MENGAPA TUHAN YANG BAIK MENURUNKAN AIR BAH DAN MENGHANCURKAN SODOM GOMORA?

Kita telah belajar bahwa Tuhan adalah kasih dan kasih-Nya kepada Anda dan saya tidak pernah berubah. Sejak awal dunia diciptakan sampai hari ini, Dia telah memutuskan untuk mengasihi Anda dan saya. Tuhan memiliki segala kuasa dan hak untuk menghukum kita, tetapi Dia memilih untuk mengasihi kita dan menjadikan kita kesayangan-Nya.

(Baca juga: APA KATA YESUS TENTANG HUKUM TAURAT?)

Meski demikian, di zaman Hukum Taurat, tepat setelah Musa turun dari Gunung Sinai membawa dua loh batu, Tuhan seolah berubah menjadi kejam dan jahat. Tuhan mulai melepaskan tulah, menurunkan bara api, mengutuk Bangsa Israel dengan sakit penyakit setiap kali mereka melanggar perintah-Nya. Kalau benar Tuhan adalah kasih, mengapa Dia melakukan hal tersebut? Saya sudah pernah menjawab pertanyaan itu dalam artikel-artikel sebelumnya. Jika Anda belum mengetahui jawabannya, saya sangat menyarankan Anda membacanya terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca artikel ini. Anda tinggal ketik kata “Hukum Taurat” di kolom search yang tersedia di pojok kanan atas.

Tidak lama setelah saya merilis tulisan-tulisan mengenai Hukum Taurat, saya menerima banyak surel yang menanyakan penjelasan mengenai peristiwa air bah pada zaman Nuh dan peristiwa hancurnya Sodom dan Gomora. Mengapa demikian? Karena, kedua peristiwa tersebut terjadi pada zaman sebelum Hukum Taurat, zaman di mana Tuhan mengabulkan doa Kain, si pembunuh pertama di muka Bumi; dan menyebut Abraham, yang meniduri Hagar dan menjual istrinya, sebagai bapak semua orang percaya.

Di dalam zaman Hukum Taurat, jelas bahwa seseorang dihukum ketika mereka melanggar hukum tersebut. Namun, bagaimana dengan zaman sebelum Hukum Taurat dan zaman setelah Hukum Taurat?

Bagi Anda yang baru membaca blog ini, Anda perlu mengerti bahwa zaman sebelum Taurat berlangsung selama 3000 tahun. Dimulai dari zaman Adam dan Hawa sampai peristiwa Musa naik ke atas Gunung Sinai. Turunnya Musa dari Gunung Sinai menandakan dimulainya zaman Hukum Taurat. Hal tersebut berlangsung selama 1000 tahun sampai kematian Yesus di atas kayu salib yang membatalkan segala perintah dan ketentuan Hukum Taurat (Efesus 2:15). Sejak kematian dan kebangkitan Yesus, kita memasuki zaman baru, yaitu zaman anugerah, di mana segala sesuatu yang Anda butuhkan seperti keselamatan, kesembuhan, kesehatan, berkat, kelimpahan, kuasa, Roh Kudus, mukjizat, pemulihan, umur panjang, dan masa depan yang indah telah dianugerahkan secara sempurna bagi kita yang percaya kepada Yesus.

Roma 5:13 mengatakan bahwa dosa sudah ada sebelum zaman Hukum Taurat, tetapi dosa tersebut tidak diperhitungkan karena belum ada Hukum Taurat. Mungkin gambarannya seperti ini. Pada saat belum ada peraturan bahwa semua pengendara mobil harus menggunakan sabuk pengaman, polisi tidak dapat menganggap hal tersebut sebagai pelanggaran, dan akibatnya, tidak ada hukuman yang dapat dijatuhi terhadap orang yang tidak menggunakan sabuk pengaman. Namun, setelah peraturannya keluar, semua pengemudi yang tidak menggunakan sabuk pengaman dijatuhkan sanksi.

Jadi, dosa sudah ada pada zaman sebelum Hukum Taurat, tetapi dosa tersebut tidak diperhitungkan. Atau dengan kata lain, Tuhan tidak menghukum manusia berdasarkan perbuatan dosa yang mereka lakukan. Hal tersebut menjelaskan mengapa Tuhan tidak menghukum Kain sang pembunuh, Abraham yang menjual istrinya, Yakub sang penipu, dan lain sebagainya.

Begitu juga halnya dengan zaman setelah Hukum Taurat. Ketika Yesus memberikan nyawa-Nya di atas kayu salib, Dia menanggung dan menebus setiap dosa dan pelanggaran kita. Yesus yang tidak berdosa, dihukum, menggantikan kita yang berdosa. Dia mengambil semua yang buruk dari kita agar kita dapat menerima semua yang baik yang Bapa sediakan. Bersamaan dengan itu, kehidupan Yesus telah menggenapi seluruh Hukum Taurat (Matius 5:17) dan kematian-Nya telah membatalkan Hukum Taurat (Efesus 2:15).

Roma 8:1 menegaskan bahwa tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Garisbawahi, bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Jadi, sama seperti zaman sebelum Hukum Taurat, perbuatan dosa masih tetap ada, tetapi Tuhan tidak lagi menghukum manusia berdasarkan perbuatan dosa mereka.

Saya tidak mengatakan tidak masalah berbuat dosa. Dosa tetap sesuatu yang jahat di mata Tuhan. Dosa telah menghancurkan banyak kehidupan manusia dan menjadi penghalang hubungan antara manusia dengan Tuhan. Pahami ini, Tuhan membenci dosa, tetapi dia mengasihi orang berdosa. Itu sebabnya Yesus datang menebus setiap dosa kita dan memberikan kita kuasa Roh Kudus agar kita dapat menang atas dosa.

Mari kita kembali ke masalah air bah dan Sodom Gomora.

Lalu, mengapa Tuhan menurunkan air bah dan menghancurkan Sodom dan Gomora? Jawaban dari pertanyaan tersebut sebenarnya sama dengan alasan mengapa Yesus menghukum mereka yang tidak percaya kepada-Nya di hari kedatangan-Nya yang kedua.

Ya, satu-satunya dosa yang dihukum di zaman sebelum dan setelah Hukum Taurat adalah dosa tidak percaya kepada nama Tuhan (pada zaman sebelum Hukum Taurat) atau nama Yesus (pada zaman anugerah). Itulah alasan mengapa Tuhan menurunkan air bah dan menghancurkan Sodom Gomora pada zaman sebelum Hukum Taurat, dan menghukum setiap orang yang tidak percaya kepada Yesus pada akhir zaman nanti.

Saya ingin mengajak Anda melihat lebih dekat lagi.

Dalam Kejadian 6:5 tertulis, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan (ra’ah) manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Lalu, dalam Kejadian 13:13, mengenai Sodom dan Gomora, dikatakan, “Adapun orang Sodom sangat jahat (ra’ah) dan berdosa terhadap Tuhan. Perhatikan kata di dalam kurung. Dalam bahasa Ibrani, kata “kejahatan” pada kedua ayat ditulis ra’ah. Terjemahan dari ra’ah bukanlah perbuatan dosa, melainkan tidak setuju atau menolak Tuhan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa akibat seseorang menolak, meninggalkan, atau menjauh dari Tuhan, mereka akan jatuh dalam berbagai macam dosa dan kejahatan. Contohnya adalah cerita si Bungsu yang pergi dari rumah ayahnya, cerita Kain setelah meninggalkan hadirat Tuhan, Lot yang tinggal di Sodom dan Gomora, dan lain sebagainya.

Di dalam Perjanjian Baru, kita mengenal istilah menolak atau meninggalkan Yesus dengan sebutan Anti-Kristus, dosa menghujat Roh Kudus (Markus 3:29, Lukas 12:10), atau dosa yang tidak dapat diampuni (Ibrani 10:26-35). Tidak percaya kepada Tuhan atau Yesus adalah satu-satunya dosa yang dihukum pada zaman sebelum Hukum Taurat dan pada hari kedatangan Yesus kedua kalinya nanti.

Perhatikan, yang dihukum bukan orang berdosa, melainkan orang yang menolak dan meninggalkan Dia. Hukuman terhadap perbuatan dosa hanya dilakukan pada zaman Hukum Taurat. Harus saya tegaskan sekali lagi bahwa ketika kita menolak atau meninggalkan Yesus, kecenderungan kita adalah berbuat dosa. Yesus mengingatkan kita dalam Yohanes 15:5 bahwa di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita tidak akan menang terhadap godaan untuk berbuat dosa, juga terhadap sakit penyakit dan kemiskinan. Hanya di dalam Yesus ada kemenangan atas dosa, ada hidup sehat, dan hidup dalam kelimpahan, karena Dia telah mengalahkan maut untuk selamanya.

Zaman Nuh hanyalah berjarak 10 generasi setelah Kain. Ketika Kain pergi meninggalkan Tuhan (Kejadian 4:16), Kain memilih jalannya sendiri dan memutuskan melawan Tuhan. Apa buktinya? Kejadian 4:17 mencatat bahwa Kain mendirikan sebuah kota supaya orang berkumpul. Sementara perintah Tuhan adalah supaya manusia memenuhi dan menaklukkan Bumi (Kejadian 1:28).

Perlahan tapi pasti, Kain mulai melahirkan keturunan-keturunan yang menentang dan melawan Tuhan. Apakah Tuhan berdiam diri melihat hal tersebut? Tentu tidak. Tuhan sangat mengasihi manusia. Tuhan melakukan segala macam cara agar manusia berbalik kepada-Nya. Salah satunya adalah melalui Nuh.

Kejadian 6:8 menuliskan, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Di dalam terjemahan bahasa Inggris-nya dikatakan, “But Noah found grace in the eyes of the Lord.” Jika kita membaca versi bahasa Indonesia seolah tersirat Tuhan memilih Nuh untuk diselamatkan. Banyak orang kemudian menerjemahkan Tuhan menyelamatkan Nuh karena Nuh hidup benar, tidak berdosa, dan berkenan di hadapan Tuhan. Namun, jika Anda membaca ayat itu dalam versi bahasa Inggris, dikatakan bahwa Nuh diselamatkan karena Nuh merespons terhadap keselamatan yang Tuhan anugerahkan.

