JANGAN HANYA BERDOA, BERTINDAKLAH!

Bahan renungan:

Kisah Para Rasul 16:30-33 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.

Teman, satu-satunya yang dapat menghentikan Injil diberitakan adalah ketika kita, orang-orang percaya, memilih untuk tidak mau lagi memberitakan Injil.

(Baca juga: PERINTAH TUHAN TIDAK MASUK AKAL, TETAPI MUDAH DILAKUKAN)

Kita perlu mengerti bahwa hanya melalui pemberitaan Injil, mereka yang terhilang dapat berbalik dari jalan yang salah dan percaya kepada Yesus. Tidak ada cara lain. Tidak melalui doa, ataupun puasa.

Jangan salah sangka, bukan berarti berdoa tidak penting. Berdoa sangat penting bagi kehidupan orang percaya. Hanya saja doa tidak dirancang oleh Tuhan untuk membuat mereka yang terhilang percaya kepada Yesus. Kita perlu bertindak memberitakan Injil.

Saya mengibaratkan doa itu seperti air untuk menyiram. Sebanyak apa pun kita menyiram, tanah tidak akan memberikan hasil, kecuali kita menanam bibit di dalam tanah tersebut. Bibit yang saya maksud adalah benih Firman Tuhan yang kita tanam melalui pemberitaan Injil. Jadi, adalah hal sangat baik setelah kita menanam bibit, kita menyiraminya setiap hari.

Rasul Paulus dan Silas tidak hanya duduk diam di dalam penjara dan mendoakan seluruh isi keluarga sang kepala penjara. Kita dapat membaca dengan sangat jelas dalam ayat renungan di atas, bahwa mereka memberitakan Firman Tuhan terlebih dahulu kepada semua orang di rumah sang kepala penjara, dan barulah seisi rumah sang kepala penjara percaya kepada Yesus.

(Baca juga: SEKALIPUN TUHAN MENGASIHI KITA, PERBUATAN JAHAT KITA ADA KONSEKUENSINYA)

Pertobatan yang sama dapat terjadi bagi keluarga atau sahabat kita. Cara adalah dengan mulai menabur benih Firman Tuhan, dan lalu menyiramnya setiap hari. Suatu saat kita pasti menuai buahnya dengan sukacita. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

SATU-SATUNYA CARA AGAR KITA DAPAT MENERIMA JANJI TUHAN

Bahan renungan:

Yakobus 1:6-8 Hendaklah ia MEMINTANYA DALAM IMAN, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan MENERIMA sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Dalam renungan kemarin kita membahas alasan utama mengapa kita belum menerima janji Tuhan, yaitu karena kita tidak memercayai janji tersebut.

(Baca juga: ALASAN UTAMA MENGAPA KITA BELUM MENERIMA JANJI TUHAN)

Hari ini, saya ingin kita belajar bagaimana cara menerima dari Tuhan. Saya masih menggunakan ayat yang sama dengan kemarin, tetapi perhatikan kata-kata yang saya besarkan, yang merupakan satu-satunya cara agar kita dapat menerima dari Tuhan.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai iman, saya ingin memberikan sebuah ilustrasi. Misalnya, suatu hari, ketika kita menonton siaran langsung Piala Dunia dari Itali, tiba-tiba televisi kita kehilangan sinyal, sehingga kita tidak lagi dapat menyaksikan pertandingan tersebut. Kita tidak dapat menonton bukan karena pertandingan di Itali dibubarkan, tetapi kemungkinan besar karena antena televisi kita rusak. Pertandingan di Itali tetap berlangsung.

Prinsip yang sama berlaku dalam hal menerima berkat Tuhan.

Tuhan sudah mencurahkan berkat, kesembuhan, pemulihan, kasih, pengampunan, kuasa, dan mukjizat-Nya bagi kita. Kita belum menerima hal tersebut bukan karena Tuhan belum memberikannya. Menurut ayat renungan di atas, hal tersebut disebabkan karena “antena iman” kita yang rusak.

Jadi, adalah sebuah kesalahpahaman ketika orang percaya bertanya kepada Tuhan, “Apakah Engkau mau menyembuhkan, memulihkan, atau memberkati saya?” Tuhan bukan hanya mau, faktanya Dia sudah memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Masalah kita bukanlah Tuhan, melainkan “antena iman” kita, sehingga kita belum menerima berkat Tuhan.

Firman Tuhan mengatakan, “Hendaklah ia MEMINTANYA DALAM IMAN … supaya ia dapat menerima dari Tuhan.” Itu artinya, kita tidak dapat meminta dalam kondisi ragu, takut, atau kuatir. Bukan tidak boleh, hanya saja itu bukan cara yang alkitabiah untuk menerima janji Tuhan.

