KETIKA KITA TIDAK TAAT KEPADA TUHAN

Bahan renungan:

Efesus 5:8-9 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran …

Saya tidak tahu bagaimana perjalanan Anda bersama Kristus, tetapi saya sangat menikmati perjalanan saya bersama Kristus. Perjalanan hidup saya tidak selalu indah, kadang ada masalah dan tantangan yang harus saya hadapi dan lalui. Namun, Kristus membuat hal yang berat menjadi ringan. Janji-Nya memberikan saya pengharapan dan semangat saat menghadapi masalah dan tantangan.

(Baca juga: TUHAN MENGASIHI KITA LEBIH DARI YANG LAYAK KITA TERIMA)

Ketika saya memilih untuk mengikut Kristus dan menjadikan-Nya Tuhan dan Juruselamat, saya menyadari bahwa kehidupan saya yang lama tidak menyenangkan. Saya tidak mengalami damai sejahtera dan sukacita dalam kehidupan saya yang lama, itu sebabnya saya memilih Yesus, karena saya menginginkan kehidupan yang baru.

Hal serupa juga dialami oleh Bangsa Israel saat memilih dipimpin oleh Musa untuk keluar dari Mesir ke Tanah Perjanjian. Mereka merasa bahwa kehidupan di Mesir tidak menyenangkan dan mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik.

Sungguh tidak ada paksaan bagi saya untuk mengikut Yesus ataupun bagi Bangsa Israel untuk mengikut Musa. Saya dan Bangsa Israel memutuskan meninggalkan kehidupan yang lama dan memilih dipimpin oleh Tuhan untuk masuk ke dalam babak kehidupan yang baru.

Ketika kita memutuskan tidak setia atau tidak taat kepada kebenaran Firman Tuhan, pada dasarnya kita sedang mengatakan bahwa kita lebih suka kehidupan masa lalu, hidup dalam kegelapan, atau dalam perbudakan. Ketika kita memilih tidak menghidupi kebenaran Firman Tuhan dan mengikuti tuntunan-Nya, pada dasarnya kita sedang mengatakan bahwa masa lalu kita lebih baik dari kehidupan bersama Tuhan.

(Baca juga: KITA PERLU MEMUNGUT DAN MEMAKAN MANNA SETIAP HARI)

Saya tidak mengatakan hal di atas untuk membuat kita tertuduh, melainkan untuk membantu kita menyadari kenyataan bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, kita adalah ciptaan baru, kita adalah anak-anak terang. Adalah pilihan kita untuk hidup bersama Kristus dan kebenaran-Nya. Jika kita telah memilih Kristus, itu artinya kita memilih untuk meninggalkan cara hidup kita yang lama, pergaulan kita yang buruk, dan pemikiran kita yang tidak sejalan dengan kebenaran. Jika demikian, hiduplah sepenuhnya dalam terang. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

ALASAN UTAMA MENGAPA KITA BELUM MENERIMA JANJI TUHAN

Bahan renungan:

Yakobus 1:6-8 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan MENERIMA sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Perhatikan kata “MENERIMA” yang saya besarkan pada ayat di atas. Ada perbedaan yang besar antara belum menerima sesuatu karena barangnya belum diberikan dan belum menerima sesuatu karena “salah alamat”.

(Baca juga: TERNYATA BUKAN TUHAN YANG MENUNDA JALAN KELUAR BAGI HIDUP KITA)

Misalnya saya mengirimkan sebuah buku ke rumah Anda, tetapi kurir mengirim ke alamat yang salah. Bukunya sudah saya kirim lewat pos, tetapi Anda belum menerima buku tersebut. Anda belum menerima buku itu bukan karena saya belum mengirimnya, melainkan karena si kurir salah alamat.

Melalui Firman Tuhan, kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah menahan kebaikan bagi anak-anak kesayangan-Nya (Mazmur 84:11). Lukas 11:11 juga mencatat, “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?” Kitab Efesus 1:3 dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan telah mengaruniakan segala berkat rohani kepada kita. Meski ayat-ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan sudah mengirimkan berkat-Nya kepada kita, banyak di antara kita yang belum menerima berkat tersebut.

Kita belum menerima berkat-berkat itu bukan karena Tuhan belum memberikannya kepada kita. Menurut ayat renungan kita, kita belum menerima karena kita bimbang. Atau dengan kata lain, mendua hati. Mendua hati dapat diartikan bimbang atau ragu. Saat kita bimbang, otomatis kita “menutup pintu” untuk MENERIMA berkat Tuhan.

