YANG MEMELIHARA MASA DEPAN KITA BUKAN UANG, TETAPI TUHAN

Bahan renungan:

Markus 12:43-44 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Tuhan tidak menginginkan uang kita. Yang Dia inginkan adalah hati yang percaya kepada segala ucapan, perintah, dan janji-Nya.

(Baca juga: JANGAN BIARKAN SATU MASALAH MERAMPAS SUKACITA DI HATI ANDA)

Jika kita membandingkan jumlah pemberian semua orang kaya dalam kisah di atas, tentu saja pemberian si janda miskin ini tidak ada apa-apanya. Namun, di mata Yesus justru terbalik. Yesus melihat pemberian semua orang kaya tersebut tidak sebanding dengan pemberian si janda miskin itu.

Yesus melihat ada sesuatu yang lain yang diberikan oleh si janda miskin tersebut ketika dia memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Yesus melihat si janda miskin itu bukan hanya memberikan uang, tetapi juga masa depan, hidupnya, hatinya, dan segala kekuatirannya akan hari esok.

Jika kita berada di posisi si janda miskin di atas, mungkin banyak di antara kita yang akan memilih untuk tidak memberi, karena takut dan kuatir akan hari esok. Keputusan seperti itu pada dasarnya disebabkan karena kita memercayai bahwa yang menyelamatkan hari esok kita adalah uang yang kita miliki.

(Baca juga: MAHALNYA HARGA SEBUAH KEMALASAN)

Si janda miskin di atas memiliki keyakinan yang berbeda. Terlihat dari keputusannya untuk memberikan seluruh nafkahnya. Pemberian si janda miskin itu menunjukkan bahwa dia percaya yang memelihara masa depannya bukanlah uang, melainkan Tuhan, Sang Gembala Agung. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

YESUS DATANG UNTUK MENYAMPAIKAN KABAR BAIK BAGI ORANG MISKIN

Bahan renungan:

Lukas 4:18-19 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”

Di dalam bahasa Yunani, kata “miskin” bukan hanya kondisi Anda tidak memiliki uang, melainkan kondisi saat Anda selalu merasa kurang. Amsal 11:24 menggambarkannya dengan sangat jelas, “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”

(Baca juga: JANJI TUHAN MANIS LEBIH MANIS DARI MADU)

Saya percaya salah satu alasan Yesus datang ke dunia adalah untuk menghancurkan “kemiskinan” di pikiran kita. Dalam Lukas 4:18 Yesus menyampaikan, “Aku diurapi untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin …”

Menurut Anda, apa kabar baik bagi orang-orang miskin?

Tentu saja kabar yang mengatakan bahwa mereka diberkati. Kabar bahwa Kristus datang bukan untuk mengambil, melainkan untuk memberi kehidupan yang berkelimpahan.

Perbedaan mencolok antara orang bermental miskin dan diberkati terletak pada cara mereka memperlakukan uang. Orang bermental miskin selalu ingin meminta dan menyimpan, sedangkan mereka yang bermental diberkati, selalu ingin memberi dan berbagi.

Si janda miskin contohnya. Janda itu menyadari bahwa dia bukan orang miskin. Apa buktinya? Seperti saya katakan lihat dari responsnya memperlakukan uang. Firman Tuhan katakan meski si janda itu hanya memiliki uang dua peser, dia tidak takut MEMBERI seluruh nafkahnya (Lukas 21:4).

(Baca juga: CARA MENGATASI KRISIS: JANGAN TAKUT (bagian 01))

Bagaimana dengan Anda? Apakah Saudara sudah tahu bahwa Saudara adalah orang yang diberkati? (penulis: @mistermuryadi)

KISAH SI JANDA MISKIN YANG TIDAK TAKUT MISKIN

Bahan renungan:

Lukas 21:2-4 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Wanita dalam kisah di atas menyandang dua status: janda dan miskin. Itu adalah dua kombinasi yang buruk. Juga, tidak diceritakan bahwa si janda miskin tersebut memiliki keluarga. Saya berasumsi dia hidup miskin dan sebatang kara.