Tuhan menebarkan kasih karunia-Nya kepada semua orang pada saat itu dan hanya Nuh yang memberikan respons. Tuhan ingin semua orang selamat, tetapi hanya Nuh yang mengatakan “iya” kepada Tuhan. Bagaimana dengan yang orang lainnya? Sampai akhir bahtera itu selesai dibangun, mereka tetap memilih jalan sendiri dan memutuskan tidak percaya kepada Tuhan.

Pintu pertobatan Tuhan tidak hanya datang satu kali dalam satu waktu, tetapi berkali-kali selama bertahun-tahun. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun bahtera di atas sebuah gunung. Bahtera sebesar enam kali lapangan sepakbola itu bukan untuk hanya untuk menampung hewan dan keluarga Nuh, tetapi semua orang yang hidup pada zaman itu. Saya membayangkan setiap hari, selama bertahun-tahun, Nuh dan keluarganya mengajak mereka untuk percaya kepada Tuhan agar diselamatkan. Namun, hasilnya nihil, manusia tetap memilih jalannya sendiri, bahkan sangat mungkin Nuh dan keluarganya diejek pada saat itu karena memercayai Tuhan.

(Baca juga: AYUB (bagian 02) – APA DAN SIAPA YANG SEBABKAN PENDERITAANNYA?)

Sebelum air bah itu turun, Tuhan mengucapkan satu kalimat ini dalam Kejadian 7:1, “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” Kata “benar” di situ diambil dari bahasa Ibrani tsadaq yang berarti memilih yang benar. Jadi, kehendak Tuhan adalah menyelamatkan semua orang, tetapi hanya keluarga Nuh yang memutuskan untuk percaya. Ibrani 11:7 mengatakan Nuh diselamatkan karena iman. Sederhananya, iman berarti memilih untuk memihak dan percaya kepada Tuhan.

Hal yang sama terjadi pada kota Sodom dan Gomora. Jika Anda membaca literatur mengenai kota itu, Anda akan tahu bahwa kota Sodom dan Gomora adalah kota tempat pelarian pada penjahat. Atau dengan kata lain, tempat berkumpulnya orang-orang yang memutuskan untuk hidup meninggalkan Tuhan.

Sekali lagi, perlu saya katakan bahwa bukan dosa yang membuat Tuhan marah, melainkan ketidakpercayaan kepada Tuhan. Ketika melayani di dunia, Yesus selalu bereaksi terhadap iman dan ketidakpercayaan seseorang. Terhadap iman, Yesus memuji; tetapi terhadap ketidakpercayaan, Yesus menghardik.

Satu hal mengenai ketidakpercayaan. Hal tersebut menjalar seperti kanker. Seseorang yang tidak percaya kepada Yesus dapat memengaruhi kehidupan orang yang percaya kepada Yesus. Nabi Yesaya menjelaskan hal tersebut dalam Yesaya 1:9, “Seandainya TUHAN semesta alam tidak meninggalkan pada kita sedikit orang yang terlepas, kita sudah menjadi seperti Sodom, dan sama seperti Gomora.” Atau dengan kata lain, jika Sodom dan Gomora tidak dihancurkan pada saat itu, mungkin semua orang sudah akan meninggalkan Tuhan dan jatuh ke dalam berbagai dosa dan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Sodom dan Gomora.

Yesus dalam Matius 24:22 mengatakan, “Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.”

Saya ingin memberikan sebuah ilustrasi mengenai hal di atas. Ada seseorang yang saya kenal harus menjalani proses amputasi kaki akibat terserang diabetes. Langkah amputasi ini harus dilakukan bukan karena para dokter yang merawat itu jahat dan menginginkan yang buruk terjadi terhadap pasien. Justru langkah amputasi ini dilakukan untuk menyelamatkan bagian tubuh lain agar tidak mengalami pembusukan serupa. Atau dengan kata lain, proses amputasi tersebut adalah tindakan kasih untuk menyelamatkan bagian tubuh yang masih sehat.

Saya percaya Tuhan sangat mengasihi Anda dan saya, dan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Firman Tuhan katakan, kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya. Tuhan adalah Bapa yang melakukan segala yang terbaik demi menyelamatkan, menjaga, melindungi, dan memelihara kita. Hal tersebut dibuktikan melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib.

Perlu Anda pahami bahwa menurunkan air bah dan menghancurkan Sodom dan Gomora bukanlah rencana awal Tuhan. Hal tersebut tidak ada di dalam cetak biru-Nya. Saya percaya tindakan Tuhan menyapu bersih dunia dengan air bah dan menurunkan api ke kota Sodom dan Gomora merupakan tindakan kasih untuk menyelamatkan mereka yang memutuskan percaya kepada-Nya.

Nehemia 9:17 menggambarkan kasih Tuhan dengan manis, “Mereka menolak untuk patuh dan tidak mengingat perbuatan-perbuatan yang ajaib yang telah Kaubuat di antara mereka. Mereka bersitegang leher malah berkeras kepala untuk kembali ke perbudakan di Mesir. Tetapi Engkaulah Allah yang sudi mengampuni, yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya. Engkau tidak meninggalkan mereka.” Berkali-kali dalam kitab Mazmur, Daud menuliskan, “Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia.”

(Baca juga: TUHAN ADALAH BAPA YANG SANGAT BAIK)

Akhir kata. Jika Anda adalah seorang percaya, Anda tidak perlu takut terhadap Tuhan. Dia adalah Bapa yang baik. Suatu hari kelak Dia akan datang menjemput Anda sebagai mempelai-Nya. Itu akan menjadi hari terindah dalam hidup Anda. Namun, jika Anda adalah seorang yang tidak percaya kepada Yesus, Anda perlu takut terhadap Hari Kedatangan Yesus yang kedua kali. Akan datang bagi Anda hari yang lebih mengerikan dari peristiwa air bah dan turunnya api yang menghanguskan Sodom Gomora. Selama hari tersebut belum tiba, kesempatan untuk percaya kepada Yesus masih terbuka lebar bagi setiap orang. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

Advertisements

APAKAH IMAN KITA DAPAT MENGGERAKKAN TUHAN?

Lima tahun lalu saya pernah membaca sebuah buku yang pada intinya menuliskan bahwa iman kita dapat menggerakkan Tuhan. Ketika kita beriman, dicontohkan dalam buku itu, berdoa semalaman, berpuasa sangat panjang, memuji dan menyembah Tuhan sepanjang hari, hal tersebut akan menggerakkan Tuhan untuk melakukan atau mengabulkan doa dan permohonan kita.

(Baca juga: ARTI UCAPAN “SUDAH SELESAI” DI KAYU SALIB)

Yang si penulis buku tersebut lupakan adalah Tuhan sudah memberikan semua hal yang kita butuhkan, yaitu berkat, mukjizat, kelimpahan, kesembuhan, kesehatan, umur panjang, dan masa depan indah, bersamaan dengan ketika Dia memberikan Yesus di atas kayu salib.

Tidak ada lagi yang dapat Tuhan berikan kepada Anda dan saya. Semua-Nya sudah dianugerahkan kepada Anda, bahkan Anak-Nya sendiri, yang terbaik yang ada di Sorga telah dikaruniakan kepada kita. Tidak ada yang Tuhan pertahankan.

Semua berkat Abraham sudah diberikan. Efesus 1:3 menjamin hal itu, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Garis bawahi kata “segala”.

Anda tidak perlu lagi memohon-mohon seolah Tuhan menahan kebaikan dan kemurahan-Nya. Roma 8:32 dengan gamblang telah menuliskan, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

Bukan Tuhan yang perlu digerakkan, kitalah yang perlu percaya, kemudian bertindak. Saya suka sekali mengatakan ini, bahwa mukjizat dalam hidup Anda terjadi secepat Anda mempercayai-Nya. Tuhan tidak pernah menjadi masalah kita. Masalah kita adalah ketidakpercayaan kita terhadap apa yang Tuhan janjikan dan perintahkan.

Pemahaman paling populer mengatakan, saat kita bertindak, barulah Tuhan akan bertindak. Seolah tindakan Tuhan sangat bergantung pada tindakan kita. Beberapa istilah yang pernah saya dengar adalah mengetuk pintu Sorga, menggoncang takhta Allah, dan lain sebagainya. Jelas, hal tersebut salah dan tidak sesuai Firman Tuhan.

Saya berikan ilustrasi. Anggaplah Anda baru memiliki seorang bayi. Apakah Anda mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan bayi Anda, seperti tempat tidur, susu, pakaian, dan kaos kaki, setelah dia lahir? Atau mungkin, Anda menunggu sang bayi meminta dan memohon kepada Anda, lalu baru Anda belikan di supermarket? Saya yakin tidak demikian.

Pasti Anda sudah menyediakan segala sesuatu yang dia butuhkan jauh sebelum dia membutuhkannya. Penyediaan Anda tidak bergantung pada tindakan bayi Anda. Sehingga ketika sang bayi lapar, susu sudah tersedia baginya; ketika dia kedinginan di malam hari, Anda sudah menyiapkan selimut dan pakaian hangat terbaik untuknya. Jika semua orangtua di dunia melakukan hal demikian, terlebih lagi Bapa Sorgawi.

Perhatikan. Tuhan tidak bertindak berdasarkan iman Anda. Dia bertindak atas kehendak-Nya sendiri, karena kasih-Nya yang besar kepada Anda. Iman Anda tidak menggerakan Tuhan, iman Anda menggerakkan Anda untuk bertindak. Banyak orang mengira Tuhan “macet”, sehingga mereka berpikir mereka harus menggerakkan Tuhan supaya memberikan kebangunan rohani, melepaskan kesembuhan dan berkat, dan membuat tanda-tanda ajaib. Di antara Tuhan dan kita, bukan Tuhan yang “macet”.