Saya berikan contoh. Anggaplah kita sedang sakit, lalu kita membaca 1 Petrus 2:24 bahwa oleh bilur-bilur darah Yesus kita TELAH disembuhkan, dan kita memercayainya. Namun, setelah beberapa saat, ketika sakit tersebut mulai terasa lagi, kita mulai mengeluh dan mengatakan, “Saya masih sakit, bagaimana mungkin Firman Tuhan katakan saya TELAH disembuhkan?”

Itulah maksud “mendua hati”. Kita mulai membandingkan kebenaran Firman Tuhan dengan fakta yang kita lihat atau rasakan. Pikiran kita dan iman kita tidak sepakat. Firman Tuhan mengatakan orang yang mendua hati tidak akan menerima dari Tuhan.

Lalu, apa yang semestinya kita lakukan? Ketika kita memercayai kebenaran Firman Tuhan, jangan biarkan mulut kita mengucapkan keraguan, apalagi mempertanyakan janji Tuhan. Sebaliknya, ucapkanlah janji Tuhan dan hal-hal positif yang mendukung apa yang kita percayai, sebagai bukti bahwa kita percaya terhadap janji tersebut.

(Baca juga: “ANDA PENGANUT HYPER-GRACE? BUKAN, SAYA PENGANUT HYPER-JESUS”)

Sekali lagi, orang tersebut belum menerima bukan karena Tuhan belum memberikannya, karena faktanya Tuhan telah memberikan segala berkat kepada kita melalui Yesus. Orang tersebut tidak menerima karena tidak percaya atau mendua hati terhadap janji Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

SAAT MARTA SEPAKAT DENGAN YESUS, LAZARUS BANGKIT!

Bahan renungan:

Yohanes 11:39-40 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

Setiap kita tumbuh dengan latar belakang yang berbeda-beda. Bagi kita yang tidak tumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan yang benar, kita cenderung memiliki jalan pemikiran sendiri. Di dalam pikiran kita, ada hal-hal yang kita pikir benar, sementara hal-hal tersebut bertolak belakang dengan jalan pikiran Tuhan.

(Baca juga: SEMUA ORANG PERCAYA ADALAH MURID KRISTUS)

Namun tidak masalah, jangan merasa tertuduh. Tuhan memanggil kita, untuk memulihkan dan mengubah hidup kita. Semakin kita mengenal-Nya, semakin kita mengerti jalan pikiran-Nya.

Dalam ayat renungan di atas, Yesus terlibat percakapan dengan Marta terkait kematian Lazarus. Di dalam pikiran Yesus, Lazarus pasti bangkit, itu sebabnya Yesus meminta agar pihak keluarga mengangkat batu yang menghalangi kubur Lazarus. Sementara, di dalam pikiran Marta, Lazarus sudah meninggal empat hari, dan mustahil dibangkitkan. Perlu kita ketahui, pada zaman itu beredar pemahaman bahwa mayat yang mati lebih dari tiga hari, jasadnya sudah rusak dan berbau. Itu alasan mengapa Marta mendebat perkataan Yesus, karena Marta memercayai pemahaman yang lain.

Seringkali, hal tersebut terjadi di dalam hidup kita. Kita mengira pemikiran kita lebih benar dan lebih baik dari apa yang Firman Tuhan katakan. Kita beragumen dengan kebenaran. Akibatnya, kita kesulitan untuk sepakat dengan apa yang Firman Tuhan harapkan terjadi bagi hidup kita. Pada dasarnya, ketidaksepakatan, atau dengan kata lain, ketidakpercayaan, tersebutlah yang membuat kita tidak melihat kemuliaan Tuhan terjadi di dalam hidup kita.

Tuhan inginkan berkat, mukjizat, kelimpahan, pemulihan, terobosan, terjadi dalam hidup kita, sementara kita berpikir bahwa hal tersebut tidak mungkin. Sama seperti percakapan Yesus dan Marta. Yesus menginginkan Lazarus bangkit, sementara Marta mengatakan tidak mungkin, karena mayatnya sudah berbau. Namun, ketika Marta sepakat dengan Yesus, kuasa kebangkitan terjadi.

(Baca juga: MEMBERI ADALAH MASALAH PERCAYA ATAU TIDAK KEPADA TUHAN)

Teman, hari ini saya ingin kita mengerti bahwa pemikiran Tuhan dan pemikiran kita sejauh langit dari Bumi. Kadang, kita tidak perlu mengerti untuk melakukan apa yang Firman Tuhan katakan. Kita hanya perlu percaya kepada-Nya. Percaya bahwa apa pun yang Dia ucapkan, janjikan, atau perintahkan kepada kita, itu pasti mendatangkan kebaikan bagi kita. Jika kita dapat membawa iman kita ke titik itu, hal-hal supranatural pasti terjadi dalam hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

KEPADA SIAPA ANDA MEMERCAYAKAN HIDUP ANDA?

