ALASAN UTAMA MENGAPA KITA BELUM MENERIMA JANJI TUHAN

Bahan renungan:

Yakobus 1:6-8 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan MENERIMA sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Perhatikan kata “MENERIMA” yang saya besarkan pada ayat di atas. Ada perbedaan yang besar antara belum menerima sesuatu karena barangnya belum diberikan dan belum menerima sesuatu karena “salah alamat”.

(Baca juga: TERNYATA BUKAN TUHAN YANG MENUNDA JALAN KELUAR BAGI HIDUP KITA)

Misalnya saya mengirimkan sebuah buku ke rumah Anda, tetapi kurir mengirim ke alamat yang salah. Bukunya sudah saya kirim lewat pos, tetapi Anda belum menerima buku tersebut. Anda belum menerima buku itu bukan karena saya belum mengirimnya, melainkan karena si kurir salah alamat.

Melalui Firman Tuhan, kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah menahan kebaikan bagi anak-anak kesayangan-Nya (Mazmur 84:11). Lukas 11:11 juga mencatat, “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?” Kitab Efesus 1:3 dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan telah mengaruniakan segala berkat rohani kepada kita. Meski ayat-ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan sudah mengirimkan berkat-Nya kepada kita, banyak di antara kita yang belum menerima berkat tersebut.

Kita belum menerima berkat-berkat itu bukan karena Tuhan belum memberikannya kepada kita. Menurut ayat renungan kita, kita belum menerima karena kita bimbang. Atau dengan kata lain, mendua hati. Mendua hati dapat diartikan bimbang atau ragu. Saat kita bimbang, otomatis kita “menutup pintu” untuk MENERIMA berkat Tuhan.

Saya berikan contoh. Anggaplah kita sedang sakit, lalu kita membaca 1 Petrus 2:24 bahwa oleh bilur-bilur darah Yesus kita TELAH disembuhkan, dan kita memercayainya. Namun, setelah beberapa saat, ketika sakit tersebut mulai terasa lagi, kita mulai mengeluh dan mengatakan, “Saya masih sakit, bagaimana mungkin Firman Tuhan katakan saya TELAH disembuhkan?”

Itulah maksud “mendua hati”. Kita mulai membandingkan kebenaran Firman Tuhan dengan fakta yang kita lihat atau rasakan. Pikiran kita dan iman kita tidak sepakat. Firman Tuhan mengatakan orang yang mendua hati tidak akan menerima dari Tuhan.

Lalu, apa yang semestinya kita lakukan? Ketika kita memercayai kebenaran Firman Tuhan, jangan biarkan mulut kita mengucapkan keraguan, apalagi mempertanyakan janji Tuhan. Sebaliknya, ucapkanlah janji Tuhan dan hal-hal positif yang mendukung apa yang kita percayai, sebagai bukti bahwa kita percaya terhadap janji tersebut.

(Baca juga: “ANDA PENGANUT HYPER-GRACE? BUKAN, SAYA PENGANUT HYPER-JESUS”)

Sekali lagi, orang tersebut belum menerima bukan karena Tuhan belum memberikannya, karena faktanya Tuhan telah memberikan segala berkat kepada kita melalui Yesus. Orang tersebut tidak menerima karena tidak percaya atau mendua hati terhadap janji Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

SAAT MARTA SEPAKAT DENGAN YESUS, LAZARUS BANGKIT!

Bahan renungan:

Yohanes 11:39-40 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

Setiap kita tumbuh dengan latar belakang yang berbeda-beda. Bagi kita yang tidak tumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan yang benar, kita cenderung memiliki jalan pemikiran sendiri. Di dalam pikiran kita, ada hal-hal yang kita pikir benar, sementara hal-hal tersebut bertolak belakang dengan jalan pikiran Tuhan.

(Baca juga: SEMUA ORANG PERCAYA ADALAH MURID KRISTUS)

Namun tidak masalah, jangan merasa tertuduh. Tuhan memanggil kita, untuk memulihkan dan mengubah hidup kita. Semakin kita mengenal-Nya, semakin kita mengerti jalan pikiran-Nya.

Dalam ayat renungan di atas, Yesus terlibat percakapan dengan Marta terkait kematian Lazarus. Di dalam pikiran Yesus, Lazarus pasti bangkit, itu sebabnya Yesus meminta agar pihak keluarga mengangkat batu yang menghalangi kubur Lazarus. Sementara, di dalam pikiran Marta, Lazarus sudah meninggal empat hari, dan mustahil dibangkitkan. Perlu kita ketahui, pada zaman itu beredar pemahaman bahwa mayat yang mati lebih dari tiga hari, jasadnya sudah rusak dan berbau. Itu alasan mengapa Marta mendebat perkataan Yesus, karena Marta memercayai pemahaman yang lain.

