INILAH TUJUAN UTAMA YESUS DATANG KE DUNIA

Bahan renungan:

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Yohanes 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Yesus memiliki banyak tujuan datang ke dunia, seperti menggenapi Hukum Taurat dan nubuatan para nabi, menyiarkan kabar baik kepada orang miskin, menyatakan kasih Bapa, menebus dosa, menyelamatkan manusia, menanggung kutuk, dan lain sebagainya. Namun, itu semua bukan tujuan utama Yesus. Dua ayat di atas menunjukkan tujuan utama Yesus datang ke dunia ini, yaitu mengembalikan hubungan antara manusia dengan Bapa.

(Baca juga: DIA BUKAN TUHAN YANG JAUH DAN SULIT DITEMUI)

Kehidupan kekal yang dimaksud oleh Yohanes 3:16 seringkali diterjemahkan sebagai janji masuk Sorga. Padahal, jika dilihat dari penjelasan Yesus dalam Yohanes 17:3, kehidupan kekal yang dimaksud Rasul Yohanes adalah tentang mengenal Bapa dan Yesus.

Dosa telah menjadi “pihak ketiga” dalam hubungan antara Tuhan dan manusia. Dosa telah memikat, menipu, dan menjebak manusia, membuat manusia pergi menjauh dari Tuhan, dan akibatnya, manusia menderita. Dosa telah merasuk dan merusak sedemikian rupa hati dan pikiran manusia. Itu sebabnya, Yesus datang, lahir dan mati menebus dosa di kayu salib, agar manusia dapat kembali intim dengan Sang Pencipta dan berucap, “Ya Abba, ya Bapa” kapan saja dan di mana saja.

Kita tidak diciptakan untuk hidup jauh dari Tuhan. Kita diciptakan untuk ada di dekat-Nya, karena kita berasal dari-Nya dan merupakan kepunyaan-Nya.

(Baca juga: JANJI TUHAN MANIS LEBIH MANIS DARI MADU)

Saya yakin, orang yang percaya kepada Yesus adalah orang yang sadar bahwa pengenalan Tuhan dan kebenaran-Nya jauh lebih berharga dan lebih menarik dari dosa. Waktu-waktu yang mereka miliki untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan, juga memuji dan menyembah-Nya, adalah waktu-waktu terbaik, bukan waktu sisa. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

JIKA YESUS SUDAH MENEBUS DOSA KITA, APAKAH KITA BEBAS BERBUAT DOSA?

Bahan renungan:

Roma 6:1-2 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?

Di blog ini, saya selalu membagikan mengenai kebaikan dan kemurahan Bapa yang tidak bersyarat. Bahwa kasih Bapa tidak berubah sekalipun kita jatuh ke dalam dosa. Bahkan, kita tahu bahwa Yesus memberikan nyawa-Nya bagi kita ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Dosa tidak mengurangi kasih Tuhan kepada kita.

(Baca juga: JEJAK MENDERITA BERSAMA KRISTUS)

Pertanyaannya, jika Tuhan selalu mengasihi kita, apakah itu berarti kita bebas berbuat dosa? Rasul Paulus menjawabnya dengan tegas, “Sekali-kali tidak”.

Yesus menebus kita dari dosa, karena Yesus tahu bahwa dosa sangat berbahaya bagi kehidupan kita. Dosa merugikan kita. Dia memberikan kita kuasa untuk menang atas dosa, bukan untuk hidup di dalam dosa.

Firman Tuhan mengatakan bahwa upah dosa adalah maut. Namun maut yang dimaksud bukan lagi hukuman dari Tuhan, karena sejak Yesus menebus dosa di atas kayu salib, dosa tidak lagi membuat Tuhan marah terhadap manusia.

Maut yang dimaksud akan datang dari orang-orang yang kita rugikan atau dari aparat keamanan, jika kita berurusan dengan hukum. Juga, tuduhan dan dakwaan iblis. Dosa membuat kita dicemooh dan direndahkan orang lain. Dosa membuat kita kehilangan integritas dan kepercayaan.