(Baca juga: JANGAN TARUH PERASAAN ANDA DI ATAS KEBENARAN FIRMAN TUHAN)

Terdengar kasihan melihat situasi janda di atas. Namun, kisah di atas bukanlah sebuah kisah pengasihanan diri, melainkan kisah heroik. Hati saya selalu bergetar setiap kali membaca dan merenungkan kisah tersebut.

Beberapa waktu lalu, terbersit di kepala saya sebuah pertanyaan mengenai si janda ini, “Apa yang mendorong dia memberikan seluruh nafkahnya?” Normalnya, jika seseorang berada dalam posisi tersebut, mereka cenderung akan menyimpan harta dan minta dikasihani oleh orang lain. Namun, janda ini tidak demikian. Saking spesialnya, janda miskin ini menarik perhatian Yesus dan dipuji oleh Yesus. Luar biasa!

Roh Kudus mengingatkan saya ayat dari 1 Yohanes 4:18a yang berbunyi, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” Roh Kudus berbisik lembut memberikan jawaban di hati saya, “Satu-satunya alasan si janda miskin itu tidak takut akan masa depannya, karena dia menyadari dirinya sangat dikasihi oleh Tuhan. Sang janda tahu bahwa yang memelihara dirinya jauh lebih besar dari dua peser duit, jauh lebih besar dari yang dia takutkan.”

Alkitab tidak menceritakannya, tetapi sangat mungkin bahwa sebelum si janda miskin ini memberikan seluruh uangnya, dia diteguhkan oleh kebenaran Firman Tuhan. Karena hanya orang yang percaya kepada janji Tuhan yang dapat melakukan tindakan iman seperti itu. Mungkin sang janda baru merenungkan kisah janda miskin di Sarfat yang diberkati Tuhan melalui Nabi Elia (1 Raja-raja 17:9-16), atau tulisan pemazmur di Mazmur 68:5 dan Mazmur 146:9. Jika Anda sedang dalam kondisi yang sama dengan sang janda di atas, saya sarankan Anda membaca dan merenungkan ayat-ayat tersebut, supaya hati Anda teguh.

(Baca juga: ANDA LEBIH BERHARGA DARI BURUNG PIPIT)

Satu hal yang saya tahu pasti. Hanya ketika kita menyadari kita sangat dikasihi Tuhan, bahwa Dia adalah Gembala yang baik dan kita adalah domba kesayangan-Nya, bahwa Dia memelihara hidup dan masa depan kita jauh lebih baik daripada diri kita sendiri, kita dapat melakukan tindakan iman yang melampaui segala ketakutan kita. (penulis: @mistermuryadi)

ORANG BERMENTAL MISKIN BUKAN BUTUH UANG, MELAINKAN YESUS

Please Banerghatta National Park

Beberapa kali ada orang yang tidak saya kenal mengirimkan saya email dan bertanya apakah saya bisa meminjamkan uang kepadanya. Sebagian besar alasan mereka nekat meminjam uang ke saya karena masalah hutang, dana untuk orangtua yang sakit, biaya membayar cicilan kendaraan, uang sekolah, dan lain sebagainya. Semakin detil orang-orang itu menceritakan masalahnya, saya semakin yakin bahwa yang mereka butuhkan bukan uang, melainkan YESUS. Memberikan mereka uang hanya akan membuat mereka terus menerus mengira uang adalah jawaban dari masalah mereka.

Terhadap mereka yang ingin meminjam uang dengan alasan orangtua sakit, saya katakan kepada mereka untuk menceritakan kesembuhan untuk orangtua mereka, karena Firman Tuhan katakan bilur-bilur darah Yesus sudah menyembuhkan segala sakit penyakit kita (1 Petrus 2:24). Saya berikan mereka tautan tulisan-tulisan saya mengenai kesembuhan di blog ini.