Dalam Markus 11:24 dijelaskan, Anda dapat membaca ayat lengkapnya jika Anda mau, bahwa ketika kita meminta atau berdoa, kita perlu percaya bahwa kita telah menerimanya, barulah hal tersebut akan diberikan kepada kita.

Saya berikan contoh. Misalnya kita lumpuh. Kaki kita tidak berdaya dan mungkin setiap kali kita gerakkan, kaki kita terasa sakit. Jika kita percaya mukjizat kesembuhan, kita tidak akan menghabiskan hari-hari kita hanya duduk diam di kursi roda dan pasrah terhadap keadaan. Kita perlu memerintahkan kaki kita untuk sembuh, kemudian mencoba untuk bangun, dan mulai menggerakkan kaki kita seolah kita telah menerima kesembuhan tersebut. Banyak orang ingin sembuh dari lumpuh, tetapi setiap kali merasa kakinya sakit, mereka menjadi takut untuk mencoba bangun. Takut berdiri adalah tanda bahwa orang tersebut masih berpikir bahwa dia lumpuh dan belum menerima kesembuhan.

Sama halnya dalam hal kelimpahan. Jika kita ingin hidup dalam kelimpahan, kita mesti mulai berani memberi persepuluhan atau persembahan, seperti orang yang telah mengalami kelimpahan, bukan meminta-minta seperti orang yang kekurangan. Orang sadar menyadari dirinya berkelimpahan pasti lebih sering memberi daripada meminta.

(Baca juga: TUHAN INGIN ANDA MENJADI KEPALA, BUKAN EKOR)

Singkatnya, iman adalah respons atau tindakan yang kita lakukan akibat kita memercayai janji Tuhan. Jadi, kita perlu tahu dengan pasti terlebih dahulu janji Tuhan di dalam Alkitab, lalu merespons berdasarkan Firman Tuhan tersebut. Dengan cara demikian, kita akan menerima apa yang Tuhan janjikan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

TERNYATA BUKAN TUHAN YANG MENUNDA JALAN KELUAR BAGI HIDUP KITA

Bahan renungan:

Mazmur 121:2 Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.

Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tetapi berdasarkan pengalaman, saya menemukan banyak orang mengira menantikan pertolongan Tuhan berarti menunggu, tanpa perlu berbuat apa-apa. Saya percaya hal tersebut keliru.

(Baca juga: SAAT MARTA SEPAKAT DENGAN YESUS, LAZARUS BANGKIT!)

Menantikan pertolongan Tuhan bukan berarti Anda pasif menunggu. Justru sebaliknya, Anda perlu bertindak. Bertindak yang saya maksud adalah bertindak berdasarkan janji Tuhan yang Anda percayai. Misalnya Anda percaya Tuhan memberkati pekerjaan tangan Anda, seperti yang tertera dalam Ulangan 2:7, Anda tidak dapat diam, tidak berbuat apa-apa, lalu mengharapkan Tuhan memberkati hidup Anda.

Begitu juga jika Anda ingin hidup dalam kasih karunia dan damai sejahtera seperti yang dijanjikan dalam 2 Petrus 1:2. Anda tidak dapat diam dan tidak berbuat apa-apa, Firman Tuhan mengatakan Anda perlu semakin mengenal Tuhan Yesus. Itu artinya, Anda perlu luangkan waktu Anda untuk membaca dan merenungkan Firman, dan mengalokasikan sebagian uang Anda untuk membeli buku rohani atau rekaman khotbah yang Anda membantu Anda semakin mengenal Tuhan Yesus.

Satu contoh lagi. Jika Anda mengharapkan hubungan pernikahan yang indah dan mesra, Anda tidak dapat berdiam diri, dan menunggu pasangan Anda berubah. Firman Tuhan dalam Efesus 5:22 dan 24 mengatakan, para istri perlu tunduk kepada suami seperti kepada Kristus, dan para suami perlu mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat. Siapa yang perlu melakukan terlebih dahulu, suami atau istri? Bagi saya, yang perlu melakukan terlebih dahulu adalah Anda yang benar-benar mengharapkan hubungan pernikahan yang indah dan mesra.

(Baca juga: DOA ORANG PERCAYA TIDAK BERTELE-TELE)

Jika Anda renungkan, ternyata bukan Tuhan yang menunda jalan keluar bagi hidup kita. Seringkali, kita tidak menemukan jalan keluar karena kita hanya diam dan menunda untuk bertindak berdasarkan apa yang Firman Tuhan katakan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN, MEMERCAYAINYA, LALU BERTINDAK

Bahan renungan:

Matius 7:26-27 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Teman, tahukah Anda bahwa mendengar Firman Tuhan saja tidak cukup? Anda perlu memercayainya dan bertindak berdasarkan hal tersebut. Ayat renungan hari ini menyatakan hal tersebut dengan jelas. Orang yang hanya mendengar Firman Tuhan, namun tidak melakukannya, sama seperti orang yang bodoh yang mendirikan rumah di atas pasir. Sepertinya terdengar sedikit kasar membaca Alkitab menuliskan kata “bodoh” kepada orang-orang tersebut. Tapi, itulah kenyataannya. Mereka bodoh karena berpikir ada cara alternatif yang lebih benar dari kebenaran Firman Tuhan.