(Baca juga: HIDUP SESUAI CARA YESUS PASTI BERHASIL DAN BERUNTUNG)

Dosa tidak membuat Tuhan menjauh dari kita, tetapi dosa akan membuat kita menjauh dari Tuhan. Perlahan, tapi pasti. Itu alasan mengapa Paulus dengan tegas mengatakan supaya kita tidak hidup di dalam dosa. (penulis: @mistermuryadi)

YESUS MENEBUS DOSA DAN MENANGGUNG SAKIT PENYAKIT KITA

Bahan renungan:

Lukas 19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Kata “menyelamatkan” pada ayat di atas diambil dari bahasa Yunani ‘SOZO’. Seringkali kata “sozo” hanya diartikan diselamatkan dari dosa, dikeluarkan gelap kepada terang, atau diselamatkan dari neraka.

(Baca juga: DOA ORANG PERCAYA TIDAK BERTELE-TELE)

Padahal, kata “sozo” memiliki arti yang sangat dalam dan luas sekali. Bukan hanya diselamatkan, tapi juga disembuhkan dari penderitaan, dibuat menjadi sehat, dijadikan utuh kembali, diselamatkan dari hari penghakiman, dan ditolong dari bahaya atau kehancuran.

Dalam versi Bahasa Indonesia, Lukas 8:36 mengatakan, “Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu memberitahukan kepada mereka, bagaimana orang yang dirasuk setan itu telah diselamatkan (sozo).” Sedangkan, dalam versi King James ayat ini mengatakan, “They also which saw it told them by what means he that was possessed of the devils was healed (disembuhkan).”

Saat Yesus mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib, Dia bukan hanya menebus dosa kita, tapi juga menanggung segala penyakit kita. Jika hari ini kita memercayai bahwa air terjun pengampunan Tuhan terus mengalir, seharusnya kita juga percaya bahwa air terjun kesehatan Tuhan terus mengalir. Karena di hari yang sama, di peristiwa yang sama, di waktu yang sama Yesus menebus dosa, Dia menebus setiap sakit penyakit kita.

Kita tidak pernah berkata bahwa Tuhan mengijinkan kita berzinah supaya mengajar kita lebih menghargai pernikahan. Tentu saja itu bukan pernyataan yang alkitabiah. Sama tidak alkitabiahnya dengan mengatakan Tuhan mengijinkan sakit penyakit untuk mengajar kita rendah hati.

(Baca juga: INGATKAN DIRI ANDA AKAN KEBESARAN TUHAN)

Di mata Tuhan, penyakit dan dosa sama buruknya. Itu sebabnya Yesus menebus keduanya, karena Dia tidak hanya ingin kita hidup kekal di Sorga kelak, tetapi juga ingin kita hidup sehat selama di Bumi ini. (penulis: @mistermuryadi)

APAKAH ROH KUDUS AKAN PERGI KALAU KITA HUJAT?

Bahan renungan:

1 Korintus 6:17 Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.

Ketika Anda percaya kepada Yesus, roh Anda yang lama atau manusia lama Anda turut disalibkan bersama Kristus dan menjadi satu dengan Roh Kudus. Alkitab menyebutnya sebagai manusia baru (Kolose 3:10), ciptaan baru (2 Korintus 5:17), dan hati yang baru (Yehezkiel 36:26).

(Baca juga: ALASAN MENGAPA ANDA TIDAK MUNGKIN DITINGGALKAN ROH KUDUS)

Pada renungan kemarin, kita telah membahas bahwa Roh Kudus selamanya akan tinggal di dalam hati Anda, menyertai Anda, dan tidak akan pernah meninggalkan Anda. Tidak ada hal yang dapat Anda lakukan untuk membuat Roh Kudus meninggalkan Anda. Dosa atau perbuatan jahat Anda tidak akan membuat Roh Kudus meninggalkan Anda. Dia akan selalu bersama-sama dengan Anda dan bersaksi mengenai Yesus (Yohanes 15:26). Roh Kudus akan menuntun dan mengingatkan Anda kepada Yesus dan kebenaran-Nya (Yohanes 16:3).

Dulu, saya pernah mendengar sebuah pengajaran yang mengatakan bahwa Roh Kudus dapat pergi meninggalkan kita kalau kita menghujat-Nya? Mari kita bahas pernyataan yang diambil dari perkataan Yesus dalam Markus 3:29 dan Lukas 12:10. Secara garis besar Yesus mengatakan, “Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.”