Bahan renungan:

Mazmur 146:3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.

Setiap kali memilih sebuah merek tertentu untuk kita pakai, itu artinya kita memercayakan diri kita kepada merek tersebut. Contohnya. Jika kita memakai kacamata hitam Ray Ban, itu artinya kita memercayakan mata kita kepada Ray Ban. Jika kita mengenakan sepatu Nike, itu artinya kita memercayakan kaki kita kepada Nike. Jika kita menggunakan sabun Lux, itu artinya kita memercayakan kulit tubuh kita kepada Lux.

(Baca juga: BERKAT TUHAN TIDAK TERGANTUNG PADA LOKASI BISNIS ANDA)

Kita memiliki merek-merek favorit yang kita percayai itu karena kita tahu mereka memberikan kenyamanan bagi tubuh kita. Atau dengan kata lain, dengan menggunakan merek-merek tersebut, kita mengharapkan sebuah keuntungan tertentu bagi tubuh kita.

Pertanyaan saya hari ini, apa yang kita harapkan bagi hidup kita? Karena hal tersebut akan menentukan merek Juruselamat yang kita pilih.

(Baca juga: MARAH HANYA MEMBAWA ANDA KEPADA KEJAHATAN)

Jika yang kita harapkan adalah kesehatan, kselamatan, kesembuhan, berkat, kelimpahan, umur panjang, pemulihan, mukjizat, masa depan yang indah, sukacita, dan damai sejahtera bagi hidup kita, yang kita butuhkan adalah Yesus. Tidak ada “merek” lain yang dapat memberikan kita “kenyamanan” seperti yang Yesus berikan. Percayakanlah hidup kita kepada Yesus. Bersandarlah sepenuhnya kepada-Nya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

PERUBAHAN TERJADI KETIKA KITA PERCAYA DAN MERESPONS

Bahan renungan:

Matius 13:58 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

Berkali-kali ketika menyembuhkan, Yesus kerap mengatakan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Perkataan tersebut menandakan perlu ada keputusan untuk percaya dan merespons terhadap apa yang Yesus lakukan. Jika kita tidak percaya atau tidak merespons, sekalipun Yesus mendoakan kita, tidak akan terjadi apa-apa.

(Baca juga: JANGAN LATIH PIKIRAN KITA MEMIKIRKAN HAL-HAL YANG JAHAT)

Suatu kali ketika kembali ke kampung halamannya, Firman Tuhan mengatakan tidak banyak mukjizat yang Yesus lakukan di sana. Bagaimana mungkin? Apakah karena Yesus kurang berkuasa? Tentu saja Yesus sangat berkuasa. Firman Tuhan menjelaskan hal tersebut terjadi akibat ketidakpercayaan mereka.

Jadi, kita dapat duduk di sebuah gereja yang sama dengan orang lain, sementara orang lain disembuhkan, kita tidak. Kita dapat mendengar Firman Tuhan yang sama dengan orang lain, sementara orang lain dilepaskan dan diberkati, kita tidak. Kita dapat bertemu Yesus yang sama dengan orang lain, sementara orang lain mengalami mukjizat, kita tidak. Kita tidak akan mengalami perubahan apa-apa, kecuali kita memutuskan untuk percaya dan merespons.

(Baca juga: BAGAIMANA CARA MELAKUKAN TINDAKAN IMAN?)

Saya tidak suka mengatakan hal ini, tetapi inilah kebenarannya. Setiap kita mungkin sudah banyak membaca mengenai Yesus, kebenaran-Nya, dan janji-Nya, tetapi jika kita tidak memercayai dan merespons, ayat-ayat dan janji-janji tersebut tidak akan berpengaruh banyak terhadap hidup kita. Sebaliknya, sekalipun yang kita ketahui hanya sedikit, tetapi kita mau percaya dan merespons, perubahan besar pasti terjadi dalam hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

“KUATKANLAH DAN TEGUHKANLAH HATIMU”

Bahan renungan:

Yosua 1:9 “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

Tentu bukan hal yang mudah bagi Yosua untuk menggantikan sosok Musa membawa Bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian. Cukup dapat dimengerti jika Yosua merasa bahwa tugas yang diembannya sangat berat. Mungkin Yosua berpikir di dalam hatinya, “Musa saja tidak berhasil sampai ke Tanah Perjanjian, bagaimana dengan saya?”

