APA KEGUNAAN DOA JIKA TUHAN SUDAH TAHU YANG INGIN KITA DOAKAN?

Bahan renungan:

Matius 6:8 Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

Beberapa orang menganggap bahwa doa adalah cara untuk meminta atau memohon sesuatu dari Tuhan. Doa adalah napas hidup orang percaya. Saya setuju dengan semua hal itu. Tidak ada yang salah.

(Baca juga: BETAPA BERHARGA SETIAP TETES DARAH YESUS)

Namun yang saya sayangkan, muncul pengajaran ekstrim yang menganggap sudah tidak perlu lagi berdoa, karena Tuhan sudah tahu semua yang kita perlukan. “Untuk apa kita berdoa, jika Tuhan sudah tahu semua yang ingin kita doakan. Keputusannya ada di tangan Tuhan.” Saya percaya itu adalah pemikiran yang keliru mengenai doa.

Mengenai kemahatahuan Tuhan, tentu tidak perlu kita ragukan lagi. Namun sikap pasrah mengira kita tidak perlu lagi berdoa dan menganggap semua yang terjadi di dalam hidup kita adalah keputusan Tuhan merupakan sikap yang salah.

Keputusan Tuhan, Dia ingin kita hidup di dalam kebenaran-Nya dan menikmati kehidupan di Bumi seperti di Sorga, tetapi tidak semua orang mau hidup seperti itu. Keputusan Tuhan adalah semua manusia diselamatkan, tetapi tidak semua orang mau percaya kepada Yesus. Itu artinya tidak semua yang terjadi di dalam hidup kita adalah keputusan Tuhan, justru sebaliknya, semua terjadi karena keputusan kita.

Apa hubungannya dengan doa?

Efesus 1:3 menjelaskan bahwa Tuhan sudah mengaruniakan segala berkat rohani kepada kita. Catat, bahwa berkat yang dikaruniakan adalah berkat rohani, sedangkan yang kita butuhkan adalah berkat jasmani. Roma 5:2 mengajarkan cara untuk mengubah berkat rohani tersebut menjadi berkat jasmani, yaitu dengan iman. Iman adalah bagian kita, bukan Tuhan.

Tuhan sudah selesai mengerjakan bagian-Nya ketika Yesus mengatakan “Sudah selesai” di atas kayu salib. Dia sudah mengaruniakan segala berkat rohani kepada kita. Yang tersisa adalah bagian kita, yaitu untuk menerima yang Tuhan sudah karuniakan, dengan cara percaya kepada kebenaran-Nya. Jadi, bukan kita yang sedang menantikan Tuhan menjawab doa-doa kita, bukan kita yang sedang menunggu keputusan Tuhan, tetapi Tuhan yang sedang menantikan keputusan kita untuk percaya kepada segala sesuatu yang sudah Dia karuniakan, yaitu kesehatan, kesembuhan, mukjizat, berkat, kuasa, masa depan yang indah, dan pemulihan.

(Baca juga: APAKAH IMAN KITA DAPAT MENGGERAKKAN TUHAN?)

Jadi, apakah kita masih perlu berdoa? Jelas perlu. Berdoa menunjukkan sikap hati bahwa kita lebih percaya kepada janji Tuhan dibanding situasi yang kita alami dan lihat. Berdoa adalah tanda bahwa kita mengakui ada kekuatan yang lebih besar dan ada jaminan yang lebih pasti, yaitu Tuhan dan kebenaran-Nya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

Advertisements

DOA ORANG PERCAYA TIDAK BERTELE-TELE

Bahan renungan:

Matius 6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

Hari ini saya ingin membahas mengenai cara berdoa orang percaya yang alkitabiah. Ada perbedaan yang sangat jelas antara doa orang percaya dengan doa orang yang tidak percaya. Keduanya menggunakan nama Yesus, tetapi mereka memiliki sikap hati atau motivasi yang berbeda.