Teman, perhatikan. Ayat di atas tidak ditujukkan untuk Anda, tetapi untuk orang-orang yang tidak percaya, meninggalkan, atau menolak Yesus. Orang yang percaya Yesus tidak mungkin menghujat Roh Kudus. Setiap orang yang percaya kepada Yesus telah menerima penebusan dan pengampunan dosa (Kolose 1:14) dan pasti diselamatkan (Roma 5:8-10, Roma 10:9-10). Alkitab menjaminnya. Jadi, ayat di atas bukan untuk kita, melainkan untuk mereka yang menolak atau meninggalkan Yesus.

“Bagaimana kalau saya pernah menghujat Roh Kudus, apakah Roh Kudus sudah pergi meninggalkan saya?”

Pertama, Anda perlu membedakan antara Roh Kudus meninggalkan Anda dengan Anda meninggalkan Roh Kudus. Itu dua hal yang berbeda. Yesus sendiri yang menjamin bahwa Roh Kudus, Sang Penolong dan Penghibur, akan menyertai kita dan diam di dalam kita selamanya (Yohanes 14:16-17). Roh Kudus tidak akan pernah meninggalkan kita. Lain ceritanya kalau Anda yang ingin pergi meninggalkan Roh Kudus.

(Baca juga: MEMILIKI HARAPAN MEMBUAT ANDA TIDUR NYENYAK)

Teman, jika Anda sedang pergi meninggalkan Tuhan, kembalilah, Bapa Sorgawi menantikan Anda. Dia rindu menyambut Anda seperti menyambut si bungsu yang hilang. (penulis: @mistermuryadi)

YESUS, SATU-SATUNYA TUHAN YANG BANGKIT DAN HIDUP

Bahan renungan:

Yohanes 20:6-7 Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.

Setidaknya ada 48 nubuatan mengenai Yesus di dalam Perjanjian Lama. Yesus menggenapi semuanya itu tanpa cacat sedikit pun. Hari ini kita merayakan kebangkitan-Nya. Kebangkitan-Nya merupakan sesuatu yang sangat vital dalam kehidupan orang percaya. Karena, jika Yesus tidak bangkit, kita masih hidup dalam dosa-dosa kita (1 Korintus 15:17). Jika Yesus tidak bangkit, di hari akhir zaman nanti, kita akan dihukum dan dihakimi.

(Baca juga: ADA KEHIDUPAN MELALUI PENUMPAHAN DARAH YESUS)

Bersyukurlah, 2000 tahun yang lalu, Yesus bangkit dan kubur batu itu telah kosong. Haleluya.

Kebangkitan Yesus merupakan bukti nyata bahwa Tuhan telah menerima korban Anak Domba yang tidak bercacat ini sebagai korban penebusan dosa sekali untuk selamanya.

Teman, Roma 6:23 mengatakan bahwa upah dosa adalah maut. Artinya, harus ada yang mati untuk membayar dosa-dosa kita. Semestinya kita yang mati dihukum akibat dosa dan pelanggaran kita, tetapi Yesus memberikan nyawa-Nya menggantikan kita. Sehingga hari ini kita dapat menikmati kehidupan yang penuh damai dan sukacita, dan memiliki jaminan untuk kehidupan yang kekal.

Di zaman Perjanjian Lama, dosa yang manusia lakukan lebih kuat dari domba atau kambing yang disembelih untuk penebusan dosa. Itu sebabnya domba atau kambing sembelihan itu tidak bangkit setelah dipersembahkan di mezbah. Namun, saat Yesus naik ke kayu salib, kali ini korban sembelihannya jauh lebih kuat dari pada seluruh dosa yang ada di dunia. Itu sebabnya Yesus bangkit.

(Baca juga: SETETES DARAH YESUS SANGGUP MENGHAPUS DOSA DUNIA)

Tidak ada Tuhan yang seperti Yesus, bangkit dari kematian dan hidup. Dari keyakinan dan kepercayaan yang saya ketahui, semua yang mengaku “tuhan” berakhir di liang kubur. Hanya Yesus yang bangkit. (penulis: @mistermuryadi)

KEUNTUNGAN HIDUP DI DALAM PERJANJIAN BARU

Bahan renungan:

Ibrani 9:15 Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.

Tidak tahu dengan Anda, yang pasti saya sangat bersyukur sekali hidup di dalam Perjanjian Baru, di mana YESUS telah menebus seluruh dosa dan pelanggaran kita. Kita tidak perlu membawa kambing atau domba ke rumah Tuhan untuk dijadikan korban penebus dosa. Anda dan keturunan Anda yang ketiga sampai yang keempat tidak perlu menanggung kutuk. Ya, YESUS telah menanggung segala yang buruk di atas kayu salib, supaya kita dapat menikmati semua yang baik.

