LEBIH BAIK BERGUMUL DI DALAM RUMAH TUHAN

Bahan renungan:

Yesaya 37:1 Segera sesudah raja Hizkia mendengar itu, dikoyakkannyalah pakaiannya dan diselubunginyalah badannya dengan kain kabung, lalu masuklah ia ke rumah Tuhan.

Saya percaya rumah Tuhan, dalam konteks ini adalah gereja Tuhan, adalah tempat bertumbuh bagi anak-anak Tuhan. Tempat yang paling aman yang Tuhan ciptakan untuk semua orang percaya. Kita belajar mengenai Tuhan dan dituntun semakin dewasa di dalam rumah Tuhan.

(Baca juga: ATUR EMOSI KITA SEBELUM EMOSI MENGATUR HIDUP KITA)

Tidak dapat dipungkiri, sekalipun kita sering ke gereja, kita tetap menghadapi masalah di dalam hidup kita. Terkadang, masalah-masalah tersebut, pada awalnya, mengalihkan fokus kita dari Tuhan, dan kemudian membawa kita ke dalam lubang dosa. Di saat itulah pikiran dan hati kita mulai kacau, dan tidak sedikit orang yang meninggalkan rumah Tuhan karena rasa tertuduh dan rasa bersalah.

Hari ini saya ingin kita menyadari bahwa jauh lebih baik kita bergumul di dalam rumah Tuhan dari pada di luar sana, di tempat yang tidak jelas. Di dalam rumah Tuhan, ada orang-orang yang ingin membantu kita bangkit kembali, meski tidak dapat disangkal akan ada juga orang-orang yang menatap sinis.

Namun, jauh lebih baik di dalam rumah Tuhan. Kita dapat mendengar kebenaran yang meneguhkan kita, ada para pemimpin yang berjaga-jaga terhadap hidup kita, ada rekan-rekan seiman yang mengingatkan dan meneguhkan setiap kali kita dihantui oleh rasa bersalah atau tertuduh.

(Baca juga: TUHAN PERINTAHKAN MALAIKATNYA MENJAGA KITA (MAZMUR 91:11-13))

Ibrani 10:25 mengingatkan agar kita tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah. Saya percaya gereja Tuhan adalah “tempat pelarian” yang paling tepat ketika kita sedang bergumul. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

LUANGKAN WAKTU UNTUK BERSEKUTU DENGAN TUHAN

Bahan renungan:

Lukas 6:12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.

Jika kita menganggap hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan yang berharga, tentu kita akan meluangkan waktu kita untuk bersekutu dengan-Nya. Entah itu berdoa, memuji menyembah-Nya, duduk diam mendengarkan suara-Nya, membaca dan merenungkan kebenaran-Nya, atau melakukan semuanya secara rutin.

(Baca juga: JERIH PAYAH KITA DI DALAM KRISTUS TIDAK PERNAH SIA-SIA)

Yesus sangat menghargai hubungannya dengan Bapa Sorgawi. Bagi Yesus, tidak ada yang lebih penting daripada bersekutu dengan Bapa. Yesus menunjukkan hal tersebut melalui ayat renungan kita di atas. Tidak peduli selelah apa pun, atau sepadat apa pun kegiatan-Nya, Yesus selalu meluangkan waktu untuk bersekutu dengan Bapa. Bahkan dicatat, Dia melakukan hal tersebut semalam-malaman. Hal itu menunjukkan bahwa Yesus menjalin hubungan tersebut bukan karena terpaksa, melainkan karena menginginkannya.

Yesus menggambarkan kedekatannya dengan Bapa di dalam Yohanes 5:19, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”

(Baca juga: NAMA YESUS JAUH LEBIH BERKUASA DARI SAKIT PENYAKIT ANDA)

Bagaimana dengan kita? Seberapa berhargakah hubungan kita dengan Bapa Sorgawi? Cara termudah untuk melihat nilai sebuah hubungan yang kita jalin adalah melalui seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan demi hubungan tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

SETIAP KITA PERLU MEMILIKI PEMBIMBING ROHANI

Bahan renungan:

Ibrani 13:17 Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.