(Baca juga: KAPAN WAKTU PALING TEPAT UNTUK BERDOA?)

Doa orang tidak percaya biasanya dilakukan bertele-tele. Firman Tuhan di atas mengatakan doa orang yang bertele-tele biasanya dilakukan karena mereka tidak mengenal Tuhan. Mereka berpikir semakin panjang atau lama kata-kata mereka, semakin manjur doanya.

Doa orang tidak percaya cenderung menjadi ajang menangis dan memohon-mohon seolah Tuhan menahan berkat atau mukjizat dari mereka. Isi doa mereka biasanya didominasi dengan aduan masalah-masalah kepada Tuhan, penyesalan terhadap suatu dosa atau kesalahan tertentu, dan hasilnya tentu saja akan membuat diri mereka semakin depresi. Biasanya doa mereka berisi, “Tuhan tolong …” “Ya Tuhan, kiranya Engkau berkenan …” atau “Tuhan, mengapa Engkau mengijinkan hal ini terjadi …”

Doa orang percaya yang Alkitab ajarkan tidak seperti itu. Doa orang percaya berisi hal-hal yang penuh dengan pernyataan IMAN, karena mereka percaya bahwa janji Tuhan itu YA dan AMIN. Orang yang percaya kepada janji Tuhan tidak ragu untuk menyatakan imannya. Doa orang percaya biasanya berisi kata-kata, “Tuhan, saya percaya …” “Sekalipun situasi seperti itu, tetapi saya percaya …” atau “Saya tidak takut, karena saya percaya kepada janji-Mu.”

Saya coba ilustrasikan kedua jenis doa ini melalui hubungan orangtua dan anak.

Adalah sesuatu yang langka melihat seorang anak memohon-mohon makanan dari orangtuanya, seolah orangtuanya menahan atau menyembunyikan makanan darinya. Seorang anak yang mengenal baik orangtuanya tidak pernah takut kekurangan makanan. Bahkan, tidak terlintas di pikirannya keraguan akan penyediaan orangtuanya. Sang anak tahu pasti jauh sebelum dia meminta, orangtuanya sudah menyediakan yang terbaik.

(Baca juga: ANDA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR SENDIRIAN)

Kembali ke masalah berdoa. Banyak orang berdoa dengan sikap hati ragu apakah Tuhan akan menjawab doanya atau tidak. Bukan itu sikap hati yang benar saat kita berdoa. Seperti yang saya katakan dalam renungan kemarin, kita berdoa justru karena kita percaya kepada janji Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KAPAN WAKTU PALING TEPAT UNTUK BERDOA?

Bahan renungan:

Markus 11:24 Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

Berdasarkan ayat di atas, menurut Anda, kapan waktu paling tepat untuk berdoa kepada Tuhan? Banyak orang berdoa kepada Tuhan ketika mereka sedang ketakutan dan kuatir. Atau dengan kata lain, ketika mereka sedang dalam kondisi mendua hati. Apa benar itu waktu paling tepat untuk berdoa?

(Baca juga: ANDA LAYAK DISEMBUHKAN DAN HIDUP SEHAT)

Mari kita lihat apa kata Firman Tuhan mengenai mendua hati.

Yakobus 1:6-8 menjelaskan, “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.”

Melalui ayat di atas kita dapat memahami bahwa ada situasi di mana kita tidak dapat menerima dari Tuhan, yaitu ketika hati kita sedang bimbang atau mendua hati. Kita belum menerima bukan karena Tuhan belum memberi, karena Tuhan sudah memberikan segala berkat-Nya 2000 tahun lalu (Efesus 1:3). Kita belum menerima karena hati kita ragu.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan saat kita dalam kondisi takut dan kuatir?”

