DAUD SANG RAKSASA

1 Samuel 17:4-7 Lalu tampillah keluar seorang pendekar dari tentara orang Filistin. Namanya Goliat, dari Gat. Tingginya enam hasta sejengkal. Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga. Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul lembing tembaga. Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu enam ratus syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai berjalan di depannya.

Ya, saya tahu. Mungkin Anda mengira saya salah menulis judul, karena belum pernah ada yang menyebut Daud sebagai raksasa. Biasanya, dalam membandingkan antara Daud dan Goliat, Goliatlah yang menyandang gelar raksasa, sedangkan Daud menyandang gelar si remaja yang berwajah kemerah-merahan.

(Baca juga: BERSUKACITA DI MASA SUKAR DAN KRISIS)

Namun, hari ini saya mau mengajak kita semua melihat ke alam roh, bukan jasmani.

Melalui ayat di atas, kita dapat menyimpulkan betapa hebat dan kuat Goliat. Secara jasmani, Daud bukanlah tandingan Goliat. Semua tentara Israel, termasuk Raja Saul, ketakutan karena terjebak melihat penampilan jasmani Goliat yang gagah perkasa.

Di depan layar, semua orang melihat Goliat sebagai sang raksasa, tetapi jika kita melihat apa yang ada di belakang layar, Daudlah sang raksasa sesungguhnya.

Goliat melatih jasmaninya sejak masa muda. Pengalamannya di medan perang tidak diragukan lagi. Goliat tumbuh menjadi raksasa secara jasmani. Sedangkan Daud tidak melatih fisiknya sekeras Goliat. Ya benar dia melatih diri melawan singa dan beruang untuk menjaga kawanan dombanya, tetapi lebih dari itu, Daud melatih rohaninya dengan keras.

Hubungan Daud dengan Tuhan ada di satu titik di mana Daud sangat yakin bahwa dia dikasihi dan Tuhan menyertai ke mana pun dia pergi. Tanpa disadari, Daud tumbuh menjadi raksasa rohani yang memiliki keahlian bermain kecapi dan ali-ali.

Seperti kita ketahui bahwa pertarungan itu dimenangkan oleh Daud dengan sangat mudah. Pertarungan itu bukanlah adu fisik, melainkan pertarungan antara kekuatan jasmani dan rohani, antara kekuatan manusia melawan kekuatan Tuhan.

Apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa klasik itu?

Bagi saya, hal itu berbicara mengenai betapa pentingnya mengasah hubungan kita dengan Tuhan. Seringkali kita terjebak dengan hal-hal yang jasmani. Kita mengira bahwa memiliki harta, keahlian, dan koneksi dengan banyak orang adalah hal yang terpenting. Itu penting, tidak ada yang salah dengan memiliki semua itu. Hanya saja bukan yang terpenting. Yang terpenting adalah apa yang ada di belakang layar, yaitu bagaimana hubungan kita dengan Tuhan.

(Baca juga: TERBEBAS DARI RASA BERSALAH)

Mungkin Anda sedang berhadapan dengan raksasa keuangan, sakit penyakit, kepahitan, kekecewaan, atau kepercayaan diri. Seperti Daud, jika Anda melatih rohani Anda, Anda dapat dengan mudah menumbangkan raksasa-raksasa itu. Pada saat Anda memiliki hubungan yang erat dengan Sang Raksasa, saya sangat percaya tidak ada satu pun yang sanggup menjatuhkan Anda. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

Advertisements

One comment

  1. Dengan melatih Iman kita maka kita dapat melewati masalah-masalah yang besar sekalipun. Karena apa yang bersama kita jauh lebih besar dari masalah apapun yang ada di dunia. Terima kasih Koh Zal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.