HENDAKLAH KITA MURAH HATI, SEPERTI BAPA SORGAWI

Bahan renungan:

Lukas 6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.

Murah hati adalah salah satu sifat dari Tuhan. Dia adalah Tuhan yang tidak pernah menahan kebaikan-Nya dan Tuhan yang senantiasa menyediakan yang terbaik bagi kita yang dikasihi-Nya. Sebagai anak-anak-Nya, penting bagi kita untuk mencerminkan karakter Bapa kita di Sorga.

(Baca juga: TUHAN TAHU GAMBARAN BESAR MENGENAI HIDUP KITA)

Murah hati tidak hanya berbicara mengenai memberikan uang atau barang, tetapi juga tenaga dan waktu. Ketika ada seseorang yang membutuhkan bantuan, entah apa pun itu, kita terdorong untuk terlibat di dalamnya.

Mumpung kita sedang membahas topik mengenai murah hati, hari ini saya ingin memberikan apresiasi sebesar-besarnya bagi para donatur yang selama ini begitu murah hati kepada blog hagahtoday. Saya tidak dapat menyebutkan satu per satu nama mereka, tetapi Anda dapat melihatnya nama-nama mereka di tautan ini — donatur

Pemberian para donatur di atas telah memungkinkan blog ini berjalan tanpa gangguan iklan yang tidak jelas. Kemurahan hati mereka telah memberikan dampak positif, bukan hanya bagi segelintir orang, tetapi bagi semua orang yang membaca blog ini. Saya merasa memiliki rekan sekerja dalam memberitakan kebenaran melalui blog ini. Sekali lagi, saya sangat bersyukur.

(Baca juga: SEKALIPUN DUNIA SEDANG KRISIS, ANAK TUHAN AKAN TETAP NAIK)

Jadilah orang yang murah hati, bukan mementingkan diri sendiri. Dunia ini membutuhkan lebih banyak orang yang mau berbagi dengan sesamanya. Dengan cara itulah, nama Yesus dapat disebarkan dan dimuliakan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

TUHAN CIPTAKAN KITA UNTUK MELAKUKAN PERBUATAN BAIK

Bahan renungan:

2 Tesalonika 3:13 Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.

Saya sangat percaya bahwa Tuhan menciptakan kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Kita tidak didesain untuk melakukan kejahatan atau hal-hal yang buruk. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang hal-hal yang terjadi di dalam hidup kita membuat kita lelah atau trauma untuk berbuat baik.

(Baca juga: HATI-HATI TERHADAP ORANG-ORANG SEPERTI INI)

Hari ini saya ingin meneguhkan kita semua agar tidak membiarkan peristiwa-peristiwa yang buruk yang pernah kita alami menghentikan diri kita dari berbuat baik.

Yesus tidak berhenti berbuat baik, sekalipun banyak orang menyalahgunakan kebaikan-Nya. Yesus tidak berhenti berbuat baik hanya karena Dia pernah mengalami hal yang buruk di dalam hidup-Nya. Yesus adalah contoh, sekaligus motivasi yang tepat, agar kita senantiasa berbuat baik.

(Baca juga: MENGELUH MERUGIKAN HIDUP ANDA)

Saya akan menutup dengan mengutip perkataan Yesus dari Lukas 6:35-36, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

PERLAKUKAN ORANG LAIN SEBAGAIMANA ANDA INGIN DIPERLAKUKAN

Bahan renungan:

Lukas 6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Sungguh sesuatu yang menyenangkan memiliki Tuhan Yesus di tengah dunia yang gelap ini. Sekalipun kita jatuh atau gagal, kita tahu ada Satu Pribadi yang senantiasa mengasihi kita tanpa syarat. Namun, berbeda halnya dengan dunia ini. Dunia tidak memperlakukan kita seperti Tuhan memperlakukan kita. Orang-orang di dunia, khususnya mereka yang tidak mengenal Tuhan, hanya akan memperlakukan kita spesial, jika kita memperlakukan mereka spesial. Kita mengenal istilah ini dengan hukum tabur tuai.

(Baca juga: PERHATIKAN SUMBER NASIHAT ANDA)

Itu alasannya Firman Tuhan mengajarkan kepada kita perbuatan baik, karena teman sekolah, rekan bisnis, atau rekan kerja hanya akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka. Jika kita dingin, kasar, pemarah, mudah tersinggung, suka berbicara kotor, atau suka memanfaatkan orang lain, jangan heran dan jangan kesal jika orang lain melakukan hal sama kepada kita.

Ada orang-orang yang saya kenal tidak suka jika pesan whatsapp-nya tidak dibalas, sedangkan dia sendiri seringkali hanya membaca pesan whatsapp dari orang lain dan sama sekali membalasnya. Juga, ada orang-orang yang senang berbicara kasar dengan alasan mereka lebih suka berbicara apa adanya, tetapi mereka tersinggung jika orang lain berbicara kasar kepada mereka.