Ketika kita beriman, atau percaya kepada janji Tuhan, kita pasti bertindak. Kita bertindak karena kita percaya hal tersebut sudah disediakan, sekalipun mata jasmani kita belum melihatnya. Ibrani 11:1 mengatakan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

(Baca juga: BAGAIMANA CARA MELAKUKAN TINDAKAN IMAN?)

Jika demikian, ini berarti kita tidak menabur supaya Tuhan memberkati kita. Justru kita menabur, karena kita percaya Dia sudah terlebih dahulu memberkati kita. Dan, ketika kita menabur, benih kita akan berbuah 30, 60, 100 kali lipat. Itu janji Tuhan. Begitu halnya dengan berdoa. Kita tidak berdoa kesembuhan supaya Tuhan menyembuhkan kita. Kita berdoa kesembuhan karena hati kita percaya bahwa Dia sudah menyediakan kesembuhan itu untuk kita. Juga mengenai keselamatan. Kita pergi menginjil karena kita percaya bahwa Tuhan sudah menganugerahkan keselamatan bagi semua orang.

Ilustasi di atas sama seperti, seseorang memberikan kepada Anda sebuah mobil baru, tetapi Anda perlu mengambilnya di showroom. Mobilnya sudah tersedia di showroom. Secepat Anda mempercayai perkataan orang tersebut, lalu melangkah ke showroom, secepat itulah Anda menerima mobil yang dijanjikan orang tersebut.

Iman adalah bentuk respons kita terhadap segala sesuatu YANG TELAH Yesus lakukan di atas kayu salib 2000 tahun lalu. Iman adalah satu-satunya jalan supaya kita menerima sesuatu yang Tuhan sudah berikan kepada kita 2000 tahun lalu.

Saya bungkus dalam sebuah kesimpulan.

Tuhan terlebih dahulu menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan. Saya menyebut ini sebagai kasih karunia atau anugerah Tuhan. Dia telah memberikan semua berkat rohani itu di dalam Yesus. Tuhan memberikan kasih karunia-Nya yang indah itu tidak berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan kasih-Nya yang besar untuk kita, anak-anak-Nya.

Tuhan sudah memberikan kelimpahan, kesehatan, kesembuhan, kuasa, masa depan indah, berkat, dan segala sesuatu yang kita butuhkan. Namun, untuk menerima semuanya itu, kita perlu beriman, kita perlu percaya kepada-Nya. Ya, hanya itu cara-Nya. Roma 5:2a mengatakan, “Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini.” Perhatikan, bukan karena perbuatan baik kita menerima kasih karunia Tuhan, melainkan karena iman. Dan kemudian, iman kita menghasilkan perbuatan atau tindakan.

“Lalu, apakah artinya saya tidak perlu berbuat baik lagi?”

Seperti saya katakan, perbuatan baik Anda hanyalah buah dari iman Anda. Anda tidak perlu memikirkannya. Saat Anda percaya kepada Tuhan, perbuatan atau tindakan itu akan muncul dengan sendirinya.

Bayangkan Anda menanam sebuah pohon. Selama Anda benar menyiram, memberikan pupuk, dan menyinari dengan matahari yang cukup, Anda tidak perlu memikirkan apakah pohon ini akan berbuah atau tidak, dengan sendirinya pohon itu akan bertumbuh dan berbuah lebat. Begitu juga dengan anak laki-laki Anda. Anda tidak perlu repot memikirkan apakah suatu hari nanti kumisnya akan tumbuh atau tidak. Selama Anda berikan dia makan yang cukup, seiring dia bertumbuh dewasa, kumis itu akan tumbuh dengan sendirinya.

(Baca juga: AYUB (bagian 01) – APAKAH TUHAN BEKERJA SAMA DENGAN IBLIS?)

Bahkan, secara esktrim saya ingin katakan Anda tidak perlu berdoa supaya pohon tersebut berbuah, karena pohon itu akan berbuah dengan sendiri selama akarnya dirawat dan tertanam dengan benar. Begitu juga, Anda tidak perlu berdoa memohon-mohon supaya kumis anak Anda tumbuh. Ketika hati dan pikiran Anda tertanam dan berakar kuat di dalam kebenaran Kristus, ketika Anda percaya, dengan sendiri hidup Anda akan menghasilkan buah perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan iman yang baik dan mulia; juga kesehatan, berkat, kesembuhan, kelimpahan, mukjizat, umur panjang, dan masa depan yang indah dengan sendirinya akan mengalir dari dalam hidup Anda. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

BAGAIMANA CARA MELAKUKAN TINDAKAN IMAN?

Jika kita berbicara mengenai iman, tentu saja hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari tindakan. Yakobus 2:26 sudah menuliskannya untuk kita, bahwa iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Beberapa kali Yesus memuji iman orang-orang yang ditemui-Nya. Contohnya kisah pada Lukas 7:50. Setelah wanita berdosa itu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi, Yesus kemudian mengucapkan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau …” Teman, penting bagi kita untuk mengerti bahwa iman seseorang dapat terlihat dari tindakan orang tersebut.

(Baca juga: APA BENAR ORANG PERCAYA MEMERLUKAN HUKUM TAURAT?)

Perlu Anda garisbawahi bahwa yang Yesus puji bukanlah PERBUATAN wanita itu, melainkan IMANnya.

Banyak orang, saat dalam masalah, bertanya kepada saya, “Apa yang harus saya lakukan?” Pertanyaan itu menyiratkan sebuah fakta bahwa mereka mengira perbuatan merekalah yang terpenting, yang dapat mengubahkan situasi. Tidak demikian. Beberapa orang lain juga mengira jika mereka berbuat sesuatu yang rohani, seperti banyak berdoa, berbuat baik, memberi persembahan, dan lain sebagainya, barulah Tuhan akan mengabulkan doa dan permohonan mereka. Sungguh keliru!

Tentu saja tidak ada yang salah dengan berdoa, berbuat baik, atau memberi persembahan. Saya pun melakukan hal tersebut. Namun, bukan perbuatan-perbuatan itu yang menyelamatkan Anda, melainkan apa yang mendorong Anda melakukan perbuatan-perbuatan itu yang menyelamatkan Anda.

Galatia 3:11 jelas mengatakan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena MELAKUKAN hukum Taurat, karena: “Orang yang benar akan HIDUP OLEH IMAN.” Perhatikan, Firman Tuhan katakan bukan karena perbuatan, melainkan oleh iman.

Mari kita gali lebih dalam supaya kita benar-benar mengerti.

Saya ambil contoh persepuluhan. Anggaplah ada dua orang Kristen yang beribadah di dua gereja berbeda.

Orang pertama mendengar hamba Tuhan berkhotbah di gerejanya, “Kalau kamu tidak memberi persepuluhan, kamu mencuri uang Tuhan, kamu menipu Tuhan. Akibatnya, Tuhan akan mengirimkan binatang pelahap untuk menggerogoti berkat di dalam hidup kamu.” Setelah mendengar khotbah di atas, karena merasa takut mencuri uang Tuhan, orang pertama kemudian memutuskan untuk memberi persepuluhan.

Orang kedua mendengar khotbah mengenai persepuluhan di gerejanya, “Tuhan sudah sediakan kelimpahan bagi setiap orang percaya. Ketika kita menabur, Tuhan berjanji melipatgandakan setiap benih kita menjadi 30, 60, dan 100 kali lipat. Jika Anda percaya kepada janji-Nya mengenai kelimpahan, mulailah menabur.” Setelah mendengar khotbah itu, karena percaya kepada janji Tuhan, orang kedua kemudian memutuskan untuk memberi persepuluhan.

Sekarang perhatikan. Kedua orang di atas melakukan perbuatan yang persis sama, yaitu memberi persepuluhan. Pertanyaan saya, orang mana yang sedang melakukan tindakan iman? Jelas orang yang kedua. Sementara, orang pertama memberi persepuluhan berdasarkan ketakutan. Itu bukan iman.

Anda lihat, bukan “Apa yang harus saya lakukan?” yang terpenting, melainkan “Apa yang harus saya percayai?” yang jauh lebih penting.

Anda tidak perlu repot memikirkan yang harus dilakukan, karena pada dasarnya kita semua sudah tahu harus melakukan apa. Yang jadi masalah adalah apa yang mendorong Anda melakukan hal tersebut. Pastikan perbuatan Anda yang lakukan timbul karena Anda percaya kepada janji Tuhan. Kalau hal tersebut didorong oleh iman, Yesus katakan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau …” Di lain cerita, Yesus berkata, “Jadilah seperti yang engkau percaya.”

Supaya mudah mengenalinya, sebuah tindakan iman selalu diiringi oleh perkataan iman, sedangkan tindakan ketakutan selalu diiringi oleh perkataan penuh kekuatiran dan ketakutan.

Suatu hari ada seseorang perwira yang meminta kesembuhan kepada Yesus untuk hambanya yang sedang terbaring sakit (baca: Matius 8:5-13). Yesus menawarkan diri datang kepada hamba tersebut, tetapi sang perwira mengatakan, ” … katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”

Hal yang sama juga terjadi pada wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun (baca: Markus 5:25-34). Bersamaan dengan tindakannya mendekati dan menjamah jubah Yesus, wanita ini berkata dalam hatinya, ““Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”

Anda lihat, perkataan dan tindakan iman selalu berjalan bergandengan.

Jadi, apa itu tindakan iman? Tindakan yang Anda lakukan karena Anda percaya kepada janji Tuhan. Anda bisa mengecek hidup Anda dengan mudah. Apakah tindakan, perbuatan, atau keputusan yang Anda lakukan didasarkan karena Anda memegang janji Tuhan, atau karena ketakutan dan kekuatiran? Dengan kata lain, saya ingin menegaskan, untuk melakukan sebuah tindakan iman, Anda perlu tahu kebenaran Firman Tuhan, Anda perlu tahu janji Tuhan. Tindakan iman bukanlah tindakan yang dilakukan karena nekat, sok berani, atau tanpa pertimbangan, melainkan sebuah tindakan yang lahir akibat Anda membaca, merenungkan, lalu memutuskan untuk percaya kepada Yesus dan janji-Nya (baca: Roma 10:17 & Yosua 1:8).