Satu hal mengenai takut dan kuatir yang mungkin belum pernah Anda dengar. Takut dan kuatir muncul ketika tidak ada iman, ketika kita lupa bahwa janji Tuhan itu Ya dan Amin. Kita tidak dapat mengusir rasa takut dan kuatir kita dengan berdoa. Kita hanya dapat mengusirnya dengan cara menyadari bahwa Tuhan sangat mengasihi kita (1 Yohanes 4:18) dan kembali mengisi pikiran kita dengan janji setia Tuhan (Yesaya 43:1).

Hal yang dapat kita lakukan ketika sedang takut dan kuatir adalah duduk diam merenungkan kebenaran Firman Tuhan. Roma 10:17 mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Mendengarkan kembali rekaman khotbah, membaca kembali catatan khotbah, merenungkan kembali janji Tuhan, dan mengingat kembali mukjizat-mukjizat yang Tuhan pernah lakukan dapat membangkitkan iman kita.

(Baca juga: DOSA KITA YANG AKAN DATANG SUDAH DIAMPUNI)

Yakobus 5:16 mengatakan, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Garis bawahi kalimat, “bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya”. Jadi, waktu paling tepat untuk berdoa adalah saat hati kita percaya kepada janji Tuhan, bukan pada saat hati kita dalam ketakutan dan kekuatiran. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

APA BENAR TUHAN MASIH MENAMPUNG AIR MATA KITA DI KIRBATNYA?

Bahan renungan:

Mazmur 56:8 Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?

Belum lama, saya membaca seorang hamba Tuhan menuliskan di sosial medianya bahwa Tuhan menampung air mata kita di kirbat-Nya terlebih dahulu. Setelah penuh, barulah Dia akan menjawab doa dan permohonan kita.

(Baca juga: ANDA DIKASIHI BEGITU HEBAT)

Saya yakin pemikiran tersebut diambil dari kitab Mazmur yang ditulis oleh Raja Daud seperti tercantum dalam renungan kita di atas. Namun, apakah hal tersebut masih relevan di zaman anugerah Perjanjian Baru? Apakah Tuhan masih menunggu kirbat-Nya penuh dengan air mata kita, kemudian Dia baru menjawab doa dan permohonan kita? Mari kita lihat kebenaran-Nya.

Dalam Matius 6:32, Yesus mengatakan bahwa Bapa Sorgawi tahu segala keperluan kita sebelum kita meminta kepada-Nya. Lalu, Rasul Paulus menuliskan dalam Efesus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.”

Jika kita menggabungkan kedua ayat di atas, kita menemukan sebuah kebenaran bahwa Tuhan sudah mengetahui doa dan permohonan kita jauh sebelum kita meminta kepada-Nya. Dan, melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, Tuhan sudah memberikan segala berkat rohani, atau dengan kata lain, sudah memberikan jawaban untuk setiap doa dan permohonan kita.

Teman, Tuhan menyediakan jawaban bagi semua masalah Anda dengan cara menganugerahkan Yesus dan kebenaran-Nya kepada Anda. Jadi, yang Anda perlu lakukan bukan lagi mengisi kirbat Tuhan dengan air mata, melainkan percaya kepada Yesus dan kebenaran-Nya.

(Baca juga: MASALAH ANDA ADALAH MASALAH YANG BIASA)

Bagaimana mungkin Anda meminta atau memohon sesuatu yang Tuhan sudah berikan kepada Anda?

Di dalam Yesus, ada semua hal yang Anda perlukan, yaitu berkat, kesehatan, keselamatan, pengampunan, pemulihan, mukjizat, umur panjang, dan kesembuhan. Bagian Anda adalah percaya kepada Yesus dan kebenaran-Nya, dan semua yang Anda perlukan akan ditambahkan kepada Anda (Matius 6:33). (penulis: @mistermuryadi)

APAKAH IMAN KITA DAPAT MENGGERAKKAN TUHAN?

