LUANGKAN WAKTU UNTUK BERSEKUTU DENGAN TUHAN

Bahan renungan:

Lukas 6:12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.

Jika kita menganggap hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan yang berharga, tentu kita akan meluangkan waktu kita untuk bersekutu dengan-Nya. Entah itu berdoa, memuji menyembah-Nya, duduk diam mendengarkan suara-Nya, membaca dan merenungkan kebenaran-Nya, atau melakukan semuanya secara rutin.

(Baca juga: JERIH PAYAH KITA DI DALAM KRISTUS TIDAK PERNAH SIA-SIA)

Yesus sangat menghargai hubungannya dengan Bapa Sorgawi. Bagi Yesus, tidak ada yang lebih penting daripada bersekutu dengan Bapa. Yesus menunjukkan hal tersebut melalui ayat renungan kita di atas. Tidak peduli selelah apa pun, atau sepadat apa pun kegiatan-Nya, Yesus selalu meluangkan waktu untuk bersekutu dengan Bapa. Bahkan dicatat, Dia melakukan hal tersebut semalam-malaman. Hal itu menunjukkan bahwa Yesus menjalin hubungan tersebut bukan karena terpaksa, melainkan karena menginginkannya.

Yesus menggambarkan kedekatannya dengan Bapa di dalam Yohanes 5:19, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”

(Baca juga: NAMA YESUS JAUH LEBIH BERKUASA DARI SAKIT PENYAKIT ANDA)

Bagaimana dengan kita? Seberapa berhargakah hubungan kita dengan Bapa Sorgawi? Cara termudah untuk melihat nilai sebuah hubungan yang kita jalin adalah melalui seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan demi hubungan tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

BERDOALAH, DENGARKAN TUHAN BERBICARA KEPADA KITA

Bahan renungan:

1 Petrus 4:7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

Kehidupan doa seseorang berbicara banyak mengenai kehidupan orang tersebut. Doa bukan hanya cara untuk meminta, memohon, atau mengucapkan keluh kesah kita kepada Tuhan. Doa menunjukkan bahwa kita membutuhkan Tuhan di dalam hidup kita, mengandalkan Tuhan dalam situasi yang kita hadapi, dan percaya ada kekuatan yang lebih besar dari diri kita sendiri.

(Baca juga: FIRMAN TUHAN ADALAH SUMBER NASEHAT TERBAIK)

Kita perlu berdoa. Doa tidak selalu kita yang mengucapkan sesuatu dari mulut kita, tetapi terkadang saat berdoa, kita perlu duduk diam mendengarkan suara Tuhan. Membuka hati kita untuk sesuatu yang Tuhan ingin sampaikan.

Dalam banyak kesempatan, saya sering berdoa hanya dengan menaikkan syukur, mengucapkan betapa baiknya Tuhan di dalam hidup saya. Saya bersyukur untuk kehidupan yang telah Dia anugerahkan dan bersyukur untuk segala hal yang baik yang telah Dia kerjakan di dalam hidup saya. Atau, saya hanya duduk diam dengan mata terpejam, tidak mengucapkan sepatah kata pun, selain mengingat kebaikan Tuhan.

Sekali lagi, kita perlu berdoa. Kita perlu bersandar pada Tuhan dan kebenaran-Nya. Kita perlu memiliki waktu-waktu pribadi bersama Tuhan. Kita perlu mengabaikan smartphone, social media, dan segala kesibukan kita sejenak, untuk mendengarkan apa kehendak Tuhan di dalam hidup kita.

(Baca juga: TIGA HAL YANG IBLIS LAKUKAN TERHADAP HIDUP ANDA)

Saya percaya, Tuhan senantiasa berbicara kepada kita, menyatakan hal-hal yang meneguhkan dan menuntun kita untuk terus maju dan naik, itu sebabnya kita perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan-Nya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

PENGORBANAN KITA MENENTUKAN KUALITAS HUBUNGAN KITA DENGAN TUHAN

Bahan renungan:

Lukas 6:12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.

Jika kita ingin mengetahui apakah hubungan yang kita bina dengan pasangan, anak, keluarga, atau Tuhan, berharga atau tidak, kita dapat mengukurnya dari seberapa banyak hal yang rela kita korbankan demi hubungan tersebut, entah hal tersebut berupa waktu, uang, atau tenaga.