“Jika saya dalam ketakutan, apakah yang harus saya lakukan?”

Saya tidak menemukan cara lain untuk mengobati penyakit bernama “takut” dan “kuatir” selain dengan percaya kepada janji Tuhan. Anda perlu membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Jika Anda sering “menyiksa” pikiran Anda dengan hal-hal negatif, seperti membaca berita negatif, menonton film dan membaca buku yang memperlihatkan nilai-nilai yang negatif, bergaul dengan orang yang negatif, tidak heran hati dan pikiran Anda penuh dengan hal-hal negatif. Anda perlu segera mengganti “asupan makanan” ke hati dan pikiran Anda dengan kebenaran Firman Tuhan yang memerdekakan.

Anda dapat menggunakan banyak instrumen seperti blog hagahtoday.commendengar rekaman khotbah, menonton video khotbah, datang ke persekutuan, membaca buku rohani, atau minta dibimbing oleh para pemimpin di gereja Tuhan untuk membantu Anda memahami kebenaran. Juga, tinggalkan pergaulan Anda yang buruk yang tidak mendukung pertumbuhan iman Anda. Jika Anda masih tidak mengerti, jangan berhenti, bertanyalah, cari jawabannya, sampai Anda benar-benar memahami dan hati Anda mempercayainya. Jangan kasih ruang kepada iblis untuk menipu hidup Anda.

(Baca juga: ORANG BERMENTAL MISKIN BUKAN BUTUH UANG, MELAINKAN YESUS)

Saya simpulkan begini. Tindakan Anda adalah bukti Anda menyetujui sesuatu dan bukti dari sesuatu yang Anda percayai. Seperti contoh di atas mengenai persembahan. Jika tindakan Anda adalah takut memberi karena takut kekurangan, berarti Anda sedang mempercayai situasi dan kondisi lebih dari janji Tuhan. Atau dengan kata lain, Anda setuju bahwa situasi dan kondisi tersebut adalah bagian Anda. Sebaliknya, ketika Anda memberi, itu adalah bentuk Anda lebih mempercayai janji Tuhan dibandingkan situasi dan kondisi yang Anda alami. Itulah tindakan iman. Tindakan iman membuat Anda melihat jauh ke depan kepada janji Tuhan, kepada apa yang Anda harapkan, melampaui situasi dan kondisi yang sedang Anda alami. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

ORANG BERMENTAL MISKIN BUKAN BUTUH UANG, MELAINKAN YESUS

Please Banerghatta National Park

Beberapa kali ada orang yang tidak saya kenal mengirimkan saya email dan bertanya apakah saya bisa meminjamkan uang kepadanya. Sebagian besar alasan mereka nekat meminjam uang ke saya karena masalah hutang, dana untuk orangtua yang sakit, biaya membayar cicilan kendaraan, uang sekolah, dan lain sebagainya. Semakin detil orang-orang itu menceritakan masalahnya, saya semakin yakin bahwa yang mereka butuhkan bukan uang, melainkan YESUS. Memberikan mereka uang hanya akan membuat mereka terus menerus mengira uang adalah jawaban dari masalah mereka.

Terhadap mereka yang ingin meminjam uang dengan alasan orangtua sakit, saya katakan kepada mereka untuk menceritakan kesembuhan untuk orangtua mereka, karena Firman Tuhan katakan bilur-bilur darah Yesus sudah menyembuhkan segala sakit penyakit kita (1 Petrus 2:24). Saya berikan mereka tautan tulisan-tulisan saya mengenai kesembuhan di blog ini.

Mungkin Anda tidak setuju dengan cara saya, tetapi saya percaya jika kita menceritakan kebenaran Firman Tuhan, orangtua kita tidak akan pernah sakit lagi. Mereka akan hidup sehat seperti yang Firman Tuhan janjikan dalam Yeremia 33:6. Anda tidak membutuhkan biaya pengobatan jika mereka sehat, bukan? Namun sayangnya, banyak orang tidak mau mempraktikkan kuasa Tuhan. Mereka lebih tertarik membawa orangtua mereka ke dokter. Banyak orang tidak mau menceritakan kabar baik mengenai kesembuhan yang Yesus telah berikan. Mereka lebih rela membiarkan orangtua mereka mendengar kabar buruk diagnosa dari dokter.

Saya tidak katakan salah untuk pergi ke dokter atau berobat. Saya hanya ingin Anda tahu bahwa Tuhan menjanjikan Anda sehat dan kalau Anda sehat artinya Anda tidak perlu ke dokter atau berobat.

Suatu hari ibu saya menelpon jam 11 malam. Dia mengatakan salah satu matanya tiba-tiba buram dan tidak bisa melihat. Dia ingin segera ke dokter. Mungkin kalau saya tidak percaya janji kesembuhan di dalam nama Yesus, saya akan panik mendengar berita ibu saya terserang sakit seperti itu. Namun, puji Tuhan saya memilih percaya bahwa segala sakit penyakit sudah ditaklukkan di bawah kaki Yesus. Saya menceritakan kabar baik mengenai kesembuhan, seperti yang saya tuliskan di dalam blog ini untuk Anda, dan mengajarkan kepada ibu saya cara mengusir sakit penyakit pergi dari tubuhnya. Malam itu juga dia sembuh dan sampai hari ini, sudah sekitar 4 tahun, dia tidak pernah lagi mengeluh mengenai matanya.

gift-givingTerhadap mereka yang ingin meminjam dengan alasan terbelit hutang, saya katakan kepada mereka untuk menabur dari seberapa pun yang yang mereka miliki. Karena Firman Tuhan katakan kalau kita menabur banyak, kita akan menuai banyak (2 Korintus 9:6). Juga, saya lampirkan kepada mereka tautan tulisan-tulisan saya mengenai menabur supaya mereka mengerti bahwa Tuhan ingin kita hidup berkelimpahan.

Ketika menyinggung mengenai menabur, banyak orang dengan defensif mengatakan bahwa mereka tidak memiliki uang. Terus terang saya tidak percaya bahwa orang-orang tersebut tidak memiliki uang. Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:10 jelas mengatakan bahwa Dia menyediakan benih bagi kita. Kita selalu memiliki sesuatu yang bisa kita tabur, meskipun jumlahnya sangat sedikit. Masalahnya bukan tidak ada benih, tetapi kita tidak percaya bahwa benih yang kita tabur akan menghasilkan. Padahal kalau kita mau percaya janji Tuhan, cukup dengan menabur satu benih apel, kita dapat menghasilkan sebuah pohon apel, bahkan kebun apel.

Suatu hari seorang anak remaja yang saya bimbing mengalami kesulitan ekonomi. Ayahnya meninggal, usaha keluarganya bangkrut, dan uang yang tersisa hanya beberapa puluh ribu di dompetnya. Lengkap penderitaannya! Ditambah lagi, ibunya berusaha menjual rumah, tetapi sudah beberapa tahun tidak ada seorang pun mau membelinya dengan harga yang pantas, karena rumahnya berada di gang dan kondisinya pun sudah kurang layak. Dia nyaris tidak memiliki uang. Hari itu saya tantang dia untuk menabur. Keesokan harinya, di gereja, dia memberikan semua uang yang dia miliki kepada saya, jumlahnya hanya sekitar 20-30 ribu rupiah. Dia katakan dia mau percaya kepada janji Tuhan, bukan kepada uang. Dia pulang dari gereja berjalan kaki dan bahkan hari itu tidak memiliki uang untuk makan. Kurang lebih satu bulan kemudian, mukjizat terjadi, rumahnya laku terjual dengan harga yang tinggi. Kemudian ibunya membeli sebuah rumah lain dan sampai hari ini, sudah berjalan lebih dari lima tahun, dia tidak pernah lagi ada di dalam kondisi “depresi” seperti sebelumnya.

Menurut Anda, apakah masalah anak remaja di atas akan selesai kalau saya berikan dia uang? Saya yakin tidak! Namun, ketika dia mendengarkan kebenaran dan dia memercayainya, kebenaran tersebut memerdekakan hidupnya. Yohanes 8:31-32 mengatakan, “Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.””

Teman, kalau Anda bertemu dengan peminta-minta di jalan, menurut Anda apa yang benar-benar mereka butuhkan? Kita sudah tahu, semakin sering kita berikan uang, semakin mereka semangat menjadi peminta-minta. Uang bukan jawabannya. Para peminta-minta itu tidak meminta-meminta karena hidup mereka miskin, mereka meminta-minta karena mereka berpikir mereka miskin. Mereka berpikir mereka tidak mampu, gagal, dan ditakdirkan hidup seperti itu. Jika boleh saya simpulkan, mereka malas.

homeless-1Menurut bahasa Ibrani dan Yunani, kata “miskin” bukan hanya berbicara mengenai kondisi tanpa uang, melainkan juga kondisi pikiran yang selalu merasa kekurangan. Para koruptor pada dasarnya adalah orang-orang yang memiliki banyak uang, tetapi di dalam pikirannya, mereka selalu berkekurangan. Itu sebabnya mereka korupsi. Mental miskin ini bukan hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak memiliki uang, tetapi juga oleh orang yang memiliki banyak uang.

Saya bertemu dengan banyak orang kaya yang sulit memberi. Itu terjadi karena mereka selalu berpikir mereka akan kekurangan jika memberi. Sebaliknya, ada orang-orang yang hanya memiliki uang seadanya, tetapi mempunyai hati memberi luar biasa. Merekalah orang-orang yang mengerti arti kelimpahan.

Menurut Anda, mana orang yang memiliki mental kelimpahan? Yang kaya, tapi takut memberi, atau yang miskin atau pas-pasan, tapi berani memberi?

Salah satu kisah memberi yang sangat menginspirasi saya adalah kisah si janda miskin yang dicatat dalam Lukas 21:1-4, “Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.””

