SIAPAKAH RAJA DALAM HIDUP ANDA?

Bahan renungan:

1 Samuel 8:6-7 Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada Tuhan. Tuhan berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.”

Bangsa Israel adalah satu-satunya bangsa yang tidak memiliki raja pada zaman itu. Tuhan mengangkat tinggi bangsa Israel di atas bangsa-bangsa lain. Bangsa Israel sangat disegani, karena mereka dipimpin langsung oleh Raja di atas segala raja melalui perantaraan para nabi. Bangsa-bangsa lain gentar terhadap Israel.

(Baca juga: MENDAKI GUNUNG ATAU MELEWATI LEMBAH, TUHAN SELALU MENYERTAI)

Sampai suatu ketika Bangsa Israel meminta seorang raja kepada nabi Samuel. Alasan utama Bangsa Israel meminta raja dicatat dalam 1 Samuel 8:19-20, “Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.” Ya, mereka ingin menjadi sama seperti bangsa-bangsa lain. Padahal Tuhan ingin Israel hidup berbeda.

Ketika saya membaca dan merenungkan kisah di atas, hati saya sangat sedih. Membayangkan seorang bapa yang begitu mengasihi anaknya, ingin menjalin hubungan yang erat dengan anaknya, sementara sang anak lebih suka menghabiskan waktu bersama sesuatu yang lain.

Seperti apa bentuk “raja” pada masa kita sekarang? “Raja” pada masa sekarang bisa berupa kekayaan, harta, jabatan, kecantikan, keahlian, atau seseorang yang begitu kita kagumi.

(Baca juga: APA KEGUNAAN DOA JIKA TUHAN SUDAH TAHU YANG INGIN KITA DOAKAN?)

Sebagai orang percaya, hanya ada satu raja yang patut kita sembah dan percayai, yaitu Yesus Kristus. Tidak ada yang lain. Yesuslah yang membuat hidup kita berbeda. Ketika kita hidup sesuai dengan cara-Nya dan menurut kehendak-Nya, kita akan terlihat berbeda dengan kebanyakan orang di dunia ini yang menyembah “raja” lain. Sebaliknya, ketika kita menyembah “raja” lain, hidup kita akan seperti dunia ini. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

PERINTAH TUHAN TIDAK MASUK AKAL, TETAPI MUDAH DILAKUKAN

Bahan renungan:

Keluaran 14:15-16 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering.”

Tuhan tidak pernah meminta kita melakukan sesuatu yang mustahil. Bahkan faktanya, Dia selalu meminta kita melakukan sesuatu yang mudah. Hanya saja, yang mudah itu terkadang tidak masuk akal kita, dan menuntut iman kita sepenuhnya.

(Baca juga: TEMUKAN DAMAI SEJAHTERA SEJATI DI DALAM YESUS)

Saat Musa dan dua juta Bangsa Israel keluar dari Mesir, di depan mereka terbentang Laut Merah dan di belakang mereka ada para tentara Mesir. Secara logika, Musa hanya memiliki dua pilihan: berenang bersama-sama dua juta orang Israel menantang keganasan Laut Merah atau adu jotos dengan para tentara Mesir tanpa menggunakan senjata. Dua-duanya masuk akal, tetapi sulit untuk dilakukan, karena nyawa taruhannya.

Namun, di tengah situasi tersebut, Tuhan menawarkan pilihan ketiga, yaitu agar Musa mengangkat tongkat dan mengulurkan tangannya ke atas laut. Pilihan ketiga ini mudah untuk dilakukan, tetapi tidak masuk akal.

Terkadang saya bertanya-tanya, mengapa Tuhan senang memerintahkan sesuatu yang mudah, tetapi tidak masuk akal? Untuk berkelimpahan, Dia memerintahkan untuk menabur (2 Korintus 9:6). Untuk hidup berlimpah kasih karunia dan damai sejahtera, Dia memerintahkan untuk mengenal Dia (2 Petrus 1:2). Untuk masuk Sorga, Dia memerintahkan untuk mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati bahwa Yesus adalah Tuhan (Roma 10:9-10). Untuk menyembuhkan orang sakit, Dia memerintahkan untuk meletakkan tangan kita atas orang sakit tersebut (Markus 16:17-18).

Yesus, dalam Lukas 18:8, menjawabnya, “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Ternyata, yang Tuhan inginkan adalah iman kita terhadap ucapan dan janji-Nya, bukan kerja keras atau perbuatan kita.

