HARGA UNTUK MENGIKUT YESUS

Bahan renungan:

Lukas 5:11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Ayat di atas adalah cuplikan ketika Yesus melakukan mukjizat kepada para murid di Danau Genesaret. Usai percakapan mereka dengan Yesus, Petrus, Yohanes, dan Yakobus meninggalkan jalanya di tepi pantai dan mengikut Yesus. Bukan hanya jala dan pekerjaan yang mereka tinggalkan, tetapi Firman Tuhan mengatakan, mereka meninggalkan segala sesuatu. Sungguh sebuah keputusan yang radikal!

(Baca juga: JANGAN BIARKAN ORANG-ORANG YANG KITA KASIHI TERJERUMUS)

Saya membayangkan berada dalam situasi tersebut. Sungguh tidak mudah untuk membuat sebuah keputusan yang sangat besar dalam waktu yang begitu singkat. Namun, ketiga murid itu sepertinya tidak mengalami sedikitpun kesulitan saat membuat keputusan tersebut.

Meninggalkan segala sesuatu, seperti yang dilakukan oleh para murid, merupakan harga untuk mengikut Yesus.

Menurut Anda, apa yang mendorong mereka melakukan hal itu? Saya menyakini keputusan demikian tidak mungkin hanya karena perasaan semata. Ada sesuatu yang lebih besar yang meyakinkan hati mereka.

Lukas 5:8-9 memberikan jawabannya, “”Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap.”

Setidaknya, ada dua hal yang membuat mereka begitu mudah “membayar harga” untuk mengikut Yesus. Pertama, karena mereka memercayai bahwa Yesus adalah Tuhan, dan kedua, karena mereka memercayai bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu yang mereka tidak dapat lakukan dengan kekuatan mereka sendiri.

(Baca juga: ADA KEHIDUPAN MELALUI PENUMPAHAN DARAH YESUS)

Jika Anda memiliki cara pandang yang sama dengan para murid di atas, saya percaya, Anda tidak akan kesulitan untuk meninggalkan segala sesuatu yang Anda anggap berharga, apa pun itu, dan mengikut Yesus. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

PENGORBANAN KITA MENENTUKAN KUALITAS HUBUNGAN KITA DENGAN TUHAN

Bahan renungan:

Lukas 6:12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.

Jika kita ingin mengetahui apakah hubungan yang kita bina dengan pasangan, anak, keluarga, atau Tuhan, berharga atau tidak, kita dapat mengukurnya dari seberapa banyak hal yang rela kita korbankan demi hubungan tersebut, entah hal tersebut berupa waktu, uang, atau tenaga.

(Baca juga: KITA PERLU MEMBUAT MUKJIZAT DI DALAM NAMA YESUS)

Misalnya hubungan kita dengan pasangan kita. Bagaimana mungkin kita dapat mengklaim bahwa hubungan kita dengan pasangan intim atau erat, jika kita meluangkan waktu pergi berdua bersama pasangan hanya pada saat kita tidak sedang sibuk di kantor atau di pekerjaan. Jika bisnis atau pekerjaan memanggil kita, dengan segera kita kesampingkan janji kita terhadap pasangan.

Begitu juga dengan Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat mengatakan memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, sementara kita hanya meluangkan waktu bersama Tuhan pada saat kita dalam masalah atau pada saat kita sedang memiliki waktu luang saja. Kita tidak pernah benar-benar mempersiapkan waktu khusus untuk bersekutu dengan-Nya.

Yesus sangat sibuk ketika Dia melayani di dunia ini. Selalu ada orang yang perlu didoakan, disembuhkan, dilepaskan, dan diberkati. Meski demikian, Yesus tetap memiliki waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa di tengah jadwal-Nya yang sangat padat.

Dalam banyak kesempatan, Yesus mengorbankan waktu tidur-Nya untuk bersekutu dengan Bapa. Bahkan tidak jarang, di tengah orang banyak sedang mengikuti, dan mengelu-elukan-Nya, Yesus memilih untuk menyingkir dan bersekutu dengan Bapa.

Sekali lagi, saya tidak hanya berbicara mengenai pengorbanan waktu, tetapi juga uang, pikiran, dan tenaga kita. Contohnya uang. Banyak orang rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli smartphone yang mahal atau untuk datang ke sebuah konser, tetapi ragu untuk memberi persembahan atau persepuluhan.

(Baca juga: BERHENTI MEMIKIRKAN YANG TIDAK PERLU DIPIKIRKAN)

Saya percaya pengorbanan yang kita lakukan untuk Tuhan memperlihatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan. Juga, menentukan seberapa berharga Tuhan bagi hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

SEMUA YANG BAIK TERJADI KARENA TUHAN, BUKAN ANDA

Bahan renungan:

Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.

Di dalam pergumulan, di dalam masalah, di dalam lembah, di dalam topan badai, TUHAN selalu ada bersama kita, membawa kita keluar dari setiap kesusahan kita. Namun ironisnya, setelah semua masalah berlalu, beberapa orang senang mengatakan, “Semua ini karena kerja keras saya. Karena saya yang membayar harganya.” Teman, YESUS yang telah membayar harganya di atas kayu salib untuk segala yang baik yang Anda alami hari ini.

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang begitu ketakutan dipandang sebelah mata. Akibatnya, mereka suka membanggakan dirinya sendiri dan membandingkan diri mereka dengan orang lain. Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Kalau bukan karena saya yang bayar harga, pelayanan ini tidak akan menjadi besar seperti sekarang ini.” Firman Tuhan katakan orang-orang seperti adalah bodoh (1 Korintus 10:12).

Teman, sadarilah Anda bukan pusat alam semesta,TUHAN-lah pusat alam semesta ini. Kita perlu menyadari bahwa semua yang baik datang dari TUHAN dan karena TUHAN (Yakobus 1:17). DIA-lah yang memberikan Anda kemenangan, DIA-lah yang memberikan Anda kekuatan, dan DIA-lah yang memberikan segala yang baik yang Anda miliki hari ini. (penulis: @mistermuryadi)