Orang yang bermental miskin, selalu berpikir memberi akan membuat mereka kekurangan. Kebenarannya adalah saat kita memberi, kita sedang percaya bahwa kita adalah orang yang diberkati dan berkelimpahan.

Teman, satu-satunya alasan mengapa seseorang memiliki mental miskin, yang berakibat hidup miskin, karena pola pikir mereka yang salah. Pikiran mereka ditipu oleh si jahat melalui informasi-informasi yang salah. Dan, satu-satunya yang dapat memerdekakan mereka dari kondisi tersebut adalah kebenaran Firman Tuhan. Jika mereka percaya pada kebenaran, mereka tidak akan pernah meminta-minta lagi seumur hidup mereka, hidup mereka akan diberkati dan berkelimpahan.

homeless-poverty-poorSemua perubahan hidup kita tidak dimulai dari perilaku yang berubah, melainkan dimulai dari pola pikir yang berubah. Tidak ada cara lain. Dan, yang bisa mentransformasi pola pikir Anda hanya kebenaran Firman Tuhan. Saat pola pikir Anda berubah, perkatan dan perilaku Anda pasti berubah dengan sendirinya, dan ketika perkataan dan perilaku Anda berubah, hidup Anda akan berubah. Masa depan Anda akan berubah.

Itu sebabnya, dalam banyak kesempatan, ketika ada seseorang yang meminta atau meminjam uang, yang saya utamakan bukan memberi mereka pinjaman uang, melainkan membagikan kebenaran Firman Tuhan kepada mereka. Supaya pola pikir mereka berubah. Karena memberi adalah tanda bahwa Anda memiliki mental untuk menjadi orang yang diberkati. Ya, hanya orang berpikir bahwa dirinya diberkati yang berani memberi atau menabur. (penulis: @mistermuryadi)

========================================================================

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

MENGAPA MANUSIA MENINGGAL? APAKAH TUHAN YANG MENGAMBIL?

people at a funeral

Sekitar tiga minggu lalu, saya mengunggah sebuah rekaman Dating God in 60 Second berjudul Tuhan Yang Memberi, Tetapi Bukan Tuhan Yang Mengambil di Instagram @hagahtoday. Lalu, kemarin ada seseorang memberikan komentar bahwa menurut dia, manusia meninggal karena Tuhanlah yang mengambil manusia dari dunia ini, dengan cara Tuhan mengijinkan manusia tersebut mengalami kecelakaan ataupun sakit.

(Baca juga: TUHAN ADALAH BAPA YANG SANGAT BAIK)

Namun, apakah benar Alkitab mengatakan demikian?

Saya sungguh heran dari mana asal pengajaran bahwa Tuhanlah dalang yang mengambil kehidupan manusia di dunia ini. Dugaan saya, hal ini dikutip dari kata-kata yang dilontarkan Ayub waktu dia di dalam tekanan. Ayub 1:21 mengatakan, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama TUHAN.” Mengenai pernyataan Ayub itu, saya sudah menjelaskannya pada tautan berikut: TEOLOGI MENYESATKAN: “TUHAN YANG MEMBERI, TUHAN YANG MENGAMBIL” Saya sarankan Anda membacanya terlebih dulu.

Mari kita masuk ke topik utamanya.

Apakah Tuhan yang menciptakan kematian?

Kitab Kejadian adalah kitab yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Di dalam Kejadian 1, kita dapat melihat rencana awal Tuhan ketika DIA menciptakan segala sesuatu. Pada mulanya, Tuhan hanya menciptakan langit dan bumi. Langit adalah kediaman Tuhan dan semua malaikat, dan Bumi adalah kediaman kita, dan segala makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Lalu, Tuhan memberikan tujuan kepada masing-masing makhluk yang Dia ciptakan. Kepada manusia, Tuhan mengatakan, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

(Baca juga: AYUB (bagian 01) – APAKAH TUHAN BEKERJA SAMA DENGAN IBLIS?)

Dalam seluruh pasal Kejadian 1, Tuhan sama sekali tidak menyebutkan adanya fase kematian terhadap manusia, begitu juga dengan neraka, sama sekali tidak disebutkan. Yang ada hanya kehidupan.

Sampai suatu saat, kita semua tahu, Adam dan Hawa digoda ular dan jatuh ke dalam dosa. Sejak itulah kehidupan manusia menjadi rusak, Roma 3:23 mengatakan manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Dosa membuat manusia menjauhkan diri dari Tuhan, dan sebagai akibatnya, manusia terpisah dari Tuhan dan mati (Roma 6:23).

Sejak tragedi di Taman Eden, kematian secara daging menjadi bagian dari hidup manusia. Manusia lahir, tumbuh, dan mati secara daging. Saya bersyukur Yesus datang ke Bumi dan memberikan kepada kita roh yang baru, sehingga ketika daging kita mati di Bumi ini, roh kita tetap hidup selama-lamanya di Sorga kekal.

screen-shot-2016-11-11-at-12-45-46-amJadi, apakah Tuhan yang menciptakan kematian, atau lebih tepatnya kematian secara daging? Tentu saja bukan. Tuhan menciptakan kehidupan. Dalam Yohanes 10:10, Yesus menegaskan bahwa Dia datang supaya kita mempunyai hidup. Lalu, di Yohanes 11:26 Yesus mengatakan, ” … dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” Secara konsisten, dari awal penciptaan sampai kelahiran Yesus, Tuhan ingin manusia hidup, bukan mati.

Kematian secara daging menjadi bagian dari siklus kehidupan manusia karena keputusan yang manusia buat. Namun, berita gembiranya, semua orang yang percaya kepada Yesus tidak akan pernah mengalami kematian, kita akan hidup selamanya. Haleluya!

Usia manusia menurut Alkitab

Menurut Kejadian 6:3, Tuhan mengatakan bahwa usia manusia akan 120 tahun. Kendati demikian, pemazmur menuliskan di Mazmur 90:10 bahwa usia manusia hanya 70 tahun saja. Lalu, mana yang benar? Tergantung yang mana yang Anda ingin percayai. Saya pribadi, karena Tuhan menjanjikan umur panjang dalam Mazmur 21:4 dan Amsal 3:16, saya berharap usia saya akan mencapai 120 tahun.

Perlu dicatat, Kejadian 6:3 diucapkan oleh Tuhan sendiri, sedangkan Mazmur 90:10 dituliskan oleh si pemazmur.

Suatu hari saya pernah juga bertanya kepada seseorang mengenai berapa lama dia ingin hidup di dunia, lalu dia menjawab, “Saya tidak ingin hidup terlalu lama, terlalu banyak kepedihan yang saya lihat dan rasakan, saya ingin cepat-cepat masuk Sorga, tempat yang yang penuh sukacita dan damai.” Ternyata, ada juga orang yang tidak ingin hidup terlalu lama di dunia ini. Bagaimana dengan Anda?

Lalu, bagaimana dengan mereka yang meninggal sebelum 70 tahun?

Cukup sering saya mengunjungi ibadah pemakaman dan di 90% ibadah pemakaman yang saya hadiri, saya sering mendengar orang mengatakan, “Memang ini kehendak Tuhan, Tuhan yang mengijinkan hal ini terjadi, semua ini terjadi karena rencana Tuhan.” Apa benar demikian?

(Baca juga: AYUB (bagian 02) – APA DAN SIAPA YANG SEBABKAN PENDERITAANNYA?)

Menurut Anda, apakah Tuhan kita Tuhan yang mengatakan, “Usia kamu akan sampai 120 tahun,” lalu pada kesempatan terpisah Dia mengijinkan kecelakaan atau sakit penyakit terjadi di dalam hidup kita sehingga kita meninggal lebih cepat? Saya sungguh tidak percaya Tuhan yang saya sembah memiliki sifat seperti ini. Saya juga tidak percaya kalau Tuhan tidak dapat memegang perkataan-Nya sendiri.

“Kalau bukan Tuhan yang mengijinkan, mengapa ada orang yang meninggal sebelum usia 70 tahun?”

Saya berikan sebuah ilustrasi. Anda membeli sebuah mobil baru dari showroom. Showroom tersebut menjamin, jika Anda merawat dengan baik, mobil tersebut dapat dipakai selama 10 tahun. Lalu, suatu hari mobil Anda mogok dan seorang teknisi mengatakan mobil Anda sudah rusak dan tidak dapat dipakai lagi. Anda bingung mengapa mobil tersebut rusak, padahal baru dipakai lima tahun. Setelah diperiksa, sang teknisi mengatakan, mobil Anda jarang diservis dan sering membawa beban lebih berat dari seharusnya. Apakah ini artinya pabrik mobil tersebut yang membuat mobil Anda rusak? Tentu tidak. Cara Anda memperlakukan mobil tersebut yang membuat mobil Anda rusak sebelum waktunya. Hal yang sama terjadi pada hidup kita. Seringkali kita tidak menjalani kehidupan yang sesuai dengan “buku panduan” yang telah TUHAN berikan. Teman, Anda diciptakan oleh Tuhan, itu sebabnya kita perlu mempelajari Firman Tuhan mengenai cara menjalani kehidupan di dunia ini. Jika terjadi penyimpangan, tidak heran kita “rusak” sebelum waktunya.

Penghiburan

Saya tidak sedang berusaha mengecilkan kesedihan Anda akibat kepergian orang-orang yang Anda kasihi. Namun, kita perlu melihat hal itu dengan benar, supaya kita tidak larut dalam pikiran bahwa Tuhanlah dalang kepergian mereka. Saya bertemu beberapa orang yang bertahun-tahun menyimpan kepahitan dan kekecewaan mendalam karena mengira Tuhan yang mengijinkan orang-orang yang mereka kasihi meninggal dunia.

landscape-1470747817-funeralMemang, cara termudah untuk meringankan kesedihan orang yang sedang berduka adalah dengan mengatakan, “Semua adalah rencana Tuhan dan rencana-Nya adalah yang terbaik,” tetapi ini bukan jawaban yang benar. Jika Anda ingin mencari jawaban yang benar, Anda perlu menelusuri kehidupan orang-orang tersebut. Anda perlu mencari tahu apakah setiap keputusan dan cara hidup mereka sesuai dengan buku panduan yang Tuhan sudah berikan.