(Baca juga: KITA DISUCIKAN OLEH DARAH YESUS)

Sebagai contoh, Firman Tuhan mengatakan jika kita meletakkan tangan ke atas orang sakit, orang tersebut akan sembuh. Saya percaya semua orang Kristen pernah mendengar ayat itu. Namun, banyak orang Kristen memilih berdoa dalam hati saat mendoakan orang sakit. Mereka tidak berani meletakkan tangan mereka dan mengatakan, “Di dalam nama Yesus, saya mengusir setiap sakit penyakit, dan hari ini jadilah sembuh.” Mereka berpikir berdoa dalam hati dapat menyembuhkan orang sakit, atau dengan kata lain, mereka berpikir ada cara lain agar orang sakit itu sembuh.

(Baca juga: NERAKA TIDAK DICIPTAKAN UNTUK MANUSIA)

Teman, jadilah berani dan percaya kepada apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan dan setiap janji yang tertulis di dalamnya YA dan AMIN bagi hidup setiap orang percaya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

ORANG YANG PERCAYA FIRMAN TUHAN PASTI BERTINDAK!

Bahan renungan:

Yakobus 2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Firman Tuhan hanya dapat mengubahkan kehidupan ketika kita memercayai Firman tersebut. Tidak peduli seberapa banyak Firman Tuhan yang kita ketahui, jika kita tidak memercayai-Nya, hal tersebut tidak akan membawa keuntungan apapun bagi hidup kita.

(Baca juga: JANGAN BIARKAN IBLIS BEROLEH KEUNTUNGAN DARI HIDUP ANDA)

Lalu, apa ciri-ciri atau tanda kita memercayai kebenaran? Perbuatan, tindakan, atau respons seseorang adalah hal yang membedakan antara orang yang mengetahui dengan memercayai Firman Tuhan. Orang yang percaya Firman Tuhan pasti bertindak sesuai dengan Firman yang dia percayai.

Banyak orang yang berasumsi, yang penting bertindak saja, sekalipun belum mengerti. Hal seperti itu keliru dan tidak alkitabiah. Justru, kita perlu mengerti kebenaran terlebih dahulu, lalu memercayai kebenaran tersebut, dan kemudian bertindak berdasarkan kebenaran tersebut. Itu alasan kita menyebutnya tindakan atau perbuatan iman. Dengan arti kata lain, tindakan atau perbuatan yang dilakukan akibat kita percaya kebenaran Firman Tuhan. Jadi, beriman terlebih dahulu, berbuat kemudian.

Mungkinkah kita percaya, tetapi tidak bertindak? Sangat tidak mungkin. Firman Tuhan nyatakan pada ayat di atas, iman hanya dapat ditunjukkan melalui perbuatan-perbuatan kita.

Saya berikan contoh. Jika kita lumpuh dan percaya kesembuhan, mungkinkah kita terus menerus berbaring di tempat tidur? Tentu saja tidak. Sampai satu titik, kita akan berusaha bangkit dari tempat tidur dan mulai mencoba berjalan. Itu tanda kita percaya. Jika kita terus menerus berbaring di tempat tidur, itu hanya menunjukkan bahwa kita tidak percaya kesembuhan.

(Baca juga: BUATLAH KEPUTUSAN BERDASARKAN FIRMAN TUHAN)

Sama halnya dengan kelimpahan. Jika kita percaya kita adalah orang yang diberkati dan sumber berkat kita adalah Tuhan, kita pasti memberi persembahan dan persepuluhan. Tidak memberi atau takut memberi adalah tanda kita tidak percaya bahwa kita adalah orang yang diberkati.

Orang yang percaya Firman Tuhan pasti bertindak. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

CARA MENGATASI KRISIS: LIHATLAH KESELAMATAN DARI TUHAN (bagian 03)

Bahan renungan:

Keluaran 14:13 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.

Ini adalah hari ketiga kita membahas mengenai cara mengatasi krisis. Satu fakta yang pasti, bahwa selama kita hidup di dunia, kita tidak dapat menghindari masalah. Bukan Tuhan yang memberikan atau pun mengijinkan masalah tersebut, Yakobus 1:14 katakan, “Manusia dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Itu artinya, masalah muncul ketika hati kita terpikat oleh sesuatu selain Tuhan dan kebenaran-Nya.

