JANJI TUHAN MANIS LEBIH MANIS DARI MADU

Bahan renungan:

Mazmur 119:103 Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.

Kalimat “Manis lebih dari pada madu” di atas berbicara banyak hal bagi saya pribadi. Berikut yang saya dapatkan mengenai ayat di atas:

  1. Madu memiliki rasa.
    Rasa berbicara mengenai realita. Bahwa janji Tuhan itu nyata, bukan hanya sebuah angan-angan, harapan palsu, atau sesuatu yang bersifat mudah-mudahan. Anda dapat merasakan janji Tuhan, atau dengan kata lain, Anda dapat menikmatinya di dalam hidup Anda senyata Anda menikmati mobil yang Anda kendarai, uang yang Anda pakai untuk berbelanja, dan kue yang Anda makan.
  2. Madu yang manis.
    Bagi saya, kata “manis” di atas mematahkan teologi yang selama ini mengajarkan bahwa Tuhan adalah Pribadi mengijinkan kecelakaan, sakit penyakit, mati muda, dan kemiskinan untuk melatih kehidupan anak-anak-Nya. Manis berbicara mengenai hal yang baik dan menyenangkan. Tuhan yang saya kenal di dalam nama Yesus, tidak pernah merancangkan yang jahat bagi anak-anak-Nya. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan (Yeremia 29:11).

(Baca juga: ANDA INGIN BERUBAH? SEKARANGLAH WAKTUNYA!)

Saya suka sekali ayat di atas. Sangat menggambarkan betapa pasti dan luar biasa janji Tuhan bagi hidup kita yang percaya. Seperti saya pernah gambarkan bahwa janji Tuhan bagi anak-anak-Nya sepasti Matahari terbit dan terbenam setiap hari. (penulis: @mistermuryadi)

APAKAH SALAH JIKA KITA MENGHARAPKAN BERKAT DARI TUHAN?

Bahan renungan:

Mazmur 130:3 Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Beberapa waktu lalu ada beberapa hamba Tuhan yang mengatakan melalui social media bahwa mengharapkan tuaian saat menabur itu salah, karena itu merupakan praktik investasi, bukan memberi.

Mari kita cek kebenarannya sebelum kita memutuskan mana yang sesuai Firman Tuhan, mana yang tidak.

(Baca juga: TUHAN INGIN “MENGENYANGKAN” KITA DENGAN KEBAIKAN-NYA (MAZMUR 91:16))

Dalam 2 Korintus 9:6 Rasul Paulus mengatakan katakan jika kita menabur banyak, kita akan menuai banyak. Ayat ini tidak hanya berbicara mengenai menabur, tetapi juga menuai. Semakin banyak kita menabur, semakin besar tuaian yang dapat kita harapkan.

Jika Tuhan menjanjikan berkat bagi kita, sungguh tidak salah jika kita mengharapkan berkat Tuhan tersebut. Jika Tuhan ingin kita menikmati berkat-Nya, kenapa menolaknya?

“Oh, tetapi ayat di atas berbicara mengenai berharap kepada Tuhan, bukan kepada berkat-Nya?” Tentu saja kita tidak dapat mengharapkan berkat Tuhan kalau kita tidak percaya kepada Tuhan.

Ibrani 11:1 mengatakan iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan. Artinya, kita perlu menaruh pengharapan kita atas dasar iman, atau dengan kata lain, kebenaran Firman Kristus. Di mana ada iman, di sana tumbuh pengharapan.

Saya berikan contoh. Kita tidak dapat mengharapkan berkelimpahan melalui korupsi atau mencuri, karena dasar dari hal tersebut bukan iman kepada Yesus. Namun kita dapat mengharapkan tuaian saat menabur, karena dasar hal tersebut adalah kebenaran Firman Tuhan, seperti yang menjadi ayat renungan kita hari ini.

Satu contoh lagi. Anda tentu ingat kisah si wanita yang mengalami pendarahan 12 tahun. Ketika wanita percaya kepada Yesus dan mulai mendekat kepada Yesus untuk menjamah jumbai jubah-Nya, hal yang berikutnya muncul adalah pengharapan bahwa dia akan sembuh (Matius 9:21).

