JERIH PAYAH KITA DI DALAM KRISTUS TIDAK PERNAH SIA-SIA

Bahan renungan:

1 Korintus 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Suatu hari seorang teman terlihat sangat murung. Saya tidak tahu apa yang terjadi terhadapnya. Sebagai orang percaya, saya berusaha mendekatinya dengan maksud menanyakan kepadanya seandainya ada sesuatu yang dapat saya bantu. Singkat cerita, kami terlibat dalam sebuah percakapan membahas diri saya. Teman saya, tidak seperti biasanya, banyak bertanya mengenai keluarga saya, kondisi finansial saya, kehidupan saya, dan terutama, bagaimana respons saya terhadap kondisi tersebut.

(Baca juga: YESUS BERANI MELAWAN ARUS)

Saya menjawab semampu yang saya bisa. Saya mengatakan kepadanya bahwa situasi yang saya hadapi sungguh berat untuk anak seumur saya pada waktu itu. Membuat saya ingin pergi dari rumah. Namun, saya percaya bahwa Yesus memiliki rencana yang indah atas hidup saya dan keluarga saya.

Percakapan tersebut berlangsung selama kurang lebih satu jam, dan kemudian kami berpisah.

Tiga hari setelah itu, teman saya menghampiri saya dan mengucapkan terima kasih. Saya merasa heran pada saat itu. Teman saya bercerita bahwa tiga hari lalu, dia ingin bunuh diri. Dia sudah merencanakan sejak seminggu sebelumnya. Namun, ketika kami bercakap-cakap, dia merasa masalah yang saya hadapi lebih berat dari dirinya, sementara saya dapat merespons masalah-masalah tersebut lebih baik. Hal tersebut membuat dia mengurungkan niat untuk bunuh diri.

Yang ingin saya sampaikan untuk kita hari ini adalah, tanpa kita sadari, respons saya terhadap masalah dalam hidup kita dapat mengubah kehidupan orang lain. Saya pribadi merasa respons saya terhadap masalah-masalah saya biasa saja, tetapi bagi teman saya, itu lebih dari cukup untuk membuatnya mengurungkan niat bunuh diri.

(Baca juga: YANG BERSAMA KITA JAUH LEBIH BESAR DARI YANG MENGHADANG KITA)

Jangan pernah merasa bahwa hal kecil yang kita lakukan atas nama kebenaran Tuhan itu kecil. Segala sesuatu yang kita lakukan, sekecil apa pun, demi nama Yesus, adalah hal yang dapat memberikan dampak besar. Firman Tuhan di atas mengatakan, jerih payah kita di dalam Kristus tidak pernah sia-sia. Kita tidak pernah tahu bahwa Tuhan dapat memakai sepenggal kisah dalam hidup kita untuk menyelamatkan banyak nyawa di luar sana. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

KEHIDUPAN YANG BURUK DAPAT MENJADI BERKAT

Bahan renungan:

Galatia 1:23-24 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. Dan mereka memuliakan Allah karena aku.

Ayat di atas bercerita mengenai Paulus, seseorang yang pernah memiliki kehidupan kelam sebagai penganiaya orang percaya. Pertemuannya dengan Yesus, saat dalam perjalanan ke Damsyik, mengubah segalanya. Setelah peristiwa supranatural itu, Paulus tidak lagi dikenal sebagai penganiaya, melainkan seorang rasul yang memberikan nyawanya bagi Injil Kasih Karunia. Luar biasa!

(Baca juga: PUJIAN KECIL YANG MEMBERI DAMPAK BESAR)

Hari ini saya ingin meneguhkan kita semua bahwa kehidupan kita yang buruk dapat menjadi sesuatu yang sangat dahsyat di tangan Tuhan. Tuhan dapat memakai hidup kita yang kelam untuk membawa banyak orang kepada Yesus. Setiap kali Paulus menginjil, dia menjadikan masa lalunya sebagai sebuah kesaksian yang mendatangkan kemuliaan bagi nama Yesus. Saya sering menuliskan di dalam blog hagahtoday.com, bahwa tidak ada orang yang terlalu rusak untuk dipakai oleh Tuhan. Bahkan faktanya, hampir semua tokoh hebat di dalam Alkitab pernah memiliki masa lalu yang buruk.

Jika hari ini kita mengalami sesuatu yang buruk di dalam hidup, jangan takut. Sama seperti Paulus, saat kita meninggalkan hal buruk tersebut demi Yesus, Yesus dapat memakai hidup kita yang lama menjadi berkat bagi banyak orang di masa mendatang.