Satu hal yang saya sangat yakin mengenai Tuhan, bukan Tuhan yang mengijinkan kecelakaan, sakit penyakit, atau pun hal-hal buruk terjadi dalam hidup kita, apalagi sampai merenggut nyawa. Yeremia 29:11 sangat jelas mengatakan rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan.

(Baca juga: TUHAN HANYA RANCANGKAN YANG BAIK)

Teman, Tuhan tidak pernah mengambil dari kita, justru Tuhan kita Maha-Memberi. Ayat 1 Yohanes 4:8 mengungkap bahwa Tuhan adalah kasih. Sifat kasih adalah memberi, bukan mengambil. Kebenaran ini sejalan dengan Yohanes 3:16, “Karena begitu besar KASIH Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah MENGARUNIAKAN Anak-Nya yang tunggal …” Bahkan, ketika semua manusia jatuh di dalam dosa, Tuhan tidak mengambil seluruh kehidupan kita, sebaliknya, Dia memberikan Yesus kepada kita, untuk menuntun kita kepada pertobatan (Roma 2:4). Haleluya. (penulis: @mistermuryadi)

=========

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

APA BENAR ORANG PERCAYA MEMERLUKAN HUKUM TAURAT?

462805293_1280x720Di hari pertama saya percaya YESUS 23 Agustus 1997, saya dikenalkan kepada Hukum Taurat. Selama belasan tahun saya berusaha menghidupi tuntutan Hukum Taurat, sampai suatu hari pertanyaan-pertanyaan ini muncul: Apa benar seorang Kristen harus menjalani Hukum Taurat? Bukankah Hukum Taurat diberikan kepada Bangsa Israel yang beragama Yahudi?

Sebelum Anda membaca terus ke bawah, saya merasa perlu mengingatkan bahwa kemungkinan besar apa yang Anda baca di artikel ini belum pernah Anda dengar di persekutuan atau gereja Anda. Saya ingin Anda menguji apa yang saya tuliskan di bawah ini. Buka, baca, pelajari, renungkan, dan teliti setiap ayat yang saya tuliskan di sini. Saya percaya ketika Anda membaca dan merenungkan Firman Tuhan, Firman yang adalah Tuhan sendiri akan berbicara memberikan hikmat dan menuntun Anda kepada kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan Anda.

Mari kita mulai “perjalanan” menjelajahi kebenaran mengenai Hukum Taurat.

Peta Zaman watermarkBerdasarkan konteks yang sedang kita bicarakan, zaman terbagi menjadi tiga bagian, yaitu zaman sebelum Hukum Taurat (zaman Kasih Karunia pertama), zaman Hukum Taurat, dan zaman setelah Hukum Taurat (zaman Kasih Karunia kedua: kebangkitan YESUS). Penting kita mengenali ketiga zaman ini, supaya kita dapat mengerti bahwa hari ini kita tidak lagi hidup di zaman Hukum Taurat, melainkan di zaman Kasih Karunia.

Perhatikan peta zaman di samping ini. Selama 3000 tahun Tuhan bekerja dengan cara mengasihi manusia tanpa syarat, yang artinya Hukum Taurat bukanlah rencana Tuhan sejak awal. Lalu, di Zaman Musa, manusia meminta Hukum Taurat karena kesombongannya. Dimulailah zaman kutuk dan hukuman, sampai akhirnya YESUS datang menebus setiap kutuk dan menanggung setiap hukuman kita. Kini, kita kembali hidup di zaman Kasih Karunia, di mana Tuhan mengasihi kita tanpa syarat.

Satu kebenaran yang melegakan, bahwa selama 6000 tahun Tuhan begitu setia mengasihi manusia. KasihNYA tidak pernah berubah dulu, sekarang, sampai selamanya (Ibrani 13:8). Tetapi, mengapa di zaman Hukum Taurat seolah Tuhan berubah menjadi pemarah dan suka menghukum? Teman, bukan Tuhan yang berubah, manusialah yang berubah. Dosa telah mengubah manusia. Manusia yang hari ini berkata, “saya mau setia,” lalu besok berubah setia; yang maju mundur, dan on and off.

“Apa itu Hukum Taurat?”

Banyak orang salah kaprah mengira bahwa Hukum Taurat itu hanyalah berisi Sepuluh Perintah Allah seperti yang tertulis di Keluaran 20:1-17. Teman, itu hanya rangkumannya saja. Tidak lama setelah Musa menerimanya di atas gunung Sinai, dia menjabarkan Sepuluh Perintah Allah menjadi 613 butir peraturan dan ketentuan. Peraturan dan ketentuan inilah yang sebenarnya disebut dengan Hukum Taurat. Wow! Sama seperti lima sila Pancasila yang dituangkan menjadi 16 bab, 37 pasal, dan 194 ayat dalam Undang-Undang Dasar kita.

Jika Anda penasaran dengan keseluruhan isi Hukum Taurat, Anda bisa mengunduhnya di sini. Tarik napas panjang sebelum Anda memutuskan untuk melakukannya.

Yakobus 2:10 mengatakan, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Tahukah Anda belum pernah ada seorang pun di muka Bumi ini berhasil melakukan seluruh Hukum Taurat (Galatia 2:16), bahkan orang Farisi dan para ahli Taurat, kecuali YESUS (Matius 5:17). Lalu, kenapa kita berpikir dapat berhasil melakukannya? Percayalah, Anda tidak akan menjadi orang pertama yang berhasil memenuhinya.

Anda juga perlu tahu akibat dari gagal melakukan seluruh Hukum Taurat. Ya, kutuk akan mengejar sampai Anda musnah (Ulangan 28:45). Tapi, bersyukurlah Efesus 2:15 katakan bahwa YESUS telah membatalkan Hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya. Artinya, Anda tidak dihukum atau dikutuk ketika Anda gagal melakukan Hukum Taurat. Bukan hanya itu. Galatia 3:13 juga mengatakan bahwa YESUS telah menebus kita kutuk Hukum Taurat. Haleluya!

“Jadi, apakah kita masih perlu melakukan Hukum Taurat?”

Sebelum saya menjawabnya, ijinkan saya bertanya, apakah Anda hafal ke-613 peraturan dan ketentuan dalam Hukum Taurat? Baiklah, bagaimana jika setengahnya, apakah Anda hafal? Jika tidak, jangan-jangan Anda sedang melanggarnya.

Teman, baiklah saya ingin bertanya serius, Anda yakin dengan kekuatan dan cara hidup Anda, Anda dapat memenuhi seluruh hukum ini? Ingat, gagal satu, artinya gagal semuanya. Saran saya, berhentilah melakukannya, Anda tidak akan sanggup menjalaninya secara sempurna. Maafkan keterusterangan saya, saya tidak bermaksud mematahkan semangat Anda, saya hanya ingin Anda tidak membuang-buang waktu Anda dalam hal ini.

(Baca juga: APA KATA YESUS TENTANG HUKUM TAURAT?)

“Jadi Koh Zaldy, apakah kita masih perlu melakukan Hukum Taurat?” Kalau YESUS sendiri sudah membatalkannya, untuk apa kita masih melakukannya?

Saya bertemu dengan orang-orang yang mengatakan kita masih tetap perlu melakukan Hukum Taurat. Sejujurnya, saya pun berpikir demikian pada awalnya, sampai akhirnya saya membaca ayat di Galatia 2:21, “Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.”

Jika benar kita masih perlu melakukan Hukum Taurat, saya heran kenapa lebih banyak ayat di dalam Perjanjian Baru yang justru mengindikasikan supaya kita tidak lagi hidup di dalam Hukum Taurat.

christ-is-the-end-of-the-lawRasul Paulus pernah mengatakan di Galatia 3:11-12, “Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman.” Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya.” Mari kita jabarkan maksud Paulus.

Seperti kita ketahui bersama bahwa menurut Ibrani 11:1, IMAN adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sederhananya, IMAN adalah percaya kepada janji dan perkataan YESUS. Lalu, bagaimana dengan Hukum Taurat? Apakah melakukan Hukum Taurat itu berarti tidak menaruh iman kepada YESUS?

Ya, itu yang Paulus coba sampaikan bahwa dasar Hukum Taurat bukan iman, bukan kepada janji dan perkataan YESUS, melainkan manusia yang melakukannya. Atau dengan kata lain, melakukan Hukum Taurat sama dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Mungkin Anda pernah mendengar orang percaya berkata, “Lihat, Tuhan jawab doa saya karena saya tidak pernah bolong berdoa selama sebulan ini,” “Sebelum saya mendoakan mereka yang sakit, saya biasanya berdoa dan berpuasa dulu selama dua minggu penuh,” “Berkat Tuhan melimpah karena sejak saya bertobat saya tidak pernah lupa memberikan persepuluhan,” atau “Saya harus jaga kekudusan supaya pengurapan Tuhan turun dan supaya DIA hadir di dalam ibadah.”

Lihat, pusatnya adalah kepada “saya”, bukan Kristus (Efesus 2:20), saya menyebutnya self-righteous. Akibatnya, orang jadi merasa lebih baik  dan lebih benar dari orang lain, alias sombong rohani. “Lihat, dosa saya lebih sedikit dari dosa kamu,” “Hidup saya lebih benar dari hidup kamu.” Teman, siapa yang mau pergi ke Neraka dengan menyandang gelar Orang-Yang-Paling-Sedikit-Berbuat-Dosa?

Galatia 3:24 katakan, “Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.”

“Jika YESUS menebus Hukum Taurat, lalu untuk apa Tuhan memberikan Hukum Taurat?”

Mari kita lihat apa yang dikatakan Roma 3:19-20 mengenai hal ini, “Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”

Banyak orang berpikir tujuan Hukum Taurat diberikan adalah supaya menuntun mereka ke dalam jalan kebenaran. Firman Tuhan tidak mengatakan demikian. Firman Tuhan justru katakan, karena Hukum Taurat, orang mengenal dosa. Firman Tuhan dari 1 Korintus 15:56 mengukuhkan ini, “Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.” Ya, mungkin Anda sedikit shock membaca hal ini. Tetapi, bukan saya yang menuliskannya, melainkan Firman Tuhan.

