ORANG YANG EGOIS ADALAH ORANG YANG TIDAK BAHAGIA

Bahan renungan:

Filipi 2:4 … dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Orang-orang yang egois adalah orang yang tidak bahagia di muka Bumi ini. Mereka beranggapan bahwa sukacita baru didapatkan ketika memiliki banyak harta dan mendapatkan apa yang mereka inginkan , tetapi sebenarnya mereka sedang tertipu. Hidup yang sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang apa yang kita berikan.

(Baca juga: JANGAN HANYA NIAT, LAKUKAN!)

Sifat keakuan adalah alami di bagi manusia. Kita tidak perlu mempelajarinya, kita terlahir dengan hal itu. Perhatikan bayi atau anak kecil ketika orangtuanya tidak memberikan apa yang diinginkannya, dia akan menangis dan marah. Hal itu dapat diterima untuk bayi dan anak kecil, tetapi tidak untuk pria dan wanita dewasa.

Yesus mengajarkan teladan yang sangat baik dalam hal berkorban demi orang lain. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki harta atau kekayaan. Yang saya maksud adalah kita perlu hidup berbagi kepada sesama. Saling mengasihi satu sama lain, itulah yang Yesus ajarkan bagi orang percaya, dan itulah satu-satunya tanda yang menunjukkan bahwa Yesus hidup di dalam kita.

(Baca juga: MENTAL RAJA VS. MENTAL HAMBA)

Saat kita memiliki sikap hati saling berbagi dan mengasihi, sukacita akan mengalir di dalam hidup kita. Saya percaya, Tuhan tidak memanggil kita hanya untuk mengasihi diri sendiri, melainkan juga untuk mengasihi orang lain. (penulis: @mistermuryadi)

DUA ALASAN MENGAPA KITA PERLU MERESPONS PANGGILAN TUHAN

Bahan renungan:

Kejadian 12:1-2 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Di dalam Alkitab, banyak sekali kisah yang menceritakan mengenai Tuhan memanggil seseorang untuk pergi ke sebuah tempat atau keluar dari zona nyaman mereka. Misalnya, Abraham dipanggil dari tanah kelahirannya ke Tanah Perjanjian, Musa dipanggil dari padang gurun kembali ke Mesir untuk membebaskan Bangsa Israel, Petrus dari penjala ikan dipanggil menjadi penjala manusia, Saulus dari penganiaya orang percaya menjadi rasul, dan masih banyak kisah lainnya.

(Baca juga: PUJI TUHAN, TUHAN TIDAK BEKERJA SESUAI CARA KITA)

Setidaknya ada dua alasan mengapa Tuhan melakukan hal tersebut.

1. Ada bahaya yang mengancam jika kita tidak segera bergerak. Tuhan adalah gembala yang senantiasa memastikan kita selalu dalam keadaan yang terpelihara dengan baik. Jika ada sesuatu yang akan membahayakan hidup kita, tentu saja Dia tidak akan berdiam diri. Dia akan bertindak, karena Dia ingin menjaga hidup kita.

Jika Tuhan tidak memanggil Abraham pergi dari tanah kelahirannya, kemungkinan besar sepanjang hidupnya Abraham akan menyembah berhala. Jika Tuhan tidak memanggil Musa meninggalkan pekerjaannya sebagai penggembala kambing domba di padang gurun, kemungkinan besar Musa akan mati tua dalam perasaan bersalah, gagal, dan kehilangan tujuan hidupnya.

2. Tuhan menyediakan sesuatu yang jauh lebih baik. Tuhan telah menetapkan setiap kita untuk menjadi kepala, bukan ekor. Tuhan ingin kehidupan orang percaya selalu naik, bukan turun. Namun, adalah keputusan kita untuk merespons atau tidak terhadap penyediaan Tuhan tersebut.

Jika Petrus tidak meninggalkan jalanya, mungkin seumur hidup Petrus akan menjala ikan dan menjalani hidup seperti kebanyakan orang, yaitu lahir, tumbuh, berkeluarga, dan meninggal. Jika Saulus tidak merespons panggilan Tuhan, mungkin hidup Saulus akan berakhir tanpa meninggalkan sesuatu yang berguna bagi orang lain dan Kerajaan Sorga.

