TANPA TUHAN, KITA LEMAH DAN RAPUH

Bahan renungan:

2 Korintus 4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

Tanpa Tuhan, kekuatan, kesabaran, sukacita, dan damai kita terbatas. Tanpa Tuhan, kita seperti sekam yang ditiup angin. Seperti rumput liar yang hari ini ada dan besok rusak terinjak-injak.

(Baca juga: APA PUN YANG KITA ALAMI, TUHAN SENANTIASA MEMEGANG TANGAN KITA)

Tidak dapat kita pungkiri bahwa kita adalah makhluk yang sangat rapuh. Berbagai peristiwa yang menghiasi laman berita terkini membuktikan demikian. Sepasang kakak adik bunuh diri karena stres; hanya karena emosi sesaat, segerombolan orang seenaknya merenggut nyawa seseorang; seorang dokter muda ternama meninggal karena sakit, dan masih banyak lagi kisah pilu lainnya.

Saya percaya setiap kita butuh Tuhan. Kita butuh kekuatan yang lebih besar dari diri kita. Saat kita tinggal bersama Tuhan dan memegang teguh janji setia-Nya, kita dapat menang terhadap situasi-situasi mengerikan yang datang ke dalam hidup kita.

(Baca juga: HUKUM TAURAT BUKAN RENCANA TUHAN, TAPI KEINGINAN MANUSIA)

Teman, sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa tanpa Tuhan kita lemah dan tidak berdaya. Tuhan adalah sumber kekuatan kita. Firman Tuhan, yang adalah Tuhan sendiri, memberikan kekuatan ketika kita sedang dalam tekanan, memberikan ketenangan di tengah badai pergumulan, dan memberikan jaminan pasti ketika kita berharap. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

“APA SAJA YANG DIPERBUATNYA BERHASIL”

Bahan renungan:

Mazmur 1:1-3 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Kitab Mazmur dibuka dengan kebenaran yang sangat luar biasa mengenai keberhasilan. Adalah kehendak Tuhan agar Anda dan saya hidup di dalam keberhasilan.

(Baca juga: SEPERTI RUSA MERINDUKAN SUNGAI)

Menurut ayat di atas, keberhasilan merupakan buah dari dua hal: menjauhi sumber nasihat yang salah, dan merenungkan Firman Tuhan siang dan malam. Lihat, cara untuk berhasil menurut Firman Tuhan bukan kerja keras, banting tulang, dan menghalalkan segala cara.

Ayat 1 membahas pentingnya kita memperhatikan sumber nasihat kita. Sumber nasihat yang salah dapat membawa kita ke tempat yang salah dan melakukan hal-hal yang salah. Orang-orang yang negatif pasti membawa pengaruh negatif di dalam kehidupan kita. Jangan mendengarkan nasihat mereka, apalagi bersahabat dengan mereka. Bergaul dengan orang-orang negatif hanya akan menguras hal-hal positif yang ada di dalam diri Anda.

Ayat 2 mengatakan tidak cukup hanya membaca Firman Tuhan sesekali. Kita perlu merenungkannya siang dan malam. Indikasi kita sukses merenungkan kebenaran Firman Tuhan adalah kita memikirkan, memperkatakan, dan mengambil keputusan berdasarkan kebenaran tersebut.

(Baca juga: KEHEBATAN LIDAH MANUSIA)

Ketika kita berkomitmen terhadap kedua hal di atas, Firman Tuhan katakan, ” … ia akan menghasilkan buah pada musimnya dan apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Haleluya. (penulis: @mistermuryadi)

JANJI TUHAN MANIS LEBIH MANIS DARI MADU

Bahan renungan:

Mazmur 119:103 Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.

Kalimat “Manis lebih dari pada madu” di atas berbicara banyak hal bagi saya pribadi. Berikut yang saya dapatkan mengenai ayat di atas:

  1. Madu memiliki rasa.
    Rasa berbicara mengenai realita. Bahwa janji Tuhan itu nyata, bukan hanya sebuah angan-angan, harapan palsu, atau sesuatu yang bersifat mudah-mudahan. Anda dapat merasakan janji Tuhan, atau dengan kata lain, Anda dapat menikmatinya di dalam hidup Anda senyata Anda menikmati mobil yang Anda kendarai, uang yang Anda pakai untuk berbelanja, dan kue yang Anda makan.
  2. Madu yang manis.
    Bagi saya, kata “manis” di atas mematahkan teologi yang selama ini mengajarkan bahwa Tuhan adalah Pribadi mengijinkan kecelakaan, sakit penyakit, mati muda, dan kemiskinan untuk melatih kehidupan anak-anak-Nya. Manis berbicara mengenai hal yang baik dan menyenangkan. Tuhan yang saya kenal di dalam nama Yesus, tidak pernah merancangkan yang jahat bagi anak-anak-Nya. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan (Yeremia 29:11).