Seringkali, hal tersebut terjadi di dalam hidup kita. Kita mengira pemikiran kita lebih benar dan lebih baik dari apa yang Firman Tuhan katakan. Kita beragumen dengan kebenaran. Akibatnya, kita kesulitan untuk sepakat dengan apa yang Firman Tuhan harapkan terjadi bagi hidup kita. Pada dasarnya, ketidaksepakatan, atau dengan kata lain, ketidakpercayaan, tersebutlah yang membuat kita tidak melihat kemuliaan Tuhan terjadi di dalam hidup kita.

Tuhan inginkan berkat, mukjizat, kelimpahan, pemulihan, terobosan, terjadi dalam hidup kita, sementara kita berpikir bahwa hal tersebut tidak mungkin. Sama seperti percakapan Yesus dan Marta. Yesus menginginkan Lazarus bangkit, sementara Marta mengatakan tidak mungkin, karena mayatnya sudah berbau. Namun, ketika Marta sepakat dengan Yesus, kuasa kebangkitan terjadi.

(Baca juga: MEMBERI ADALAH MASALAH PERCAYA ATAU TIDAK KEPADA TUHAN)

Teman, hari ini saya ingin kita mengerti bahwa pemikiran Tuhan dan pemikiran kita sejauh langit dari Bumi. Kadang, kita tidak perlu mengerti untuk melakukan apa yang Firman Tuhan katakan. Kita hanya perlu percaya kepada-Nya. Percaya bahwa apa pun yang Dia ucapkan, janjikan, atau perintahkan kepada kita, itu pasti mendatangkan kebaikan bagi kita. Jika kita dapat membawa iman kita ke titik itu, hal-hal supranatural pasti terjadi dalam hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

PERUBAHAN TERJADI KETIKA KITA PERCAYA DAN MERESPONS

Bahan renungan:

Matius 13:58 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

Berkali-kali ketika menyembuhkan, Yesus kerap mengatakan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Perkataan tersebut menandakan perlu ada keputusan untuk percaya dan merespons terhadap apa yang Yesus lakukan. Jika kita tidak percaya atau tidak merespons, sekalipun Yesus mendoakan kita, tidak akan terjadi apa-apa.

(Baca juga: JANGAN LATIH PIKIRAN KITA MEMIKIRKAN HAL-HAL YANG JAHAT)

Suatu kali ketika kembali ke kampung halamannya, Firman Tuhan mengatakan tidak banyak mukjizat yang Yesus lakukan di sana. Bagaimana mungkin? Apakah karena Yesus kurang berkuasa? Tentu saja Yesus sangat berkuasa. Firman Tuhan menjelaskan hal tersebut terjadi akibat ketidakpercayaan mereka.

Jadi, kita dapat duduk di sebuah gereja yang sama dengan orang lain, sementara orang lain disembuhkan, kita tidak. Kita dapat mendengar Firman Tuhan yang sama dengan orang lain, sementara orang lain dilepaskan dan diberkati, kita tidak. Kita dapat bertemu Yesus yang sama dengan orang lain, sementara orang lain mengalami mukjizat, kita tidak. Kita tidak akan mengalami perubahan apa-apa, kecuali kita memutuskan untuk percaya dan merespons.

(Baca juga: BAGAIMANA CARA MELAKUKAN TINDAKAN IMAN?)

Saya tidak suka mengatakan hal ini, tetapi inilah kebenarannya. Setiap kita mungkin sudah banyak membaca mengenai Yesus, kebenaran-Nya, dan janji-Nya, tetapi jika kita tidak memercayai dan merespons, ayat-ayat dan janji-janji tersebut tidak akan berpengaruh banyak terhadap hidup kita. Sebaliknya, sekalipun yang kita ketahui hanya sedikit, tetapi kita mau percaya dan merespons, perubahan besar pasti terjadi dalam hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

TUHAN MAMPU DAN MAU MENYEMBUHKAN KITA

Bahan renungan:

Markus 1: 40-41 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

Setiap kita pasti tidak meragukan kemampuan Yesus untuk membuat mukjizat. Yang sering kita ragukan adalah apakah Yesus mau menyembuhkan saya yang sering jatuh bangun dalam dosa dan tidak layak ini.