Lima tahun lalu saya pernah membaca sebuah buku yang pada intinya menuliskan bahwa iman kita dapat menggerakkan Tuhan. Ketika kita beriman, dicontohkan dalam buku itu, berdoa semalaman, berpuasa sangat panjang, memuji dan menyembah Tuhan sepanjang hari, hal tersebut akan menggerakkan Tuhan untuk melakukan atau mengabulkan doa dan permohonan kita.

(Baca juga: ARTI UCAPAN “SUDAH SELESAI” DI KAYU SALIB)

Yang si penulis buku tersebut lupakan adalah Tuhan sudah memberikan semua hal yang kita butuhkan, yaitu berkat, mukjizat, kelimpahan, kesembuhan, kesehatan, umur panjang, dan masa depan indah, bersamaan dengan ketika Dia memberikan Yesus di atas kayu salib.

Tidak ada lagi yang dapat Tuhan berikan kepada Anda dan saya. Semua-Nya sudah dianugerahkan kepada Anda, bahkan Anak-Nya sendiri, yang terbaik yang ada di Sorga telah dikaruniakan kepada kita. Tidak ada yang Tuhan pertahankan.

Semua berkat Abraham sudah diberikan. Efesus 1:3 menjamin hal itu, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Garis bawahi kata “segala”.

Anda tidak perlu lagi memohon-mohon seolah Tuhan menahan kebaikan dan kemurahan-Nya. Roma 8:32 dengan gamblang telah menuliskan, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

Bukan Tuhan yang perlu digerakkan, kitalah yang perlu percaya, kemudian bertindak. Saya suka sekali mengatakan ini, bahwa mukjizat dalam hidup Anda terjadi secepat Anda mempercayai-Nya. Tuhan tidak pernah menjadi masalah kita. Masalah kita adalah ketidakpercayaan kita terhadap apa yang Tuhan janjikan dan perintahkan.

Pemahaman paling populer mengatakan, saat kita bertindak, barulah Tuhan akan bertindak. Seolah tindakan Tuhan sangat bergantung pada tindakan kita. Beberapa istilah yang pernah saya dengar adalah mengetuk pintu Sorga, menggoncang takhta Allah, dan lain sebagainya. Jelas, hal tersebut salah dan tidak sesuai Firman Tuhan.

Saya berikan ilustrasi. Anggaplah Anda baru memiliki seorang bayi. Apakah Anda mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan bayi Anda, seperti tempat tidur, susu, pakaian, dan kaos kaki, setelah dia lahir? Atau mungkin, Anda menunggu sang bayi meminta dan memohon kepada Anda, lalu baru Anda belikan di supermarket? Saya yakin tidak demikian.

Pasti Anda sudah menyediakan segala sesuatu yang dia butuhkan jauh sebelum dia membutuhkannya. Penyediaan Anda tidak bergantung pada tindakan bayi Anda. Sehingga ketika sang bayi lapar, susu sudah tersedia baginya; ketika dia kedinginan di malam hari, Anda sudah menyiapkan selimut dan pakaian hangat terbaik untuknya. Jika semua orangtua di dunia melakukan hal demikian, terlebih lagi Bapa Sorgawi.

Perhatikan. Tuhan tidak bertindak berdasarkan iman Anda. Dia bertindak atas kehendak-Nya sendiri, karena kasih-Nya yang besar kepada Anda. Iman Anda tidak menggerakan Tuhan, iman Anda menggerakkan Anda untuk bertindak. Banyak orang mengira Tuhan “macet”, sehingga mereka berpikir mereka harus menggerakkan Tuhan supaya memberikan kebangunan rohani, melepaskan kesembuhan dan berkat, dan membuat tanda-tanda ajaib. Di antara Tuhan dan kita, bukan Tuhan yang “macet”.

Ketika kita beriman, atau percaya kepada janji Tuhan, kita pasti bertindak. Kita bertindak karena kita percaya hal tersebut sudah disediakan, sekalipun mata jasmani kita belum melihatnya. Ibrani 11:1 mengatakan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

(Baca juga: BAGAIMANA CARA MELAKUKAN TINDAKAN IMAN?)

