JAUH LEBIH BAIK JIKA YESUS PERGI

Bahan renungan:

Yohanes 19:5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: “Lihatlah manusia itu!”

Banyak orang mengira kalau mereka dapat bertemu Yesus secara fisik, menghabiskan waktu bersama-Nya, atau melihat mukjizat setiap saat, mereka dapat lebih percaya kepada Yesus. Saat Yesus hidup di Bumi, dalam darah dan daging, banyak sekali orang melihat Yesus melakukan hal-hal ajaib, tetapi hanya sedikit sekali yang percaya kepada Yesus.

(Baca juga: MENCARI HIKMAT DARI SANG SUMBER HIKMAT)

Begitu juga di zaman Perjanjian Lama. Bangsa Israel melihat manna turun dari langit, setiap hari ditemani oleh tiang awan dan tiang api, melihat Laut Merah terbelah, tetapi hanya sedikit yang percaya kepada Tuhan.

Apa masalahnya? Mengapa banyak orang yang tidak percaya padahal mereka telah melihat hal-hal ajaib di depan mata mereka?

Sayapun dulu bertanya-tanya, sampai suatu hari saya membaca perkataan Yesus dalam Yohanes 16:7a, “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi,” dan dalam Yohanes 11:15, “tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya.”

Dalam kedua ayat di atas dikatakan LEBIH BERGUNA dan LEBIH BAIK jika Yesus pergi dan tidak hadir. Pernyataan yang sungguh bertolak belakang dengan yang kita pikirkan. Yesus mengatakan hal tersebut dengan alasan, “Supaya kamu dapat belajar percaya.”

Roma 10:10 menjelaskan bahwa dengan hati orang percaya, bukan dengan apa yang dilihat oleh matanya. Justru kita akan kesulitan percaya kepada Firman Tuhan jika yang kita andalkan adalah perasaan dan kelima indera kita.

Iman adalah memandang kepada sesuatu yang belum kita lihat, tetapi hati kita percayai, yaitu janji Tuhan. Saat dokter memvonis usia kita tinggal tiga bulan lagi, iman membuat kita dapat melihat bahwa kita sudah sembuh dan sehat. Saat bisnis kita macet, iman membuat kita melihat bahwa kita adalah orang yang berhasil dan diberkati.

Dalam ayat renungan di atas, Pilatus gagal melihat Yesus sebagai Tuhan, karena dia mengandalkan mata jasmaninya. Pilatus melihat Yesus berdarah, terluka, ditangkap, dan tidak berdaya. Pilatus hanya melihat Yesus sebagai anak tukang kayu. Jika kita membaca ayat sebelumnya, dicatat Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Mesias kepada Pilatus, tetapi Pilatus jauh lebih memercayai apa yang kelihatan oleh mata jasmaninya. Itu sebabnya Pilatus mengatakan, “Lihatlah manusia itu,” padahal di depan matanya ada Tuhan semesta alam yang menciptakan langit dan bumi.

(Baca juga: DUA ALASAN YANG MEMBUAT JANJI TUHAN PASTI TERJADI)

Mari kita melatih iman kita, sehingga suatu hari kita dapat mengatakan, “Jika Firman Tuhan mengatakan atau memerintahkan sesuatu, itu sudah cukup bagiku.” (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.