Mungkin Anda tidak setuju dengan cara saya, tetapi saya percaya jika kita menceritakan kebenaran Firman Tuhan, orangtua kita tidak akan pernah sakit lagi. Mereka akan hidup sehat seperti yang Firman Tuhan janjikan dalam Yeremia 33:6. Anda tidak membutuhkan biaya pengobatan jika mereka sehat, bukan? Namun sayangnya, banyak orang tidak mau mempraktikkan kuasa Tuhan. Mereka lebih tertarik membawa orangtua mereka ke dokter. Banyak orang tidak mau menceritakan kabar baik mengenai kesembuhan yang Yesus telah berikan. Mereka lebih rela membiarkan orangtua mereka mendengar kabar buruk diagnosa dari dokter.

Saya tidak katakan salah untuk pergi ke dokter atau berobat. Saya hanya ingin Anda tahu bahwa Tuhan menjanjikan Anda sehat dan kalau Anda sehat artinya Anda tidak perlu ke dokter atau berobat.

Suatu hari ibu saya menelpon jam 11 malam. Dia mengatakan salah satu matanya tiba-tiba buram dan tidak bisa melihat. Dia ingin segera ke dokter. Mungkin kalau saya tidak percaya janji kesembuhan di dalam nama Yesus, saya akan panik mendengar berita ibu saya terserang sakit seperti itu. Namun, puji Tuhan saya memilih percaya bahwa segala sakit penyakit sudah ditaklukkan di bawah kaki Yesus. Saya menceritakan kabar baik mengenai kesembuhan, seperti yang saya tuliskan di dalam blog ini untuk Anda, dan mengajarkan kepada ibu saya cara mengusir sakit penyakit pergi dari tubuhnya. Malam itu juga dia sembuh dan sampai hari ini, sudah sekitar 4 tahun, dia tidak pernah lagi mengeluh mengenai matanya.

gift-givingTerhadap mereka yang ingin meminjam dengan alasan terbelit hutang, saya katakan kepada mereka untuk menabur dari seberapa pun yang yang mereka miliki. Karena Firman Tuhan katakan kalau kita menabur banyak, kita akan menuai banyak (2 Korintus 9:6). Juga, saya lampirkan kepada mereka tautan tulisan-tulisan saya mengenai menabur supaya mereka mengerti bahwa Tuhan ingin kita hidup berkelimpahan.

Ketika menyinggung mengenai menabur, banyak orang dengan defensif mengatakan bahwa mereka tidak memiliki uang. Terus terang saya tidak percaya bahwa orang-orang tersebut tidak memiliki uang. Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:10 jelas mengatakan bahwa Dia menyediakan benih bagi kita. Kita selalu memiliki sesuatu yang bisa kita tabur, meskipun jumlahnya sangat sedikit. Masalahnya bukan tidak ada benih, tetapi kita tidak percaya bahwa benih yang kita tabur akan menghasilkan. Padahal kalau kita mau percaya janji Tuhan, cukup dengan menabur satu benih apel, kita dapat menghasilkan sebuah pohon apel, bahkan kebun apel.

Suatu hari seorang anak remaja yang saya bimbing mengalami kesulitan ekonomi. Ayahnya meninggal, usaha keluarganya bangkrut, dan uang yang tersisa hanya beberapa puluh ribu di dompetnya. Lengkap penderitaannya! Ditambah lagi, ibunya berusaha menjual rumah, tetapi sudah beberapa tahun tidak ada seorang pun mau membelinya dengan harga yang pantas, karena rumahnya berada di gang dan kondisinya pun sudah kurang layak. Dia nyaris tidak memiliki uang. Hari itu saya tantang dia untuk menabur. Keesokan harinya, di gereja, dia memberikan semua uang yang dia miliki kepada saya, jumlahnya hanya sekitar 20-30 ribu rupiah. Dia katakan dia mau percaya kepada janji Tuhan, bukan kepada uang. Dia pulang dari gereja berjalan kaki dan bahkan hari itu tidak memiliki uang untuk makan. Kurang lebih satu bulan kemudian, mukjizat terjadi, rumahnya laku terjual dengan harga yang tinggi. Kemudian ibunya membeli sebuah rumah lain dan sampai hari ini, sudah berjalan lebih dari lima tahun, dia tidak pernah lagi ada di dalam kondisi “depresi” seperti sebelumnya.

