INI ALASAN SANG AYAH MENYEMBELIH LEMBU TAMBUN BAGI SI BUNGSU

Lukas 15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.

Perumpamaan anak yang hilang menggambarkan respons Bapa Sorgawi terhadap orang berdosa yang sama sekali jauh dari dugaan kita. Yesus bermaksud menunjukkan kasih Bapa yang sempurna kepada setiap kita.

(Baca juga: APA MAKSUD SANG AYAH KETIKA MEMBERIKAN SEPATU KEPADA SI BUNGSU?)

Setelah sang ayah memberikan jubah terbaik, cincin, dan sepatu, pemberian terakhir yang sang ayah berikan kepada si bungsu adalah lembu tambun.

Hal pertama yang diperhatikan di sini adalah sang ayah bukan hanya memberikan lembu biasa, melainkan lembu yang tambun. Dalam bahasa Inggrisnya disebut the fatted calf. Atau dengan kata lain, lembu yang penuh dengan lemak.

Apa maksud Yesus menyebutkan lembu tambu itu?

Imamat 4:8 menuliskan bahwa lemak lembu jantan adalah materi yang dibutuhkan untuk menghapus dosa di dalam Perjanjian Lama. Juga, Imamat 4:31 menjelaskan bahwa Tuhan disenangkan dengan lemak.

Di dalam Perjanjian Lama, imam akan membakar semua lemak dari lembu tersebut sebagai bentuk persetujuan atau konfirmasi terhadap perjanjian yang Tuhan tawarkan kepada manusia. Hampir sama fungsinya dengan tandatangan dalam sebuah perjanjian kontrak.

Hal kedua yang perlu kita perhatikan adalah kata “sembelih.” Dalam bahasa Yunani, bahasa asli Perjanjian Baru, kata “sembelih” yang umum digunakan adalah apokteino, tetapi di kalimat pada ayat di atas, kata yang digunakan adalah thuo, yang artinya mempersembahkan atau mengorbankan. Tentu saja bagi kita saat ini tidak sulit memahami bahwa perkataan Yesus mengenai lembu tambun merujuk kepada pengorbanan-Nya di atas kayu salib.

Pertanyaan saya, mengapa setelah memberikan jubah terbaik, cincin, dan sepatu, Yesus menambahkan cerita bahwa sang ayah memberikan lembu tambun kepada si bungsu?

Setidaknya ada dua alasan. Alasan pertama, Yesus ingin kita mengerti bahwa jubah terbaik, cincin, dan sepatu hanya bisa kita dapatkan di dalam Yesus. Kita tidak dapat hidup benar, memiliki otoritas, dan status sebagai anak kesayangan Bapa di luar Yesus.

Alasan kedua, pengorbanan Yesus adalah pengorbanan sekali untuk selamanya (baca Ibrani 10). Berbeda dengan pengorbanan lembu tambun di Perjanjian Lama. Bangsa Israel harus menyembelih lembu tambun setiap kali mereka berbuat dosa.

Jadi, hidup dibenarkan oleh darah Yesus, hidup memiliki otoritas, dan hidup dengan status anak adalah pemberian sekali untuk selamanya dari Tuhan untuk setiap orang percaya. Tuhan tidak akan pernah mengambil ketiga hal di atas dari hidup kita, karena pengorbanan Yesus di atas kayu salib merupakan sebuah bentuk “tandatangan” dari perjanjian yang kekal antara Tuhan dengan kita.

(Baca juga: LUANGKAN WAKTU UNTUK BERSEKUTU DENGAN TUHAN)

Singkatnya, saat kita percaya kepada Yesus, selamanya kita dibenarkan, diberikan kuasa, dan dijadikan anak-Nya. Janji-Nya dan kasih-Nya selamanya menjadi bagian dari hidup kita.

(penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.