CARA ANDA MUNGKIN BAIK, TETAPI CARA TUHAN PASTI JAUH LEBIH BAIK

Bahan renungan:

Ibrani 11:29 Karena iman maka mereka telah melintasi Laut Merah sama seperti melintasi tanah kering, sedangkan orang-orang Mesir tenggelam, ketika mereka mencobanya juga.

Jika mengandalkan pemikirannya sendiri, menurut Anda, apa yang dapat Musa lakukan untuk menghindar dari kejaran tentara Mesir, sementara Laut Merah menghadang di depan? Melakukan perlawanan terhadap tentara Mesir mungkin saja dapat membuahkan hasil, tetapi pasti akan menelan banyak korban jiwa dari sisi Bangsa Israel. Namun, Musa menanggalkan pemikiran dan pertimbangannya, dan memilih percaya kepada Tuhan. Tuhan memiliki cara yang jauh lebih baik. Tuhan membelah lautan. Dahsyat!

(Baca juga: MENGAPA TUHAN YANG BAIK MENURUNKAN AIR BAH DAN MENGHANCURKAN SODOM GOMORA?)

Yesaya 55:8-9 mengatakan, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Teman, mungkin saja cara Anda baik, tetapi cara Tuhan sudah pasti jauh lebih baik. Jika mengandalkan cara pikir dan pertimbangan manusia, Nuh tidak akan sukses membangun bahtera di atas gunung, Daud tidak akan pernah menang melawan Goliat, Yosua tidak akan pernah menginjak Tanah Kanaan, dan Daniel tidak akan selamat dari gua singa. Namun, puji Tuhan semua tokoh di atas memilih untuk percaya kepada Tuhan daripada jalannya sendiri, sehingga mereka melewati semua masalah dengan keluar sebagai pemenangnya.

(Baca juga: MEMILIH PERCAYA TUHAN VS. MEMILIH JALAN SENDIRI (MAZMUR 91:15))

Saya ingin mengatakan bahwa memercayai Tuhan jauh lebih baik daripada memercayai diri sendiri. Hidup di dalam jalan-jalan Tuhan jauh lebih baik daripada hidup dalam jalan Anda sendiri. (penulis: @mistermuryadi)

Advertisements

JANGAN MENGANDALKAN MANUSIA

Bahan renungan:

Mazmur 146:3-4 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.

Mungkin secara singkat ayat di atas mengatakan, jangan mengandalkan manusia, karena manusia terbatas dan tidak dapat memberikan jaminan pasti. Amsal 3:5 menegaskan, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

(Baca juga: ORANG YANG PERCAYA FIRMAN TUHAN PASTI BERTINDAK!)

Satu-satunya alasan mengapa kita senang mengandalkan manusia, karena manusia dapat dilihat dan disentuh. Kita berpikir hal yang dapat dilihat dan disentuh jauh lebih nyata daripada janji-janji Tuhan. Juga, kita mengira proses mengandalkan manusia lebih cepat daripada mengandalkan Tuhan.

Padahal, Yesus menyembuhkan orang-orang yang sakit sangat parah dan membangkitkan orang mati hanya dalam seketika saja. Si wanita pendarahan yang sudah mencari kesembuhan selama 12 tahun disembuhkan saat itu juga ketika dia memutuskan percaya kepada Yesus.

Mengandalkan Yesus adalah jalan termudah, tercepat, dan teraman bagi jiwa kita, sedangkan mengandalkan manusia awalnya mungkin terlihat cepat, tetapi prosesnya selalu berliku-liku dan biasanya berakhir dengan mengenaskan.

(Baca juga: DI TENGAH KETAKUTAN, PANDANGLAH YESUS)

Yeremia 17:7 mengatakan bahwa orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapannya kepada Tuhan, hidupnya diberkati. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

CAMPUR TANGAN KITA MEMBUAT MASALAH MAKIN RUNYAM

Bahan renungan:

Yesaya 55:8-9 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Sewaktu kecil, ayah saya suka menasehati supaya saya jangan menjadi orang yang cepat menyerah. Mottonya adalah, “Coba dulu sebelum mengatakan tidak bisa.” Saya dilatih untuk mengerjakan segala sesuatu sendiri. Contohnya saat memperbaiki mainan yang rusak. Setelah beberapa saat saya mencoba mengutak-atik dan gagal, barulah ayah saya turun tangan, dan memberitahukan cara memperbaiki yang benar.

(Baca juga: KEMBALIKAN KATA “KRISTEN” KE AKARNYA)

Saya rasa banyak di antara kita memiliki pengalaman seperti itu. Kita dibiarkan terlebih dahulu mencoba menyelesaikan masalah, dan jika masalah tersebut memburuk, barulah orang tua kita turun tangan.

Namun, hal di atas tidaklah tepat jika kita pakai dalam kehidupan rohani Kristen. Tuhan tidak ingin kita mengutak-atik masalah kita dengan menggunakan cara kita. Tuhan ingin setiap kali kita bertemu dengan masalah, kita langsung mengandalkan cara-Nya.