(Baca juga: HAL YANG BURUK TIDAK AKAN MENIMPA ORANG PERCAYA)

Satu hari, ketika kita sudah berjalan sangat jauh bersama Tuhan dan kita menengok ke belakang, kita dapat dengan bangga mengatakan, “Terima kasih Tuhan, hidupku yang dulu rusak kini menjadi sebuah kesaksian yang membawa banyak orang memuliakan-Mu.” (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

TUHAN MENGUBAH HIDUP MANTAN PEDAGANG NARKOBA CILIK

Pencariannya terhadap kebaikan Tuhan belum berakhir karena kasih-Nya selalu baru tiap hari. Namun, pencariannya akan “siapa Tuhan” menemukan titik terang saat hidupnya ada di cabang jalan: antara hidup atau mati.

Akrab Narkoba
Namanya Sambang Satria (Instagram @satriasambang). Akrabnya, Sam. Teman-teman di gerejanya yang lebih junior memanggilnya Bang Sam. Sambang tidak tahu asal usul namanya. Saya mencari tahu sendiri lewat internet, dan muncul definisi yang menarik. Arti nama Sambang adalah kunjungan atau berjaga. Untuk nama keduanya, saya rasa semua orang Indonesia mengenal baik artinya: pahlawan. Singkat kata, Sambang Satria adalah sebuah nama yang gagah.

Namun, 10 tahun lalu dan jauh sebelumnya, Sam hanyalah seorang bulan-bulanan kehidupan. Dari pasangan junkies, 16 Desember 1992, Sam lahir dengan bawaan kelainan fisik yang cukup serius: katup jantungnya tidak menutup buka sempurna. “Awalnya, ayah saya bukan seorang ‘pemakai’. Ibulah yang drug addict. Ayah punya pekerjaan yang bagus waktu itu, tapi mereka kemudian pisah. Kakak ikut ibu yang kuliah lagi di Jakarta, saya dibawa ke Bali, lalu Malang. Itu terjadi waktu saya baru berusia dua tahun,” Sam mengenang masa kecilnya dengan mata yang menerawang. Tidak ada raut duka di wajahnya. Sesekali ia membuang pandangannya ke samping. Mungkin, di situ dia menaruh masa lalunya.

Sam melanjutkan kisah masa kecilnya, “Awalnya ayah menyambi jadi pengedar. Mungkin karena uang yang didapat cepat dan besar, akhirnya dia full-time di situ. Ayah tahu banget seluk beluk mendapatkan drugs, karena kan dia tahu gimana ibu mendapatkannya. Tapi seperti pepatah bilang, Menepuk Air di Dulang, Terpecik Muka Sendiri, ayah akhirnya ‘make’ juga. Tumbuh bersama pemakai dan pengedar membuat saya akrab dengan dunia tersebut sedari kecil. Kalau boleh dibilang, di usia sekecil itu, sadar atau enggak, saya sudah menjadi membantu ayah menjualkan. Ada yang ditaruh di kantong baju saya lah, tas saya lah, pokoknya, saya kerap ikut ayah melakukan ‘transaksi’.

Di usia tujuh tahun, ibu meninggal dunia karena komplikasi penyakitnya dengan overdosis drugs yang dipakainya. Karena sudah berpisah cukup lama dengan beliau, saya sama sekali enggak merasa sedih atau gimana gitu melihat ibu terakhir kali. Yang saya mengerti dan sadar di usia itu adalah saya sudah tidak punya ibu. Ibu meninggal. Tapi belum ada perasaan kehilangan atau apalah. Pulang menguburkan ibu, saya ikut balik ke Malang bareng ayah, melanjutkan hidup. Jualan narkoba.”

Narkoba menjadi penulis hidup Sam kecil. Sewaktu ayahnya masuk penjara, bukannya was-was atau berhenti, Sam menjadi kurir narkoba dan membawanya ke penjara. Di balik jeruji besi, roda bisnis narkoba ayahnya terus berputar, meski lambat, berkat Sam. Sam kecil bangga karena dia sudah membantu ayahnya. Di luar, Sam yang baru duduk di bangku kelas lima SD bekerja sebagai pencuci piring dengan upah yang cukup memberi makan. Sedangkan untuk tidur, ia berganti-ganti rumah rumah teman ayahnya. Kehidupan bagai nomad ini jelas tidak berdampak positif bagi prestasi akademik Sam. “Yah, asal bisa sekolah waktu itu,” ceplos Sam polos. “Tapi saya merasa yakin waktu itu, kalau kehidupan saya tidak akan sesulit ini,” nada suaranya terdengar mantap.

