TUHAN SENANG JIKA KITA BERGANTUNG KEPADANYA

Bahan renungan:

Efesus 6:10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

Saat kita berkata, “Saya dapat mengatasi masalah saya sendiri,” Tuhan akan mengatakan, “Oke, silakan lakukan.” Namun, saat kita berkata, “Tuhan, tolong saya. Saya tidak dapat melakukannya sendiri. Saya memerlukan Engkau,” Tuhan akan menjawab, “Baiklah, Aku sudah lama menantikan kamu mengatakan hal itu.” Tuhan senang jika kita bergantung kepada-Nya dan tidak kepada hal lain.

(Baca juga: KITA PERLU BELAJAR AGAR SEMAKIN BERKEMBANG)

Jika kita mengatakan, “Saya punya cara dan jalan sendiri,” itu artinya kita tidak memerlukan Tuhan. Tuhan tidak dapat membantu kita jika kita tidak mau dibantu. Namun, saat kita mengarahkan pandangan kita kepada-Nya, berserah kepada-Nya, Dia akan mengangkat dan memelihara kehidupan kita.

Teman, kita dapat kuat hanya jika kita tinggal di dalam Yesus dan kebenaran-Nya. Firman Tuhan memberikan kekuatan bagi jiwa yang lemah, hati yang patah, dan semangat yang padam.

(Baca juga: JANGAN TARUH PERASAAN ANDA DI ATAS KEBENARAN FIRMAN TUHAN)

Suatu hari Yosafat berhadapan dengan musuh yang sangat banyak. Jika mengandalkan kekuatan sendiri, Yosafat pasti kalah. Namun 2 Tawarikh 20:12 mencatat suatu hal yang menjadi kunci kemenangan Yosafat, ” … Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.” Haleluya! Saat mata kita tertuju kepada Tuhan, iman kita akan bangkit, jiwa kita akan menyala-nyala, dan kemenangan ada di tangan kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

TANPA TUHAN, KITA LEMAH DAN RAPUH

Bahan renungan:

2 Korintus 4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

Tanpa Tuhan, kekuatan, kesabaran, sukacita, dan damai kita terbatas. Tanpa Tuhan, kita seperti sekam yang ditiup angin. Seperti rumput liar yang hari ini ada dan besok rusak terinjak-injak.

(Baca juga: APA PUN YANG KITA ALAMI, TUHAN SENANTIASA MEMEGANG TANGAN KITA)

Tidak dapat kita pungkiri bahwa kita adalah makhluk yang sangat rapuh. Berbagai peristiwa yang menghiasi laman berita terkini membuktikan demikian. Sepasang kakak adik bunuh diri karena stres; hanya karena emosi sesaat, segerombolan orang seenaknya merenggut nyawa seseorang; seorang dokter muda ternama meninggal karena sakit, dan masih banyak lagi kisah pilu lainnya.

Saya percaya setiap kita butuh Tuhan. Kita butuh kekuatan yang lebih besar dari diri kita. Saat kita tinggal bersama Tuhan dan memegang teguh janji setia-Nya, kita dapat menang terhadap situasi-situasi mengerikan yang datang ke dalam hidup kita.

(Baca juga: HUKUM TAURAT BUKAN RENCANA TUHAN, TAPI KEINGINAN MANUSIA)

Teman, sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa tanpa Tuhan kita lemah dan tidak berdaya. Tuhan adalah sumber kekuatan kita. Firman Tuhan, yang adalah Tuhan sendiri, memberikan kekuatan ketika kita sedang dalam tekanan, memberikan ketenangan di tengah badai pergumulan, dan memberikan jaminan pasti ketika kita berharap. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

UANG ADALAH TUAN YANG BURUK, TETAPI HAMBA YANG BAIK

Bahan renungan:

Ibrani 13:5a Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.

Semua orang membutuhkan uang untuk hidup di dunia ini. Memang uang sangat penting, tetapi uang bukan yang terpenting dalam hidup kita. Tuhanlah yang terpenting dalam kehidupan kita. Tanpa Tuhan, kita seperti butiran pasir yang hari ini ada, tetapi besok hilang ditiup angin.

(Baca juga: DENGAN MULUT, KITA DAPAT MENGUCAPKAN BERKAT ATAU KUTUK)

Cara kita memposisikan uang sangat menentukan kehidupan seperti apa yang akan kita jalani. Jika kita menaruh uang di posisi depan, yaitu sebagai tuan kita, tidak heran jika hidup kita terlibat dengan berbagai-bagai duka. Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus mengingatkan bahwa oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Menjadikan uang sebagai tuan memiliki sebuah konsekuensi bagi kehidupan kita. Kita akan tersiksa oleh penderitaan-penderitaan yang tidak seharusnya kita alami.