Saya tidak hanya berbicara mengenai hal-hal eksternal yang lebih baik, tapi juga hal-hal internal yang jauh lebih baik, yaitu karakter, pikiran, dan kehendak kita. Misalnya, saat kita merespons terhadap panggilan Tuhan untuk mendoakan orang sakit atau melayani orang yang sedang depresi. Hal tersebut mengubah sesuatu yang ada di dalam kita. Tuhan mengubah pikiran kita yang egois jadi memikirkan orang lain.

(Baca juga: APAKAH SALAH JIKA KITA MENGHARAPKAN BERKAT DARI TUHAN?)

Saya percaya, setiap kita dipanggil Tuhan untuk sebuah tujuan yang luar biasa. Sebuah tujuan mulia yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Kita perlu merespons panggilan tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

KASIH SESEORANG TERPANCAR MELALUI PENGORBANANNYA

Bahan renungan:

1 Yohanes 3:16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.

Kasih seseorang terpancar bukan dari seberapa banyak yang orang tersebut ambil bagi dirinya, melainkan dari seberapa banyak yang orang tersebut korbankan demi orang lain.

(Baca juga: TERHADAP TUHAN, JANGAN TERLALU BANYAK PERTIMBANGAN)

Bagi Anda yang memiliki pasangan, kasih bukanlah seberapa banyak yang Anda harap pasangan Anda korbankan demi Anda bahagia, melainkan seberapa besar yang Anda korbankan untuk membuat pasangan Anda bahagia. Kepentingan kasih selalu orang lain, bukan kepuasan diri sendiri.

Dan saya menyadari, sungguh sulit memahami kasih seseorang hanya melalui perkataannya saja, karena semua orang dapat dengan mudah mengatakan, “Aku mengasihi kamu,” sementara tidak melakukan apa-apa. Saya percaya, kasih adalah sebuah tindakan. Berkali-kali saya menuliskan mengenai hal tersebut di dalam blog hagahtoday.com dan Instagram @hagahtoday.

Bapa menunjukkan kasih-Nya 2000 tahun yang lalu, ketika Dia mengirimkan Yesus ke dunia sementara semua orang telah jatuh ke dalam dosa. Yesus pun menunjukkan hal yang sama ketika Dia menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib dan mengampuni semua orang yang menyalibkan-Nya. Melalui banyaknya pengorbanan yang telah Tuhan lakukan, kini Anda dan saya dapat memahami betapa panjang, dalam, tinggi, dan lebar kasih Tuhan kepada kita.

(Baca juga: MARAH HANYA MEMBAWA ANDA KEPADA KEJAHATAN)

Akhir kata, saya ingin mengucapkan Happy Valentine. Mari jadikan hari ini sebagai pengingat bahwa Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi Anda tanpa syarat, dan sekarang adalah bagian Anda untuk mengasihi orang lain tanpa syarat, terutama kepada mereka yang menganiaya atau merugikan Anda. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

CEPAT UNTUK MENDENGAR, TETAPI LAMBAT UNTUK BERKATA-KATA

Bahan renungan:

Yakbus 1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata …

Seorang pakar komunikasi mengatakan bahwa komunikasi yang baik dapat terjadi bukan ketika kedua pihak ingin saling berbicara satu sama lain, melainkan ingin mendengarkan satu sama lain.

(Baca juga: TUHAN BERKENAN TERHADAP KITA)

Sesungguhnya ada begitu banyak keuntungan bagi diri kita jika kita mau melatih diri kita cepat untuk mendengar dan lambat untuk berkata-kata.

1. Membuat kita tidak egois. Dunia tidak hanya mengenai diri kita, tetapi juga orang lain. Kita bukanlah pusat dari semesta. Menahan mulut kita menceritakan yang kita tahu, yang kita mau, dan memilih mendengarkan orang lain, mengajarkan kita rendah hati. Ini dapat memberi pengaruh yang baik bagi hubungan kita dengan Tuhan. Membuat kita mau duduk diam mendengarkan apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada kita, entah pada saat kita berdoa, memuji menyembah-Nya, atau mendengarkan Firman Tuhan.

