KITA MEMILIKI LEBIH BANYAK ALASAN UNTUK PERCAYA DARIPADA TAKUT

Bahan renungan:

Mazmur 93:4 Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat TUHAN di tempat tinggi.

Saking sering kita merasa takut dan kuatir, terkadang kita berpikir bahwa ketakutan dan kekuatiran merupakan gejala yang umum dialami oleh setiap manusia. Mungkin saja orang lain mengalami hal tersebut, tetapi anak-anak Tuhan, yang menyadari bahwa Bapa Sorgawi selalu ada bersama-sama dengannya, seharusnya tidak mengalami hal tersebut terus menerus.

(Baca juga: DARI KRISTUS, OLEH KRISTUS, DAN KEPADA KRISTUS)

Beberapa tahun lalu, ketika saya ingin memberi persembahan, tiba-tiba pikiran saya diliputi rasa takut dan kuatir yang sangat hebat. Situasi pada saat itu, saya diberhentikan dari pekerjaan, karena tempat saya bekerja saya gulung tikar; dan belum mendapatkan pekerjaan baru, sementara ada begitu banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi.

Dalam situasi tersebut, saya sangat tergoda untuk tidak memberi, tetapi saya teringat 1 Petrus 5:7, yang berbunyi, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Hari itu, saya memutuskan untuk mempercayai kebenaran Firman Tuhan lebih dari ketakutan saya, dan saya memutuskan untuk memberi.

Dalam kesempatan yang lain, terutama ketika kondisi keuangan saya sedang tidak baik, rasa takut dan kuatir itu muncul kembali, dan mendorong saya untuk tidak memberi. Namun, Roh Kudus sering berbisik lembut di hati saya, bertanya, “Mengapa kamu takut? Bukankah kamu lebih banyak memiliki alasan untuk percaya?”

(Baca juga: KITA PERLU MEMPRIORITASKAN KEBENARAN)

Ya, benar sekali, dengan banyaknya mukjizat dan kesaksian yang terjadi di dalam hidup kita, semestinya kita memiliki lebih banyak alasan untuk percaya, daripada takut. Tuhan senantiasa menganugerahkan kebaikan dan kemurahan-Nya supaya kita memiliki lebih banyak alasan untuk percaya di tengah situasi yang menakutkan. (penulis:@mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

HARAPKAN YANG TERBAIK, UCAPKAN YANG TERBAIK

Bahan renungan:

Mazmur 71:5 Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah.

Setiap orang pasti ingin yang terbaik terjadi di dalam hidupnya. Saya belum pernah bertemu dengan orang yang mengharapkan hal buruk terjadi pada dirinya. Namun, saya menemukan sebuah kejanggalan di mana banyak orang yang mengharapkan hal terbaik terjadi, tetapi tidak mau mengucapkan yang terbaik itu. Jika Anda mengharapkan yang terbaik, seharusnya Anda mengucapkan yang terbaik.

(Baca juga: TEMPAT TERAMAN DI DUNIA)

Saya percaya ucapan kita adalah buah dari apa yang kita percayai.

Saya berikan contoh. Misalnya, suatu saat Tommy diberhentikan dari tempatnya bekerja. Saya percaya yang Tommy inginkan adalah mendapatkan pekerjaan baru, dengan gaji yang jauh lebih baik. Namun pada prakteknya, ketika diberhentikan dari pekerjaan, Tommy mengatakan hal-hal yang buruk kepada dirinya, seperti, “Mati deh gue, mau cari kerja di mana lagi,” “Aduh, kalau nggak segera dapat pekerjaan, bisa tidur di pinggir jalan, nih” atau “Wah, yang S2 saja susah cari pekerjaan, apalagi gue.”

Menurut Anda, apakah Tommy akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik jika mengucapkan hal-hal demikian?

Teman, kita telah belajar bahwa pengharapan kita di dalam Kristus tidak pernah sia-sia. Kristus memberikan janji masa depan yang indah dan kehidupan yang penuh kemenangan bagi kita. Apakah kita mengharapkan hal-hal yang luar biasa terjadi? Jika IYA, mulailah mengucapkan janji-janji Tuhan yang luar biasa itu, bukan hal-hal yang buruk

(Baca juga: TUHAN TIDAK MENUNTUT KITA UNTUK JADI ORANG YANG SEMPURNA)

Mari gunakan mulut kita untuk mengucapkan berkat, bukan ketakutan ataupun kekuatiran yang kita rasakan. Saya tidak memungkiri, ketika masalah datang, mungkin saja ada rasa takut dan kuatir yang muncul, tetapi untuk apa kita mendeklarasikan ketakutan dan kekuatiran? Bukankah jauh lebih baik kita mendeklarasikan IMAN kita? (penulis:@mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

PERCAYA JANJI TUHAN ADALAH TEMPAT PERISTIRAHATAN KITA

Bahan renungan:

Mazmur 71:5 Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah.

