APA MAKSUD SANG AYAH KETIKA MEMBERIKAN SEPATU KEPADA SI BUNGSU?

Lukas 15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.

Dua hari lalu kita telah membahas mengenai maksud perkataan Yesus mengenai jubah terbaik dan cincin dalam perumpamaan anak yang hilang. Hari ini kita membahas mengenai sepatu, hal ketika yang sang bapa berikan kepada si bungsu seketika dia kembali ke rumah sang ayah.

(Baca juga: APA MAKSUD DARI OTORITAS NAMA YESUS BAGI HIDUP KITA HARI INI?)

Ada dua jenis alas kaki dalam bahasa Yunani. Yang pertama adalah sandalion. Ini sejenis alas kaki yang dipakai oleh budak yang mengepalai budak lainnya, seperti mandor, kepala pembantu rumah tangga, dan lain sebagainya. Sedangkan budak tidak mengenakan alas kaki pada zaman itu.

Kata kedua dari alas kaki adalah hupodema. Ini sejenis alas kaki yang menutupi seluruh bagian kaki, bahannya terbuat dari kulit, dan hanya dipakai oleh para bangsawan. Beberapa tahun lalu ditemukan sepatu kulit yang diduga berusia lebih dari 5000 tahun. Anda dapat membacanya di sini.

Alas kaki yang diberikan kepada sang ayah kepada si bungsu adalah hupodema, bukan sandalion.

Apa maksud Yesus terkait pemberian ketiga dari sang ayah?

Sekarang perhatikan. Alas kaki dalam perumpamaan di atas berbicara mengenai status. Bisa saja sang ayah tetap menerima si bungsu kembali dalam rumahnya tetapi dengan menyandang status budak, atau lebih tinggi sedikit, kepala budak. Namun kebenarannya tidak demikian, seketika si bungsu kembali, sang ayah menerimanya dengan status anak. Itu artinya, sebelum atau pun setelah berbuat kesalahan, status si bungsu tetaplah anak.

Yesus ingin menyampaikan sebuah pesan sangat penting di sini. Dia ingin kita memahami bahwa sekalipun kita berbuat sebuah kesalahan, di mata-Nya kita tetaplah anak yang dikasihi-Nya.

Seringkali iblis membisikkan sesuatu yang busuk ke dalam hati kita mengenai perihal status ini, terutama ketika kita sedang jatuh di dalam dosa. Iblis ingin kita merasa bahwa kita bukanlah anak yang dikasihi-Nya. Iblis ingin kita merasa bahwa Tuhan tidak lagi menginginkan kita.

(Baca juga: TEMUKAN PERAN ANDA DALAM GEREJA TUHAN)

Melalui perumpamaan si bungsu, Yesus ingin kita mengerti hati Bapa Sorgawi kepada anak-anak-Nya. Bahwa Dia senantiasa memandang kita sebagai anak. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.