Seorang pria yang saya kenal, pergi pagi dan pulang malam setiap hari, dengan tujuan membangun kerajaan bisnisnya. Tawaran untuk ke gereja, persekutuan, bahkan berlibur bersama istri ditolaknya, dengan harapan dalam 2-3 tahun ke depan bisnisnya akan berjalan lancar. Alih-alih sukses, selang satu tahun, sang istri meminta cerai karena merasa diabaikan dan kesepian. Sepanjang hari sang istri hanya sendirian di rumah, ketika bertemu, sang suami sudah kelelahan, terkadang membawa sisa marahnya dengan klien ke rumah, dan masih menyelesaikan beberapa urusan bisnis. Sungguh kehidupan pernikahan yang mengerikan.

Teman, tidak ada yang salah dengan memiliki uang, saya percaya Tuhan ingin kita hidup diberkati supaya dapat memberkati banyak orang. Namun, jangan sampai uang memiliki kita. Jangan sampai kita mencintai uang lebih daripada mencintai Tuhan.

(Baca juga: KITA DIBERIKAN KEHENDAK BEBAS UNTUK MENENTUKAN HIDUP)

Sekali lagi, uang itu sangat penting, tetapi bukan yang terpenting. Hubungan kita dengan Tuhan, keluarga, pasangan, dan anak-anak kita, jauh lebih penting dari uang. Ada hal-hal yang tidak dapat kita beli oleh uang, salah satunya adalah hubungan kita dengan Tuhan dan orang-orang yang kita sayangi. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

MANUSIA ADA BATASNYA

Bahan renungan:

Mazmur 103:14-16 Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu. Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.

Sepanjang tahun ini, saya beberapa kali melayat teman dan jemaat yang meninggal dunia. Setiap kali datang ke ibadah pemakaman, saya hampir selalu melihat jenazah dari dekat. Ada perasaan yang sedikit aneh saat saya melihat jenazah-jenazah tersebut dari dekat. Juga, saya seperti disadarkan kembali bahwa sehebat-hebatnya dan sepintar-pintarnya manusia, semua manusia ada batasnya.

(Baca juga: SAAT KITA SERAHKAN KEPADA YESUS, YANG BIASA MENJADI LUAR BASA)

Di tengah suasana duka di pemakaman, saya sering memikirkan betapa saya membutuhkan Tuhan. Bagaimana tidak, jika Tuhan tidak menghembuskan nafas kehidupan, kita tidak lebih dari debu yang mudah hilang tertiup angin. Kita rapuh tanpa Tuhan.

(Baca juga: DAPATKAN E-BOOK #PENGHARAPAN. GRATIS! TERBIT AWAL DES ’16. )

Teman, kita membutuhkan YESUS untuk hidup di dunia ini. Kita butuh Firman-Nya untuk menuntun dan menerangi jalan kita. Kita butuh suara-Nya yang lembut untuk menenangkan badai hati kita. Kita butuh pelukan hangat-Nya untuk mengingatkan bahwa kita tidak pernah sendirian di dunia ini. (penulis: @mistermuryadi)

MENGUNGKAP KATA KASIH DI DALAM BAHASA IBRANI

Bahan renungan:

1 Yohanes 4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

Kata “kasih” dalam Alkitab diambil dari bahasa Ibrani ahav dengan bentuk tulisan אהב. Jika Anda mempelajari bahasa Ibrani, Anda akan mengerti bahwa bahasa ini sangat unik. Setiap kata merupakan rangkaian dari beberapa kata atau huruf dan masing-masing kata atau huruf tersebut memiliki arti sendiri.

(Baca juga: FILOSOFI POHON KORMA)

Misalnya saja kata אהב (ahav). Kata ini terdiri dari dua suku kata, yaitu אב (av yang berarti bapa) dan ה (he yang merupakan singkatan dari nama YHWH יהוה). Jadi, arti kata KASIH yang sesungguhnya adalah Allah Bapa mengasihi.

Jika kita merujuk pada arti kata ahav, di dalam kata ini terkandung nama TUHAN. Hal ini sejalan dengan 1 Yohanes 4:8, Rasul Yohanes menyebutkan bahwa Tuhan adalah KASIH. Dan ini juga berarti, kita tidak bisa mengasihi orang lain jika tidak melibatkan TUHAN.

(Baca juga: ARAHKAN AMARAH ANDA KEPADA IBLIS)

Kita butuh Tuhan untuk mengasihi keluarga, sahabat, atau pasangan kita. Juga, kita butuh Tuhan untuk mengasihi orang yang kita benci. Dengan kata lain, kita baru dapat mengasihi ketika kita mengenal TUHAN dan menyadari betapa kita dikasihi oleh TUHAN. Hal ini sejalan dengan ayat renungan kita hari ini, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)