Jika demikian, ini berarti kita tidak menabur supaya Tuhan memberkati kita. Justru kita menabur, karena kita percaya Dia sudah terlebih dahulu memberkati kita. Dan, ketika kita menabur, benih kita akan berbuah 30, 60, 100 kali lipat. Itu janji Tuhan. Begitu halnya dengan berdoa. Kita tidak berdoa kesembuhan supaya Tuhan menyembuhkan kita. Kita berdoa kesembuhan karena hati kita percaya bahwa Dia sudah menyediakan kesembuhan itu untuk kita. Juga mengenai keselamatan. Kita pergi menginjil karena kita percaya bahwa Tuhan sudah menganugerahkan keselamatan bagi semua orang.

Ilustasi di atas sama seperti, seseorang memberikan kepada Anda sebuah mobil baru, tetapi Anda perlu mengambilnya di showroom. Mobilnya sudah tersedia di showroom. Secepat Anda mempercayai perkataan orang tersebut, lalu melangkah ke showroom, secepat itulah Anda menerima mobil yang dijanjikan orang tersebut.

Iman adalah bentuk respons kita terhadap segala sesuatu YANG TELAH Yesus lakukan di atas kayu salib 2000 tahun lalu. Iman adalah satu-satunya jalan supaya kita menerima sesuatu yang Tuhan sudah berikan kepada kita 2000 tahun lalu.

Saya bungkus dalam sebuah kesimpulan.

Tuhan terlebih dahulu menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan. Saya menyebut ini sebagai kasih karunia atau anugerah Tuhan. Dia telah memberikan semua berkat rohani itu di dalam Yesus. Tuhan memberikan kasih karunia-Nya yang indah itu tidak berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan kasih-Nya yang besar untuk kita, anak-anak-Nya.

Tuhan sudah memberikan kelimpahan, kesehatan, kesembuhan, kuasa, masa depan indah, berkat, dan segala sesuatu yang kita butuhkan. Namun, untuk menerima semuanya itu, kita perlu beriman, kita perlu percaya kepada-Nya. Ya, hanya itu cara-Nya. Roma 5:2a mengatakan, “Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini.” Perhatikan, bukan karena perbuatan baik kita menerima kasih karunia Tuhan, melainkan karena iman. Dan kemudian, iman kita menghasilkan perbuatan atau tindakan.

“Lalu, apakah artinya saya tidak perlu berbuat baik lagi?”

Seperti saya katakan, perbuatan baik Anda hanyalah buah dari iman Anda. Anda tidak perlu memikirkannya. Saat Anda percaya kepada Tuhan, perbuatan atau tindakan itu akan muncul dengan sendirinya.

Bayangkan Anda menanam sebuah pohon. Selama Anda benar menyiram, memberikan pupuk, dan menyinari dengan matahari yang cukup, Anda tidak perlu memikirkan apakah pohon ini akan berbuah atau tidak, dengan sendirinya pohon itu akan bertumbuh dan berbuah lebat. Begitu juga dengan anak laki-laki Anda. Anda tidak perlu repot memikirkan apakah suatu hari nanti kumisnya akan tumbuh atau tidak. Selama Anda berikan dia makan yang cukup, seiring dia bertumbuh dewasa, kumis itu akan tumbuh dengan sendirinya.

(Baca juga: AYUB (bagian 01) – APAKAH TUHAN BEKERJA SAMA DENGAN IBLIS?)