Perjalanan hidup rohani yang kita tempuh adalah perjalanan yang panjang. Setelah kita percaya kepada Yesus, ada kehidupan yang perlu kita jalani dan masalah-masalah yang perlu kita hadapi. Tidak mudah jika kita berjalan sendiri. Kita perlu seseorang yang dapat membimbing langkah kita dan menuntun kita ke arah yang benar.

(Baca juga: DUA PENYEBAB MENGAPA HIDUP ANDA TERGONCANG)

Beberapa orang mengirimkan email kepada saya menceritakan mengenai masalah yang sedang mereka hadapi untuk meminta dukungan doa. Secara garis besar, mereka memiliki kesamaan. Mereka menggebu-gebu di awal pertobatan mereka, tetapi beberapa tahun setelahnya, mereka mulai kehilangan arah, berbeban berat, tidak bersemangat, bahkan terjebak dalam stres dan kondisi kehidupan rohani yang naik turun. Tidak sedikit yang pada akhirnya jatuh bangun di dalam dosa.

Jika Anda sedang dalam kondisi demikian, jangan berdiam diri, lakukan sesuatu.

Ini perkara serius. Semestinya, kehidupan kita setelah mengenal dan percaya Yesus adalah naik, bukan turun. Itu janji Tuhan bagi setiap anak-anak-Nya.

Saya percaya, salah satu penyebab utama kehidupan rohani naik turun adalah tidak adanya pembimbing rohani, yang dapat menjadi tempat bertanya, bertukar pikiran, dan meminta nasehat. Bimbingan rohani yang saya maksud adalah sebuah pertemuan rutin, bukan hanya pada saat kita membutuhkan saja, antara kita dengan orang yang kita percaya dapat memimpin hidup kita. Hal itu dapat berupa persekutuan, pendalaman alkitab, atau pemuridan. Yang jelas bukan ibadah minggu, karena di dalam di ibadah minggu, kita tidak dapat bertanya atau berdiskusi.

Setiap kita perlu memiliki seseorang yang kita anggap mampu memimpin, menuntun, dan berjaga-jaga atas hidup kita. Kita terlalu sombong jika berkata kita tidak menemukan orang yang dapat untuk memimpin dan menuntun hidup kita.

Atau, kita berpikir, “Saya mau dibimbing oleh Roh Kudus saja.” Tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, bagaimana mungkin kita dapat mendengarkan dan percaya terhadap yang tidak kelihatan, sementara terhadap yang kelihatan kita sulit untuk mendengarkan dan percaya.

(Baca juga: TUHAN MENJAWAB LIMA KERAGUAN MUSA (BAGIAN KEDUA))

Sebelum para murid menjadi para rasul, mereka dibimbing oleh Yesus. Anda ingat 3000 orang yang bertobat saat Petrus di Serambi Salomo? Mereka pun dibimbing dalam persekutuan (Kisah Para Rasul 5:12). Sebelum Saulus menjadi Paulus, dia dibimbing oleh Silas. Begitu juga Timotius, Titus, Filemon, dan Onesimus yang dibimbing oleh Paulus. Jika para rasul saja memerlukan pembimbing rohani, saya percaya kita pun memerlukannya. (penulis: @mistermuryadi)

PENGORBANAN KITA MENENTUKAN KUALITAS HUBUNGAN KITA DENGAN TUHAN

Bahan renungan:

Lukas 6:12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.

Jika kita ingin mengetahui apakah hubungan yang kita bina dengan pasangan, anak, keluarga, atau Tuhan, berharga atau tidak, kita dapat mengukurnya dari seberapa banyak hal yang rela kita korbankan demi hubungan tersebut, entah hal tersebut berupa waktu, uang, atau tenaga.

(Baca juga: KITA PERLU MEMBUAT MUKJIZAT DI DALAM NAMA YESUS)

Misalnya hubungan kita dengan pasangan kita. Bagaimana mungkin kita dapat mengklaim bahwa hubungan kita dengan pasangan intim atau erat, jika kita meluangkan waktu pergi berdua bersama pasangan hanya pada saat kita tidak sedang sibuk di kantor atau di pekerjaan. Jika bisnis atau pekerjaan memanggil kita, dengan segera kita kesampingkan janji kita terhadap pasangan.