(Baca juga: ANDA INGIN BERUBAH? SEKARANGLAH WAKTUNYA!)

Saya suka sekali ayat di atas. Sangat menggambarkan betapa pasti dan luar biasa janji Tuhan bagi hidup kita yang percaya. Seperti saya pernah gambarkan bahwa janji Tuhan bagi anak-anak-Nya sepasti Matahari terbit dan terbenam setiap hari. (penulis: @mistermuryadi)

HANYA TUHAN YANG SANGGUP MEMULIHKAN ANDA

Bahan renungan:

Zefanya 3:20 “Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka,” firman TUHAN.

Beberapa dari kita mungkin mengalami penolakan, disakiti, dikecewakan, ditipu, ditinggalkan, dan lain sebagainya. Tidak sedikit anak-anak TUHAN yang lantas terjebak di dalam perasaan atau pikiran negatif, tertekan, depresi, kesepian, atau kepahitan, tanpa pernah mengetahui jalan keluarnya.

(Baca juga: MUNGKIN MASA LALU ANDA BURUK, TETAPI TIDAK MASA DEPAN ANDA)

Namun hari ini saya membawa kabar baik untuk kita semua. Bahwa masih ada Tuhan. Tuhan adalah Pribadi yang bukan hanya sanggup, tetapi juga mau menyembuhkan dan memulihkan kita.

Jika mobil kita rusak, tentu kita tidak membawanya ke tukang jam. Kita akan membawanya ke bengkel. Begitu juga dengan hidup kita. Jika kita mengalami ‘kerusakan’, kita perlu membawa hidup kita kepada Tuhan, yang menciptakan kita. Tuhan tahu cara memperbaiki hidup kita. Datanglah kepada Tuhan dan biarkan Dia merestorasi jiwa kita. Kembalilah membaca dan merenungkan kebenaran-Nya, supaya hati dan pikiran kita dibersihkan dari segala yang jahat dan kotor (Yohanes 15:3).

(Baca juga: DI TENGAH TEKANAN, AGUNGKANLAH TUHAN)

Satu hal yang perlu Anda ingat, bahwa tidak ada kerusakan yang terjadi di dalam Anda yang tidak dapat Tuhan pulihkan. Tuhan sanggup menjadikan segala sesuatunya baru. (penulis: @mistermuryadi)

HIDUP DI BAWAH NAUNGAN YANG MAHATINGGI (MAZMUR 91:1-2)

Bahan renungan:

Mazmur 91:1-2 Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

Beberapa hari ke depan saya akan menyajikan seluruh ayat dari Mazmur 91 sebagai bahan renungan kita. Saya percaya Tuhan sedang ingin menyampaikan sesuatu yang luar biasa kepada kita semua melalui pasal ini.

(Baca juga: JANGAN HABISKAN ENERGI ANDA UNTUK MELADENI ORANG NEGATIF)

Tinggal dalam kebenaran Firman Tuhan adalah tempat perlindungan teraman bagi setiap orang percaya. Kebenaran melindungi kita dari tipu daya iblis yang menghancurkan. Kebenaran memberikan garis batas yang jelas supaya hati dan pikiran kita dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Kebenaran mengganjar kehidupan kita dengan damai, sukacita, dan ketenangan.

(Baca juga: KEJARLAH TUHAN, ANDA AKAN MENDAPATKAN IMPIAN ANDA)

Apakah Anda sedang merasa diserang, entah oleh masalah finansial, sakit penyakit, konflik, ketakutan, atau kekuatiran? Jika iya, kebenaran Firman Tuhan adalah kubu pertahanan terbaik yang Anda miliki. Efesus 6:6 mengatakan, “Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat.” (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

FIRMAN TUHAN ITU JALAN KELUAR ATAU BEBAN?

Bahan renungan:

Yesaya 65:1-2 Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri.

Setiap kali mendengar Firman Tuhan, kita selalu memiliki dua sikap ini, “Firman Tuhan adalah beban bagi saya” atau “Firman Tuhan adalah jalan keluar bagi saya.” Ya, banyak orang merasa Firman Tuhan itu adalah beban, bukan jalan keluar. Firman Tuhan menjadi beban karena tidak mendukung atau tidak sesuai seperti yang mereka pikirkan atau inginkan.

