IJINKAN ORANG LAIN BERBUAT SALAH

Bahan renungan:

1 Tesalonika 5:11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

Seringkali kita ingin orang lain memaklumi kelemahan dan kekurangan kita, tetapi kita sulit memaklumi kelemahan dan kekurangan orang lain. Teman, milikilah sikap ini, ijinkan orang lain untuk berbuat salah, karena mereka tidak sempurna.

(Baca juga: CEPAT UNTUK MENDENGAR, TETAPI LAMBAT UNTUK BERKATA-KATA)

Saya sangat senang dapat tumbuh di sebuah komunitas yang tidak menuntut saya menjadi orang sempurna, karena faktanya, sampai kapanpun, saya tidak dapat menjadi orang yang sempurna.

Tuhan telah mengajarkan sebuah contoh untuk mengasihi tanpa syarat. Dia mengasihi kita sebagaimana adanya diri kita, dan kemudian, menolong kita untuk bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin. Setia mengasihi kita adalah cara Tuhan untuk membuat kita menyadari bahwa kita berharga, sekalipun kita memiliki kelemahan dan kekurangan. Kita perlu melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Sebagai orang percaya, semestinya sikap yang kita miliki bukan menuntut, melainkan membangun hidup seseorang. Kita tidak dapat menjadi keduanya, kita perlu memilih salah satu, mau jadi orang yang menuntut atau membangun hidup orang lain.

Pada dasarnya, mau menerima kesalahan atau kekurangan orang lain adalah salah satu cara menunjukkan kasih. Kristus melakukan hal yang sama. Di atas kayu salib, Yesus mengatakan, “Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Kasih tidak menghukum atau menuntut kesalahan seseorang, tetapi menuntun maju dan mengubahkan. Kasih tidak mengingatkan orang lain akan kelemahan dan kekurangan mereka, melainkan kelebihan dan kekuatan.

(Baca juga: YESUS TELAH MENGHANCURKAN KUTUK KETURUNAN)

Jika kita hidup saling mendukung dan membangun satu sama lain, saya percaya setiap orang dapat mencapai potensi hidupnya yang maksimal di dalam Kristus. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

BERHENTI MENYALAHKAN ORANG LAIN

Bahan renungan:

Kejadian 3:12 Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

Jika segala sesuatu tidak berjalan dengan benar, kecenderungan alami kita adalah mencari seseorang untuk disalahkan. Ternyata kebiasaan ini dimulai sejak Taman Eden. Saat Tuhan menanyakan Adam apa yang telah dilakukannya, ia menjawab bahwa itu adalah kesalahan Hawa dan Tuhan. Kemudian saat Tuhan menanyai Hawa, ia mempersalahkan ular. Mirip dengan apa yang terjadi di masa kini, bukan?

(Baca juga: SEGERA TERBIT E-BOOK #PENGHARAPAN. GRATIS!)

Jika hari ini Anda mengalami suatu kegagalan, pikirkanlah tentang mengapa Anda gagal daripada mencari siapa yang bersalah. Berusahalah melihat masalah Anda dari sudut pandang yang jujur sehingga Anda dapat memperbaikinya di lain waktu. Coba tanyakan hal ini kepada diri Anda:

  1. Pelajaran-pelajaran apa yang saya dapatkan melalui kejadian ini?
  2. Bagaimana saya dapat mengubah kegagalan ini menjadi keberhasilan?
  3. Apakah yang membuat saya gagal atau berhasil?

(Baca juga: YESUS TIDAK DATANG MENYEBARKAN AGAMA)

Orang yang suka mempersalahkan orang lain karena kegagalan-kegagalan mereka, tidak akan pernah mengatasi masalah sesungguhnya. Mereka hanya pindah dari satu masalah ke masalah lainnya. Teman, kita perlu mengambil tanggung jawab atas tindakan-tindakan salah yang kita lakukan, supaya kita dapat belajar dari hal itu. Tidak ada yang salah dengan berbuat salah, yang salah adalah Anda menyerah pada saat Anda berbuat salah. (penulis: @mistermuryadi)