BIARKAN MASA LALU BERLALU

Bahan renungan:

Yosua 1:2 “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”

Ada dua juta orang yang menggantungkan hidupnya kepada Musa. Bahkan, dalam beberapa literatur, Musa dianggap sebagai “Tuhan” oleh Bangsa Israel. Musa sangat diagungkan, dan tidak ada seorangpun yang meragukan hal tersebut.

(Baca juga: DUA ALASAN MENGAPA KITA PERLU MERESPONS PANGGILAN TUHAN)

Di tengah situasi itu, lahirnya Yosua, generasi padang gurun. Sosok Musa sebagai pemimpin yang berhati lembut dan gagah berani, tidak mudah untuk diabaikan. Sejak kecil, Yosua sudah mendengar semua cerita heroik dari mantan anak Firaun itu, dan Yosua takjub. Saya dapat membayangkan betapa Yosua sangat mengagumi, menghormati, dan mengandalkan Musa, dan betapa bersukacitanya Yosua, ketika terpilih menjadi bujang dari hamba Tuhan yang luar biasa itu.

Waktu berlalu, dan Musa yang luar biasa itu meninggal. Musa hanya manusia biasa yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Yosua harus menghadapi fakta itu dan melanjutkan perjalanan hidupnya mengemban tugas menggantikan Musa sebagai pemimpin Bangsa Israel.

Pada ayat di atas, Tuhan merasa perlu untuk mengingatkan Yosua bahwa Musa telah meninggal. Mungkin alasan di belakang itu adalah agar Yosua tidak lagi mengandalkan atau berharap kepada Musa. Jangan lagi melihat kepada masa lalu. Biarkanlah hal tersebut berlalu.

Saya percaya pesan yang sama Tuhan ingin sampaikan untuk kita. Supaya kita berhenti mengandalkan sesuatu yang selama ini kita anggap hebat dan berhenti kagum kepada sesuatu yang bukan Tuhan.

Mungkin selama ini kita mengandalkan orangtua kita, dan kini mereka telah tiada. Atau, kita mengandalkan pekerjaan kita dan kini perusahaan tersebut gulung tikar.

(Baca juga: TUHAN PERINTAHKAN MALAIKATNYA MENJAGA KITA (MAZMUR 91:11-13))

Melalui kisah di atas, kita perlu menyadari bahwa bukan Musa yang hebat, tetapi Tuhan yang bekerja melalui Musa yang hebat. Sekalipun Musa sudah meninggal, namun kemenangan dan keberhasilan tidak akan pergi dari pihak Bangsa Israel dan juga kita, karena Tuhan Sang Sumber Kemenangan dan Keberhasilan tidak pernah pergi meninggalkan mereka dan kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

TUHAN SENANG JIKA KITA BERGANTUNG KEPADANYA

Bahan renungan:

Efesus 6:10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

Saat kita berkata, “Saya dapat mengatasi masalah saya sendiri,” Tuhan akan mengatakan, “Oke, silakan lakukan.” Namun, saat kita berkata, “Tuhan, tolong saya. Saya tidak dapat melakukannya sendiri. Saya memerlukan Engkau,” Tuhan akan menjawab, “Baiklah, Aku sudah lama menantikan kamu mengatakan hal itu.” Tuhan senang jika kita bergantung kepada-Nya dan tidak kepada hal lain.

(Baca juga: KITA PERLU BELAJAR AGAR SEMAKIN BERKEMBANG)

Jika kita mengatakan, “Saya punya cara dan jalan sendiri,” itu artinya kita tidak memerlukan Tuhan. Tuhan tidak dapat membantu kita jika kita tidak mau dibantu. Namun, saat kita mengarahkan pandangan kita kepada-Nya, berserah kepada-Nya, Dia akan mengangkat dan memelihara kehidupan kita.

Teman, kita dapat kuat hanya jika kita tinggal di dalam Yesus dan kebenaran-Nya. Firman Tuhan memberikan kekuatan bagi jiwa yang lemah, hati yang patah, dan semangat yang padam.

