KITA MEMILIKI PERAN BESAR UNTUK MEMBUAT DUNIA JADI LEBIH BAIK

Bahan renungan:

1 Petrus 3:9 … hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil.

Banyak orang cenderung mengharapkan orang lain yang berubah, “Seandainya orang itu melakukannya lebih baik, pasti tidak akan begini jadinya.” Sikap seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak membuat keadaan jadi lebih baik.

(Baca juga: ORANG YANG EGOIS ADALAH ORANG YANG TIDAK BAHAGIA)

Saya percaya, kita dipanggil bukan hanya untuk mengharapkan perubahan, tetapi membuat perubahan, menjadi bagian dari sebuah perubahan.

Langkah paling mudah untuk membuat sebuah perubahan adalah memulainya dari perubahan terhadap diri sendiri. Saya menemukan, sulit sekali mengharapkan orang lain berubah terlebih dahulu. Orang yang paling mudah untuk saya ubah adalah diri saya sendiri, karena saya yang memegang kendali atas hal tersebut.

Jika ada seseorang yang selalu berbuat kasar kepada kita, tentu sulit untuk memintanya berubah. Orang itu pasti memiliki seribu alasan untuk berbuat demikian kepada kita. Namun, kita dapat berubah. Kita dapat belajar lebih sabar menghadapinya, kita dapat lebih lembut dalam meresponsnya, dan kita dapat menaruh senyum di wajah kita pada saat dia kasar.

Satu hal yang saya percaya mengenai perubahan. Ketika kita mampu mengubah diri kita, barulah kita dapat mengubah orang lain, bahkan dunia. Sebaliknya, jika kita saja kesulitan mengubah diri kita sendiri, yang kendalinya kita pegang, bagaimana mungkin kita berharap dapat mengubah orang lain yang tidak dapat kita kendalikan.

(Baca juga: ADAKAH HARAPAN BAGI HIDUP KITA YANG SUDAH TERLANJUR RUSAK?)

Apa yang saya tuliskan di atas adalah hal yang serius. Saya percaya, setiap kita memiliki peran besar untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik, dengan cara mengubah diri kita menjadi orang yang lebih baik. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

CIRI-CIRI ANDA BERTUMBUH DI DALAM KRISTUS

Bahan renungan:

Yohanes 15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Suatu hari saya mendengar percakapan dua orang mengenai Tuhan. Orang pertama bertanya kepada orang kedua, “Mengapa kamu tidak pernah ke gereja lagi?” Orang kedua menjawab, “Ya, mencari Tuhan kan bisa dari mana saja. Toh, sampai hari ini rohani saya bertumbuh, kok.” Pernah juga saya bertanya kepada seseorang, “Mengapa kamu tidak pindah gereja?” Orang tersebut menjawab, “Untuk apa pindah? Saya merasa bertumbuh kok di sini,” sambil menghisap sebatang rokok.

(Baca juga: CARA MENGECEK KONDISI HATI MELALUI PENGELUARAN KITA)

Teringat dengan jawaban dua orang di atas, saya tergerak menulis mengenai ciri-ciri Alkitabiah mengenai bertumbuh di dalam Tuhan.

Alih-alih tidak mau beranjak dari zona nyaman, banyak orang dengan enteng menjawab “Saya bertumbuh” ketika ditanya mengenai kerohaniannya. Padahal bertumbuh dalam Kristus memiliki ciri-ciri khusus.

Jika benar Anda bertumbuh di dalam Kristus, Anda pasti berubah dan berbuah. Ya, berubah dan berbuah adalah ciri-ciri pertumbuhan seseorang. Berubah dan berbuah dalam hal apa? Mulai dari karakter, pelayanan, pemberian, gaya hidup, tingkah laku, keputusan, perkataan, dan lain sebagainya. Bertumbuh artinya berubah dan berbuah.

Jika Anda berada di dalam sebuah gereja atau persekutuan tertentu selama tahunan, atau bahkan berpuluh-puluh tahun, tetapi hidup Anda tidak mengalami perubahan yang signifikan, saya dapat pastikan Anda tidak sedang bertumbuh.

Setiap benih yang ditanam, yang menggambarkan Anda dan saya, hanya memiliki dua kemungkinan, yaitu tumbuh dan berbuah, atau layu dan mati. “Lalu, bagaimana caranya supaya kita dapat bertumbuh?”

Rasul Paulus mengajarkannya dalam 1 Korintus 3:6, “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Jadi, pertumbuhan itu berasal dari Tuhan. Atau dengan kata lain, jika Anda belajar atau mengenal Tuhan yang benar, Anda pasti bertumbuh.