Yatim Piatu
Ayahnya keluar penjara saat Sam masuk SMP. Berbekal uang tabungan hasil bisnis narkoba, sang ayah membawa Sam hijrah ke Jakarta dan membuka bengkel motor kecil di bilangan Ciputat. Karena tempatnya tidak memadai bagi anak yang masih sekolah, Sam pun dititipkan di rumah eyangnya di Kebayoran Lama. Mondar-mandir Sam bertanya kapan ia bisa tinggal bersama ayahnya yang tidak lagi berdagang narkoba. Keinginan remaja tanggung untuk bersama ayahnya ini rupaya tinggal impian. Menginjak kelas dua SMP, ayah Sam juga berpulang. Wajah Sam adalah wajah yang terakhir dilihatnya. Ayah Sam dikuburkan di Malang, dan sekembalinya dari Malang, Sam menjajal bisnis narkoba. Jaringan dan kenalan ayahnya ditelusurinya. Trik dan strategi berbisnis barang haram ini telah dipelajarinya dengan baik. Hasilnya, tak sekalipun Sam tertangkap. “Saya hanyalah anak yang biasa-biasa saja di sekolah. Prestasi tidak menonjol, tidak juga nakal. Yah, ini menjadi strategi saya supaya tidak menarik perhatian guru,” kenang Sam sambil tertawa.

Berbisnis narkoba di usia remaja tentu memberinya uang yang tak sedikit. Hidup tanpa ayah dan ibu, terlebih mampu membeli apa saja yang dia inginkan, membuat Sam melakukan apa saja yang terlarang. “Semuanya saya lakukan karena saya bisa beli. Saya bahkan bisa memegang seorang “pentolan” sekolah, kakak kelas saya, yang saya ajak pesta drugs sepulang sekolah,” kenangnya dengan senyum hambar. “Terus terang saja, pengharapan saya untuk menjadi orang yang baik hilang. Ya sudahlah, saya pikir waktu itu, begini saja. Mau berhenti tentu saja sulit karena ini adalah bisnis yang enak. Lagipula, saya tidak pernah tertangkap karena saya benar-benar main aman,” tambahnya.

Mengenal Yesus
Di kelas dua SMA, Sam diajak teman sekelasnya untuk ikut persekutuan rumah. “Padahal, saya ini muslim. Dia juga tahu saya muslim. Hehehehe. Tapi, saya coba sajalah. Entah apa yang menggerakkan saya untuk ikut, tapi saya ikut saja. Mungkin karena dia teman baik saya. Di sana, pembicaranya mengatakan bahwa Tuhan Yesus itu nyata, Dia mau membuat hidup saya berubah menjadi baik. Kata-kata itu terngiang terus di kepala saya, bahkan ketika saya sudah pulang ke rumah.

Kebetulan eyang saya orang Kristen, cuma memang jarang sekali memengaruhi saya untuk masuk Kristen. Mungkin dia “nyerah” dengan saya yang nakal ini. Saya berdoa secara Kristen malam itu, dan ada sensasi supranatural. Yang saya rasakan. Saya ketagihan berdoa. Minggu depannya, saya ikut persekutuan lagi, dan lagi, lagi… sampai saya memutuskan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Saya menyadari betapa hebatnya Yesus. Saat saya mengenal-Nya, saya ini penyakitan berat. Bahkan, di retret pertama, para panitia sibuk mencarikan blender buat saya, karena saya hanya bisa makan makanan halus. Hahaha. Namun berangsur-angsur, semakin saya fokus pada Yesus dan mulai ikut pelayanan, saya tidak lagi merasakan penyakit saya ada. Tahu-tahu, saya sudah bisa makanan keras. Saya sehat. Itu baru dari kesehatan.

Di studi, saya yang tidak pernah belajar tentu memiliki nilai-nilai akademis yang tidak membanggakan. Namun, lagi-lagi, secara ajaib, Yesus membuat saya menjadi penerima beasiswa dari Universitas Trisakti jurusan Akutansi. Padahal semua nilai saya yang diperlukan untuk menerima beasiswa itu tidak memenuhi syarat. Sekolah saya saja sudah menolak aplikasi saya dan mengembalikannya ke saya. Namun, entah kenapa, ada bisikan dalam hati saya untuk tetap mengirimkannya. Saya mengikuti bisikan tersebut dan seminggu kemudian, saya menerima surat dari kampus Trisakti yang sudah terbuka. Saya baca sepintas saja dan merasa tidak diterima. Tapi mbah saya malah mengucapkan selamat. Saya buru-buru membaca kembali surat tersebut dan betapa saya ingin berteriak penuh kemenangan karena saya memang diterima!

