hal ini. Di tengah situasi yang mengancam dan tidak kondusif, para murid berdoa kepada Tuhan. Sungguh respons yang sangat perlu kita tiru. Hasilnya, mereka dipenuhi Roh Kudus dan mulai memberitakan Firman Tuhan dengan berani.

Banyak orang percaya mengira bahwa untuk mengubahkan hidup orang lain caranya adalah dengan mendoakan mereka. Tidak ada yang salah dengan mendoakan orang lain. Namun, hal itu baru tepat dilakukan ketika Injil sudah kita beritakan. Saya mengilustrasikannya begini. Injil adalah benih, sedangkan doa adalah air. Saat benih sudah ditabur, kita perlu menyiraminya setiap hari.

Suatu kali saya bertanya kepada seorang teman yang sedang mendoakan keluarganya, “Seberapa sering kamu menceritakan Injil kepada keluarga kamu?” Dia menjawab, “Belum pernah, tapi saya mendoakan mereka setiap hari agar mereka percaya kepada Yesus.”

Teman, bukan doa yang membuat orang dapat percaya kepada Yesus, melainkan pemberitaan Injil.

Terkadang, hanya karena kita takut atau malu, kita tidak menceritakan Injil dan memilih menggantinya dengan doa. Padahal, jalan terbaik adalah ubah pendekatan yang kita lakukan, ubah karakter dan perkataan kita menjadi lebih lembut, tunjukkan teladan yang baik; bukan menggantinya dengan doa.

Situasi yang sama dialami para rasul. Banyak orang menolak nama Yesus di Yerusalem. Itu alasan mereka berdoa kepada Tuhan seperti yang kita baca pada ayat di atas. Namun, tujuan mereka berdoa bukan untuk mengubahkan orang yang ingin mereka Injili, melainkan untuk mengubahkan diri mereka.

Ayat 31 memberi kesimpulan yang sangat baik, ” … lalu mereka memberitakan Firman Allah dengan berani.” Mereka yang sebelumnya ketakutan, menjadi berani setelah berdoa.

(Baca juga: MENYEMBUHKAN PIKIRAN YANG SAKIT)

Jadi, apakah kita perlu berdoa, membaca dan merenungkan kebenaran? Tentu saja perlu. Apa tujuannya? Supaya kita diubahkan, sehingga kita berani menceritakan Injil dan mendapatkan hikmat untuk melakukan hal tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.