Jika Anda berada di sebuah komunitas yang mengajarkan Tuhan itu pemarah, menghukum orang berdosa, melepaskan binatang pelahap, dan mengijinkan kecelakaan supaya Anda belajar sesuatu, saya percaya iman Anda tidak bertumbuh. Mendengar Tuhan yang seperti itu, hati Anda bukan dipenuhi iman dan kasih, melainkan ketakutan dan pembenaran terhadap diri sendiri.

(Baca juga: APA BENAR TUHAN SUKA MENUNDA BERKATNYA?)

Ya, saya pribadi sangat menyayangkan bahwa tidak semua gereja atau persekutuan mengajarkan Tuhan yang benar. Akibatnya, banyak orang percaya tidak bertumbuh dan imannya jalan di tempat. Pertumbuhan hidup Anda terkait erat dengan pengenalan Anda akan Tuhan. Semakin Anda mengenal Tuhan, semakin Anda berubah dan berbuah. (penulis: @mistermuryadi)

TUHAN INGIN ANDA BERUBAH DAN BERBUAH LEBAT

Bahan renungan:

Kolose 2:6-7 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Berubah dan berbuah adalah dua hal yang Yesus janjikan bagi kehidupan orang percaya setelah menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kedua hal itu membutuhkan waktu dan merupakan proses setiap hari.

(Baca juga: ARTI SESUNGGUHNYA DARI KATA “BERTOBAT”)

Ketika kita lahir baru, hanya roh kita yang diubah menjadi baru. Roh kita menjadi satu dengan Roh Tuhan yang gagah perkasa. Roh kita yang mati, dihidupkan. Itu sebabnya 2 Korintus 5:7 mengatakan kita adalah ciptaan baru. Namun, pikiran, jiwa, mental, dan tubuh kita belum diubahkan.

Tuhan tidak hanya ingin Anda berhenti di tahap lahir baru. Masih begitu panjang, dalam, dan lebar rencana Tuhan untuk hidup Anda. Tuhan ingin Anda berakar di dalam kebenaran-Nya, sehingga pikiran, jiwa, dan mental Anda juga berubah. Penting bagi kita untuk memiliki gereja lokal dan komunitas yang benar, yang dapat memberitakan kebenaran-kebenaran yang dapat kita pahami sehingga pikiran, jiwa, mental, dan tubuh kita juga diubahkan.

Beberapa kali saya berbicara dengan teman Kristen yang saya kenal. Banyak di antara mereka setia datang ke gereja atau persekutuan yang pemberitaan Firman Tuhannya sulit untuk mereka mengerti dan pahami. Tidak heran, meskipun sudah bertahun-tahun ke gereja, kehidupan mereka tidak berubah dan tidak berbuah.

Teman, jika Anda tidak mengerti Firman Tuhan yang disampaikan, bagaimana Anda dapat merenungkan Firman tersebut? Jika Anda tidak merenungkan Firman tersebut, bagaimana mungkin pikiran, jiwa, dan mental Anda dapat berubah? Jika pikiran, jiwa, dan mental Anda tidak berubah, bagaimana mungkin Anda dapat berbuah lebat?

Cobalah untuk bertanya kepada para hamba Tuhan, bertukar pikiran dengan mereka secara pribadi, dan diskusikan kebenaran-kebenaran belum Anda mengerti. Lakukan sampai Anda benar-benar mengerti dan mempercayai kebenaran tersebut.

(Baca juga: MEMBACA FIRMAN MENGINGATKAN KITA AKAN IDENTITAS KITA)

Saat pikiran, jiwa, dan mental Anda BERUBAH, tubuh Anda akan BERBUAH lebat. Yang sebelumnya sakit-sakitan, disembuhkan. Yang sebelumnya hidup pas-pasan, berkelimpahan. Yang sebelum ketakutan, menikmati damai dan sukacita. Yang sebelumnya hanya menjadi jemaat, mau terlibat dalam pelayanan. Yang sebelumnya dibimbing, mulai membimbing orang lain. (penulis: @mistermuryadi)

BENIH FIRMAN TUHAN BUTUH TEMPAT YANG TEPAT UNTUK BERTUMBUH

Bahan renungan:

Lukas 8:11* Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. 12* Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. 13* Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. 14* Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. 15* Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

Ayat kita hari ini cukup panjang, tetapi saya ingin Anda membaca dan merenungkannya. Perhatikan, bahwa si penabur menaburkan benih ke empat tempat berbeda, tetapi hanya di tanah yang baik benih tersebut tumbuh. Empat tempat di sini mewakili empat respons manusia setelah mendengarkan Firman Tuhan. Anda bisa memeriksa, kira-kira Anda tipe yang mana.