Apakah lantas salah jika si wanita pendarahan tersebut mengharapkan kesembuhan? Tentu saja tidak, karena dasar pengharapannya adalah percaya kepada Yesus.

(Baca juga: TUHAN MELEPASKAN KITA DARI JERAT (MAZMUR 91:3-4))

Jadi, tidak salah jika kita berharap tuaian besar saat menabur. Tuhan sendiri yang menjanjikannya untuk kita. Justru adalah kesalahan ketika kita menabur tanpa mengharapkan tuaian, karena itu sama artinya kita memberi tanpa beriman kepada janji Tuhan. Roma 14:23 mengatakan dengan jelas bahwa segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa. (penulis: @mistermuryadi)

“ALLAHKU AKAN MEMENUHI SEGALA KEPERLUANKU”

Bahan renungan:

Filipi 4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Setiap kali membaca ayat ini, hati saya bersukacita. Betapa aman hidup saya di tangan Tuhan yang besar dan penuh kasih. Saya percaya Anda juga merasakan demikian.

(Baca juga: YESUS TELAH MENGHANCURKAN KUTUK KETURUNAN)

Kita sudah tahu bahwa Tuhan adalah Gembala kita yang baik, yang membaringkan kita di padang yang berumput hijau, membimbing kita ke air yang tenang, menyegarkan jiwa kita, dan menuntun kita ke jalan yang benar. Intinya, Tuhan adalah Tuhan yang memenuhi segala keperluan kita. Namun yang luar biasa, Dia memenuhi segala keperluan kita bukan menurut situasi atau kondisi dunia, melainkan menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Anda mengerti maksudnya? Maksudnya, berkat Tuhan untuk Anda tidak tergantung dengan situasi atau kondisi yang sedang Anda hadapi. Mungkin saja Anda berada di dalam dunia yang sedang mengalami krisis dan mungkin rekan-rekan bisnis Anda, yang memiliki bisnis yang sama dengan Anda, sedang mengeluh sulitnya berjualan, tetapi Anda tidak perlu larut dalam ketakutan dan kuatir seperti mereka. Jangan malah jadi takut untuk memberi atau menabur.

Berkat yang mengalir dalam hidup Anda tidak menurut situasi atau kondisi ekonomi dunia ini, melainkan menurut kekayaan dan kemuliaan Tuhan. Tuhan sanggup membuka jalan-jalan berkat untuk Anda. Ingat, Anda adalah anak kesayangan Tuhan, berkat yang mengejar Anda.

(Baca juga: APA BENAR TUHAN MENGGUNAKAN MASALAH UNTUK MELATIH KITA?)

Saat Anda mengalami masalah dalam bisnis atau pekerjaan, jangan terburu-buru melepaskan kutuk. Kadang yang menyebabkan bisnis kita semakin hari semakin merosot adalah kata-kata kutuk dan pesimis yang kita ucapkan. Ucapkanlah berkat. Ucapkanlah janji Tuhan yang Anda harapkan terjadi. Anda akan lihat, sekalipun di padang gurun, Anda tidak akan kekeringan, dan sekalipun Anda menabur di tanah yang tandus, Anda akan menuai berkali-kali lipat.

Saya teringat satu ayat dari Amsal 10:22, “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (penulis: @mistermuryadi)

HARAPAN ANDA PENTING, TETAPI CARA MERAIHNYA JUGA PENTING

Bahan renungan:

Matius 23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Saya percaya setiap kita memiliki harapan atau mimpi yang ingin kita raih. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Malah, jauh sebelum Anda mengharapkannya, Tuhan sudah terlebih dahulu menyediakan hal tersebut untuk Anda. Saya percaya selama yang Anda harapkan tercatat di dalam kebenaran Firman Tuhan, hal tersebut adalah bagian Anda di dalam Kristus.