(Baca juga: JANGAN TARUH PERASAAN ANDA DI ATAS KEBENARAN FIRMAN TUHAN)

Suatu hari Yosafat berhadapan dengan musuh yang sangat banyak. Jika mengandalkan kekuatan sendiri, Yosafat pasti kalah. Namun 2 Tawarikh 20:12 mencatat suatu hal yang menjadi kunci kemenangan Yosafat, ” … Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.” Haleluya! Saat mata kita tertuju kepada Tuhan, iman kita akan bangkit, jiwa kita akan menyala-nyala, dan kemenangan ada di tangan kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

ABRAHAM KELUAR DARI ZONA NYAMAN KE TEMPAT YANG LEBIH NYAMAN

Bahan renungan:

Kejadian 12:1-2 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”

Tuhan memanggil Abraham ke sebuah negeri yang sama sekali belum pernah dilihat ataupun didengar olehnya. Untuk meyakinkan Abraham, Tuhan menyertai Abraham dengan janji-janji yang luar biasa, yaitu menjadikannya bangsa yang besar, memberkatinya, membuat namanya masyhur, dan menjadi berkat untuk bangsa-bangsa. Tanpa ragu sedikitpun, Abraham percaya kepada Tuhan dan menaati perintah Tuhan itu.

(Baca juga: JANGAN HIDUP MENURUT CARA MANUSIA)

Abraham adalah contoh orang yang berani keluar dari zona nyaman. Abraham tidak mempertanyakan Tuhan. Abraham memilih untuk percaya kepada perintah Tuhan dan janji setia-Nya.

Teman, perlu kita mengerti bahwa ketika Tuhan memanggil kita untuk keluar dari zona nyaman kita, seperti pergi ke sebuah tempat, melakukan sesuatu, atau meninggalkan sesuatu, Dia menyertai kita dengan janji-janji yang luar biasa. Tuhan ingin membawa kita keluar dari zona nyaman ke tempat yang jauh lebih nyaman.

Zona nyaman adalah sebuah situasi di mana kita tidak lagi menghadapi tantangan, tidak lagi mengalami kegagalan, atau tidak lagi mengambil risiko. Atau dengan kata lain, zona nyaman adalah sebuah tempat di mana kita perlu tidak lagi bergantung kepada Tuhan sepenuhnya. Contohnya jika kita memberi persembahan dengan jumlah sama dari tahun ke tahun. Hal itu membuat kita tidak lagi bergantung kepada Tuhan. Sebaliknya, jika kita memberikan jumlah dua atau tiga kali lipat lebih besar, itu membuat kita kembali bergantung kepada Tuhan. Begitu juga halnya ketika kita memutuskan terlibat ke dalam sebuah pelayanan. Hidup dengan rutinitas sehari-hari selama bertahun-tahun membuat kita lupa bahwa kita memerlukan Tuhan. Namun ketika kita mulai terlibat ke dalam pelayanan di sela-sela rutinitas kita, kita kembali memerlukan Tuhan.

Abraham tahu pasti bahwa ketika dia meninggalkan tanah kelahirannya menuju tanah yang Tuhan yang janjikan akan muncul tantangan-tantangan baru, tetapi Abraham tidak gentar, karena dia tahu siapa yang memegang hidupnya dan kepada siapa dia berpegang. Abraham percaya bahwa jika Tuhan yang memerintahkannya melakukan sesuatu, hal tersebut pasti mendatangkan kebaikan bagi dirinya.

(Baca juga: TUHAN SUDAH MENENTUKAN TAKDIR DAN NASIB MANUSIA)

Teman, Tuhan yang sama memanggil kita untuk memberkati kita dan menjadikan kita berkat bagi banyak orang. Sama seperti Abraham, maukah kita keluar dari zona nyaman kita dan mempercayakan hidup kita kepada tuntunan dan janji setia Tuhan? (penulis: @mistermuryadi)

MASALAH BUKANLAH UJIAN DARI TUHAN

Bahan renungan:

1 Korintus 10:13b Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Terus terang saya tidak tahu apa saja masalah yang Anda hadapi dan saya pikir saya tidak perlu tahu juga masalah Anda. Karena apapun masalah Anda, entah menurut Anda besar atau kecil, jawabannya sama, yaitu YESUS. Ingat teman, masalah Anda tidak unik atau spesial, masalah Anda tidak akan membuat TUHAN terkejut.