(Baca juga: CARA MENGATASI KRISIS: BERDIRILAH TETAP (bagian 02))

Jika hati Anda terarah sepenuhnya kepada Tuhan dan kebenaran-Nya, Anda akan berpijak dari satu kemenangan kepada kemenangan yang lebih besar.

Saya berikan satu buah fakta dan saya harap fakta ini tidak membuat Anda tertuduh, karena bukan itu tujuan saya. Saya hanya bermaksud mengutarakan kebenaran bagi Anda. Kondisi buruk yang terjadi di dalam hidup Anda adalah akibat salah satu dari dua hal ini: Anda tidak membuat keputusan berdasarkan Firman Tuhan atau karena Anda mengabaikan mencari kebenaran Firman Tuhan sebelum membuat keputusan. Sederhananya, jika Anda memutuskan sesuatu berdasarkan kebenaran Firman Tuhan, Anda pasti mendapatkan hasil yang dijanjikan oleh Firman Tuhan.

Itu sebabnya Tuhan berkata kepada Bangsa Israel, “LIHATLAH KESELAMATAN DARI TUHAN.” Anda bisa saja berusaha selamat dengan cara sendiri, tapi hasil akhirnya pasti tidak akan sebaik ketika Anda berusaha selamat dengan cara TUHAN.

Kata “LIHATLAH” dalam ayat di atas diambil dari bahasa Ibrani ra’a yang artinya sadarilah, pikirkanlah, renungkanlah, dan pandanglah. Jadi bukan hanya melihat sambil lalu, melainkan mem-fokus-kan seluruh perhatian dan pikiran hanya kepada Tuhan dan mendahulukan kebenaran-Nya.

Teman, setiap kita butuh Firman Tuhan setiap hari. Tidak cukup hanya sesekali membaca dan merenungkan Firman Tuhan, atau lebih parahnya baru mencari Firman Tuhan ketika sudah dalam masalah besar.

(Baca juga: CARA MENGATASI KRISIS: JANGAN TAKUT (bagian 01))

Mari bangun kebiasaan untuk bergantung kepada Firman Tuhan jauh sebelum masalah datang, sehingga Anda tahu bagaimana cara mengatasi ketakutan, keraguan, dan kekuatiran Anda. Semakin sering Anda membaca dan merenungkan Firman Tuhan, semakin banyak hikmat dan jalan keluar yang Anda dapatkan untuk mengatasi masalah-masalah Anda. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

JANGAN PASRAH, BERTINDAKLAH!

Bahan renungan:

Kisah Para Rasul 27:15 Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing.

Teman, jangan pasrah. Jangan biarkan situasi mengambil alih masa depan Anda. Tuhan telah tetapkan Anda untuk berhasil, menjadi kepala bukan ekor, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

(Baca juga: BERGAUL DENGAN ORANG YANG TEPAT DAPAT MENGUBAH HIDUP ANDA)

Saya cukup mengenali raut wajah dan sikap hidup orang pasrah. Mereka adalah orang-orang yang cenderung mengatakan, “Ya, mau bagaimana lagi, situasinya sudah seperti itu,” “Sulitlah bagi saya untuk mengubahnya, semua sudah terlanjur,” seolah mereka tidak berdaya terhadap situasi.

Jika Anda menyadari jati diri Anda yang sesungguhnya di dalam Kristus, yaitu anak Raja, semestinya Anda tidak pasrah terhadap keadaan. Sebagai anak Raja, Anda dapat mengubah keadaan.

Saul adalah tipe orang yang pasrah terhadap keadaan. Ketika Goliat menantang, Saul hanya dapat dia mengasihani diri dan ketakutan. Padahal Tuhan telah mengurapinya menjadi raja. Bahkan ketika Daud datang menawarkan bantuan, Saul dengan pasrahnya mengatakan, “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.”

Daud berbeda. Dia bukan tipe orang yang mengalir mengikuti keadaan. Daud tipe orang yang bertindak mengubah keadaan. Daud tahu pasti bahwa Tuhan yang menyertainya menetapkan dia untuk menang dan berhasil. Berikut respons Daud terhadap kepasrahan Saul, “Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”

(Baca juga: TUHAN MENUNJUKKAN KASIHNYA KETIKA KITA BERDOSA)

Teman, jangan pasrah. Tuhan mengaruniakan kepada Anda kuasa untuk mengubah keadaan. Anda memiliki nama Yesus yang adalah sumber dari jalan keluar. Jika hari ini ada situasi atau keadaan yang Anda tidak sukai, jangan menyerah, jangan pasrah, jangan menunggu situasi menentukan hidup Anda, bertindaklah. Jika perlu, carilah hikmat dan pengetahuan atau belajarlah dari orang-orang yang Anda kenal baik reputasinya, lalu bertindaklah. (penulis: @mistermuryadi)