Begini hukumnya. Jika ada orang yang memperlakukan kita buruk berulang kali, kita perlu berkaca, karena hampir dapat dipastikan hal tersebut terjadi akibat kita terlebih dahulu memperlakukan orang lain buruk.

Harus saya akui tidak semua orang akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka. Saya mengenal orang-0rang yang suka membalas kejahatan dengan kebaikan, tetapi jumlahnya hanya sedikit sekali.

(Baca juga: FIRMAN TUHAN ADALAH GPS TERBAIK)

Terlepas dari imbalan berbuat baik yang menggiurkan, saya mengajak kita semua menjadi orang-orang yang menjunjung tinggi perbuatan baik, karena hanya dengan cara demikianlah dunia dapat melihat Yesus melalui hidup kita. Saat kita menampilkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23), pada dasarnya kita sedang menunjukkan Yesus kepada dunia ini. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KASIHILAH MUSUHMU

Bahan renungan:

Matius 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Sang Sumber Kasih tinggal di dalam hati kita. Kasihlah yang membedakan kita dengan dunia. Kasih yang membuat dunia dapat melihat bahwa Yesus itu hidup dan nyata.

(Baca juga: APA KEGUNAAN DOA JIKA TUHAN SUDAH TAHU YANG INGIN KITA DOAKAN?)

Ketika datang ke dunia, Yesus tidak membawa ajaran Kristen. Yesus datang untuk mengajarkan tentang kasih dan Dia mengajarkannya dengan cara mengorbankan Diri-Nya di atas kayu salib.

Apa yang Yesus lakukan di kalvari berteriak lebih kencang daripada semua kata-kata yang pernah Dia ucapkan selama Dia hidup. Pengorbanan-Nya adalah bukti bahwa kasih yang Yesus ajarkan bukanlah sebatas kata-kata manis di bibir, melainkan sebuah tindakan yang aktif.

Kcenderungan kita adalah menghindari musuh. “Ya, saya sudah mengampuni dia, tetapi saya tidak mau lagi berurusan dengan dia,” “Saya sudah melupakan semua perbuatannya, tapi jangan harap saya dapat kembali bersahabat dengannya.” Kita cenderung menghindari orang-orang yang kita anggap sebagai musuh. Namun, Yesus jelas mengatakan, “Kasihilah musuhmu …”

(Baca juga: KASIH KITA KEPADA SESAMA YANG MEMBUAT DUNIA MELIHAT YESUS)

Jika ada orang-orang yang paling mudah mengampuni dan paling murah hati di dunia ini, seharusnya itu adalah kita. Bapa yang kita sembah adalah Bapa yang penuh kasih dan murah hati. Sebagai anak-anak-Nya, saya percaya, semestinya, demikian jugalah kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KEKRISTENAN ADALAH TENTANG MENUNJUKKAN KASIH

Bahan renungan:

1 Yohanes 4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.

Ketika kita memutuskan untuk menjadi orang percaya dan mendeklarasikan kepada orang-orang sekeliling kita, seketika itu juga kita memiliki tanggung jawab besar di dunia ini. Sebagai pengikut Kristus, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, dunia akan menuntut Anda untuk memiliki kasih.

(Baca juga: KEKRISTENAN ADALAH TENTANG HUBUNGAN DENGAN BAPA)

Dunia tidak peduli Anda hafal Alkitab atau tidak, rajin ke gereja atau tidak, yang mereka pedulikan adalah apakah Anda menunjukkan kasih atau tidak. Anda tahu kenapa? Karena Yesus datang untuk menyebarkan kasih bagi dunia ini. Kasih adalah “produk” yang Yesus gunakan dan publikasikan sepanjang hidup-Nya. Bagi dunia, setiap orang percaya dianggap sudah mengerti akan hal ini, bahwa memutuskan menjadi pengikut Yesus artinya memutuskan untuk mengenakan “pakaian” kasih setiap hari.

Mahatma Gandhi pernah mengatakan, “Saya mencintai Kristus, bukan orang Kristen, karena orang Kristen tidak seperti Kristus yang mereka sembah,” saat dia ditolak masuk ke gereja karena warna kulitnya di Afrika Selatan.

Ketika seseorang mendebat ayat-ayat Firman Tuhan, apakah Anda merespons dengan kasih atau malah balik mendebat orang tersebut? Ketika ada seseorang berbuat salah, apakah Anda merespons dengan kasih atau menuduh orang tersebut menggunakan ayat Firman Tuhan? Yang saya ingin katakan adalah respons kita sangat penting. Apakah kita merespons segala sesuatu dengan kasih atau dengan kegeraman, marah, atau kesal?

Anda tidak perlu menang dalam perdebatan ayat-ayat Alkitab atau pengajaran-pengajaran Kristen untuk menunjukkan Anda seorang Kristen. Juga, Anda tidak perlu menunjukkan kartu tanda penduduk atau gelang dan kalung salib untuk membuktikan Anda seorang Kristen. Anda hanya perlu menunjukkan kasih.