(Baca juga: ANDA TIDAK PERNAH TERLALU TUA UNTUK MENJADI BERKAT)

Saya percaya Tuhan mengetahui apapun yang ada di dalam pikiran dan perasaan Yosua saat itu. Itu sebabnya Tuhan mengatakan kepada Yosua supaya tetap kuat dan teguh, dan mengingatkannya bahwa Tuhan menyertai senantiasa. Tuhan tahu Yosua membutuhkan kebenaran itu.

Saya percaya, pesan yang sama ingin Tuhan sampaikan kepada kita hari ini. Tuhan tahu segala pergumulan dan masalah kita. Dia melihat dan mendengar kegelisahan hati kita. Namun, Tuhan ingin kita kuat dan teguh, dan menyadari bahwa Dia selalu menyertai kita.

Tidak peduli kita pergi ke lembah atau ke gunung yang tinggi, Dia ada bersama-sama dengan kita. Penting kita menyadari kebenaran tersebut.

(Baca juga: JANGAN KERASKAN HATI ANDA TERHADAP KEBENARAN)

Jika kita perhatikan ayat di atas, Tuhan tidak hanya memerintahkan Yosua supaya kuat dan teguh menghadapi masalah, tetapi juga kuat dan teguh untuk memercayai bahwa Tuhan senantiasa menyertainya. Karena, pada saat kita menyadari Tuhan selalu ada bersama kita, maka tidak ada satu pun masalah yang terlalu besar atau berat untuk kita hadapi. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

SETIAP KITA PERLU MEMILIKI PEMBIMBING ROHANI

Bahan renungan:

Ibrani 13:17 Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.

Perjalanan hidup rohani yang kita tempuh adalah perjalanan yang panjang. Setelah kita percaya kepada Yesus, ada kehidupan yang perlu kita jalani dan masalah-masalah yang perlu kita hadapi. Tidak mudah jika kita berjalan sendiri. Kita perlu seseorang yang dapat membimbing langkah kita dan menuntun kita ke arah yang benar.

(Baca juga: DUA PENYEBAB MENGAPA HIDUP ANDA TERGONCANG)

Beberapa orang mengirimkan email kepada saya menceritakan mengenai masalah yang sedang mereka hadapi untuk meminta dukungan doa. Secara garis besar, mereka memiliki kesamaan. Mereka menggebu-gebu di awal pertobatan mereka, tetapi beberapa tahun setelahnya, mereka mulai kehilangan arah, berbeban berat, tidak bersemangat, bahkan terjebak dalam stres dan kondisi kehidupan rohani yang naik turun. Tidak sedikit yang pada akhirnya jatuh bangun di dalam dosa.

Jika Anda sedang dalam kondisi demikian, jangan berdiam diri, lakukan sesuatu.

Ini perkara serius. Semestinya, kehidupan kita setelah mengenal dan percaya Yesus adalah naik, bukan turun. Itu janji Tuhan bagi setiap anak-anak-Nya.

Saya percaya, salah satu penyebab utama kehidupan rohani naik turun adalah tidak adanya pembimbing rohani, yang dapat menjadi tempat bertanya, bertukar pikiran, dan meminta nasehat. Bimbingan rohani yang saya maksud adalah sebuah pertemuan rutin, bukan hanya pada saat kita membutuhkan saja, antara kita dengan orang yang kita percaya dapat memimpin hidup kita. Hal itu dapat berupa persekutuan, pendalaman alkitab, atau pemuridan. Yang jelas bukan ibadah minggu, karena di dalam di ibadah minggu, kita tidak dapat bertanya atau berdiskusi.

Setiap kita perlu memiliki seseorang yang kita anggap mampu memimpin, menuntun, dan berjaga-jaga atas hidup kita. Kita terlalu sombong jika berkata kita tidak menemukan orang yang dapat untuk memimpin dan menuntun hidup kita.

Atau, kita berpikir, “Saya mau dibimbing oleh Roh Kudus saja.” Tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, bagaimana mungkin kita dapat mendengarkan dan percaya terhadap yang tidak kelihatan, sementara terhadap yang kelihatan kita sulit untuk mendengarkan dan percaya.

(Baca juga: TUHAN MENJAWAB LIMA KERAGUAN MUSA (BAGIAN KEDUA))

Sebelum para murid menjadi para rasul, mereka dibimbing oleh Yesus. Anda ingat 3000 orang yang bertobat saat Petrus di Serambi Salomo? Mereka pun dibimbing dalam persekutuan (Kisah Para Rasul 5:12). Sebelum Saulus menjadi Paulus, dia dibimbing oleh Silas. Begitu juga Timotius, Titus, Filemon, dan Onesimus yang dibimbing oleh Paulus. Jika para rasul saja memerlukan pembimbing rohani, saya percaya kita pun memerlukannya. (penulis: @mistermuryadi)