(Baca juga: TESTIMONI YOSUA MENGENAI JANJI TUHAN)

Saya menemukan fakta tersebut dari orang-orang yang layani. Mereka sering bertanya persis seperti orang kusta dalam ayat di atas, “Apakah Tuhan mau menyembuhkan saya? Apakah Dia mau memberkati hidup saya? Selama ini saya memiliki kehidupan yang penuh dengan dosa. Apakah saya layak?”

Teman, saat kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan minta ampun atas dosa-dosa kita, saat itu juga seluruh dosa kita dihapuskan, kita dikuduskan dan disucikan oleh darah-Nya selamanya (Ibrani 10:10, 14). Yesus telah menanggung kutuk dosa, seluruh pelanggaran, dan hukuman yang seharusnya kita terima di atas kayu salib 2000 tahun yang lalu.

Jadi, bukan dosa yang membuat Tuhan tidak menyembuhkan atau memberkati hidup kita, melainkan ketidakpercayaan kita terhadap Dia. Ya, tidak percaya kepada Yesus adalah satu-satunya alasan mengapa kita tidak menerima mukjizat dan berkat, tidak ada alasan lain.

Dalam kisah di atas, dan banyak kisah kesembuhan lain yang Yesus lakukan, Yesus sama sekali tidak pernah menjadikan dosa sebagai isu untuk menyembuhkan seseorang. Yang menjadi isu penting bagi Yesus adalah apakah mereka percaya atau tidak. Jika mereka percaya, Yesus akan mengatakan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.”

(Baca juga: SEMAKIN BESAR RAKSASANYA, SEMAKIN BESAR HARTA KARUNNYA)

Teman, kita tidak perlu bertanya-tanya lagi apakah Tuhan mau memulihkan kita? Saya ingin mengatakan bahwa Tuhan mampu dan mau memulihkan kita. Untuk itulah Yesus datang ke dunia, untuk memberikan kita kehidupan di Bumi seperti di Sorga. Percayalah, Tuhan yang terlebih rindu melihat hidup kita diberkati, sehat, panjang umur, dan berkelimpahan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

MENINGGALKAN JEJAK IMAN

Bahan renungan:

Kisah Para Rasul 13:22 “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendakKu.”

Sampai hari ini nama Raja Daud sangatlah harum. Perjalanan iman Daud bersama dengan Tuhan meninggalkan jejak yang berharga bagi kita semua.

(Baca juga: CARA MENANG TERHADAP KRISIS)

Semua orang pasti akan meninggal suatu hari nanti. Yang menjadi masalah, setelah kita meninggal, jejak seperti apa yang kita tinggalkan?

Tokoh-tokoh Alkitab seperti Daniel, Musa, Paulus, Petrus, Yohanes dan juga para tokoh kebangunan rohani seperti Smith Wigglesworth, Corrie Ten Boom, dan David Livingstone, meninggalkan jejak yang sangat berharga untuk kita. Jejak iman mereka membuat kita dapat melihat kedahsyatan Tuhan.

Saya berikan contoh. Musa membelah Laut Merah dan apa yang dia lakukan dikenang sampai ribuan tahun. Paulus memutuskan untuk memberikan hidupnya bagi Kristus dan hal tersebut menginspirasi banyak orang untuk mengikut Kristus. Daniel berani mempertahankan imannya sekalipun dilempar ke kandang singa, dan keteguhannya diingat sampai hari ini.

(Baca juga: JANGAN TAKUT AKAN HARI ESOK)

Teman, jangan hidupi hidup kita hanya sekadarnya saja, apalagi jika kita hidup dengan cara yang sembarangan. Hiduplah sebagaimana Tuhan memanggil kita, yaitu menjadi garam dan terang dunia, menjadi kepala bukan ekor, sehingga suatu hari nanti, sekalipun kita sudah tiada, dunia masih dapat melihat jejak iman kita dan jejak tersebut menjadi berkat dan menginspirasi bagi banyak orang. (penulis: @mistermuryadi)

ARTI KATA “BENIH” MENURUT BAHASA IBRANI

Bahan renungan:

Yesaya 30:23-24 Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak.

Hari ini saya ingin mengupas mengenai arti kata “benih” pada ayat di atas. Benih yang saya bahas di sini berbicara mengenai persembahan dan persepuluhan Anda.

(Baca juga: ANAK TUHAN PASTI MENDENGARKAN SUARA TUHAN)

Kata “benih” berasal dari akar bahasa Ibrani ‘zara’ (baca: zaw-rah’). Kata itu dapat diartikan bibit, benih, mengandung, menabur, untuk dituai, untuk menghasilkan benih lagi, dan berserah.