(Baca juga: SERAHKANLAH KEKUATIRAN ANDA KEPADA TUHAN)

Suatu hari seseorang menghubungi saya dan mengatakan dia ingin berhenti dari pelayanan dan gereja untuk mengejar mimpi-mimpinya. Tidak ada yang salah dengan mengharapkan hidup kelimpahan. Tuhan janjikan hal tersebut. Namun, jika caranya adalah dengan berhenti dari pelayanan dan gereja, saya rasa itu cara yang keliru untuk meraih harapan.

Bagi saya, cara tersebut justru didorong oleh perasaan ketakutan dan kuatir yang sangat besar. Pada dasarnya dia sedang berpikir, “Sekarang adalah kesempatannya, tidak boleh dilewatkan. Jika terlewat, saya akan kehilangan kesempatan. Saya akan korbankan yang dapat saya korbankan demi mendapatkan berkat dan kelimpahan tersebut.” Teman, itu bukan sikap yang benar.

Hanya karena kita tidak tahu cara membagi waktu antara harapan kita dan pelayanan, tidak berarti hal tersebut tidak dapat dilakukan. Kadang solusi dari masalah kita hanya sejauh bertanya kepada orang-orang yang sudah pernah mengalaminya.

Saya teringat metode yang sama digunakan oleh orang-orang Farisi pada zaman Yesus. Demi meraih yang mereka harapkan, mereka menghalalkan segala cara, sampai-sampai mereka melupakan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan yang Tuhan ajarkan kepada mereka. Demi menjunjung hari Sabat, demi beribadah kepada Tuhan, demi berdoa, orang-orang Farisi rela menolak untuk menolong sesamanya.

(Baca juga: BERLATIH UNTUK MEMIKIRKAN YANG BAIK)

Teman, tidak ada yang salah dengan harapan atau mimpi Anda, tetapi Anda perlu memperhatikan cara dan proses Anda mendapatkannya. Jangan biarkan iblis menipu dan membelokkan jalan hidup Anda dari kebenaran. Karena, hanya butuh satu belokan yang salah untuk membuat Anda tersesat dari Tuhan. Alangkah baiknya Anda meraih harapan-harapan Anda dengan cara sesuai kebenaran Firman Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

INILAH PENYEBAB UTAMA KITA DEPRESI

Bahan renungan:

Mazmur 43:5 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Dalam Mazmur 42 dan 43, ada tiga kali pemazmur mengucapkan, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku …” Itu adalah pertanyaan yang bagus. Banyak orang menanyakan hal itu, tetapi hanya sedikit yang menemukan jawabannya.

(Baca juga: APA YANG ABRAHAM PIKIRKAN SAAT MEMPERSEMBAHKAN ISHAK?)

Dunia kita saat ini mengajarkan kita untuk menyalahkan situasi jika kita mengalami depresi. Beberapa mengatakan depresi terjadi akibat sebuah reaksi kimia dalam tubuh. Namun, Alkitab tidak mengatakan demikian. Ayat di atas jelas mengungkapkan bahwa tertekan atau depresi terjadi akibat kita kehilangan harapan. Situasi hidup kita tidak membuat kita tertekan, kecuali kita membiarkan situasi mencuri harapan-harapan kita. Dan, reaksi kimia dalam tubuh kita adalah buah dari depresi, bukan penyebabnya.

Harapan dan depresi adalah dua hal yang saling bersebrangan. Di mana ada harapan, tidak ada depresi. Sebaliknya, di mana ada depresi, tidak ada harapan. Penting bagi kita untuk memiliki harapan, karena hal tersebut dapat menghasilkan emosi yang positif.

Pengalaman hidup kita seringkali membuat kita kehilangan harapan. Itu sebabnya, satu-satunya jalan supaya kita tetap memiliki harapan adalah lebih dalam mengenal Tuhan dan janji setia-Nya. Tuhan yang kita sembah adalah sumber pengharapan yang pasti (Roma 15:13).

Bagi Anda yang memiliki banyak pengalaman buruk atau pahit dalam hidup, Alkitab menyediakan banyak janji Tuhan yang dapat Anda harapkan.