(Baca juga: JANGAN MEMBESAR-BESARKAN MASALAH)

Firman Tuhan dengan jelas memaparkan apa itu kasih dalam 1 Korintus 13:4-7. Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Tunjukkan kasih, maka dunia dapat melihat Yesus di dalam hidup Anda. (penulis: @mistermuryadi)

“KALAU SAYA KAYA NANTI, SAYA PASTI MEMBERI”

Bahan renungan:

Markus 12:43-44 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Kemarin kita telah belajar dari kisah-kisah luar biasa di Alkitab yang memberi dari kekurangan mereka. Dan, pemberian-pemberian terbaik yang Firman Tuhan tulisan justru bukanlah pemberian yang banyak yang diberikan oleh orang-orang kaya, melainkan pemberian yang sedikit yang diberikan oleh orang-orang yang berkekurangan. Saya bisa menyimpulkan bahwa Alkitab ingin kita belajar memberi dari kekurangan kita, bukan dari kelebihan.

(Baca juga: MEMBERI YANG TERBAIK DALAM KEKURANGAN)

Seusai konseling mengenai uang, pernah ada seseorang berkata kepada saya, “Koh Zaldy, saya janji di hadapan Tuhan bahwa kalau saya kaya nanti, saya pasti memberi dan saya pasti memberi dengan rutin.” Saya tersenyum kecil dan kembali mengajaknya berdiskusi selama 30 menit untuk menjelaskan apa yang akan Anda baca di bawah ini.

Teman, tahukah Anda bahwa mental memberi jika-saya-kaya-nanti pada dasarnya adalah bentuk ketidakpercayaan Anda terhadap janji Tuhan?

(Baca juga: DILEMA MENCERITAKAN KEBENARAN TENTANG MEMBERI)

Mungkin Anda bingung dengan pernyataan saya, tapi ini kebenarannya. Pada dasarnya, jauh di dalam pikiran orang yang mengatakan “jka saya kaya nanti, saya pasti memberi” adalah ini: “Seandainya janji Tuhan tidak terjadi dalam hidup saya; seandainya 30, 60, atau 100 kali lipat itu tidak nyata; atau seandainya saya menabur, namun uang saya tidak berlipatkaliganda, saya tidak masalah. Karena semua kebutuhan saya sudah tercukupi.” Anda mengerti maksud saya? Orang-orang yang berpikir “jika saya kaya, saya pasti memberi” adalah orang-orang yang berkata tidak masalah jika janji Tuhan tidak terjadi. (penulis: @mistermuryadi)

KARENA MEMBURU UANG, ORANG MENINGGALKAN IMANNYA

Bahan renungan:

1 Timotius 6:10 Uang adalah akar dari segala kejahatan. Sebab oleh memburu uanglah, beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai duka.

Ada dua pandangan yang berbeda bagaimana dunia dan Firman Tuhan menilai tentang uang. Firman Tuhan katakan uang adalah masalah terkecil (Lukas 16:9-11), sedangkan dunia menganggap uang adalah masalah yang sangat besar, bahkan untuk beberapa orang, uang jauh lebih penting dari keluarga atau pun hidupnya. Itu sebabnya banyak orang memburu uang, meninggalkan imannya demi uang, dan rela menyiksa diri demi uang.

(Baca juga: KUNCI KEMENANGAN UNTUK LEPAS DARI MASALAH FINANSIAL)

Saya percaya Tuhan ingin kita menyadari bahwa uang bukanlah segalanya dan bahwa uang bukanlah sumber kehidupan kita. Amsal 10:22 berkata, “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.”

Untuk membuktikan bahwa Anda bukanlah seorang yang memburu uang atau orang yang rela melakukan apa pun demi uang, Anda perlu menjadi seorang yang berani memberi. Karena ketika Anda memberi, Anda sedang membuat sebuah pernyataan bahwa Anda lebih mempercayai Tuhan ketimbang uang, Anda lebih mempercayai janjiNYA mengenai masa depan yang indah dari pada ketakutan atau pun kekuatiran Anda.

(Baca juga: JANJI TUHAN JAUH LEBIH NYATA DARI MASALAH ANDA)

Teman, terkadang tidak perlu seorang ateis untuk meyakinkan kita bahwa Tuhan itu tidak ada, kadang hanya karena uang, orang bisa menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada. Contohnya adalah orang-orang yang takut memberi persembahan atau persepuluhan. Kenapa mereka takut memberi? Sederhana, karena mereka takut kekurangan. Kenapa mereka takut kekurangan? Karena mereka tidak percaya bahwa ketika mereka menabur mereka akan menuai. Intinya, orang tidak berani memberi karena tidak percaya kepada janji Tuhan bahwa DIA akan memelihara dan menjamin masa depan mereka indah. (penulis: @mistermuryadi)