Percaya kepada Tuhan adalah jalan agar kita masuk ke dalam ruang peristirahatan-Nya. Sebuah ruang di mana ada damai sejahtera dan sukacita, sehingga kita dapat menikmati kehidupan kita dan menjalani hari-hari kita dengan penuh kepastian.

(Baca juga: ADA SAATNYA KITA PERLU BERSABAR)

Kita perlu mengingat hal ini. Tuhan peduli kepada kita dan adalah keinginan-Nya untuk melihat kita menang atas masalah dan terpelihara dengan baik. Namun, agar kita dapat menang atas masalah dan terpelihara dengan baik, kita perlu percaya kepada-Nya.

Mempercayakan hidup kita kepada Tuhan adalah satu-satunya jalan agar kita bebas dari ketakutan dan kekuatiran. Juga, merupakan sebuah keputusan yang perlu kita ambil sebagai orang percaya.

Ya, ini waktunya kita berkata, “Saya mau percaya kepada Tuhan dan kebenaran-Nya. Saya mau hidup dengan cara-Nya. Saya tidak akan menyerah terhadap masalah yang saya hadapi, karena saya tahu Tuhan bersama dengan saya. Tuhan adalah sumber kekuatan dan kehidupan saya.”

(Baca juga: TERLEBIH LAGI KITA PERLU MEMERCAYAI PENCIPTA PARA DOKTER)

Semakin kita menghidupi pernyataan di atas, semakin kita mempercayai Tuhan dan terbebas dari ketakutan dan kekuatiran. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

TANTANG DIRI ANDA UNTUK LEBIH DALAM BERSAMA TUHAN

Bahan renungan:

2 Korintus 11:23a Apakah mereka pelayan Kristus? –aku berkata seperti orang gila– aku lebih lagi! 

Tidak tahu dengan Anda, tetapi tahun ini saya menantang diri saya untuk hal-hal yang besar, hal-hal yang saya anggap mustahil. Hal-hal besar yang saya maksud bukan hanya berbicara mengenai hal yang besar saja, tetapi juga mengenai menerobos zona-zona nyaman di dalam hidup saya.

(Baca juga: KEHIDUPAN YANG BURUK DAPAT MENJADI BERKAT)

Harus saya akui, masih banyak area ketakutan dan kekuatiran di dalam hidup saya. Namun, saya tidak mau berdiam diri dan pasrah terhadap hal itu. Tuhan janjikan saya, juga Anda, kehidupan yang luar biasa, yang bebas dari rasa takut dan kuatir, dan saya ingin menikmati kehidupan seperti itu.

Saya percaya Tuhan ciptakan kita untuk perkara-perkara ajaib dan Dia memanggil kita untuk memuliakan nama-Nya.

Mari, saya mengajak kita semua untuk menantang diri kita untuk selangkah, atau dua langkah, lebih maju tahun ini. Jika Anda belum pernah berdoa untuk orang yang sakit, lakukan. Jika Anda belum pernah membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, lakukan. Jika Anda belum pernah memberi persepuluhan secara rutin, lakukan. Jika Anda ingin membuat persekutuan di rumah, lakukan. Jika Anda belum memiliki waktu khusus untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan, buatlah waktu khusus. Intinya, lakukan sesuatu yang radikal bersama Tuhan tahun ini. Lakukan hal-hal yang di luar zona nyaman Anda. Buat terobosan terhadap hal-hal yang selama ini takut Anda lakukan.

Juga, jika Anda belum pernah memeluk kedua orangtua Anda atau mencium mereka, lakukan. Jika Anda belum pernah memakai warna baju yang cerah, lakukan. Jika Anda belum pernah memiliki potongan rambut tertentu dan Anda ingin mencobanya, lakukan.