(Baca juga: TUHAN MENUNJUKKAN KASIHNYA KETIKA KITA BERDOSA)

Pinggir jalan adalah tipe yang setelah mendengar Firman Tuhan, dia lebih percaya kepada apa yang orang lain katakan. Tanah berbatu adalah tipe yang mendengar Firman Tuhan sesekali saja, sehingga tidak berakar kuat. Saat datang masalah, dia lupa dengan apa yang dia sudah pelajari. Semak duri adalah tipe yang setelah mendengar Firman Tuhan, menyukainya, tetapi begitu ada situasi dan kondisi yang buruk, dia memilih lebih percaya pada kekuatiran dan ketakutannya. Terakhir, tanah yang baik. Adalah tipe yang mendengar Firman Tuhan, menyimpan dalam hati (merenungkan) dan mulai meninggalkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran yang dia terima.

Teman, Firman Tuhan adalah benih. Benih ini tidak dapat tumbuh di sembarang tempat. Anda tidak bisa menaruh benih di atas meja dan mengharapkannya tumbuh. Anda perlu menaruh benih di tanah yang subur supaya dia bertumbuh dan berbuah lebat. Firman Tuhan yang Anda baca dan renungkan setiap hari butuh tempat bertumbuh. Firman tersebut tidak dapat tumbuh di komunitas atau pergaulan yang negatif.

Suatu hari seseorang bertanya kepada saya, mengapa sulit mengubah pikiran dan perilaku yang negatif, padahal dia sudah membaca Firman Tuhan setiap hari. Lalu, saya bertanya satu hal yang sederhana, “Seperti apakah teman-teman atau sahabatmu? Apakah mereka mengasihi TUHAN?” Ia menjawab, “Sebagian mereka memang Kristen, tapi jarang ke gereja, dan sebagian lagi bukan. Ada yang merokok dan kadang, omongannya jorok dan kotor. Namun, sebenarnya mereka baik.” Wah, dalam hati saya, tidak heran kalau pikiran dan perilakunya sulit berubah, karena benih Firman tidak dapat tumbuh di tempat seperti itu.

(Baca juga: MENGAPA MANUSIA MENINGGAL? APAKAH TUHAN YANG MENGAMBIL?)

Teman, Anda perlu memiliki komunitas yang menjadikan Firman Tuhan sebagai dasarnya. Hanya dengan cara demikian, setiap benih Firman yang Anda baca dan renungkan dapat bertumbuh. (penulis: @mistermuryadi)

ANDA INGIN BERUBAH? SEKARANGLAH WAKTUNYA!

Bahan renungan:

2 Korintus 5:1 Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

Semua manusia di dunia akan hidup kekal. Masalahnya adalah kekal di Sorga atau kekal di Neraka. Puji Tuhan, orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat akan menikmati kehidupan kekal di Sorga. Teman, hidup di dunia ini hanya sementara dan hanya sesaat saja jika dibandingkan kehidupan kekal kelak.

(Baca juga: JANGAN MENGEJAR HAL YANG SALAH!)

Hari ini, saya ingin kita merenungkan kehidupan kita sebentar saja. Ambillah waktu berdiam diri sejenak, dan cobalah bertanya ke dalam hati Anda, apakah kehidupan yang sedang Anda jalani hari ini adalah kehidupan yang Anda harapkan?

Seringkali kita menunda untuk berbuat baik, menunda untuk berubah, menunda untuk menginjil, menunda untuk mengampuni, menunda untuk memberi, menunda untuk mendekat kepada TUHAN, dan menunda hal-hal lainnya.

Jangan seperti kebanyakan orang yang ketika di penghujung hidupnya, mereka berkata, “Seandainya saja saya memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama dan melakukan lebih banyak hal yang berguna untuk orang lain.” Namun sayangnya, seringkali kesadaran seperti itu baru muncul ketika segala sesuatu sudah terlambat.