Arti pertama dari benih yang ingin saya jelaskan adalah untuk dituai dan untuk menghasilkan benih lagi. Jadi, ketika Anda menabur, Anda pasti menuai. Benih yang Anda tabur karena percaya kepada janji Tuhan tidak akan gagal. Yang luar biasa, benih tersebut akan menghasilkan lebih banyak benih lagi. Perhatikan apa yang dikatakan oleh ayat di atas, “… dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah.”

Arti kedua mengenai benih yang ingin saya bahas adalah berserah. Apa hubungannya antara memberikan persembahan atau persepuluhan dengan berserah? Ternyata, kedua hal tersebut memiliki hubungan yang sangat erat.

Saat Anda memberi atau menabur, pada dasarnya Anda sedang memercayakan kehidupan dan masa depan Anda kepada pemeliharaan dan penjagaan Tuhan. Pada saat Anda memberi persembahan atau persepuluhan, kita bukan hanya memberikan uang, tetapi juga iman percaya Anda kepada Tuhan.

(Baca juga: YUSUF MENJADI PENGUASA ATAS ORANG NOMOR SATU DI MESIR)

Di dalam Perjanjian Baru, memberi tidak lagi dilakukan dengan tujuan menghindari binatang pelahap atau sebagai upaya agar Tuhan mencurahkan kebaikan-Nya atau mengabulkan doa, melainkan sebagai bentuk berserah dan percaya kepada Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

IMAN ADALAH SATU-SATUNYA KUNCI UNTUK MEMBUKA GUDANG PERSEDIAAN TUHAN

Bahan renungan:

Roma 5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Iman Anda adalah “barang” paling mahal yang ada di dunia ini. Jika Anda percaya kepada Tuhan, iman Anda dapat membuat Anda menikmati semua yang Tuhan sudah sediakan. Sebaliknya, iman tidak percaya Anda dapat membuat Anda tidak menerima segala yang baik yang Tuhan sudah berikan.

(Baca juga: IMAN KITA MEMILIKI BENTUK YANG DAPAT DILIHAT DAN DIRASAKAN)

Ketidakpercayaan adalah satu-satunya penyebab Anda tidak menerima berkat Tuhan. Saat Anda tidak percaya kepada Tuhan dan janji-Nya itu sama artinya dengan Anda menolak Tuhan dan menolak untuk diberkati. Saat Anda memilih jalan Anda sendiri dan meninggalkan jalan Tuhan, Anda sedang menolak Tuhan dan berkat-Nya.

Jadi, bukan Tuhan yang menunda berkat-Nya. Bahkan faktanya, Tuhan sudah menganugerahkan segala sesuatu yang Anda butuhkan, seperti kesembuhan, kesehatan, berkat, kelimpahan, umur panjang, dan kuasa, ketika Dia menganugerahkan Yesus 2000 tahun lalu. Jika ada Pribadi yang paling ingin Anda menikmati semua yang baik, itu adalah Tuhan.

Di hari Tuhan memberikan janji Tanah Kanaan, di hari itu Tanah Kanaan menjadi milik Bangsa Israel. Bukan Tuhan yang menunda Bangsa Israel masuk Tanan Kanaan selama 40 tahun, melainkan Bangsa Israel yang menunda untuk percaya kepada janji Tuhan selama 40 tahun. Dalam Mazmur 106:24 ditulis bahwa Bangsa Israel menolak Tanah Perjanjian dengan cara tidak percaya kepada Firman Tuhan.

Mungkin ilustrasinya begini. Tuhan, karena kasih-Nya, sudah memberikan Anda sebuah gudang berisi segala berkat (Efesus 1:3), entah itu keselamatan, kesembuhan, berkat, kelimpahan, umur panjang, kuasa, dan lain sebagainya. Dia sudah berikan itu jauh sebelum Anda lahir dan jauh sebelum Anda membutuhkannya. Dan, satu-satunya kunci yang dapat membuka gudang persediaan tersebut adalah iman Anda.

Apa itu iman? Anda dapat menuliskan kata “iman” di kolom search di blog ini agar Anda mendapatkan gambaran lebih banyak mengenai iman. Yang pasti, satu-satunya sumber iman kita adalah Firman Kristus (Roma 10:17). Jika Anda ingin memiliki iman, Anda perlu meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan kebenaran, dan kemudian, mempercayainya.

(Baca juga: APAKAH ROH KUDUS AKAN PERGI KALAU KITA HUJAT?)

Ringkasnya, beriman kepada Tuhan artinya meninggalkan cara Anda, dan memihak kepada cara Tuhan; meninggalkan pemikiran dan pertimbangan Anda dan beralih kepada apa yang Firman Tuhan katakan; dan sepenuhnya hanya berharap kepada Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.