Kejaiban-keajaiban terus mengikuti saya. Saya lupa terakhir kapan jualan drugs. Yang pasti, saya yakin Yesus sudah berbicara kepada saya sejak saya masih kecil. Yesuslah yang menaruh harapan ‘bahwa masa depan saya pasti baik. Saya akan menjadi orang baik’ waktu saya masih mencuci piring di warung untuk mengisi perut seadanya.

Kini, saya adalah salah seorang mentor, pemimpin, dan pembimbing rohani di gereja. Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan memiliki bisnis sablon yang sangat lumayan, dan yang pasti, saya punya masa depan yang indah. (penulis: @dollymuryadi)

KEKUATAN SEBUAH KENANGAN INDAH

Bahan renungan:

Keluaran 13:8 Pada hari itu harus kauberitahukan kepada anakmu laki-laki: Ibadah ini adalah karena mengingat apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku keluar dari Mesir.

Ada sepasang suami istri, sebut saja Bob dan Jane, yang baru menikah. Dalam perjalanan bulan madu, mereka mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan Jane kehilangan ingatan tentang segala sesuatu yang terjadi selama satu tahun terakhir.

(Baca juga: JANGAN MELUPAKAN KASIH SETIA TUHAN)

Satu tahun terakhir adalah masa Bob dan Jane bertemu, lalu memutuskan untuk berpacaran, hingga akhirnya mereka menikah. Singkat cerita, Bob berusaha mengembalikan ingatan Jane dengan cara mengajaknya ke tempat-tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Pihak keluarga pun berusaha meyakinkan bahwa Jane pernah sangat mencintai Bob, sambil menunjukkan foto-foto pernikahan mereka.

Berbagai cara telah dilakukan, tetapi Jane tetap tidak mengingat kalau dia pernah mencintai Bob. Jane kehilangan seluruh memorinya bersama Bob. Hal tersebut mengakibat Jane kehilangan cintanya terhadap Bob. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk berpisah.

Menyambung renungan kemarin, hari ini, saya ingin kita menyadari pentingnya mengingat kenangan indah akan kebaikan Tuhan. Sama seperti kisah di atas, jika saja Jane dapat mengingat kenangan indah yang pernah dia lalui bersama Bob, perasaan cinta itu pasti akan muncul kembali.

(Baca juga: APA YANG ABRAHAM PIKIRKAN SAAT MEMPERSEMBAHKAN ISHAK?)

Di saat kita mengalami sesuatu yang sulit dan tidak mengenakan, berdiamlah sejenak, ingatlah kembali kenangan-kenangan indah kita bersama Tuhan. Sementara kita memejamkan mata mengingat kebaikan Tuhan, hati kita akan kembali diteguhkan, ketakutan akan mulai menyingkir, dan jiwa kita akan kembali menemukan damai sejahtera dan sukacita. (penulis: @mistermuryadi)

SUKA ATAU TIDAK SUKA, HIDUP ANDA BERDAMPAK BAGI ORANG LAIN

Bahan renungan:

1 Timotius 4:16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Dalam bahasa moderen kalimat di atas berkata, “Jadilah teladan, supaya hidup kita dihormati dan orang lain diberkati.”

(Baca juga: YESUS DATANG UNTUK MEMISAHKAN KITA DARI HAL YANG BURUK)

Seringkali kita berpikir, tidak masalah kita berkata-kata atau bertingkah laku seenaknya, hal tersebut bukan urusan orang lain. Padahal, apa pun yang kita lakukan, cepat atau lambat, pasti memengaruhi orang lain yang ada di sekitar kita. Sayang sekali jika kita memberikan pengaruh buruk atau negatif kepada orang-orang terdekat kita, sementara Tuhan menciptakan kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Jika kita menyadari bahwa kita berharga di mata Tuhan, kita pasti melakukan dan mengatakan hal-hal yang berharga. Kehidupan kita yang berharga tersebut dapat mengubahkan kehidupan orang lain yang rusak, buruk, atau sedang dalam masalah.

Teman, peristiwa atau masalah yang terjadi pada orang-orang yang kita kenal adalah kesempatan kita menunjukkan Kristus. Jika kita hidup di dalam kebenaran Firman Tuhan, teladan dan kesaksian hidup kita dapat menyelamatkan banyak orang.