(Baca juga: KITA PERLU MEMBUAT MUKJIZAT DI DALAM NAMA YESUS)

Misalnya hubungan kita dengan pasangan kita. Bagaimana mungkin kita dapat mengklaim bahwa hubungan kita dengan pasangan intim atau erat, jika kita meluangkan waktu pergi berdua bersama pasangan hanya pada saat kita tidak sedang sibuk di kantor atau di pekerjaan. Jika bisnis atau pekerjaan memanggil kita, dengan segera kita kesampingkan janji kita terhadap pasangan.

Begitu juga dengan Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat mengatakan memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, sementara kita hanya meluangkan waktu bersama Tuhan pada saat kita dalam masalah atau pada saat kita sedang memiliki waktu luang saja. Kita tidak pernah benar-benar mempersiapkan waktu khusus untuk bersekutu dengan-Nya.

Yesus sangat sibuk ketika Dia melayani di dunia ini. Selalu ada orang yang perlu didoakan, disembuhkan, dilepaskan, dan diberkati. Meski demikian, Yesus tetap memiliki waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa di tengah jadwal-Nya yang sangat padat.

Dalam banyak kesempatan, Yesus mengorbankan waktu tidur-Nya untuk bersekutu dengan Bapa. Bahkan tidak jarang, di tengah orang banyak sedang mengikuti, dan mengelu-elukan-Nya, Yesus memilih untuk menyingkir dan bersekutu dengan Bapa.

Sekali lagi, saya tidak hanya berbicara mengenai pengorbanan waktu, tetapi juga uang, pikiran, dan tenaga kita. Contohnya uang. Banyak orang rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli smartphone yang mahal atau untuk datang ke sebuah konser, tetapi ragu untuk memberi persembahan atau persepuluhan.

(Baca juga: BERHENTI MEMIKIRKAN YANG TIDAK PERLU DIPIKIRKAN)

Saya percaya pengorbanan yang kita lakukan untuk Tuhan memperlihatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan. Juga, menentukan seberapa berharga Tuhan bagi hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

MAKNA MENGUCAPKAN “DI DALAM NAMA YESUS, AMIN” SAAT BERDOA

Bahan renungan:

Filipi 2:9-11 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Banyak orang menyertakan kalimat “Di dalam nama Yesus” di dalam doa mereka, tetapi tidak mengerti makna dan tujuan dari kata-kata tersebut.

(Baca juga: YESUS DATANG UNTUK MENYELAMATKAN ORANG BERDOSA)

Sederhananya, kalimat “di dalam nama Yesus” menunjukkan bahwa kita percaya pada segala sesuatu yang ada di dalam Yesus, atau dengan kata lain, segala sesuatu yang telah diberikan atau dianugerahkan oleh Yesus. Seperti kita ketahui, melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, Yesus memberikan kita kesembuhan, kesehatan, kuasa, berkat, keselamatan, kelimpahan, umur panjang, keamanaan, pemeliharaan, dan masa depan yang indah. Karena, kematian dan kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa Dia telah mengalahkan maut.

Jadi, sangat tidak benar jika kita berdoa, “Tuhan, mengapa Engkau ijinkan sakit penyakit ini terjadi? Tuhan, mengapa Engkau ijinkan kecelakaan dan kemiskinan ini terjadi?” lalu kita menutup doa tersebut dengan mengucapkan “Di dalam nama Yesus, amin.”

Yesus tidak pernah sekalipun memberikan sakit penyakit, kecelakaan, dan kemiskinan kepada manusia. Di dalam Yesus tidak ada sedikit pun hal yang buruk. Di dalam Dia hanya ada hikmat, kasih, kemurahan, dan kebaikan.

(Baca juga: YESUS MEMILIKI 1000 JALAN KELUAR UNTUK 1 MASALAH KITA)

Itu sebabnya, sebagai orang yang menggunakan nama Yesus dan percaya kepada nama Yesus, kita perlu berdoa mengucapkan hal-hal yang ada di dalam nama Yesus. Misalnya, “Aku percaya Engkau menjamin hidupku. Aku percaya Engkau menyediakan masa depan yang indah bagiku. Aku percaya Engkau tidak pernah meninggalkanku dan Engkau turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagiku” lalu kita menutup doa kita dengan mengucapkan, “Di dalam nama Yesus, amin.” (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KETAKUTAN BUKAN MOTIVASI TERBAIK UNTUK MELAKUKAN PERINTAH TUHAN

Bahan renungan:

1 Yohanes 4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Sepanjang menjadi orang percaya, saya bukan hanya memelajari bahwa ada kekuatan yang sangat luar biasa ketika kita percaya, tetapi juga ketika kita ketakutan. Percaya menghasilkan kekuatan yang positif, sedangkan ketakutan negatif.