Campur tangan kita sudah pasti membuat masalah semakin runyam. Cara dan pemikiran kita sangat berbeda dengan cara dan pemikiran Tuhan. Sejauh langit dari Bumi, kata Firman Tuhan. Saat kita berpikir untuk marah dan benci, Tuhan katakan ampunilah. Saat kita berpikir untuk sedih dan kecewa, Tuhan katakan bersukacitalah. Saat kita berpikir untuk takut dan kuatir, Tuhan katakan percayalah.

(Baca juga: APAKAH IMAN KITA DAPAT MENGGERAKKAN TUHAN?)

Saya percaya setiap orang memerlukan jalan keluar dari permasalahannya. Tuhan adalah sumber jalan keluar terbaik bagi kita. Teman, berhentilah turut campur tangan, berhentilah menggunakan kekuatan sendiri, dan berhentilah menggunakan pertimbangan-pertimbangan sendiri, dan mulailah percaya kepada apa yang Tuhan katakan. Semata-mata supaya masalah Anda lekas selesai dan Anda kembali menikmati hidup indah yang Tuhan anugerahkan. (penulis: @mistermuryadi)

TIDAK PERLU BERLEBIHAN MERESPONS MASALAH ANDA

Bahan renungan:

2 Raja-raja 6:15-16 Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.”

Kota tempat Elisa dan bujangnya tinggal dikepung oleh Bangsa Aram. Elisa dan bujangnya menghadapi masalah antara hidup dan mati. Namun, kedua orang ini memiliki cara pandang yang berbeda tentang masalah. Karena berpegang pada dua hal berbeda.

(Baca juga: JANGAN LARI DARI MASALAH, HADAPI!)

Di mata orang sang bujang, mereka akan segera mati. Sang bujang merasa masalah yang mereka hadapi lebih besar dari kekuatan mereka. Sang bujang ketakutan dan mungkin sudah bersiap untuk mengangkat bendera putih. Elisa berbeda. Elisa tidak melayangkan pandangannya kepada masalah. Dia melihat kepada sesuatu yang lain, yaitu Tuhan. Di mata Elisa, yang menyertai dirinya lebih banyak dari pada musuh yang mengepungnya. Elisa tidak ketakutan. Elisa tidak membiarkan situasi mengambil alih hidupnya.

Teman, Anda bisa berada di dalam satu atap yang sama, menghadapi masalah yang sama, tetapi Anda bisa memiliki cara pandang yang berbeda terhadap masalah tersebut. Daud dan Saul bertemu musuh yang sama, yaitu Goliat. Saul katakan raksasa terlalu kuat, Daud katakan cukup satu batu. Dua belas pengintai pun demikian ketika mereka melihat Tanah Kanaan. Sepuluh orang mengatakan akan mati, dua orang mengatakan pasti menang.

(Baca juga: ANDA LEBIH BERHARGA DARI BURUNG PIPIT)

Terkadang kita berlebihan merespons masalah-masalah kita. Kita tergoncang ketakutan, kecewa kepada Tuhan, kepahitan, sementara ada orang-orang di luar sana yang mengalami masalah lebih besar dan lebih banyak, tetapi tetap dapat bersukacita. Pandang masalah Anda sesuai porsinya. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 10:13 mengatakan bahwa masalah kita tidak ada yang luar biasa, tidak ada yang melebihi kekuatan kita. Tidak lebih besar dari Yesus yang tinggal di dalam Anda. (penulis: @mistermuryadi)

BERSAMA TUHAN LAKUKAN PERKARA GAGAH PERKASA

Bahan renungan:

1 Samuel 18:28 Lalu mengertilah Saul dan tahulah ia, bahwa TUHAN menyertai Daud, dan bahwa seluruh orang Israel mengasihi Daud.

Kemenangan Daud atas Goliat adalah peristiwa yang sungguh mencengangkan. Namun, ternyata ada yang lebih dahsyat lagi, Daud berhasil mengubah kehidupan 400 orang yang berada di gua adulam, gua yang menjadi tempat pelarian para tukang hutang, orang-orang sakit hati, dan yang di dalam kesukaran (1 Samuel 22:1-2). Tidak berhenti di sana, Daud membunuh empat raksasa lain selain Goliat (2 Samuel 21:22).

(Baca juga: TUHAN MEMBERIKAN KITA JALAN KELUAR, BUKAN MENCOBAI KITA)

Sungguh menakjubkan, bukan? Teman, apa yang Daud lakukan adalah bukti nyata kehidupan seseorang yang mengandalkan Tuhan. Saat Anda percaya kepada Yesus, Tuhan yang sama yang menyertai Daud kini tinggal di dalam kita. Saya percaya, sama seperti Daud, kita pun diciptakan untuk melakukan perkara-perkara luar biasa.

Adalah takdir setiap orang percaya untuk menjadi garam dan terang dunia, menjadi kepala bukan ekor, dan berhasil dalam segala hal.