(Baca juga: TUHAN SEDIAKAN BERKAT TERBAIK, JANGAN PUAS DENGAN YANG KEDUA TERBAIK)

Suka atau tidak suka, kita memegang peran penting terhadap kehidupan orang-orang di sekitar kita. Sungguh sebuah kebanggaan dan kehormatan jika melalui gaya hidup kita, orang lain dapat mengenal Kristus. (penulis: @mistermuryadi)

YUK, KITA MEMBERIKAN KESAKSIAN

Bahan renungan:

Wahyu 12:10 Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. 11a Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka.”

“Siapa yang ingin memberikan kesaksian?” Ini pertanyaan yang sering sekali dilontarkan oleh pemimpin pujian saat ibadah atau persekutuan. Dan respons jemaat biasanya cenderung diam atau saling menunjuk satu sama lain. Teman, seharusnya bersaksi adalah momen yang menyenangkan bagi anak-anak TUHAN, karena kesaksian kita dapat mengalahkan iblis.

(Baca juga: TUHAN ITU PENYAYANG, PENGASIH, PANJANG SABAR, DAN SETIA)

Kesaksian kita dapat membuat orang yang mendengarnya percaya bahwa janji Firman Tuhan itu nyata dan dapat terjadi kepada semua orang. Namun kebanyakan orang menunggu sesuatu yang “besar” terjadi, seperti mendapat bonus ratusan juta atau sembuh dari penyakit yang berat. Padahal kita bisa memberikan kesaksian untuk peristiwa yang kelihatannya kecil, seperti sembuh dari flu, batuk, atau keseleo. Ya, itu pun adalah mukjizat.

(Baca juga: PENGHARAPAN (BAG. 03): KEPADA SIAPA KITA SEHARUSNYA BERHARAP?)

Saya masih teringat ketika TUHAN menyembuhkan saya dari alergi sabun, alergi makan daging, bisul, dan jerawat yang sangat banyak, belasan tahun yang lalu. Sampai hari ini saya masih bersaksi tentang hal tersebut. Teman, percayalah kesaksian Anda, tidak peduli “kecil” atau “besar”, dapat memberikan jalan keluar dan jawaban bagi mereka yang membutuhkan. (penulis: @mistermuryadi)

TUGAS SEORANG SAKSI ADALAH BERSAKSI

Bahan renungan:

Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Teman, satu-satunya cara untuk membangkitkan IMAN seseorang adalah ketika orang tersebut mendengarkan Firman Kristus. Dan cara paling cepat agar seseorang mendengarkan Firman Kristus adalah dengan menceritakannya kepada orang tersebut .

Ya, adalah tugas kita untuk menceritakan KABAR BAIK (Firman Kristus) kepada banyak orang di luar sana. Mereka perlu mendengar KABAR BAIK yang keluar dari mulut Anda.

(Baca juga: SATU-SATUNYA CARA AGAR ORANG LAIN MENDENGAR TENTANG YESUS)

Suatu hari YESUS katakan, “Kamu akan menjadi saksiKU di Yerusalem, di seluruh Yudea, dan Samaria, dan sampai ke ujung Bumi.” Tugas seorang saksi adalah bersaksi, menceritakan hal-hal yang dia alami, dia lihat, dan dia dengar. Seorang saksi di pengadilan tidak boleh berdiam diri, dia perlu menceritakan sesuatu.

Itu sebabnya hari ini saya ingin katakan bukan doa yang mengubahkan kehidupan seseorang. Doa mengubahkan kehidupan kita dan doa memberikan kita keberanian untuk pergi menceritakan KABAR BAIK kepada mereka yang membutuhkan.

Tahukah Anda bahwa satu-satunya penyalur KABAR BAIK di dunia ini hanyalah orang-orang yang percaya kepada karya penebusan Tuhan YESUS? Yang artinya jika Anda tidak menceritakannya kepada orang-orang terdekat Anda mengenai YESUS, kemungkinan besar mereka tidak akan mendengarnya lagi dari orang lain di luar sana.

(Baca juga: TUHAN JANJIKAN YANG BESAR, HARAPKAN YANG BESAR)

Teman, kita perlu memberitakan KABAR BAIK. Dunia ini butuh KABAR BAIK, keluarga Anda butuh KABAR BAIK, rekan-rekan kantor dan bisnis Anda butuh KABAR BAIK. Karena hanya melalui KABAR BAIK, mereka dapat menemukan damai, sukacita, kelepasan, kelegaan, kesembuhan, berkat, dan kelimpahan yang sejati. (penulis: @mistermuryadi)