Bahkan, secara esktrim saya ingin katakan Anda tidak perlu berdoa supaya pohon tersebut berbuah, karena pohon itu akan berbuah dengan sendiri selama akarnya dirawat dan tertanam dengan benar. Begitu juga, Anda tidak perlu berdoa memohon-mohon supaya kumis anak Anda tumbuh. Ketika hati dan pikiran Anda tertanam dan berakar kuat di dalam kebenaran Kristus, ketika Anda percaya, dengan sendiri hidup Anda akan menghasilkan buah perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan iman yang baik dan mulia; juga kesehatan, berkat, kesembuhan, kelimpahan, mukjizat, umur panjang, dan masa depan yang indah dengan sendirinya akan mengalir dari dalam hidup Anda. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

MEMULAI DAN MENGAKHIRI HARI DENGAN HAL YANG BAIK

Bahan renungan:

Markus 1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

Yesus adalah teladan hidup yang sempurna bagi kita dan Dia memulai hari dengan berdoa, mengucapkan hal-hal yang baik, dan mengucapkan berkat. Tidak heran, sepanjang hari, ketika menghadapi berbagai masalah dan pergumulan, Yesus dapat tetap tenang dan percaya kepada janji Bapa.

(Baca juga: JIKA CARA ANDA GAGAL, INI SAATNYA MENCOBA CARA TUHAN)

Sebenarnya, masalah dan pergumulan yang kita hadapi tidak lebih hebat dari yang Yesus alami, masalahnya kita tidak memulai hari-hari kita seperti Yesus, yaitu dengan berdoa dan mengucapkan hal-hal baik. Beberapa orang mengawali hari dengan mengucapkan masalah, “Aduh, pusing saya,” “Bisa gila, nih, kalau seperti ini terus,” “Terung terang saya tidak sanggup,” dan lain sebagainya. Tidak heran dalam proses menghadapi masalah, seringkali kita menyerah, bahkan tidak sedikit yang pada akhirnya mengucapkan sumpah serapah, dan bukan berkat.

(Baca juga: TUHAN SUDAH MENENTUKAN TAKDIR DAN NASIB MANUSIA)

Teman, mari kita mengawali dan menutup hari dengan melakukan dan mengucapkan hal-hal yang baik. Dengan demikian kita dapat mengharapkan yang baik terjadi di dalam hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

TENANG, DI DALAM YESUS, KEGAGALAN BUKAN AKHIR SEGALANYA

Bahan renungan:

Mazmur 136:13-14 Kepada Dia yang membelah Laut Teberau menjadi dua belahan; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Dan menyeberangkan Israel dari tengah-tengahnya; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Ada saatnya kita merasa keadaan yang kita alami begitu sulit untuk dilalui. Akhirnya kita memilih pasrah. Kita merasa sendiri dan terbentur dengan jalan buntu. Itu sebabnya Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tenang menghadapi berbagai situasi. Kitab Yesaya mengatakan dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatan kita.

(Baca juga: JANGAN PERCAYA KEPADA KEGAGALAN)

Tenang tidak membuat keadaan yang kita hadapi berubah, tetapi tenang membuat kita berpikir lebih jernih. Tenang memberikan kita waktu untuk mengingat kembali bahwa Sang Pencipta Semesta senantiasa bersama dengan kita. Tenang membuat kita sadar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

Teman, saya tidak tahu apa yang terjadi kalau Musa tidak memilih untuk tenang sejenak, sementara Bangsa Israel bersungut-sungut, tentang Mesir mengejar, dan Laut Merah menghalangi jalan. Karena Musa tenang, Musa dapat berdoa, dan mendengar suara Tuhan. Karena Musa tenang, Musa dapat dengan jelas mendengar tuntunan Tuhan di tengah situasi yang genting. Karena Musa tenang, Musa tidak bertemu jalan buntu, melainkan jalan keluar.

(Baca juga: “SAYA MENOLAK UNTUK MENYERAH KEPADA SITUASI”)

Gagal, ya semua orang pernah gagal di dalam hidupnya. Namun, saya sangat yakin, di dalam Kristus, kegagalan bukanlah akhir dari hidup kita. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang menyediakan masa depan indah bagi kita. Di dalam Dia, kita tidak pernah gagal. Itu bukan takdir kita. Takdir kita di dalam Dia adalah berhasil. (penulis: @mistermuryadi)