Menurut Anda, apakah masalah anak remaja di atas akan selesai kalau saya berikan dia uang? Saya yakin tidak! Namun, ketika dia mendengarkan kebenaran dan dia memercayainya, kebenaran tersebut memerdekakan hidupnya. Yohanes 8:31-32 mengatakan, “Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.””

Teman, kalau Anda bertemu dengan peminta-minta di jalan, menurut Anda apa yang benar-benar mereka butuhkan? Kita sudah tahu, semakin sering kita berikan uang, semakin mereka semangat menjadi peminta-minta. Uang bukan jawabannya. Para peminta-minta itu tidak meminta-meminta karena hidup mereka miskin, mereka meminta-minta karena mereka berpikir mereka miskin. Mereka berpikir mereka tidak mampu, gagal, dan ditakdirkan hidup seperti itu. Jika boleh saya simpulkan, mereka malas.

homeless-1Menurut bahasa Ibrani dan Yunani, kata “miskin” bukan hanya berbicara mengenai kondisi tanpa uang, melainkan juga kondisi pikiran yang selalu merasa kekurangan. Para koruptor pada dasarnya adalah orang-orang yang memiliki banyak uang, tetapi di dalam pikirannya, mereka selalu berkekurangan. Itu sebabnya mereka korupsi. Mental miskin ini bukan hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak memiliki uang, tetapi juga oleh orang yang memiliki banyak uang.

Saya bertemu dengan banyak orang kaya yang sulit memberi. Itu terjadi karena mereka selalu berpikir mereka akan kekurangan jika memberi. Sebaliknya, ada orang-orang yang hanya memiliki uang seadanya, tetapi mempunyai hati memberi luar biasa. Merekalah orang-orang yang mengerti arti kelimpahan.

Menurut Anda, mana orang yang memiliki mental kelimpahan? Yang kaya, tapi takut memberi, atau yang miskin atau pas-pasan, tapi berani memberi?

Salah satu kisah memberi yang sangat menginspirasi saya adalah kisah si janda miskin yang dicatat dalam Lukas 21:1-4, “Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.””

Orang yang bermental miskin, selalu berpikir memberi akan membuat mereka kekurangan. Kebenarannya adalah saat kita memberi, kita sedang percaya bahwa kita adalah orang yang diberkati dan berkelimpahan.

Teman, satu-satunya alasan mengapa seseorang memiliki mental miskin, yang berakibat hidup miskin, karena pola pikir mereka yang salah. Pikiran mereka ditipu oleh si jahat melalui informasi-informasi yang salah. Dan, satu-satunya yang dapat memerdekakan mereka dari kondisi tersebut adalah kebenaran Firman Tuhan. Jika mereka percaya pada kebenaran, mereka tidak akan pernah meminta-minta lagi seumur hidup mereka, hidup mereka akan diberkati dan berkelimpahan.

homeless-poverty-poorSemua perubahan hidup kita tidak dimulai dari perilaku yang berubah, melainkan dimulai dari pola pikir yang berubah. Tidak ada cara lain. Dan, yang bisa mentransformasi pola pikir Anda hanya kebenaran Firman Tuhan. Saat pola pikir Anda berubah, perkatan dan perilaku Anda pasti berubah dengan sendirinya, dan ketika perkataan dan perilaku Anda berubah, hidup Anda akan berubah. Masa depan Anda akan berubah.