(Baca juga: KETIKA KEMBALI KE RUMAH BAPA, SI BUNGSU DIPULIHKAN)

Kita perlu berhenti membatasi Tuhan dengan perkataan pesimis kita: tidak bisa, tidak mampu, tidak sanggup. Semestinya kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulut orang percaya. Jika Anda menyadari Siapa yang berjalan bersama dengan Anda, saya percaya, tidak ada yang tidak dapat Anda lakukan. Tidak ada badai yang terlalu besar untuk Anda redakan dan tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk Anda daki. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

TONGKAT MUSA VS. TONGKAT TUHAN

Bahan renungan:

Keluaran 4:1-2 Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat.”

Musa tumbuh sebagai Pangeran, calon pewaris kerajaan Mesir. Ketika Tuhan memanggil Musa, dia mencoba membebaskan Bangsa Israel dengan caranya sendiri. Musa gagal, dan dia melarikan diri ke padang gurun selama 40 tahun.

(Baca juga: ANDA LEBIH BERHARGA DARI BURUNG PIPIT)

Musa kehilangan segalanya, tetapi kegagalan Musa tidak membuat rencana Tuhan gagal dalam hidup Musa. Tuhan adalah Tuhan yang setia terhadap janji-Nya. Dia kembali memanggil Musa untuk membebaskan Bangsa Israel dari perbudakan. Kali ini pola pikir Musa sudah berbeda. Musa sudah siap. Musa tidak lagi mengandalkan dirinya, melainkan Tuhan. Terbukti dari betapa patuhnya Musa ketika Tuhan memerintahkan Musa untuk menangkap ekor ular (ayat 4).

Tinggal selama 40 tahun di padang gurun tentu membuat Musa tahu cara menangkap ular yang benar, yaitu dengan memegang kepalanya. Memegang ekor ular sama saja memberikan ular itu kesempatan untuk menggigit. Namun, Musa memilih percaya kepada perintah Tuhan, daripada mengandalkan logikanya sendiri.

Tuhan memulai rencana-Nya yang besar dengan sebuah pertanyaan untuk Musa, “Apakah yang di tanganmu itu?” Musa menjawab: “tongkat”. Ya, hanya tongkat saja yang tersisa setelah Musa turun takhta sebagai Pangeran Mesir. Namun, hal itu sudah cukup bagi Tuhan. Ketika Musa menyerahkan tongkatnya kepada Tuhan, tongkat yang biasanya dipakai menggembalakan kawanan domba berubah tongkat yang membebaskan dua juta Bangsa Israel dan membelah lautan. Dahsyat!

(Baca juga: BERHENTILAH MENDENGARKAN SUARA GOLIAT)

Hal yang sama ketika hidup kita dipimpin Tuhan. Ketika kita hanya memiliki sedikit, berikanlah kepada Tuhan, Dia akan menjadikan besar, bahkan sangat besar. Hidup kita terbatas, tetapi ketika kita memberikan kepada Tuhan, kita dapat melakukan hal-hal yang gagah perkasa. (penulis: @mistermuryadi)

KE MANA MATA ANDA MELIHAT KETIKA ADA MASALAH?

Bahan renungan:

Yohanes 11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepadaMu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.”

Ketika YESUS hidup di dunia, YESUS tidak lepas dari masalah. YESUS juga menghadapi tekanan, pergumulan, dan masalah, sama dengan Anda dan saya. Namun, yang berbeda adalah cara YESUS merespons masalah-masalah tersebut. Saat masalah datang, mata YESUS tidak melihat kepada masalah, DIA memilih untuk menengadah ke atas, melihat kepada janji Bapa.

(Baca juga: HIDUP KARENA PERCAYA, BUKAN KARENA MELIHAT)

Anda bisa menemukan beberapa kisah di mana YESUS menengadah ke atas. Di Markus 6:41, YESUS menghadapi masalah dengan lima ribu orang yang kelaparan, di Markus 7:34 YESUS menghadapi seseorang yang bisu dan tuli, lalu di Yohanes 14:41 YESUS menghadapi kematian Lazarus.

Jika Anda membacanya, maka Anda akan tahu bahwa perkara-perkara yang YESUS hadapi bukanlah perkara biasa. Ketiga perkara ini setidaknya berpotensi untuk membuat YESUS stres atau merasa tertekan. Tapi sekali lagi, di tengah masalah, YESUS memilih untuk mengarahkan mataNYA kepada janji BapaNYA.

(Baca juga: APA BENAR AIDS, KANKER, DAN TUMOR BELUM ADA OBATNYA?)

Teman, bagaimana dengan Anda? Ke mana Anda mengarahkan pandangan Anda ketika masalah datang? Jika Anda melakukan yang sama seperti yang YESUS lakukan, Anda akan mendapatkan hasil yang sama dengan yang YESUS dapatkan. Dalam ketiga peristiwa di atas, YESUS memberi makan lima orang tersebut, bahkan sisanya 12 bakul; YESUS menyembuhkan orang yang berpenyakit bisu dan tuli; dan YESUS membangkitkan Lazarus. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)