Untuk mengerti hal di atas, mari kita melintas sebentar ke zaman sebelum Hukum Taurat ada. Selama 3000 tahun, sejak zaman Adam sampai sebelum Tuhan menurunkan Hukum Taurat, Tuhan mengasihi manusia tanpa melihat perbuatan mereka. Mulai dari Kain. Setelah membunuh Habel, Tuhan masih datang menghampiri Kain, bahkan mengabulkan doa Kain (Kejadian 4). Lalu Abraham, pria yang menjual istrinya sebanyak dua kali ini mendapat julukan Bapa Orang Percaya. Yakub yang mencuri hak kesulungan kakaknya dilayakkan untuk menjadi Israel dan menurunkan 12 suku Israel yang sangat tersohor. Dan, masih banyak lagi kisah lainnya.

Anda bisa melihat bahwa Tuhan yang selalu ingin membangun hubungan dengan manusia. Sesungguhnya arti kata Jehovah sendiri adalah Tuhan Yang Maha Besar (Elohim) yang ingin membangun hubungan dengan manusia. Jika Anda mempelajari Bahasa Ibrani, Anda akan melihat perubahan dari kata “Elohim” menjadi “Jehovah” setiap kali Tuhan berbicara atau pun berhubungan dengan manusia.

Perubahan manusia terjadi di zaman Musa. Saya percaya ini terjadi akibat dari dosa. Dosa tidak merubah kasih Tuhan kepada manusia, dosa mengubah kasih manusia kepada Tuhan. Persepsi Bangsa Israel terhadap Tuhan berubah menjadi, “Engkaulah (Musa) berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati (Keluaran 20:19).” Manusia menolak untuk bertemu dengan Tuhan. Dan sebagai gantinya, mereka meminta Hukum Taurat. Saat Bangsa Israel meminta Hukum Taurat, mereka mengatakan ini, “(Keluaran 19:8) Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan.” Lalu Musapun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN.”

Mungkin Anda berpikir pernyataan dalam Keluaran 19:8 adalah perkataan yang optimis. Anda perlu melihatnya dari kacamata Bangsa Israel, karena kalimat di atas merupakan kalimat yang sangat arogan. Jika diterjemahkan ke bahasa modern, kalimat di atas berkata, “Tuhan, kami tidak memerlukan Engkau untuk hidup benar, kami bisa melakukannya tanpaMU. Kami sadari Engkau memiliki standar yang tinggi, tetapi kami dapat memenuhi standar tersebut dengan cara dan kekuatan kami. Silakan Engkau menilai kami dari perbuatan kami.”

Teman, Hukum Taurat bukanlah rencana awal Tuhan. Kalau ini merupakan rencana awal Tuhan, pasti Tuhan akan memberikannya di Taman Eden. Manusialah yang meminta Hukum Taurat tersebut karena kesombongannya.

Roma 3:19 katakan, “Supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.” Apa arti semuanya ini? Yang pertama, supaya manusia tidak merasa bisa tanpa Tuhan. Anda tahu terkadang dengan mulut kita, kita seolah superman, bahkan Tuhan? Kita merasa yang paling benar, paling pintar, paling hebat, padahal semua yang baik yang ada di dalam hidup kita berasal dari Tuhan. Kebenarannya, kita bukan apa-apa tanpa Tuhan.

Kedua, supaya manusia mengakui kedaulatan Tuhan. Supaya manusia tahu bahwa dirinya butuh Juruselamat. Teman, tanpa Seorang Juruselamat, yaitu YESUS, Anda dan saya tidak akan pernah diselamatkan. Banyak orang menjadi Tuhan atas dirinya sendiri. Tapi kita semua tahu bahwa setiap orang butuh YESUS. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya YESUS yang menyelamatkan.

Hukum Taurat diberikan supaya Bangsa Israel menyadari mereka tidak bisa hidup tanpa TUHAN. Mereka butuh Jurselamat. Mereka tidak bisa hidup dan dibenarkan dari perbuatan mereka, melainkan dari kasih karunia TUHAN semata.

“Sebenarnya untuk siapa TUHAN menciptakan Hukum Taurat?”

tencommandmentsMari kita buka kembali Roma 3:19, “Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.”

Jika Anda membaca keseluruhan ayat di Roma 3 Anda akan mengerti bahwa orang-orang yang dimaksud dengan “mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat” adalah Bangsa Israel, atau lebih tepatnya Bangsa Israel yang beragama Yahudi. Teman, Hukum Taurat tidak pernah dimaksudkan untuk orang yang bukan Yahudi. Anda dan saya tidak seharusnya hidup berdasarkan Hukum Taurat.

Banyak orang mengira agama Yahudi dan Kristen saling berkaitan satu sama lain. Anda keliru. Jika Anda pergi ke Israel dan bertanya kepada para pemeluk agama Yahudi di sana, Anda akan terkejut mendapatkan fakta bahwa tidak ada seorang pun yang beragama Yahudi percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Sampai hari ini orang-orang Yahudi masih menantikan Mesias mereka.

Saya pernah berbincang dengan seorang Rabi yang bekerja di The Temple Institute di Yerusalem. Saya bertanya, apakah dia pernah membaca Perjanjian Baru dan apakah dia percaya kepada YESUS. Rabi ini menjawab, “Saya pernah membaca beberapa pasal dari kitab Matius dan Markus, lalu saya segera menutupnya, karena semua yang tertulis di dalam kitab tersebut bukanlah fakta.”

Teman, Hukum Taurat bukanlah pondasi ke-Kristenan, seperti yang banyak orang kira. Setiap kali Yesus atau pun Para Rasul membicarakan Hukum Taurat, pembicaraan tersebut selalu ditujukan kepada orang Yahudi, bukan kepada orang Kristen. Dalam Markus 12:28-31 YESUS katakan bahwa Hukum Yang Terutama adalah Hukum Kasih: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia. Ya, Hukum Taurat adalah milik mereka yang beragama Yahudi, sedangkan untuk Anda dan saya, YESUS berikan Hukum Kasih. Itu sebabnya orang-orang Kristen yang mencoba hidup dengan Hukum Taurat begitu tersiksa menjalaninya.

“Apa bukti manusia bisa hidup tanpa Hukum Taurat?”

Mari kita baca Roma 3:20-22, “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.”

(Baca juga: DOSA KITA YANG AKAN DATANG SUDAH DIAMPUNI)

Firman Tuhan katakan tanpa Hukum Taurat, kebenaran Allah telah dinyatakan. Banyak yang berpikir kebenaran hanya bisa ditegakkan dengan Hukum Taurat. Saya bisa mengerti ketakutan banyak orang dalam hal ini. Seseorang pernah berkata kepada saya, “Tanpa Hukum Taurat, manusia tidak memiliki pedoman untuk menjauhi dosa.”

Anda ingat kisah Yusuf? Yusuf hidup ratusan tahun sebelum ada Hukum Taurat. Apakah sudah ada dosa pada zaman itu? Jelas sudah ada, tapi Yusuf bergaul dengan Tuhan. Dia menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupannya. Berkali-kali dalam Kejadian 39 dikatakan Yusuf adalah orang yang berhasil karena Tuhan menyertainya atau dengan kata lain, Yusuf berhasil karena Yusuf selalu mengandalkan Tuhan. Ya, Yusuf memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Suatu hari, datanglah ujian terbesar dalam hidup Yusuf, yaitu ketika dia digoda oleh istri Potifar. Ini respons Yusuf yang hidup tanpa Hukum Taurat, namun bergaul karib dengan Tuhan, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah? (Kejadian 39:9).”

Anda lihat, tanpa Hukum Taurat, kebenaran Tuhan tetap dapat dinyatakan. Yusuf sadar bahwa dosa itu berbahaya bagi hidupnya. Bagaimana caranya? Karena matanya tertuju kepada Tuhan, yang kita kenal dengan nama YESUS. Jika Anda memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, Anda akan membenci yang Tuhan benci dan mencintai yang Tuhan cintai. Tanpa hubungan intim dengan Tuhan, Anda akan mencintai yang Tuhan benci, dan membenci yang Tuhan cintai.

Jadi, Anda dapat memilih dua cara hidup, yaitu hidup menurut Hukum Taurat yang sempurna dan berat, atau hidup percaya kepada Yesus (memiliki hubungan intim). Yesus telah menggenapi Hukum Taurat, karena itu melalui kematianNYA, DIA telah membatalkan perjanjian yang dibuat dengan Hukum Taurat (Efesus 2:15a). Atau dengan kata lain, Anda tidak perlu lagi melakukan 613 peraturan dan ketentuan Hukum Taurat untuk diberkati atau pun dikasihi Tuhan. Anda cukup percaya kepada YESUS. Firman Tuhan katakan, “Tidak ada perbedaan.” (penulis: @mistermuryadi)

========================================================================

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

APA KATA YESUS TENTANG HUKUM TAURAT?

Di tengah ricuhnya ajaran Hyper Grace yang menitikberatkan kepada Hukum Kasih Karunia yang diajarkan Rasul Paulus dan mengumandangkan telah dibatalkannya Hukum Taurat yang dibawa oleh Musa, sebuah topik menarik muncul, yaitu bagaimana dengan YESUS? Apa yang YESUS katakan mengenai ajaran Hukum Taurat?

pictures-of-jesus-with-a-child-1127679-wallpaperSekitar beberapa bulan lalu ada seseorang mengirimkan komentar kepada saya setelah saya membuat tulisan mengenai Hukum Taurat selama hampir satu minggu penuh. Karena saya banyak mengutip tulisan dari Rasul Paulus, orang ini berkata kepada saya, “Memangnya menurut Anda tulisan Rasul Paulus itu yang paling benar? Apa Rasul Paulus adalah Tuhan Anda?” Saya hanya mengelus dada membacanya. Logikanya, jika kita ingin mengabaikan Paulus dalam hal ini berarti kita harus membuang sekitar sepertiga Perjanjian Baru.