Itu sebabnya, dalam banyak kesempatan, ketika ada seseorang yang meminta atau meminjam uang, yang saya utamakan bukan memberi mereka pinjaman uang, melainkan membagikan kebenaran Firman Tuhan kepada mereka. Supaya pola pikir mereka berubah. Karena memberi adalah tanda bahwa Anda memiliki mental untuk menjadi orang yang diberkati. Ya, hanya orang berpikir bahwa dirinya diberkati yang berani memberi atau menabur. (penulis: @mistermuryadi)

========================================================================

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

SAAT KITA SERAHKAN KEPADA YESUS, YANG BIASA MENJADI LUAR BASA

Bahan renungan:

2 Raja-Raja 4:2 Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”

Semua orang, kecuali TUHAN, akan berkata situasi perempuan ini tidak memiliki harapan. Sedikit minyak dan tepung yang dia miliki tidak cukup untuk hari esok. Perempuan ini tahu bahwa dia dan anaknya akan segera mati kelaparan. Namun, seorang nabi TUHAN datang kepadanya membawa janji dan pengharapan.

(Baca juga: SEGERA TERBIT E-BOOK #PENGHARAPAN. GRATIS!)

Saat manusia katakan, “Mustahil,” YESUS katakan, “Bagi Allah segala sesuatu mungkin (Matius 19:26).” Perempuan miskin ini memilih percaya kepada janji TUHAN dan sebagai bukti imannya, dia membuatkan roti bagi Elia dari sedikit tepung dan minyak yang dimilikinya. Dia memberikan semua hal yang selama ini dia pikir dapat menyelamatkan hidupnya.

Teman, di tengah situasi yang sulit, seringkali kita gagal melihat kebesaran TUHAN, karena pikiran kita terlalu fokus kepada masalah. Kalau kita memandang kepada masalah, yang kita dapatkan hanyalah stres, panik, gelisah, takut, dan kuatir. Ketika uang kita menipis, kita menjadi takut menabur, karena kita berpikir uang yang menentukan masa depan.

Seperti kisah perempuan di atas, di tengah situasinya yang sulit, justru dia menabur segala yang dia miliki. Perempuan ini memutuskan untuk lebih percaya kepada janji TUHAN, daripada harta yang dia miliki. Dia menyadari bahwa jauh lebih aman jika memercayakan masa depannya kepada TUHAN daripada harta benda. Dan terbukti, kehidupan si janda miskin menjadi jauh lebih baik setelah dia memilih memercayakan hidupnya kepada Tuhan.

(Baca juga: JANGAN “ISTIRAHAT” DARI KRISTUS)

Saat melihat kepada TUHAN, Anda akan melihat lima roti dan dua ikan memberi makan lima ribu orang, air berubah menjadi anggur, yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang bisu berbicara, yang tuli mendengar, dan yang mati dibangkitkan. Saat Anda menyerahkan hidup Anda kepada YESUS, semua hal yang biasa menjadi luar biasa. (penulis: @mistermuryadi)

MEMBERI YANG TERBAIK DALAM KEKURANGAN

Bahan renungan:

2 Korintus 8:2-3 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.

Saya mau melanjutkan renungan kemarin mengenai empat kisah terbaik dalam hal memberi. Ada kisah mengenai janda miskin di Sarfat (1 Raja-raja 17:1-16), janda miskin yang memberikan dua peser uang (Lukas 21:1-4), Abraham yang tidak segan-segan mempersembahkan Ishak (Kejadian 22:1-14), dan para Rasul yang rela menderita dan martir demi Injil Kristus.

(Baca juga: MENURUT ANDA, SIAPAKAH YESUS?)

Saya bulatkan jadi lima kisah dengan kisah tambahan dari ayat renungan kita di atas yang bercerita mengenai jemaat di Makedonia yang Paulus katakan, “Mereka memberi di dalam kemiskinan dan mereka memberi melampaui kemampuan mereka.” Sungguh menyenangkan mengajar jemaat yang menyadari bahwa janji Tuhan jauh lebih nyata dari ketakutan dan kekuatiran mereka akan kekurangan.

Kelima kisah di atas ditulis dalam zaman yang berbeda, setidaknya dalam waktu yang berbeda. Namun, apakah Anda tahu apa persamaan dari kelima kisah tersebut?