(Baca juga: ANDA SPESIAL DI MATA TUHAN)

Terkadang, kita berpikir lebih mudah melakukan yang masuk akal bagi kita. Sementara faktanya, yang masuk akal menurut kita, jauh lebih sulit dilakukan daripada melakukan yang Tuhan perintahkan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

HARGA UNTUK MENGIKUT YESUS

Bahan renungan:

Lukas 5:11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Ayat di atas adalah cuplikan ketika Yesus melakukan mukjizat kepada para murid di Danau Genesaret. Usai percakapan mereka dengan Yesus, Petrus, Yohanes, dan Yakobus meninggalkan jalanya di tepi pantai dan mengikut Yesus. Bukan hanya jala dan pekerjaan yang mereka tinggalkan, tetapi Firman Tuhan mengatakan, mereka meninggalkan segala sesuatu. Sungguh sebuah keputusan yang radikal!

(Baca juga: JANGAN BIARKAN ORANG-ORANG YANG KITA KASIHI TERJERUMUS)

Saya membayangkan berada dalam situasi tersebut. Sungguh tidak mudah untuk membuat sebuah keputusan yang sangat besar dalam waktu yang begitu singkat. Namun, ketiga murid itu sepertinya tidak mengalami sedikitpun kesulitan saat membuat keputusan tersebut.

Meninggalkan segala sesuatu, seperti yang dilakukan oleh para murid, merupakan harga untuk mengikut Yesus.

Menurut Anda, apa yang mendorong mereka melakukan hal itu? Saya menyakini keputusan demikian tidak mungkin hanya karena perasaan semata. Ada sesuatu yang lebih besar yang meyakinkan hati mereka.

Lukas 5:8-9 memberikan jawabannya, “”Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap.”

Setidaknya, ada dua hal yang membuat mereka begitu mudah “membayar harga” untuk mengikut Yesus. Pertama, karena mereka memercayai bahwa Yesus adalah Tuhan, dan kedua, karena mereka memercayai bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu yang mereka tidak dapat lakukan dengan kekuatan mereka sendiri.

(Baca juga: ADA KEHIDUPAN MELALUI PENUMPAHAN DARAH YESUS)

Jika Anda memiliki cara pandang yang sama dengan para murid di atas, saya percaya, Anda tidak akan kesulitan untuk meninggalkan segala sesuatu yang Anda anggap berharga, apa pun itu, dan mengikut Yesus. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

SATU-SATUNYA CARA AGAR KITA MASUK SORGA

Bahan renungan:

Roma 3:23-24 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

Seandainya kita dapat masuk Sorga dengan cara membayar, saya yakin tidak seorangpun di dunia ini sanggup membayarnya. Itu sebabnya keliru sekali jika kita berpikir bahwa perbuatan baik dapat mengantarkan kita ke Sorga. Puji Tuhan, hari ini kita membaca kebenaran bahwa Tuhan telah memberikan keselamatan secara gratis melalui karya penebusan Kristus.

(Baca juga: KEAJAIBAN TERJADI KETIKA KITA BERDOA)

Kita memiliki kesempatan untuk masuk ke Sorga secara cuma-cuma ketika kita memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Jurselamat. Yohanes 14:6 menegaskan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju Sorga, tidak ada yang lain. Itu artinya, tanpa Yesus, sekalipun kita berbuat banyak kebaikan, kita tidak akan sampai ke Sorga. Bukan saya yang mengatakannya, tetapi Firman Tuhan.

Jika suatu saat kita berada di hadapan Bapa Sorgawi dan Dia bertanya, “Apa yang membuat kamu layak masuk Sorga?” Kira-kira jawaban apa yang akan kita berikan?

Jika kita menjawab, “Saya sudah melayani orang miskin selama 50 tahun dan menyumbang miliyaran rupiah,” saya berani menjamin kita tidak akan masuk Sorga. Saya tidak mengatakan bahwa melayani orang miskin dan menyumbang uang itu salah. Sama sekali tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Hanya saja itu bukan cara untuk masuk Sorga.

(Baca juga: CERITAKAN INJIL SUPAYA SEISI RUMAH ANDA DISELAMATKAN)

Satu-satunya jawaban yang tepat yang dapat membuat kita masuk ke Sorga adalah karena kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Jurselamat pribadi kita. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

KETIKA KITA TIDAK TAAT KEPADA TUHAN

Bahan renungan:

Efesus 5:8-9 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran …

Saya tidak tahu bagaimana perjalanan Anda bersama Kristus, tetapi saya sangat menikmati perjalanan saya bersama Kristus. Perjalanan hidup saya tidak selalu indah, kadang ada masalah dan tantangan yang harus saya hadapi dan lalui. Namun, Kristus membuat hal yang berat menjadi ringan. Janji-Nya memberikan saya pengharapan dan semangat saat menghadapi masalah dan tantangan.