Lalu, beberapa orang juga merespons tulisan-tulisan saya dengan menanyakan perkataan YESUS di Matius 5:17-20, karena di ayat-ayat tersebut dengan jelas YESUS mengatakan supaya kita melakukan dan mengajarkan Hukum Taurat.

Teman, jika kita melihat seolah ada “pertentangan” antara satu ayat dengan ayat lainnya, jangan terburu-buru mengatakan, “Lihat, ini berbeda”, karena saya percaya Firman Tuhan merupakan suara Tuhan sendiri dan tidak mungkin apa yang tertulis di dalamnya saling bertentangan. Jika kita belum mengerti, kita bisa belajar atau bertanya ke orang lain.

(Baca juga: DOSA KITA YANG AKAN DATANG SUDAH DIAMPUNI)

Melalui artikel ini, saya ingin menjelaskan pernyataan YESUS yang mengganjal itu. Saya ingin meluruskan bahwa, baik YESUS, maupun Rasul Paulus, mereka mengajarkan hal yang sama mengenai Kasih Karunia dan Hukum Taurat. Saya harus akui saya belum pernah mendengar seorang pun mengajarkan hal ini, saya mendapatkannya sebagai pewahyuan pribadi, jadi Anda tidak harus setuju dengan tulisan saya, tapi setidaknya berilah saya kesempatan menjelaskan sebelum Anda menutupnya. Saya percaya Tuhan yang adalah sumber hikmat akan memberikan pengertian kepada Anda. Dan saya percaya, kebenaran Tuhan akan memerdekakan Anda.

Sebelum kita membahas dengan detil, berikut saya kutip isi Matius 5:17-20 dari Alkitab terjemahan LAI.

50VA36617* “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18* Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 19* Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. 20* Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Di ayat 17, Yesus katakan bahwa DIA datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya. Kenapa seperti itu? Alasannya sederhana, karena yang menciptakan Hukum Taurat adalah Tuhan sendiri, ke-10 perintah tersebut ditulis dengan jariNYA sendiri. Kalau YESUS datang meniadakan Hukum Taurat, itu sama seperti DIA sedang, maaf, “menjilat ludah” sendiri, atau dengan kata lain YESUS mengatakan, “Ya, mohon maaf, dulu Saya salah, Saya akan memperbaikinya sekarang.”

Hukum Taurat diberikan untuk sebuah tujuan, yaitu untuk membuat Bangsa Israel tersadar bahwa mereka membutuhkan Juruselamat, bahwa mereka menyadari hanya Tuhan yang sanggup membenarkan, menguduskan, dan menyucikan hidup mereka (1 Korintus 1:30), seperti yang tercatat di dalam Roma 3:19, “Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.” Dan tujuan tersebut berhasil. Itu sebabnya tidak ada seorangpun, di Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, yang dapat menggenapi Hukum Taurat, kecuali Yesus, Sang Pencipta Hukum Taurat.

Charlton-Heston-as-MosesHukum Taurat berisi tuntutan supaya manusia, dengan usaha, perbuatan, dan kekuatannya, memenuhi standar Tuhan dengan sempurna. Dan Anda perlu tahu kitab Yakobus 2:10 katakan, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Kita, orang-orang yang hidup di dalam Perjanjian Baru, sudah tahu bahwa tuntutan Hukum Taurat tidak mungkin dipenuhi dengan usaha atau kekuatan kita, itu sebabnya YESUS datang untuk menggenapinya. Saya berikan ilustrasi. Misalnya saya berhutang 10 juta rupiah kepada Anda. Setiap hari Anda datang menagihnya ke rumah saya, namun suatu hari ada seseorang yang melunasi, atau dalam konteks ini menggenapi tuntutan Anda, apakah setelah hutang saya lunas dibayar, saya masih perlu membayar kepada Anda? Tentu saja tidak! Itu sebabnya setelah YESUS menggenapi atau membayar lunas Hukum Taurat, sehingga kita tidak perlu lagi menggenapinya.

Lalu di ayat 18 YESUS menjelaskan, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Saya jelaskan sedikit. Iota adalah huruf terkecil dalam bahasa Ibrani, bahasa asli Hukum Taurat, yaitu huruf “yod”. Jadi YESUS menyampaikan, sebelum semuanya terjadi, yang merujuk kepada pengorbanan-NYA di atas kayu salib, tidak ada seorang pun yang boleh menghilangkan satu huruf terkecil dan satu tanda baca terkecil pun dari Hukum Taurat. Atau dengan kata lain, YESUS ingin menggenapi seluruh Hukum Taurat dengan sempurna, supaya tidak ada lagi yang tersisa sedikit pun untuk Anda dan saya genapi. Itu sebabnya sesaat sebelum Yesus mati, DIA mengatakan, “Sudah Selesai,” yang dalam bahasa Yunaninya ditulis “tetelestai” yang artinya sudah sempurna.

Perkaataan Yesus dari ayat 17 sampai ayat 18 terdengar seirama dan saling mendukung satu sama lain, tetapi begitu kita membaca ayat 19, semuanya jadi bertolak belakang. Di ayat 17 dan 18, YESUS katakan DIA akan menggenapi atau menyelesaikan seluruh Hukum Taurat, tetapi di ayat 19 YESUS yang sama mengatakan untuk melakukan dan mengajarkan Hukum Taurat. Bagaimana mungkin?

Mari kita bedah ayat 19.

moses10commandmentsBerikut saya lampirkan terjemahan dari Alkitab versi King James, “Whosoever therefore shall break one of these least commandments, and shall teach men so, he shall be called the least in the kingdom of heaven: but whosoever shall do and teach them, the same shall be called great in the kingdom of heaven.” Saya tidak mengerti mengapa penerjemah Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkan kata “commandments” menjadi “segala perintah Hukum Taurat”, padahal harusnya hanya diterjemahkan “perintah” saja. Padahal di ayat 17 dan 18, kata “Hukum Taurat” diterjemahkan dari kata “The Law”. Akibat penerjemahan yang salah ini, banyak orang percaya salah mengartikan perkataan YESUS mengenai Hukum Taurat, dan memengaruhi makna dari ayat 20.

Jika membaca terjemahan King James, ayat 19 berbunyi kurang lebih seperti, “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu bagian dari perintah-perintah ini, sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah ini, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”

Lalu, perintah apa yang dimaksud oleh YESUS dalam ayat 19 kalau bukan merujuk kepada perintah Hukum Taurat? Oh, ini dia kabar baiknya untuk Anda.

Kata “perintah” yang YESUS maksud dalam ayat 19 merujuk kepada perkataan YESUS di ayat 17 dan 18, bahwa DIA datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya, bahwa YESUS ingin menggenapi seluruh tuntutan Hukum Taurat, supaya Anda dan saya tidak perlu lagi melakukannya. Haleluya!

(Baca juga: APA BENAR ORANG PERCAYA MEMERLUKAN HUKUM TAURAT?)

Dan perlu Anda garisbawahi bahwa YESUS bukan hanya ingin memberikan kebenaran ini kepada Anda dan saya, di ayat 19 juga dikatakan supaya kita melakukan, atau dengan kata lain menghidupi kebenaran ini, dan mengajarkannya kepada orang lain. Teman, di luar sana banyak sekali orang yang masih mempercayai bahwa mereka harus hidup menjalankan Hukum Taurat, dan sebagai akibatnya orang-orang tersebut hidup dalam ketakutan, perasaan bersalah, dan tertuduh, padahal Efesus 2:15 dengan sangat jelas mengatakan, “Dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya.”

Jesus-crucified-2Berikut saya lampirkan beberapa ayat yang meneguhkan pernyataan saya di atas. Sebenarnya ada banyak ayat yang mendukung, tapi saya pilihkan 10 ayat saja untuk Anda renungkan:
1. Roma 3:20 Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.
2. Roma 3:28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.
3. Galatia 2:16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.
4. Galatia 2:21 Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.
5. Galatia 3:11 Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh iman.”
6. Galatia 3:10 Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.”
7. Galatia 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”
8. Galatia 4:5 Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.
9. Galatia 5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.
10. Galatia 5:18 Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

Sungguh kebenaran ini membawa kelegaan dan sukacita bagi saya, dan mengubahkan perspektif saya mengenai pemahaman pada Matius 5:20, yang berbunyi, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Dulu, ketika membaca ayat 20, saya selalu bertanya-tanya bagaimana cara saya memiliki kehidupan keagamaan yang lebih baik dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Anda bisa membayangkan betapa stresnya saya selama bertahun-tahun mencoba untuk hidup lebih baik dari mereka. Jangankan hidup seperti mereka, yang sejak kecil sudah mengenal dan dididik berdasarkan Hukum Taurat, bahkan saya kesulitan menghafal 613 peraturan Hukum Taurat.

pictures-of-jesus-blind-man-thanks-1138184-wallpaperSaya bersyukur kebenaran Firman Tuhan memerdekakan hidup saya. Kini saya mengerti bahwa ada satu, dan saya sangat yakin ini satu-satunya cara, supaya kita bisa memiliki kehidupan yang lebih benar, lebih baik, dan lebih mulia dari ahli Taurat dan orang Farisi, yaitu dengan cara percaya kepada karya penebusan YESUS di atas kayu salib. Percaya bahwa YESUS telah menggenapi seluruh tuntutan Hukum Taurat, sehingga kita tidak perlu lagi hidup di bawah Hukum Taurat. Ayat 1 Yohanes 4:17 katakan, ” … karena sama seperti DIA, kita juga ada di dalam dunia ini.” Jika YESUS benar, layak, dan kudus di mata Bapa, maka saya pun dibenarkan, dilayakkan, dan dikuduskan di mata Bapa; jika YESUS berkenan di mata Bapa, maka saya pun berkenan di mata Bapa; dan jika YESUS dikasihi oleh Bapa, maka saya pun dikasihi oleh Bapa. (penulis: @mistermuryadi)

========================================================================

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.