(Baca juga: CUKUP SATU BATU UNTUK SATU RAKSASA)

Teman, setiap kebenaran, janji, dan perintah Tuhan yang Anda baca adalah jalan keluar untuk masalah-masalah Anda. Bagian Anda dan saya adalah mempercayai Firman Tuhan. Untuk alasan itulah kita disebut sebagai orang percaya, karena kita mempercayai sesuatu.

Melalui ayat di atas kita mengerti bahwa ternyata Tuhan senantiasa mengulurkan tangan-Nya kepada kita untuk memulihkan, memberkati, dan mengangkat hidup kita. Kebenarannya, bukan kita yang sedang menantikan Tuhan menolong kita, tetapi Tuhanlah yang sedang menantikan kita untuk percaya kepada-Nya.

(Baca juga: BERHENTILAH BERGAUL DENGAN ANAK AYAM)

Saya sangat percaya 24 jam sehari Tuhan senantiasa berbicara kepada kita mengenai apa yang perlu kita lakukan, ke mana kita harus melangkah, dan keputusan apa yang perlu kita ambil. Tuhan ingin membaringkan kita di padang rumput yang hijau. Namun kesibukan dan ketidakpedulian kita sering menjadi alasan utama hidup kita terus menerus dapat masalah. Bukan karena Tuhan tidak memberikan jalan keluar, tetapi karena kita mengabaikan-Nya. (penulis: @mistermuryadi)

SUARA MAYORITAS BELUM TENTU YANG PALING BENAR

Bahan renungan:

Yohanes 19:15 Maka berteriaklah mereka: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!” Kata Pilatus kepada mereka: “Haruskah aku menyalibkan rajamu?” Jawab imam-imam kepala: “Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!”

Vox Populi Vox Dei, Suara Rakyat Suara Tuhan. Saya ingat sekali bagaimana kalimat ini bergaung keras di Bumi Nusantara saat runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998. Dalam kalimat itu tersirat bahwa pendapat umum selalu benar. Terus terang saya tidak setuju. Tidak semua pendapat umum pasti benar. Kita perlu sebuah panduan yang teruji untuk menyatakan apakah sesuatu itu benar atau salah, bukan berdasarkan suara terbanyak.

(Baca juga: MINUM MINYAK URAPAN? OH, COME ON!)

Saya teringat peristiwa ketika Yesus akan disalibkan. Jika berdasarkan suara mayoritas atau pendapat umum, yang pada saat itu didominasi oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Yahudi, Yesus bersalah dan harus dihukum mati. Namun apakah Yesus benar-benar bersalah? Menurut enam pengadilan yang dijalani Yesus, tidak ditemukan satupun kesalahan di dalam Diri-Nya. Kendati demikian, guruh riuh suara rakyat menggema, “Salibkan Dia, Salibkan Dia.”

Juga, saya ingat mengenai adat istiadat di dalam keluarga saya. Salah satunya, saya tidak diperbolehkan melihat penutupan peti mati jika shio (zodiak cina) saya bertabrakan (chiong) dengan shio orang yang meninggal. Meskipun pada saat itu 95% keluarga besar saya mempercayai hal tersebut, saya tahu sekali hal itu tidak benar menurut Firman Kristus, dan saya menolak mempercayainya.

Satu contoh lagi. Sebagai orang percaya, terkadang pertahanan kita luluh ketika melihat atau mendengar bahwa yang melakukan hal tersebut adalah seorang hamba Tuhan yang besar. Salah satunya adalah seperti yang saya contohkan dalam renungan kemarin, meminum minyak urapan dan menginjili orang mati. Kita jadi berpikir bahwa hal tersebut sudah pasti benar. Teman, Anda perlu cek terlebih dahulu kebenarannya dalam Firman Kristus.

Teman, saya ingin mengatakan suara mayoritas belum tentu benar. Hanya karena banyak orang yang melakukannya, belum tentu hal tersebut benar. Hanya karena sahabat atau orang terdekat kita melakukannya, belum tentu hal tersebut benar. Hanya karena banyak tokoh hebat, berdarah bangsawan, orang terkemuka, atau orang yang dituakan yang melakukannya, belum tentu hal tersebut benar.

(Baca juga: ANDA DITEBUS DENGAN HARGA YANG MAHAL)

Jangan melakukan sesuatu di dalam hidup kita hanya karena banyak orang melakukan hal tersebut. Kita, sebagai orang percaya, perlu berpegang pada kebenaran Firman Tuhan. Itu sebabnya, Anda perlu tahu kebenaran Firman Kristus. Lakukanlah segala sesuatu yang tertulis dalam kebenaran Firman Kristus, sekalipun tidak ada seorang pun di dunia ini yang melakukannya. (penulis: @mistermuryadi)