Di perjanjian yang baru bagian kita adalah menerima bagian yang kekal yang telah Tuhan janjikan. Anda tidak lagi dituntut untuk memenuhi tuntutan Hukum Taurat karena YESUS telah menggenapinya (Matius 5:17) dan telah membatalkan segala perintah dan ketentuannya (Efesus 2:15).

Seseorang pernah bertanya kepada saya, apa untungnya mengetahui bahwa YESUS telah menebus seluruh dosa, menggenapi Hukum Taurat, dan tidak lagi menghukum atau mengutuk kita?

Pertama, Anda akan merasakan damai dan sukacita sejati, karena kini Anda tahu bahwa Tuhan ada di pihak Anda untuk mengasihi, menjaga, memelihara, dan memberikan kepada Anda masa depan yang indah dan penuh pengharapan. Sedangkan, seseorang yang hidup dalam Hukum Taurat cenderung “berjaga-jaga” karena takut akan hukuman Tuhan, dan bertanya-tanya kenapa Tuhan mengijinkan yang buruk terjadi.

Kedua, Anda jadi percaya diri. Saya berikan ilustasi untuk yang satu ini. Anggaplah ada dua orang, Jack dan John, yang sedang mencari pekerjaan. Keduanya telah mengirimkan lamaran ke 50 perusahaan dan semuanya ditolak. Jack diajari bahwa dia adalah hamba, dan Tuhan itu mengirimkan belalang pelahap, menyelidiki, menghukum, dan mengijinkan pencobaan untuk melatih hidupnya, sedangkan John diajari bahwa Tuhan itu penuh kasih dan telah menebus seluruh dosanya, dan memandangnya sebagai anak kesayangan.

Jack dan John menghadapi masalah yang sama, yaitu sama-sama mencari pekerjaan dan ditolak, namun keduanya akan menghasilkan pola pikir dan respons yang berbeda. Setelah 50 surat lamaran ditolak, Jack akan berpikir, “Tuhan mengapa Engkau mengijinkan ini terjadi, apa salah saya? Ya, saya sudah berusaha, tetapi sepertinya Tuhan belum bukan jalan,” sedangkan John akan berpikir, “Ya benar, saya sudah ditolak oleh 50 perusahaan. Tetapi saya yakin perusahaan yang ke 51 akan menerima saya, karena Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi saya.” Kira-kira siapakah Anda dalam cerita ini, Jack atau John? (penulis: @mistermuryadi)

KITA TIDAK BISA MENEBUS DOSA KITA SENDIRI

Bahan renungan:

 Kolose 1:14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.

Banyak orang percaya mengira bahwa perbuatan baik dapat menebus dosa. Contohnya, ketika seseorang melakukan dosa, kecenderungannya adalah menjauh sebentar dari gereja atau persekutuan, dan pada saat sudah merasa “bersih” barulah kembali lagi. Pada dasarnya ini adalah praktik “penebusan” diri sendiri. Mereka berpikir bahwa perbuatan baik mereka bisa membuat Bapa Sorgawi kembali menerima atau memandang layak mereka.

(Baca juga: Anda pikir dosa dapat menghalangi Anda dari kasih Bapa?

Teman, satu hal yang perlu Anda mengerti, YESUSlah penebus kita, bukan kita.

Ya, hanya ada satu TUHAN di dunia ini dan sudah jelas itu bukan Anda dan saya. Kita tidak bisa menebus dosa. Itu sebabnya jika kita berbuat dosa, yang kita lakukan adalah datang kepada Tuhan, mendekat kepadaNYA, bukan malah menjauh dariNYA sementara waktu.

(Baca juga: Dibenarkan dan dikuduskan oleh darah Yesus)

Hidup kita dikuduskan dan dibenarkan oleh karena darah YESUS, bukan karena perbuatan kita. Dosa kita diampuni bukan karena kita berbuat baik, tetapi karena DIA sangat mengasihi kita. Karena Tuhan ingin kita hidup di dalam janji-janjiNYA yang indah, bukan di dalam keterikatan dosa. (penulis: @mistermuryadi)