BELAJAR MELIHAT KEBAIKAN SESEORANG, BUKAN KEBURUKANNYA

Matius 9:2 Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus MELIHAT IMAN mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”

Tidak tahu dengan Anda, tetapi jika saya sedang berhenti di lampu merah, kemudian melihat satu atau dua orang mendekati mobil saya, entah untuk mengamen atau meminta-minta, hal pertama yang biasanya yang saya cek adalah apakah pintu mobil saya sudah terkunci atau belum. Secara tidak sadar, di kepala saya sudah terekam hal-hal buruk yang mungkin dilakukan oleh orang-orang tersebut di lampu merah.

(Baca juga: TUHAN TIDAK HANYA PEDULI TERHADAP HAL-HAL YANG ROHANI)

Namun Yesus berbeda. Ketika bertemu dengan seseorang dalam kondisi yang buruk, Dia tidak melihat keburukan mereka, Dia justru melihat iman mereka. Yesus selalu dapat melihat yang terbaik dari diri setiap kita.

Di zaman Yesus, beredar sebuah pemahaman bahwa semua orang yang sakit atau cacat, haruslah dijauhi atau dikucilkan. Karena mereka percaya orang-orang tersebut berbuat dosa yang sangat besar terhadap Tuhan sehingga Tuhan mengutuk mereka.

Orang-orang di zaman Yesus, mungkin sama seperti kebanyakan orang di zaman kita sekarang ini, cenderung melihat dan mengingat yang buruk dari kehidupan seseorang. Kebaikan seseorang begitu mudah dilupakan hanya karena satu dua keburukan yang dilakukannya.

(Baca juga: JANGAN HIDUP ISI KITA YANG BARU DI DALAM KRISTUS DENGAN MASA LALU)

Melalui ayat di atas, saya percaya Yesus ingin mengajarkan kepada kita untuk melihat kebaikan dalam hidup seseorang, bukan keburukannya. Tidak peduli betapa jahat atau rusaknya kehidupan seseorang, jika kita memiliki mata seperti Yesus, kita akan selalu dapat menemukan kebaikan atau sisi positif dari orang itu. Sehingga, kita dapat memuji atau menguatkan orang itu daripada menjelek-jelekan atau pun menggosipkannya. (penulis: @mistermuryadi)

One comment

  1. Belajar memaafkan dan melihat kebaikan orang lain. Tuhan melihat kita dengan penuh kasih dan pengampunan sehingga kita juga bisa belajar melihat orang seperti Tuhan melihat. Terima kasih Koh Zal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.