SEBERAPA JAUH KITA INGIN MENJALIN HUBUNGAN DENGAN TUHAN?

Mazmur 73:28 Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan Allah, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

Umumnya, kita memiliki tiga tingkat hubungan ini dalam hidup kita, yaitu teman, sahabat (teman dekat), dan pasangan (suami/istri, kekasih). Semua tingkatan hubungan itu dimulai dari pertemanan. Terhadap beberapa orang teman yang kita miliki, kita menginginkan memiliki hubungan yang lebih dalam. Itu sebabnya terhadap beberapa orang dari kelompok teman kita naik tingkat menjadi sahabat. Dan selanjutnya, dari beberapa sahabat kita ada satu orang yang menjadi pasangan kita.

(Baca juga: JIKA KITA MENGASIHI TUHAN, KITA PASTI SUKA MELAKUKAN HAL INI)

Semakin tinggi tingkatan sebuah hubungan, semakin intens pula sebuah hubungan. Terhadap teman, mungkin kita hanya bertemu pada saat di sekolah, di pekerjaan, atau di gereja, atau mungkin hanya melalui sosial media. Itu pun hanya membicarakan hal-hal yang umum.

Terhadap sahabat, pertemuan kita lebih intens. Mungkin sekitar satu atau dua kali dalam seminggu. Kita membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi, rencana dan keputusan yang akan kita lakukan, dengan sahabat kita. Terhadap pasangan, kita ingin bertemu setiap saat. Kita membicarakan mengenai hal-hal yang mendalam, masa depan, dan kita ingin melewati semua fase hidup kita bersamanya.

Semakin tinggi tingkat hubungan kita dengan seseorang, semakin besar pengorbanan yang kita lakukan untuk orang itu. Terhadap teman, mungkin kita hanya rela mengorbankan waktu. Terhadap sahabat, kita tidak segan-segan mengorbankan waktu, uang, dan tenaga kita. Sedangkan untuk pasangan, kita rela mengorbankan lebih banyak lagi.

Semua fase hubungan di atas dapat terjalin dan semakin meningkat sejauh kedua belah pihak menginginkannya.

Berkaca dari ilustrasi di atas, mari kita lihat hubungan kita dengan Tuhan. Saya percaya hubungan kita dengan Tuhan juga terjalin sedalam kita dan Tuhan menginginkannya.

Dari pihak Tuhan, saya tahu pasti bahwa Dia sangat menginginkan kita. Dia tidak segan-segan mengorbankan Anak-Nya yang tunggal agar dapat menjalin hubungan yang intim dengan kita. Namun, bagaimana dari pihak kita? Apakah kita ingin memiliki hubungan sejauh itu dengan Tuhan?

(Baca juga: JANGAN MEREMEHKAN PERBUATAN BAIK KITA)

Kita dapat menjadikan Tuhan hanya sebatas teman. Hanya bertemu dengan-Nya sesekali waktu saja. Atau, kita dapat menjadikan-Nya sahabat. Hadir di momen-momen penting hidup kita. Atau mungkin, kita dapat menjadikan-Nya segalanya bagi hidup kita, sehingga kita selalu ingin bersama-Nya setiap waktu, dan kita tidak segan-segan untuk merelakan apa saja demi bertemu dengan-Nya. Tentu saja keputusannya ada di tangan kita masing-masing. (penulis: @mistermuryadi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.