Begitu juga dengan Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat mengatakan memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, sementara kita hanya meluangkan waktu bersama Tuhan pada saat kita dalam masalah atau pada saat kita sedang memiliki waktu luang saja. Kita tidak pernah benar-benar mempersiapkan waktu khusus untuk bersekutu dengan-Nya.

Yesus sangat sibuk ketika Dia melayani di dunia ini. Selalu ada orang yang perlu didoakan, disembuhkan, dilepaskan, dan diberkati. Meski demikian, Yesus tetap memiliki waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa di tengah jadwal-Nya yang sangat padat.

Dalam banyak kesempatan, Yesus mengorbankan waktu tidur-Nya untuk bersekutu dengan Bapa. Bahkan tidak jarang, di tengah orang banyak sedang mengikuti, dan mengelu-elukan-Nya, Yesus memilih untuk menyingkir dan bersekutu dengan Bapa.

Sekali lagi, saya tidak hanya berbicara mengenai pengorbanan waktu, tetapi juga uang, pikiran, dan tenaga kita. Contohnya uang. Banyak orang rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli smartphone yang mahal atau untuk datang ke sebuah konser, tetapi ragu untuk memberi persembahan atau persepuluhan.

(Baca juga: BERHENTI MEMIKIRKAN YANG TIDAK PERLU DIPIKIRKAN)

Saya percaya pengorbanan yang kita lakukan untuk Tuhan memperlihatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan. Juga, menentukan seberapa berharga Tuhan bagi hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

MAKSUD DARI JADILAH PETANG, JADILAH PAGI

Bahan renungan:

2 Samuel 9:13 Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.

Masih soal makan, melanjutkan renungan kemarin. Makan adalah sebuah kegiatan yang perlu meluangkan waktu. Kita bisa saja mengerjakan sesuatu yang lain sambil makan, tetapi kita hanya dapat menikmati makanan kita jika kita makan dalam keadaan tenang.

(Baca juga: MAKAN SEHIDANGAN DENGAN SANG RAJA)

Jadi, istilah makan sehidangan dengan raja berbicara mengenai meluangkan waktu dan tinggal tenang di dalam hadirat Tuhan. Sepadat apapun kegiatan kita, semumet apapun pikiran kita, jangan lupakan waktu-waktu kita “makan” bersama Sang Raja. Karena, hanya di dalam Dialah kita mendapatkan kekuatan baru. Ranting hanya dapat berbuah lebat ketika menempel pada pohon.

Seperti renungan dua hari lalu, saya percaya Tuhan layak mendapatkan waktu-waktu terbaik kita, bukan hanya waktu sisa. Seringkali kita tidak menganggap bahwa waktu-waktu kita “makan” bersama Sang Raja itu sangatlah penting, sehingga kita melakukannya dengan terburu-buru, karena sudah ditunggu oleh aktivitas yang lain. Padahal seperti saya katakan di atas, kita baru dapat menikmati makanan jika kita dalam keadaan tenang. Bahkan, kadang beberapa orang lebih rela mengorbankan waktu-waktu bersekutu dengan Tuhan dibandingkan mengorbankan jam nonton, jam main, atau jam istirahatnya.

Makan yang saya maksud di atas berbicara mengenai hubungan kita dengan Sang Raja. Kualitas hubungan kita dengan Tuhan sangat menentukan kualitas pekerjaan, bisnis, perilaku, hubungan suami dengan istri – orangtua dengan anak yang kita jalani sehari-hari.