2. Menyelamatkan orang lain. Terkadang, ketika seseorang datang menceritakan segala masalah dan bebannya kepada saya, yang mereka butuhkan bukan nasihat atau teguran, melainkan telinga yang mau mendengarkan mereka. Dalam banyak kesempatan, saya hanya mendengarkan cerita mereka, dan kemudian berdoa untuk mereka.

(Baca juga: APA BENAR MENABUR DAPAT MEMBUAT KITA HIDUP DALAM KELIMPAHAN?)

3. Menjadi orang yang lebih tenang. Kitab Amsal mengatakan hidup dan mati dikuasai lidah (Amsal 18:21). Apa yang diucapkan oleh mulut kita merupakan hasil dari apa yang kita dengarkan. Mulut kita akan mudah melepaskan amarah, kebencian, provokasi, dan hal-hal negatif lain, jika kita tidak melatih diri kita untuk mendengarkan yang baik. Sebaliknya, jika kita terbiasa duduk diam mendengarkan kebenaran Firman Tuhan, mulut kita akan mudah mengucapkan berkat, sukacita, dan kekuatan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

MENGAPA TUHAN INGIN KITA KAYA DENGAN CARA MENABUR?

Bahan renungan:

2 Korintus 9:10-11 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.

Kalau Anda mengikuti renungan beberapa hari terakhir mengenai menabur dan menuai, mungkin Anda bertanya-tanya, apakah kita bisa menjadi kaya tanpa menabur? Jawabannya, TENTU SAJA BISA! Buktinya, banyak di antara orang-orang kaya di dunia yang menjadi kaya bukan karena menabur, tetapi karena bekerja keras, banting tulang, atau pun menipu sana sini.

(Baca juga: MAKNA KATA MENABUR DAN MENUAI DALAM BAHASA YUNANI)

Jika demikian, pertanyaan yang tepat bukanlah “Apakah kita bisa kaya tanpa menabur?” melainkan “Mengapa TUHAN mengajarkan kita cara menabur untuk hidup dalam kelimpahan?” Mengapa yang TUHAN ajarkan bukanlah seperti yang dunia ajarkan, yaitu dengan cara bekerja keras, banting tulang, menabung, atau hemat sana sini?

Teman, selain tuaian yang besar, ternyata ada hal lain yang didapatkan dari menabur yang Anda tidak bisa dapatkan dengan cara bekerja keras, banting tulang, atau pun menabung. Hal tersebut adalah karakter.

Kata “kemurahan hati” dalam ayat renungan di atas, di dalam bahasa Yunani ditulis haplotes, yang artinya tulus, tidak berpura-pura, jujur, dan tidak egois. Kemudian, kata “membangkitkan syukur” ditulis dalam bahasa Yunani eucharistia, yang artinya memiliki pikiran yang penuh kebaikan, bersyukur, ramah, dan menyenangkan. Ternyata, saat kita melatih diri kita untuk menabur, kita sedang membentuk dan melatih karakter-karakter yang baik dalam hidup kita. Wow, sungguh luar biasa!

Bagaimana dengan orang-orang yang tidak suka menabur? Anda bisa perhatikan hidup mereka, saya percaya orang-orang tersebut sedang membentuk karakter-karakter yang sebaliknya dari yang saya sebutkan di atas.

Teman, perlu Anda ingat bahwa TUHAN bukan hanya ingin Anda menjadi kaya raya saja. Kalau hanya sekadar kaya raya, dunia bisa mengajarkan 1001 kiat sukses kepada Anda. Yang jadi masalah, saat Anda menjadi orang kaya, karakter seperti apa yang Anda miliki? Saat Anda kaya kelak, Anda menjadi orang yang seperti apa?