Mudah, mereka sama-sama tidak memiliki banyak, kendati demikian mereka memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Saya percaya mereka melakukan hal tersebut karena mereka begitu mencintai Tuhan, Pribadi yang terlebih dahulu mengasihi mereka.

Setiap kisah di atas sangat menggetarkan hati saya. Saya tidak pernah membayangkan ada orang-orang yang memiliki sikap hidup seperti ini di dunia, yang berani memberi di dalam kekurangannya.

(Baca juga: PEMBERIAN MEREKA MEMBUAT YESUS SEMAKIN NYATA)

Saat seseorang memiliki uang ratusan miliar rupiah, tidak heran jika kemudian dia menyumbangkan satu miliar rupiah untuk yatim piatu atau pun yayasan. Semua orang bisa melakukan hal tersebut, memberi di dalam kelebihan. Tidak perlu IMAN untuk memberi di dalam kelebihan, hanya butuh alasan yang tepat untuk memberi.

Tetapi, untuk memberi di dalam kekurangan, Anda butuh IMAN. Anda perlu percaya kepada janji Tuhan, Anda perlu menyadari bahwa janjiNYA nyata. Teman, percayalah, ketika Anda menabur benih dengan IMAN, Anda pasti menuai dengan sorak sorai. Firman Tuhan yang menjaminnya. (penulis: @mistermuryadi)

PEMBERIAN MEREKA MEMBUAT YESUS SEMAKIN NYATA

Bahan renungan:

Lukas 21:2-3 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.

Menurut saya, empat kisah ini, selain kisah Bapa Sorgawi memberikan Yesus (Yohanes 3:16) dan Yesus memberikan nyawaNYA ganti kita (Yohanes 19:3), merupakan empat kisah terbaik yang ada di Alkitab mengenai memberi.

Anda mungkin punya daftar yang berbeda dengan saya, karena memang ada begitu banyak contoh dan teladan yang luar biasa mengenai memberi di Alkitab. Tetapi ini adalah empat kisah terbaik menurut saya: janda miskin di Sarfat yang memberikan minyak dan tepung (1 Raja-raja 17:1-16), janda miskin yang memberikan dua peser uang (Lukas 21:1-4), Abraham mempersembahkan Ishak (Kejadian 22:1-14), dan para Rasul yang martir demi Injil Kristus.

(Baca juga: JANJI TUHAN JAUH LEBIH NYATA DARI MASALAH ANDA)

Saya bersyukur dengan keempat kisah di atas. Entah berapa kali saya mengulang-ulang membaca dan merenungkan kisah mereka. Kalau Anda sedang takut dan kuatir dalam masalah memberi, saya sangat sarankan Anda juga membaca dan merenungkan kisah-kisah di atas sesering mungkin. Melalui kisah-kisah di atas, Anda akan semakin yakin bahwa Tuhan itu sangat nyata, begitu juga janji-janjiNYA.

Kalau Tuhan tidak nyata bagi mereka, saya sangat yakin janda miskin di Sarfat tidak akan memberikan minyak dan tepung terakhirnya untuk Elia, begitu juga Abraham tidak akan mau mempersembahkan Ishak yang sangat dia kasihi, dan para Rasul tidak akan pernah mengorbankan nyawanya demi Injil. Logikanya, untuk apa mereka berkorban demi sesuatu yang tidak nyata?

(Baca juga: KARENA MEMBURU UANG, ORANG MENINGGALKAN IMANNYA)

Bagaimana dengan Anda?

Apakah Tuhan dan janjiNYA nyata bagi Anda? Atau mungkin Anda menganggap ketakutan dan kekuatiran Anda yang lebih nyata? Jika Tuhan lebih nyata untuk Anda, lantas untuk apa takut dan kuatir menabur pemberian Anda? Bukankah DIA sudah berjanji untuk memberkati Anda sampai berkelimpahan dan melipatgandakan pemberian Anda menjadi 30, 60, bahkan 100 kali lipat? (penulis: @mistermuryadi)