(Baca juga: KENYATAAN TERBAIK MENGENAI HIDUP KITA)

Di dalam proses Hari Penciptaan di Kitab Kejadian, setiap kali menciptakan Tuhan mengatakan, “Jadilah petang, jadilah pagi …” Perhatikan, petang terlebih dahulu, barulah pagi. Atau dengan kata lain, “istirahat” dahulu, baru bekerja; berhubungan dengan Tuhan dahulu, baru beraktivitas. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

TUHAN LAYAK MENERIMA WAKTU-WAKTU TERBAIK KITA

Bahan renungan:

Mazmur 1:2 … tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Tuhan bukanlah sekadar tempat singgah, Dia adalah “rumah” bagi setiap orang percaya. Tempat paling aman dan nyaman bagi kita. Tempat kita ingin berlama-lama. Jika benar kita menganggap Tuhan demikian, semestinya kita paling suka menghabiskan waktu bersama Tuhan, entah itu membaca atau merenungkan Firman-Nya, memuji menyembah-Nya, atau sekadar mengucapkan syukur kita kepada-Nya.

(Baca juga: RESPONS RAJA YOSAFAT DI TENGAH TEKANAN)

Banyak orang memperlakukan Tuhan sebaliknya, hanya sebagai tempat singgah. Ketika sedang kelelahan atau dalam masalah, barulah mencari Sang Air Hidup. Ketika sedang dalam pergumulan yang berat, barulah mencari Sang Pemberi Kelegaan.

Setiap hari, setidaknya ada waktu 1-2 jam di mana saya menyendiri untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan tanpa mau diganggu oleh notifikasi ponsel saya. Tidak jarang saya tidur sangat larut saking serunya merenungkan satu dua ayat yang membekas di hati saya. Saya berpikir bahwa Tuhan layak menerima waktu-waktu terbaik saya.

(Baca juga: INI KATA ALKITAB TENTANG PENYAKIT YANG TIDAK ADA OBATNYA)

Teman, hidup kita di dalam Kristus adalah sebuah perjalanan yang panjang. Ada kerikil, batu tajam, bukit, lembah, dan gunung yang tinggi. Ada sedih, kecewa, bahagia, marah, dan sukacita. Satu hal yang perlu kita ingat, jangan melupakan “rumah” kita. Sejauh apapun kita berjalan, sesibuk apapun kegiatan kita, selalu ingat untuk meluangkan waktu bersekutu dengan Sang Raja. Sebagai orang percaya, Tuhanlah sumber kekuatan kita, mata air yang melepaskan dahaga kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

TERTANAM DAN BERTUMBUH DI SEBUAH GEREJA LOKAL

Bahan renungan:

Kisah Para Rasul 2:41-47 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mukjizat dan tanda.

Tuhan memakai orang-orang benar di sekitar kita untuk membuat kita semakin bertumbuh dan semakin dekat kepada Tuhan. Namun, di sisi lain, Iblis juga memakai orang-orang di sekitar kita untuk membuat kita semakin jauh dari Tuhan.

(Baca juga: RESPONS ANDA ADALAH TANGGUNG JAWAB ANDA)

Cek dengan siapa kita berteman dan menghabiskan waktu. Apakah mereka adalah orang-orang yang membawa kita semakin dekat dengan Tuhan atau sebaliknya?

Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita bahwa setelah jemaat mula-mula bertobat, yang mereka lakukan adalah bertekun dalam persekutuan. Mereka menghabiskan waktu lebih banyak dengan saudara-saudara seiman (ayat 42). Akibatnya adalah banyak mukjizat dan tanda terjadi di antara mereka (ayat 43), saling berbagi hidup (ayat 44-45), sukacita (ayat 46), suka memuji Tuhan, dan menjadi berkat bagi orang lain (ayat 47).

Ya, kita perlu komunitas untuk bertumbuh. Kita perlu menaruh perhatian khusus terhadap hal tersebut. Komunitas, tempat kita menghabiskan waktu, sangat menentukan akan menjadi orang-orang seperti apa kita di masa mendatang. Pilihlah komunitas dan pergaulan yang benar.

(Baca juga: JANGAN TERJEBAK DI KEHIDUPAN YANG LAMA)

Juga, jika Anda adalah seorang percaya, tetapi belum memiliki persekutuan atau gereja yang tetap, Anda perlu mencarinya dengan serius. Cari gereja yang menyediakan kebutuhan makanan rohani bagi Anda. Saya percaya, setiap orang percaya perlu tertanam di sebuah gereja lokal, agar dapat bertumbuh dan berbuah lebat seperti yang Firman Tuhan janjikan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.