(Baca juga: JAWABAN DOA ANDA SELALU “YA” DARI TUHAN)

Tantang diri Anda keluar dari zona nyaman. Jangan biarkan ketakutan dan kekuatiran membatasi jiwa dan pikiran Anda. Saya percaya Anda akan belajar sesuatu yang berharga pada saat Anda melakukannya.(penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

TUHAN SELALU PUNYA JAWABAN UNTUK ANDA

Bahan renungan:

Yeremia 33:3 Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.

Pertanyaan terbesar dalam hidup kebanyakan manusia adalah mengenai masa depan. Tentang hal-hal yang akan datang. “Bagaimana dengan kehidupan saya nanti?” “Apakah bisnis yang saya geluti ini akan sukses?” “Apakah anak-anak saya dapat menjadi orang yang berhasil?” “Mungkinkah saya menemukan pasangan yang tepat?” dan lain sebagainya.

(Baca juga: “WAKTU AKU TAKUT, AKU PERCAYA KEPADAMU”)

Seringkali untuk mendapatkan jawaban-jawaban atas pertanyaan di atas, banyak orang mencarinya ke orang pintar, dukun, ramalan, atau melalui peristiwa-peristiwa supranatural. Padahal, yang memiliki jawaban mengenai masa depan dan seluruh pertanyaan hidup kita hanyalah Tuhan.

Tuhan yang menciptakan kita. Dia maha mengetahui segala sesuatu mengenai kehidupan kita. Dia tahu awal dan akhir kita. Dan, Dia telah menuliskan semua hal tersebut di dalam Firman-Nya. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita diciptakan dahsyat dan ajaib (Mazmur 139:14), masa depan kita indah dan penuh dengan harapan (Yeremia 29:11), kita dikasihi (Efesus 1:6) dan dipelihara (1 Petrus 5:7), dan Dia menyertai kita sampai kesudahan zaman (Matius 28:20). Sungguh luar biasa!

(Baca juga: CAMPUR TANGAN KITA MEMBUAT MASALAH MAKIN RUNYAM)

Saya percaya, hati dan pikiran kita akan dipuaskan dari segala keraguan pada saat kita menjadikan Tuhan dan kebenaran-Nya sebagai satu-satunya sumber jawaban dari segala pertanyaan hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

MELANGKAH KELUAR DARI KETAKUTAN DAN KEKUATIRAN KITA

Bahan renungan:

1 Raja-raja 17:15-16 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Saya sangat terenyuh dengan kisah janda di Sarfat ini. Di tengah situasi yang begitu genting, antara hidup dan mati, dia memilih untuk percaya kepada janji Tuhan.

(Baca juga: DOA DAN NUBUAT BAGI KITA DI TAHUN 2018)

Si janda itu hanya memiliki segenggam gandum dan sedikit minyak, yang menurut hitung-hitungan manusia, akan mengakibatkan dia dan anaknya mati lebih cepat jika dia berikan kepada Nabi Elia. Ya, cepat atau lambat, si janda itu dan anaknya pasti mati jika bergantung kepada segenggam gandum dan sedikit minyak.

Nabi Elia memberikan solusi ampuh kepada janda tersebut, yaitu dengan cara memberikan yang sedikit itu kepadanya. Atau dengan kata lain, Nabi Elia ingin si janda tersebut “melangkah keluar” dari ketakutan dan kekuatirannya dengan cara menyerahkan sepenuhnya hal tersebut kepada Tuhan (1 Petrus 5:7).

Hasilnya, dalam ayat 16 tertulis, “Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.” Haleluya.

Apa pesan penting yang Tuhan ingin sampaikan melalui cerita di atas?

Setiap kita memiliki ketakutan dan kekuatiran masing-masing terhadap sesuatu. Satu-satunya cara agar terbebas dari hal itu adalah melangkah keluar dari sana. Tinggalkan ketakutan dan kekuatiran kita, tinggalkan pikiran yang salah dengan cara beralih dan berpegang pada janji Tuhan dan bertindak sesuai apa yang Firman Tuhan katakan.

Terhadap keuangan kita, Firman Tuhan katakan menaburlah, agar kita dapat menuai. Terhadap hubungan kita, Firman Tuhan katakan saling mengasihi dan mengampunilah satu sama lain. Terhadap bisnis atau pekerjaan kita, Firman Tuhan katakan jalanilah dengan cara yang benar dan jujur.