(Baca juga: TUHAN MENGASIHI KITA LEBIH DARI YANG LAYAK KITA TERIMA)

Ketika saya memilih untuk mengikut Kristus dan menjadikan-Nya Tuhan dan Juruselamat, saya menyadari bahwa kehidupan saya yang lama tidak menyenangkan. Saya tidak mengalami damai sejahtera dan sukacita dalam kehidupan saya yang lama, itu sebabnya saya memilih Yesus, karena saya menginginkan kehidupan yang baru.

Hal serupa juga dialami oleh Bangsa Israel saat memilih dipimpin oleh Musa untuk keluar dari Mesir ke Tanah Perjanjian. Mereka merasa bahwa kehidupan di Mesir tidak menyenangkan dan mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik.

Sungguh tidak ada paksaan bagi saya untuk mengikut Yesus ataupun bagi Bangsa Israel untuk mengikut Musa. Saya dan Bangsa Israel memutuskan meninggalkan kehidupan yang lama dan memilih dipimpin oleh Tuhan untuk masuk ke dalam babak kehidupan yang baru.

Ketika kita memutuskan tidak setia atau tidak taat kepada kebenaran Firman Tuhan, pada dasarnya kita sedang mengatakan bahwa kita lebih suka kehidupan masa lalu, hidup dalam kegelapan, atau dalam perbudakan. Ketika kita memilih tidak menghidupi kebenaran Firman Tuhan dan mengikuti tuntunan-Nya, pada dasarnya kita sedang mengatakan bahwa masa lalu kita lebih baik dari kehidupan bersama Tuhan.

(Baca juga: KITA PERLU MEMUNGUT DAN MEMAKAN MANNA SETIAP HARI)

Saya tidak mengatakan hal di atas untuk membuat kita tertuduh, melainkan untuk membantu kita menyadari kenyataan bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, kita adalah ciptaan baru, kita adalah anak-anak terang. Adalah pilihan kita untuk hidup bersama Kristus dan kebenaran-Nya. Jika kita telah memilih Kristus, itu artinya kita memilih untuk meninggalkan cara hidup kita yang lama, pergaulan kita yang buruk, dan pemikiran kita yang tidak sejalan dengan kebenaran. Jika demikian, hiduplah sepenuhnya dalam terang. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

ALASAN UTAMA MENGAPA KITA BELUM MENERIMA JANJI TUHAN

Bahan renungan:

Yakobus 1:6-8 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan MENERIMA sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Perhatikan kata “MENERIMA” yang saya besarkan pada ayat di atas. Ada perbedaan yang besar antara belum menerima sesuatu karena barangnya belum diberikan dan belum menerima sesuatu karena “salah alamat”.

(Baca juga: TERNYATA BUKAN TUHAN YANG MENUNDA JALAN KELUAR BAGI HIDUP KITA)

Misalnya saya mengirimkan sebuah buku ke rumah Anda, tetapi kurir mengirim ke alamat yang salah. Bukunya sudah saya kirim lewat pos, tetapi Anda belum menerima buku tersebut. Anda belum menerima buku itu bukan karena saya belum mengirimnya, melainkan karena si kurir salah alamat.

Melalui Firman Tuhan, kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah menahan kebaikan bagi anak-anak kesayangan-Nya (Mazmur 84:11). Lukas 11:11 juga mencatat, “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?” Kitab Efesus 1:3 dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan telah mengaruniakan segala berkat rohani kepada kita. Meski ayat-ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan sudah mengirimkan berkat-Nya kepada kita, banyak di antara kita yang belum menerima berkat tersebut.

Kita belum menerima berkat-berkat itu bukan karena Tuhan belum memberikannya kepada kita. Menurut ayat renungan kita, kita belum menerima karena kita bimbang. Atau dengan kata lain, mendua hati. Mendua hati dapat diartikan bimbang atau ragu. Saat kita bimbang, otomatis kita “menutup pintu” untuk MENERIMA berkat Tuhan.

Saya berikan contoh. Anggaplah kita sedang sakit, lalu kita membaca 1 Petrus 2:24 bahwa oleh bilur-bilur darah Yesus kita TELAH disembuhkan, dan kita memercayainya. Namun, setelah beberapa saat, ketika sakit tersebut mulai terasa lagi, kita mulai mengeluh dan mengatakan, “Saya masih sakit, bagaimana mungkin Firman Tuhan katakan saya TELAH disembuhkan?”