(Baca juga: MENGAPA MULUT KITA CENDERUNG MENGUCAPKAN YANG BURUK?)

Sama seperti percaya, ketakutan dapat mendorong kita untuk berdoa, memberi, menginjil, mendeklarasikan janji Tuhan, dan melakukan hal-hal lain yang Firman Tuhan perintahkan. Namun, harus saya katakan bahwa ketakutan bukanlah motivasi terbaik untuk melakukan hal-hal di atas.

Pernah seseorang berkata kepada saya, “Saya sudah melakukan seperti yang Firman Tuhan perintahkan, tapi mengapa saya belum sembuh juga?” Perlu kita mengerti bahwa yang terpenting bukan melakukannya, melainkan percayanya. Motivasi terbaik melakukan Firman Tuhan adalah karena percaya, bukan karena ketakutan.

Saya berikan contoh. Suatu hari saya melayani seseorang yang mengalami sakit sangat parah. Dokter sudah angkat tangan terhadap orang ini dan dia divonis akan meninggal dalam waktu empat sampai enam bulan. Di tengah ketakutannya akan kematian, orang tersebut mulai mendatangi ibadah-ibadah kesembuhan. Ketika hamba Tuhan di ibadah A mengatakan, “Masalah kamu adalah kurang bergaul dengan Firman Tuhan. Mulai besok, harus rajin baca Alkitab,” orang ini melakukannya. Begitu juga ketika, hamba Tuhan lain di ibadah B mengatakan, “Kamu harus minum minyak agar sembuh total,” dia pun dengan segera meminum minyak sayur mentah sebanyak dua tiga botol. Selang beberapa bulan, akhirnya dia meninggal dunia.

Apa yang sebenarnya terjadi? Perhatikan.

Pada dasarnya, ketakutan muncul ketika seseorang tidak menyadari bahwa dirinya dikasihi oleh Tuhan. Bahwa Tuhan hanya merancangkan yang baik bagi dirinya. Ketakutan dapat menipu. Di bagian luar, seolah dia melakukan yang Tuhan perintahkan, tetapi di bagian dalam, dia tidak percaya akan kasih dan kebaikan Tuhan. Ketakutan dapat membuat orang rela melakukan apa saja.

(Baca juga: MUNGKIN MASA LALU ANDA BURUK, TETAPI TIDAK MASA DEPAN ANDA)

Itu sebabnya, Firman Tuhan jelas memberitahu kita bahwa di dalam kasih tidak ada ketakutan, karena kasih yang sempurna, yaitu kasih Bapa kepada kita, melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18). (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

APA KEGUNAAN DOA JIKA TUHAN SUDAH TAHU YANG INGIN KITA DOAKAN?

Bahan renungan:

Matius 6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

Beberapa orang menganggap bahwa doa adalah cara untuk meminta atau memohon sesuatu dari Tuhan. Doa adalah napas hidup orang percaya. Saya setuju dengan semua hal itu. Tidak ada yang salah.

(Baca juga: BETAPA BERHARGA SETIAP TETES DARAH YESUS)

Namun yang saya sayangkan, muncul pengajaran ekstrim yang menganggap sudah tidak perlu lagi berdoa, karena Tuhan sudah tahu semua yang kita perlukan. “Untuk apa kita berdoa, jika Tuhan sudah tahu semua yang ingin kita doakan. Keputusannya ada di tangan Tuhan.” Saya percaya itu adalah pemikiran yang keliru mengenai doa.

Mengenai kemahatahuan Tuhan, tentu tidak perlu kita ragukan lagi. Namun sikap pasrah mengira kita tidak perlu lagi berdoa dan menganggap semua yang terjadi di dalam hidup kita adalah keputusan Tuhan merupakan sikap yang salah.

Keputusan Tuhan, Dia ingin kita hidup di dalam kebenaran-Nya dan menikmati kehidupan di Bumi seperti di Sorga, tetapi tidak semua orang mau hidup seperti itu. Keputusan Tuhan adalah semua manusia diselamatkan, tetapi tidak semua orang mau percaya kepada Yesus. Itu artinya tidak semua yang terjadi di dalam hidup kita adalah keputusan Tuhan, justru sebaliknya, semua terjadi karena keputusan kita.

Apa hubungannya dengan doa?