(Baca juga: TUHAN MENGUBAH HIDUP MANTAN PEDAGANG NARKOBA CILIK)

Dengan berpegang kepada janji Tuhan dan bertindak sesuai yang Firman Tuhan katakan, kita tidak perlu lagi takut atau kuatir, karena janji Tuhan YA dan AMIN. Jika kita percaya yang benar, kita akan melakukan yang benar, dan akibatnya, kita pasti mendapatkan hasil yang benar. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

JANGAN TERPESONA ATAU TERPIKAT DENGAN MASALAH

Bahan renungan:

Amsal 23:31-33 Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat, tetapi kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak. Lalu matamu akan melihat hal-hal yang aneh, dan hatimu mengucapkan kata-kata yang kacau.

Suatu hari, ketika sedang mengendarai vespanya, kakek dan nenek saya terlibat sebuah pembicaraan yang menyebabkan kakek saya marah besar. Dalam perjalanan pulang, mereka berhenti di pintu rel kereta menanti kereta melintas tanpa mengucapkan sepatah kata pun satu sama lain. Ketika sampai di rumah, saat turun dari motor, kakek saya baru sadar kalau nenek saya sudah tidak ada di kursi belakang. Nenek saya hilang!

(Baca juga: JADIKAN JANJI TUHAN BAGIAN PENTING DARI HIDUP ANDA)

Ternyata, saat rel kereta api tertutup, nenek saya turun dari motor untuk memungut barangnya yang terjatuh. Entah bagaimana kakek saya tidak menyadari hal tersebut, mungkin karena hatinya sedang panas, sehingga saat rel kereta terbuka lagi, kakek saya segera memacu motornya, dan nenek saya tertinggal.

Amarah membuat kakek saya lupa bahwa dia sedang bersama-sama nenek saya. Atau dengan kata lain, amarah menjadi lebih menarik bagi kakek saya pada saat itu, sehingga dia “terpesona” kepadanya, dan melupakan keberadaan nenek saya, bahkan meninggalkannya.

Hal yang sama seringkali terjadi di dalam kehidupan pribadi kita. Kadang, masalah, tekanan, sakit penyakit, kemiskinan, kesulitan, dan tantangan, membuat kita “terpesona” sehingga kita melupakan janji Tuhan yang YA dan AMIN bagi hidup kita.

Bukan tanpa alasan Alkitab menggambarkan masalah atau tantangan sebagai sesuatu yang besar, seperti badai, topan, gunung, raksasa, dewa mamon, singa yang mengaum, dan lain sebagainya. Jika kita tidak memandang hal tersebut dengan benar, hati dan pikiran kita dapat “terpesona” terhadap yang besar itu dan beralih dari janji Tuhan.

Alkitab menggambarkan masalah sebagai sesuatu yang besar supaya setiap orang percaya menyadari bahwa mereka diciptakan Tuhan untuk menaklukkan perkara-perkara besar. Bahwa yang menyertai mereka jauh lebih besar dari badai, topan, gunung, para dewa, atau raksasa.

Misalnya, jika suatu hari dokter yang menangani kita menyatakan bahwa penyakit kita tidak dapat disembuhkan, jangan lekas panik. Jangan “terpesona” atau terpikat dengan perkataan dokter tersebut. Ingat, bahwa kita diciptakan untuk menaklukkan yang besar dan menyertai kita jauh lebih besar dari sakit penyakit kita. Jika kita memiliki cara pikir demikian, kita tidak akan takluk terhadap penyakit.

Saat Daniel dikepung singa di sebuah kandang, Daniel tidak “terpesona” dengan situasi itu. Bagi Daniel, janji Tuhan jauh lebih menarik auman singa. Saat Musa dihadang Laut Merah, Musa tidak “terpesona” dengan laut tersebut dan meratapi keadaannya. Bagi Musa, Tuhan yang bersamanya jauh lebih besar dari Laut Merah.

(Baca juga: MENGELUH MERUGIKAN HIDUP ANDA)

Pandanglah Tuhan, andalkan Dia dalam segala hal yang kita hadapi, karena Dia tidak pernah gagal. Jika Tuhan sanggup membawa dua juta Bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, Dia pasti sanggup membawa kita keluar dari segala permasalahan kita. Berpeganglah pada janji-Nya dan hidupilah kebenaran-Nya, karena tidak ada yang lebih memesona daripada Dia yang turun dari Sorga, memberikan nyawa ganti kita, dan mengasihi kita tanpa syarat. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.