(Baca juga: YESUS TIDAK PERNAH MENJAUHI ORANG BERDOSA)

Teman, hidup Anda dan saya hanyalah sesaat saja. Jangan sia-siakan hidupmu untuk sesuatu yang tidak berguna. Saya ingin katakan, jika ada waktu yang paling tepat untuk melakukan perubahan di dalam hidup Anda, sekaranglah waktunya, bukan besok, bukan bulan depan, dan bukan tahun depan. Ya, sekaranglah waktunya! (penulis: @mistermuryadi)

KENDALIKAN KEMAMPUAN BERADAPTASI ANDA

Bahan renungan:

1 Korintus 15:33 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Masih dengan ayat yang sama. Namun sekarang saya ingin menjabarkan kepada Anda bahwa ada alasan yang sangat kuat mengapa Alkitab mengatakan pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Ya, karena manusia adalah makhkluk yang memiliki kemampuan adaptasi yang paling tinggi di antara semua makhkluk ciptaan Tuhan yang lainnya.

(Baca juga: ORANG TERDEKAT ANDA MENENTUKAN MASA DEPAN ANDA)

Hanya manusia yang dapat tinggal di kutub, padang gurun, hutan, atau pun di daerah tropis. Ya, manusia bisa beradaptasi dengan iklim, tempratur, lingkungan, aktivitas, dan orang-orang sekitar. Sehebat itulah Anda dan saya diciptakan oleh Tuhan. Berbeda dengan hewan dan tumbuhan. Tidak semua hewan dan tumbuhan bisa beradaptasi dengan iklim atau temperatur yang berbeda. Misalnya saja ikan air tawar tidak bisa hidup di air laut.

Bahkan saking hebatnya daya adaptasi manusia, ketika manusia beradaptasi dengan orang atau lingkungan sekitar, bukan hanya tingkah laku, pemikiran, atau keputusan kita saja yang berubah, tetapi juga bentuk tubuh, warna kulit, otot, dan suara kita berubah menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Contohnya: otot yang terbentuk antara pelari dan petinju berbeda, warna kulit orang yang tinggal di daerah pegununan dan perkotaan berbeda, kelebatan rambut antara orang yang tinggal di hutan tropis dan kutub berbeda.

Semua manusia terlahir dengan kemampuan beradaptasi. Anda tidak dapat menonaktifkannya. Anda hanya bisa memilih dengan siapa Anda beradaptasi. Jika Anda mengerti cara mengendalikannya, daya adaptasi ini bisa membantu Anda meraih hal-hal yang Anda harapkan, sebaliknya jika Anda tidak mengendalikannya dengan benar, kemampuan adaptasi ini akan merusak harapan, dan bahkan seluruh kehidupan Anda.

(Baca juga: KOMUNITAS YANG SALAH MERUSAK KITA, PERLAHAN TAPI PASTI!)

Teman, saya ingin katakan bahwa betapa pentingnya setiap kita dapat memilih orang-orang yang tepat untuk berada di dekat kita. Pastikan mereka adalah orang-orang yang mengenal Tuhan dengan baik dan benar, supaya ketika Anda berada di dekat mereka, kehidupan Anda beradaptasi dengan sesuatu yang mengubahkan Anda ke arah yang jauh lebih baik. (penulis: @mistermuryadi)

LAKUKAN SEKARANG, JANGAN MENUNDA LAGI

Bahan renungan:

2 Korintus 5:1 Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

Teman, tahukah Anda bahwa semua orang di dunia akan hidup kekal? Bukan hanya orang yang menerima Yesus yang akan hidup kekal, tapi semua orang di atas muka bumi ini. Masalahnya adalah kekal di Sorga atau kekal di Neraka. Puji Tuhan, orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat akan menikmati kehidupan kekal di Sorga.

Teman, hidup di dunia ini hanya sementara dan hanya sesaat saja. Firman Tuhan sudah katakan usia manusia bisa sampai 120 tahun (Kejadian 6:3). Jika kita hidup lebih dari usia tersebut, itu adalah bonus. Kehidupan 120 tahun di dunia ini tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan selama-lamanya di Sorga nanti.

Hari ini saya ingin kita merenungkan sebentar kehidupan kita. Seringkali kita menunda untuk berbuat baik, menunda untuk berubah, menunda untuk menginjil, menunda untuk mengampuni, menunda untuk memberi, dan selalu menunda. Teman, hidup kita hanya sesaat di dunia. Mari kita hidup untuk menjadi berkat dan menjadi saluran kasih TUHAN. Jangan sia-siakan hidupmu untuk sesuatu yang tidak berguna. Hampir semua orang, ketika di penghujung hidupnya, selalu berkata, “Seandainya saja saya bisa hidup lebih lama dan melakukan lebih banyak yang berguna untuk orang lain,” dan itu sudah terlambat. (penulis: @mistermuryadi)