(Baca juga: PARA DERMAWAN DUNIA YANG SANGAT KAYA RAYA)

Banyak orang kaya raya, tetapi sombong, semena-mena, egois, sogok sana sini, bahkan menomorduakan TUHAN. Tuhan tidak ingin Anda menjadi orang yang kaya dengan karakter dan mentalitas buruk seperti itu. Tuhan ingin ketika Anda kaya raya, Anda memiliki karakter Kristus. Ya, hal ini hanya bisa Anda dapatkan dengan cara menabur. (penulis: @mistermuryadi)

DEFINISI ORANG DEWASA MENURUT FIRMAN TUHAN

Bahan renungan:

1 Korintus 13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Sungguh berbeda definisi dewasa versi dunia dengan versi Firman Tuhan. Di Indonesia, Anda dianggap dewasa kalau usia Anda sudah mencapai 21 tahun. Di Amerika dan Eropa, Anda dianggap dewasa jika usia Anda sudah 18 tahun ke atas.

(Baca juga: MENGUAK MAKNA NAMA DAUD, SAUL, DAN GOLIAT)

Masih menurut dunia, Anda dianggap dewasa jika sudah bisa hidup mandiri, memiliki pekerjaan yang mapan, dan memiliki rumah atau kendaraan sendiri. Sedangkan, menurut Firman Tuhan, Anda dianggap dewasa jika Anda memiliki kasih. Karena hanya orang dewasa yang bisa mengasihi, atau dengan kata lain memberi atau berbagi dengan orang lain.

Seperti kita ketahui, anak kecil pasti egois. Mereka menangis tanpa mau tahu kondisi sekitar, mereka teriak tanpa mau tahu tempat dan waktu, dan mereka tidur tanpa memikirkan yang menggendong mereka. Tidak ada yang salah dengan itu, namanya juga masih anak-anak.

Tapi orang yang dewasa tidak seperti itu. Orang yang dewasa mau berbagi sesuatu kepada yang lebih membutuhkan, orang yang dewasa dapat membaca situasi dan kondisi, dan orang yang dewasa mau memikirkan orang lain.

(Baca juga: MENJADI DEWASA ITU KEPUTUSAN)

Jika Anda membaca ayat di atas, pada kalimat terakhir dikatakan “sifat kanak-kanak”, yang artinya perilaku, keputusan, perkataan yang dewasa atau kanak-kanak merupakan sebuah sifat. Jadi, merupakan keputusan dan pilihan Anda untuk menjadi dewasa atau tetap kanak-kanak. Itu sebabnya, tidak ada hubungan antara dewasa dan usia, karena dewasa adalah tentang cara pikir. Banyak orang sudah berusia tua, tapi seperti anak-anak yang egois. Sebaliknya, banyak orang yang usianya masih sedikit, tetapi memiliki cara pikir yang dewasa. (penulis: @mistermuryadi)

TANPA KASIH, TIDAK ADA FAEDAHNYA

Bahan renungan:

1 Korintus 13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Ini adalah ayat yang sangat terus terang, namun sangat benar adanya. Apa alasan Rasul Paulus mengatakan ayat di atas? Salah satu hal yang saya pelajari adalah kasih selalu berbicara tentang orang lain. Memberi, berbagi, dan melakukan sesuatu untuk orang lain. Kasih itu mementingkan orang lain lebih daripada diri kita sendiri.

(Baca juga: KITA DIBERIKAN KEHENDAK BEBAS UNTUK MENENTUKAN HIDUP)

Dan lawan dari hal di atas tentu saja adalah mencintai diri sendiri. Jadi tanpa kasih, pada dasarnya Anda sedang melakukan segala sesuatu demi kepentingan diri sendiri. Dan Rasul Paulus katakan, hal itu tidak ada gunanya sedikitpun.

(Baca juga: JANGAN TAKUT UNTUK MENGHARAPKAN YANG BESAR)

Teman, perlu sekali kita sadari bahwa kasih yang YESUS ajarkan bukanlah tentang diri kita sendiri, melainkan tentang orang lain. Selama Anda tidak pernah mengatakan cukup terhadap diri Anda dan berhenti berpikir bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah tentang “saya dan aku”, maka Anda akan kesulitan untuk mengasihi orang lain. (penulis: @mistermuryadi)