BERHENTI MEMBUAT ALASAN DAN SETIA TERHADAP TANGGUNG JAWAB KITA

1 Samuel 17:17-18 Isai berkata kepada Daud, anaknya: “Ambillah untuk kakak-kakakmu bertih gandum ini seefa dan roti yang sepuluh ini; bawalah cepat-cepat ke perkemahan, kepada kakak-kakakmu. Dan baiklah sampaikan keju yang sepuluh ini kepada kepala pasukan seribu. Tengoklah apakah kakak-kakakmu selamat dan bawalah pulang suatu tanda dari mereka.

Biasanya, pada saat seseorang menerima tanggung jawab tambahan, orang itu cenderung berpikir, “Untuk apa saya mengerjakannya, pekerjaan saya sudah banyak?” Pada akhirnya, kalau pun pekerjaan itu diambil, tidak dikerjakan sepenuh hati.

(Baca juga: YANG KITA LAKUKAN DALAM TUHAN TIDAK PERNAH SIA-SIA)

Dalam kisah di atas, Daud mengemban tugas tambahan dari Isai. Menurut saya, tugas tambahannya itu lebih berat dari menggembalakan kambing domba. Namun, Daud sama sekali tidak menanyakan upah untuk dirinya. Dan yang lebih hebat, Daud sama sekali tidak membuat alasan-alasan untuk menolak pekerjaan itu.

Daud melakukan kedua pekerjaannya, menggembalakan kambing domba dan mengantar makanan untuk kakak-kakaknya, dengan segenap hati, seperti untuk Tuhan.

Jika kita membaca ayat 20, kita akan tahu bahwa Daud tidak sedikit pun menunda tugasnya. Dia bangun pagi-pagi untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh ayahnya. Bahkan, sesampainya di medan perang, dia juga menyelesaikan pekerjaan Raja Saul, yaitu mengalahkan Goliat. Sungguh luar biasa!

Saya belajar sebuah hal penting di sini. Saat kita berhenti membuat alasan-alasan di dalam hidup kita, saat kita setia mengerjakan tugas kita dengan penuh tanggung jawab, kita tidak akan melewatkan kesempatan-kesempatan besar di dalam hidup kita. Saya yakin Daud akan melewatkan promosi terbesar di dalam hidupnya, yaitu mengalahkan Goliat, jika dia menolak pekerjaan tambahan dari Isai dengan berbagai alasan.

(Baca juga: TAKDIR YANG TUHAN TELAH TETAPKAN BAGI KITA)

Mari kita belajar untuk berhenti membuat alasan. Setialah mengerjakan tanggung jawab kita, kecil atau besar. Kembangkanlah apa yang dipercayakan kepada kita. Sehingga, suatu hari ketika kesempatan-kesempatan besar menghampiri, kita siap menyambutnya. (penulis: @mistermuryadi)

One comment

  1. Kualitas seseorang tidak ditentukan dari lingkungannya saat ini, tapi bagaimana orang tersebut bertanggung jawab apa yang Tuhan percayakan kepadaNYA. Selalu ada buah yang manis bagi orang yang setia dan taat. Terima kasih Koh Zal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.