(Baca juga: TUHAN SETIA MENGASIHI MANUSIA SELAMA 6000 TAHUN)

Harapan-harapan yang tidak mengecewakan hanya dapat muncul jika Anda membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Saat Anda mulai lebih mempercayai janji Tuhan dibandingkan situasi, harapan akan terbit di hati Anda, iman Anda pun akan bangkit, dan sebagai akibatnya, depresi lenyap. (penulis: @mistermuryadi)

DI TENGAH KETAKUTAN, PANDANGLAH YESUS

Bahan renungan:

Lukas 5:12 Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”

Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tetapi saya pernah beberapa kali mengalami sesuatu yang saya pikir mustahil untuk saya lalui. Mungkin Anda pernah mengalaminya. Hal yang sama dialami oleh si penderita kusta dalam cerita di atas. Di zaman itu, orang yang menderita kusta dianggap telah melakukan dosa yang besar sehingga dikutuk Tuhan dan tidak dapat diselamatkan. Orang-orang berpenyakit kusta ini hidup di dalam ketakutan, putus asa, depresi, malu, dan minder yang luar biasa.

(Baca juga: “HAI ANAK-KU, JANGAN MENANGIS”)

Saya membayangkan, dalam ketakutannya, mereka berkata berulang kali dalam hatinya, “Saya tidak layak, saya seorang pendosa, Tuhan pantas menghukum saya,” dan lain sebagainya. Namun, di antara para penderita kusta di kota itu, satu orang ini datang menghampiri Yesus. Di tengah masalahnya, dia mencari Yesus. Sungguh keputusan yang tepat.

“Ketika ia MELIHAT Yesus …” Sangat indah bagaimana Firman Tuhan menjelaskan respons si penderita kusta di atas. Dia bisa saja mengacuhkan Yesus, patah harapan, atau larut dalam pengasihanan diri, tapi dia membuat keputusan yang berbeda. Dia memilih untuk melihat YESUS. Dan seperti kita ketahui, penyakitnya disembuhkan untuk selamanya.

(Baca juga: MULUTMU, HARIMAUMU)

Di tengah pergumulan dan masalah yang hebat, tidak sedikit orang yang kemudian mulai merasa kehilangan iman atau merasa Tuhan pergi menjauh darinya. Jangan termakan tipu muslihat iblis. Mulailah melihat kepada Yesus, seperti di penderita kusta di atas. Ketika Anda melihat kepada Yesus, pengharapan Anda akan bangkit. Yesus adalah sumber kekuatan dan pengharapan Anda. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

HARAPAN ITU SUNGGUH ADA DI DALAM YESUS

Bahan renungan:

Yudas 25 Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

Setelah mengatakan, “Jangan takut …” seperti yang kita bahas dalam renungan kemarin, Malaikat Gabriel melanjutkan perkataannya dengan mengatakan, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”

(Baca juga: KATA PERTAMA MALAIKAT GABRIEL ADALAH “JANGAN TAKUT …”)

Kelahiran Sang Juruselamat membawa harapan bagi dunia, bagi kita semua. Kalau Anda berpikir Anda akan mati karena sakit penyakit Anda, Anda salah, ada harapan untuk hidup sehat di dalam Yesus. Kalau Anda berpikir bangkrut adalah akhir dari segalanya, Anda salah, ada Yesus yang menjamin masa depan Anda indah dan penuh pengharapan.

(Baca juga: NATAL: WAKTUNYA MENGINGATKAN DIRI KITA BAHWA TUHAN ITU BAIK)

Teman, sejak Yesus lahir, kini yang menyertai hidup kita jauh lebih besar dari apa pun perkara yang kita sedang atau akan hadapi. Saat kita menyadari hal itu, kita tidak akan takut, sebaliknya, kita justru akan bersukacita. Bahkan di tengah badai masalah, kita tetap dapat mengatakan, “Ya Tuhan, aku percaya …” (penulis: @mistermuryadi)