Itulah maksud “mendua hati”. Kita mulai membandingkan kebenaran Firman Tuhan dengan fakta yang kita lihat atau rasakan. Pikiran kita dan iman kita tidak sepakat. Firman Tuhan mengatakan orang yang mendua hati tidak akan menerima dari Tuhan.

Lalu, apa yang semestinya kita lakukan? Ketika kita memercayai kebenaran Firman Tuhan, jangan biarkan mulut kita mengucapkan keraguan, apalagi mempertanyakan janji Tuhan. Sebaliknya, ucapkanlah janji Tuhan dan hal-hal positif yang mendukung apa yang kita percayai, sebagai bukti bahwa kita percaya terhadap janji tersebut.

(Baca juga: “ANDA PENGANUT HYPER-GRACE? BUKAN, SAYA PENGANUT HYPER-JESUS”)

Sekali lagi, orang tersebut belum menerima bukan karena Tuhan belum memberikannya, karena faktanya Tuhan telah memberikan segala berkat kepada kita melalui Yesus. Orang tersebut tidak menerima karena tidak percaya atau mendua hati terhadap janji Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

SAAT MARTA SEPAKAT DENGAN YESUS, LAZARUS BANGKIT!

Bahan renungan:

Yohanes 11:39-40 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

Setiap kita tumbuh dengan latar belakang yang berbeda-beda. Bagi kita yang tidak tumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan yang benar, kita cenderung memiliki jalan pemikiran sendiri. Di dalam pikiran kita, ada hal-hal yang kita pikir benar, sementara hal-hal tersebut bertolak belakang dengan jalan pikiran Tuhan.

(Baca juga: SEMUA ORANG PERCAYA ADALAH MURID KRISTUS)

Namun tidak masalah, jangan merasa tertuduh. Tuhan memanggil kita, untuk memulihkan dan mengubah hidup kita. Semakin kita mengenal-Nya, semakin kita mengerti jalan pikiran-Nya.

Dalam ayat renungan di atas, Yesus terlibat percakapan dengan Marta terkait kematian Lazarus. Di dalam pikiran Yesus, Lazarus pasti bangkit, itu sebabnya Yesus meminta agar pihak keluarga mengangkat batu yang menghalangi kubur Lazarus. Sementara, di dalam pikiran Marta, Lazarus sudah meninggal empat hari, dan mustahil dibangkitkan. Perlu kita ketahui, pada zaman itu beredar pemahaman bahwa mayat yang mati lebih dari tiga hari, jasadnya sudah rusak dan berbau. Itu alasan mengapa Marta mendebat perkataan Yesus, karena Marta memercayai pemahaman yang lain.

Seringkali, hal tersebut terjadi di dalam hidup kita. Kita mengira pemikiran kita lebih benar dan lebih baik dari apa yang Firman Tuhan katakan. Kita beragumen dengan kebenaran. Akibatnya, kita kesulitan untuk sepakat dengan apa yang Firman Tuhan harapkan terjadi bagi hidup kita. Pada dasarnya, ketidaksepakatan, atau dengan kata lain, ketidakpercayaan, tersebutlah yang membuat kita tidak melihat kemuliaan Tuhan terjadi di dalam hidup kita.

Tuhan inginkan berkat, mukjizat, kelimpahan, pemulihan, terobosan, terjadi dalam hidup kita, sementara kita berpikir bahwa hal tersebut tidak mungkin. Sama seperti percakapan Yesus dan Marta. Yesus menginginkan Lazarus bangkit, sementara Marta mengatakan tidak mungkin, karena mayatnya sudah berbau. Namun, ketika Marta sepakat dengan Yesus, kuasa kebangkitan terjadi.

(Baca juga: MEMBERI ADALAH MASALAH PERCAYA ATAU TIDAK KEPADA TUHAN)

Teman, hari ini saya ingin kita mengerti bahwa pemikiran Tuhan dan pemikiran kita sejauh langit dari Bumi. Kadang, kita tidak perlu mengerti untuk melakukan apa yang Firman Tuhan katakan. Kita hanya perlu percaya kepada-Nya. Percaya bahwa apa pun yang Dia ucapkan, janjikan, atau perintahkan kepada kita, itu pasti mendatangkan kebaikan bagi kita. Jika kita dapat membawa iman kita ke titik itu, hal-hal supranatural pasti terjadi dalam hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.