Efesus 1:3 menjelaskan bahwa Tuhan sudah mengaruniakan segala berkat rohani kepada kita. Catat, bahwa berkat yang dikaruniakan adalah berkat rohani, sedangkan yang kita butuhkan adalah berkat jasmani. Roma 5:2 mengajarkan cara untuk mengubah berkat rohani tersebut menjadi berkat jasmani, yaitu dengan iman. Iman adalah bagian kita, bukan Tuhan.

Tuhan sudah selesai mengerjakan bagian-Nya ketika Yesus mengatakan “Sudah selesai” di atas kayu salib. Dia sudah mengaruniakan segala berkat rohani kepada kita. Yang tersisa adalah bagian kita, yaitu untuk menerima yang Tuhan sudah karuniakan, dengan cara percaya kepada kebenaran-Nya. Jadi, bukan kita yang sedang menantikan Tuhan menjawab doa-doa kita, bukan kita yang sedang menunggu keputusan Tuhan, tetapi Tuhan yang sedang menantikan keputusan kita untuk percaya kepada segala sesuatu yang sudah Dia karuniakan, yaitu kesehatan, kesembuhan, mukjizat, berkat, kuasa, masa depan yang indah, dan pemulihan.

(Baca juga: APAKAH IMAN KITA DAPAT MENGGERAKKAN TUHAN?)

Jadi, apakah kita masih perlu berdoa? Jelas perlu. Berdoa menunjukkan sikap hati bahwa kita lebih percaya kepada janji Tuhan dibanding situasi yang kita alami dan lihat. Berdoa adalah tanda bahwa kita mengakui ada kekuatan yang lebih besar dan ada jaminan yang lebih pasti, yaitu Tuhan dan kebenaran-Nya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

DOA ORANG PERCAYA TIDAK BERTELE-TELE

Bahan renungan:

Matius 6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

Hari ini saya ingin membahas mengenai cara berdoa orang percaya yang alkitabiah. Ada perbedaan yang sangat jelas antara doa orang percaya dengan doa orang yang tidak percaya. Keduanya menggunakan nama Yesus, tetapi mereka memiliki sikap hati atau motivasi yang berbeda.

(Baca juga: KAPAN WAKTU PALING TEPAT UNTUK BERDOA?)

Doa orang tidak percaya biasanya dilakukan bertele-tele. Firman Tuhan di atas mengatakan doa orang yang bertele-tele biasanya dilakukan karena mereka tidak mengenal Tuhan. Mereka berpikir semakin panjang atau lama kata-kata mereka, semakin manjur doanya.

Doa orang tidak percaya cenderung menjadi ajang menangis dan memohon-mohon seolah Tuhan menahan berkat atau mukjizat dari mereka. Isi doa mereka biasanya didominasi dengan aduan masalah-masalah kepada Tuhan, penyesalan terhadap suatu dosa atau kesalahan tertentu, dan hasilnya tentu saja akan membuat diri mereka semakin depresi. Biasanya doa mereka berisi, “Tuhan tolong …” “Ya Tuhan, kiranya Engkau berkenan …” atau “Tuhan, mengapa Engkau mengijinkan hal ini terjadi …”

Doa orang percaya yang Alkitab ajarkan tidak seperti itu. Doa orang percaya berisi hal-hal yang penuh dengan pernyataan IMAN, karena mereka percaya bahwa janji Tuhan itu YA dan AMIN. Orang yang percaya kepada janji Tuhan tidak ragu untuk menyatakan imannya. Doa orang percaya biasanya berisi kata-kata, “Tuhan, saya percaya …” “Sekalipun situasi seperti itu, tetapi saya percaya …” atau “Saya tidak takut, karena saya percaya kepada janji-Mu.”

Saya coba ilustrasikan kedua jenis doa ini melalui hubungan orangtua dan anak.

Adalah sesuatu yang langka melihat seorang anak memohon-mohon makanan dari orangtuanya, seolah orangtuanya menahan atau menyembunyikan makanan darinya. Seorang anak yang mengenal baik orangtuanya tidak pernah takut kekurangan makanan. Bahkan, tidak terlintas di pikirannya keraguan akan penyediaan orangtuanya. Sang anak tahu pasti jauh sebelum dia meminta, orangtuanya sudah menyediakan yang terbaik.

(Baca juga: ANDA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR SENDIRIAN)

Kembali ke masalah berdoa. Banyak orang berdoa dengan sikap hati ragu apakah Tuhan akan menjawab doanya atau tidak. Bukan itu sikap hati yang benar saat kita berdoa. Seperti yang saya katakan dalam renungan kemarin, kita berdoa justru karena kita percaya kepada janji Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.