Seringkali orang melihat masalah sebagai sebuah ujian atau pencobaan dari TUHAN. Padahal Yakobus 1:13b mengatakan, “Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.”

Lihatlah sekali lagi ayat di atas. Ketika kita di dalam pencobaan, justru Tuhan datang untuk memberikan kepada kita kekuatan dan jalan keluar.

Teman, jika Anda melihat masalah sebagai ujian, di dalam pikiran Anda, Anda akan selalu mengira Tuhanlah yang memberikan Anda ujian tersebut. Tidak heran banyak orang berdoa, “Tuhan, mengapa Engkau memberikan ujian ini?” Kita semestinya memandang masalah sebagai kesempatan untuk bergantung kepada TUHAN dan mengandalkan DIA.

Saya percaya tidak ada seorang pun mengharapkan masalah di dalam hidupnya. Mungkin saja masalah tersebut datang akibat kesalahan orang sekitar kita. Apa pun masalahnya, Anda pasti sanggup menanggungnya di dalam Kristus. Melalui masalah yang Anda hadapi, Anda bisa memilih untuk semakin dekat kepada Tuhan, percaya kepada janji setiaNYA. Atau sebaliknya, Anda menyalahkan Tuhan dan semakin lama semakin jauh dari Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

MEMILIH UNTUK KUAT

Bahan renungan:

1 Samuel 17:40 LALU Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.

Ada begitu banyak kisah kepahlawanan di Alkitab. Jika Anda memperhatikan keseluruhan kisah para pahlawan tersebut, Anda akan menemukan sebuah kesamaan, bahwa sebagian besar dari para pahlawan ini muncul di tengah situasi yang sulit dan menekan. Salah satunya adalah Daud.

Saat itu seluruh tentara Israel, bahkan Raja Saul yang belum lama diurapi dan diidolakan, ketakutan karena ditantang oleh Goliat. Anda bisa membayangkan betapa mencekamnya situasi saat itu. Rajanya saja ketakutan, apalagi para prajuritnya. Goliat meminta satu orang terkuat dari Israel untuk melawannya dan yang kalah harus meninggalkan daerah tersebut. Seharusnya Saul yang maju menghadapi Goliat, namun Saul memilih bersembunyi di dalam tendanya. Mungkin dalam hatinya Saul berpikir, “Kiranya cawan ini lalu daripadaku.”

Di saat tidak ada seorang pun berani menghadapi Goliat, Daud tampil dan maju menawarkan dirinya. Daud berani bukan karena dia hebat. Daud berani karena dia tahu TUHAN semesta alam bersamanya.

Teman, mungkin Anda sedang mengalami situasi yang sama dengan Bangsa Israel saat itu. Anda mengalami situasi yang berat dan menekan. Mungkin hari ini Anda sedang ketakutan. Maukah di dalam kondisi seperti ini Anda maju, tampil, dan memilih untuk kuat? Atau Anda lebih memilih untuk mengikuti situasi yang ada?

Saya ingin katakan, hidup kita selalu memiliki pilihan. Anda selalu dapat memilih untuk percaya kepada Firman Tuhan atau percaya kepada situasi di sekitar Anda. Mental seorang pahlawan bukan mental “Apa kata situasi dan kondisi”, melainkan mental “apa kata TUHAN.” Hari ini Firman TUHAN katakan Anda pemenangnya, Firman TUHAN katakan Anda sanggup karena DIA ada bersama Anda, Firman TUHAN katakan ROH di dalam Anda jauh lebih besar, Firman TUHAN katakan Anda adalah pahlawan. Maukah Anda memilih untuk kuat dan percaya kepada janjiNYA hari ini? (penulis: @mistermuryadi)