TUHAN MENYEDIAKAN BANYAK, MENGAPA KITA HANYA MENGHARAPKAN SEDIKIT?

Bahan renungan:

Efesus 1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

Sebagai Pribadi yang menyandang predikat KASIH, memberi adalah sifat Tuhan yang paling utama. Itu sebabnya adalah kesukaan Tuhan untuk menyenangkan kita dengan segala kebaikan dan kemurahan-Nya. Tuhan ingin kita, setiap anak-anak-Nya, menikmati segala yang baik yang Dia sediakan.

(Baca juga: MEMBERI ADALAH BUKTI DARI KASIH)

Tuhan sangat senang jika kita memercayai dan mengharapkan janji-Nya, karena itu merupakan tanda kita bergantung hanya kepada-Nya. Jika Tuhan adalah maha pemberi, mengapa kita hanya mengharapkan sedikit dari-Nya? Mengapa kita takut mengharapkan yang besar dari-Nya?

Ada seorang jemaat yang saya layani menjual jamu. Selama berjualan, dia selalu berpikir bahwa mengharapkan memiliki mobil dan rumah itu terlalu berlebihan. Baginya, asal dapat rezeki cukup untuk makan dan minum saja sudah bagus. Sampai akhirnya dia mendengar kabar baik bahwa Tuhan menyediakan hal yang besar baginya dan Tuhan sangat ingin hidupnya diberkati dan menjadi berkat bagi banyak orang. Sekarang, dia berani mengharapkan yang besar untuk bisnis dan hidupnya.

(Baca juga: TINGGALKAN KETERBATASAN DAN KETIDAKPERCAYAAN ANDA)

Teman, jangan berpikir Tuhan akan keberatan jika kita mengharapkan yang besar dari-Nya. Justru sebaliknya, Tuhan disenangkan. Tuhan senang ketika anak-anak-Nya bergantung dan berharap hanya kepada-Nya, dan tidak kepada yang lain. Harapkan sesuatu yang besar untuk keluarga, pelayanan, pekerjaan, bisnis, atau studi kita hari ini, karena Tuhan menyediakan yang besar bagi kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

TEOLOGI MENYESATKAN: “TUHAN YANG MEMBERI, TUHAN YANG MENGAMBIL”

Bahan renungan:

Ayub 1:21b “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Kalimat di atas pasti tidak asing bagi Anda, khususnya ketika Anda berada ke sebuah ibadah pemakaman. Banyak orang percaya mengutipnya setiap kali mengalami kehilangan orang-orang atau sesuatu yang mereka kasihi.

Dan parahnya, akibat dari itu semua, banyak orang mempercayai bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mengambil. Sejauh yang dimaksud adalah Tuhan mengambil semua yang buruk dari hidup kita, saya setuju. Tetapi jika yang dimaksud adalah Tuhan mengambil sesuatu yang baik dari kita, atau dengan kata lain, DIA memberikan yang buruk kepada kita, saya tidak setuju. Ironisnya, definisi kedua yang paling banyak diyakini.

Padahal, jika Anda mempelajari nama-nama Tuhan, seperti Jehovah Jireh, El-Shaddai, Jehovah Rapha, Jehovah Tsidkenu, Jehovah Shalom, dan lain sebagainya, tidak ada satu pun nama Tuhan yang diartikan mengambil. Semuanya adalah tentang Tuhan yang memberi, menyembuhkan, menyediakan, memulihkan, memelihara, menuntun, dan lain sebagainya.

Baiklah, kalimat di atas dicetuskan oleh Ayub ribuan tahun lalu, dan dipopulerkan oleh hamba-hamba Tuhan di ibadah-ibadah pemakaman. Karena kalimat ini seperti memiliki rima di telinga, akhirnya dengan mudah melekat di hati banyak orang.

Bagaimana dengan kebenarannya? Apakah benar Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil?

Anda perlu tahu bahwa ketika melontarkan kalimat ini, kondisi Ayub sedang depresi dan yang paling fatal, saat itu Ayub hanya mengenal Tuhan dari kata orang saja. Anda perlu membalik halaman Alkitab Anda ke Ayub 42:5-6. Di sana dituliskan Ayub merevisi perkataannya, dikatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku MENCABUT perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Teman, Ayub sudah menyesali opini-opininya yang salah tentang Tuhan, termasuk perkataannya mengenai, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil.” Di akhir cerita, Ayub menyadari bahwa Tuhan bukanlah Tuhan yang mengambil, melainkan Tuhan yang memberi. Dan, kita tahu kisah Ayub berakhir dnegan happy ending, kehidupannya dipulihkan.

Pertanyaan saya, sementara Ayub saja sudah tersadar akan kekeliruan perkataannya, kenapa banyak di antara kita masih berpikir Tuhan yang mengambil? Bukankah Tuhan telah membuktikan bahwa DIA Maha Pemberi dengan cara memberikan AnakNYA yang tunggal? Jika demikian, bagaimana mungkin kita masih mengatakan bahwa DIA adalah Tuhan yang mengambil? (penulis: @mistermuryadi)

TUHAN ADALAH PRIBADI YANG MAHA PENYAYANG

Bahan renungan:

Mazmur 103:8 TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Sejak kecil kita mungkin sering mendengar seseorang mengatakan, “Kalau kamu berbuat baik, Tuhan sayang kepadamu, namun kalau kamu jahat, Tuhan akan marah dan menghukum kamu.” Karena pemikiran ini akhirnya banyak orang percaya mulai hidup di dalam ketakutan terhadap TUHAN. Akibatnya, seringkali mereka datang ke gereja atau persekutuan namun tidak merasakan kebaikan dan kemurahan Tuhan (kesembuhan, berkat, pemulihan).

Saat ada sakit penyakit atau ada masalah, sering kali orang-orang ini berkata, “Sepertinya Tuhan sedang menghukum saya karena dosa masa lalu saya” atau yang paling umum, “Ya, sepertinya Tuhan memang mengijinkan ini untuk mengajarkan saya kerendahan hati.”

Jika pikiran di atas pernah timbul di hati anda, hardik sekarang juga! Teman, Tuhan adalah kasih. Bagaimana mungkin cara menyatakan kasih adalah dengan menghukum atau memberikan yang buruk? Kita saja tidak mungkin lakukan hal tersebut kepada anak kita, bukan?

Tuhan mengasihi kita tidak berdasarkan sikap atau perbuatan baik kita kepadaNYA. Dia mengasihi kita karena DIA MEMUTUSKAN untuk mengasihi kita, tidak peduli siapa kita, apa yang kita lakukan, atau bagaimana latar belakang kita. “Apa buktinya?” Buktinya adalah DIA memberikan YESUS untuk kita.

Teman, Tuhan adalah Pribadi yang maha penyayang dan pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Dan DIA mengasihi Anda karena Anda adalah anak-anak kesayanganNYA. (penulis: @mistermuryadi)