JANGAN SAMPAI KEKAYAAN MEMBUAT KITA LUPA TERHADAP TIGA HAL INI

Bahan renungan:

1 Timotius 6:17 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

Kekayaan dapat membuat kita lupa akan tiga hal ini:
1. Lupa bahwa semua yang baik yang kita miliki berasal dari Tuhan.
2. Lupa bahwa sumber kekayaan kita yang sesungguhnya adalah Tuhan.
3. Lupa bahwa semestinya kita menggunakan kekayaan kita untuk mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan.

(Baca juga: PERKATAAN KASIH YANG SEDERHANA DAPAT MEMBERI KELEGAAN BESAR)

Yudas adalah contoh yang tepat dari orang yang terpesona pada uang dan kekayaan. Yudas lebih suka mengambil, atau dengan kata lain, mengumpulkan uang untuk kepentingan dirinya, daripada memberi untuk orang yang membutuhkan (Yohanes 12:6) dan Yudas tertarik pada kekayaan lebih daripada Yesus.

Salah satu cara untuk mengingatkan diri kita akan ketiga hal di atas adalah dengan cara memberi.

(Baca juga: PENTINGNYA KITA MENGETAHUI DAN MENGAKUI KE-TUHAN-AN YESUS)

Memberi persembahan atau persepuluhan adalah sebuah pernyataan iman, tanda kita menyadari bahwa kekayaan kita adalah milik Tuhan. Memberi kepada orang-orang yang tidak mampu dan membutuhkan adalah pernyataan iman, tanda kita menyadari bahwa hidup kita adalah saluran berkat bagi orang lain. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

“WAKTU AKU TAKUT, AKU PERCAYA KEPADAMU”

Bahan renungan:

Mazmur 56:3-4 Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

Takut terjadi akibat kita terlalu fokus kepada masalah yang sedang kita hadapi. Takut terjadi karena kita berpikir bahwa masalah lebih kuat daripada Tuhan yang tinggal di dalam hati kita. Takut terjadi pada saat kita menganggap bahwa masalah lebih nyata daripada janji Tuhan bagi hidup kita.

(Baca juga: SAAT DALAM KESESAKAN, JANGAN MENGANDALKAN DIRI SENDIRI)

Adalah hal yang wajar jika kita pernah mengalami takut di dalam hidup kita. Namun, jangan terlena dengan situasi tersebut. Tinggal di dalam ketakutan bukanlah tempat kita sebagai orang percaya. Kita perlu keluar dari sana dengan cara belajar percaya kepada Tuhan, karena hidup dalam iman adalah habibat orang percaya.

Langkah pertama untuk percaya kepada Tuhan adalah mengenal-Nya. Seperti yang sering saya tulis di blog hagahtoday.com bahwa kita baru dapat percaya seseorang jika kita mengenalnya. Begitu juga dengan Tuhan. Kita akan sangat kesulitan untuk memercayai Tuhan jika kita tidak mengenal-Nya. Cara mengenal Tuhan adalah dengan membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Karena, Yohanes 1:1 mengatakan bahwa Firman Tuhan adalah Tuhan sendiri. Kita dapat mengenal pribadi, kehendak, dan janji Tuhan melalui Firman-Nya.

Langkah kedua adalah melakukan tindakan berdasarkan apa yang kita percaya. Setelah kita membaca dan merenungkan kebenaran, saya percaya iman kita pasti akan bangkit. Karena, Roma 10:17 mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Jadi, bertindaklah berdasarkan apa yang kita percayai dari kebenaran Firman Tuhan. Misalnya kita takut untuk memberi persembahan atau persepuluhan. Setelah kita membaca dan merenungkan bahwa Tuhan memberkati pemberian kita berlipat ganda dan Dia memelihara hidup kita, mulailah bertindak berdasarkan hal tersebut.

(Baca juga: MENGELUH MERUGIKAN HIDUP ANDA)

Jika kita konsisten melakukan kedua langkah tersebut, suatu hari kita akan dengan mudah keluar dari rasa takut. Karena, pada saat rasa takut datang, kita tahu ke mana kita harus berlari dan bersandar, kita tahu bahwa janji Tuhan jauh lebih nyata dari rasa takut kita. (penulis: @mistermuryadi)

PENGORBANAN KITA MENENTUKAN KUALITAS HUBUNGAN KITA DENGAN TUHAN

Bahan renungan:

Lukas 6:12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.

Jika kita ingin mengetahui apakah hubungan yang kita bina dengan pasangan, anak, keluarga, atau Tuhan, berharga atau tidak, kita dapat mengukurnya dari seberapa banyak hal yang rela kita korbankan demi hubungan tersebut, entah hal tersebut berupa waktu, uang, atau tenaga.

(Baca juga: KITA PERLU MEMBUAT MUKJIZAT DI DALAM NAMA YESUS)

Misalnya hubungan kita dengan pasangan kita. Bagaimana mungkin kita dapat mengklaim bahwa hubungan kita dengan pasangan intim atau erat, jika kita meluangkan waktu pergi berdua bersama pasangan hanya pada saat kita tidak sedang sibuk di kantor atau di pekerjaan. Jika bisnis atau pekerjaan memanggil kita, dengan segera kita kesampingkan janji kita terhadap pasangan.

Begitu juga dengan Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat mengatakan memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, sementara kita hanya meluangkan waktu bersama Tuhan pada saat kita dalam masalah atau pada saat kita sedang memiliki waktu luang saja. Kita tidak pernah benar-benar mempersiapkan waktu khusus untuk bersekutu dengan-Nya.

Yesus sangat sibuk ketika Dia melayani di dunia ini. Selalu ada orang yang perlu didoakan, disembuhkan, dilepaskan, dan diberkati. Meski demikian, Yesus tetap memiliki waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa di tengah jadwal-Nya yang sangat padat.

Dalam banyak kesempatan, Yesus mengorbankan waktu tidur-Nya untuk bersekutu dengan Bapa. Bahkan tidak jarang, di tengah orang banyak sedang mengikuti, dan mengelu-elukan-Nya, Yesus memilih untuk menyingkir dan bersekutu dengan Bapa.

Sekali lagi, saya tidak hanya berbicara mengenai pengorbanan waktu, tetapi juga uang, pikiran, dan tenaga kita. Contohnya uang. Banyak orang rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli smartphone yang mahal atau untuk datang ke sebuah konser, tetapi ragu untuk memberi persembahan atau persepuluhan.

(Baca juga: BERHENTI MEMIKIRKAN YANG TIDAK PERLU DIPIKIRKAN)

Saya percaya pengorbanan yang kita lakukan untuk Tuhan memperlihatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan. Juga, menentukan seberapa berharga Tuhan bagi hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

BENIH ITU HARUS DITABUR AGAR BERLIPAT GANDA

Bahan renungan:

2 Korintus 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.

Menurut ayat di atas, Tuhan telah menyediakan benih dan roti kepada setiap kita. Ciri-ciri benih adalah sesuatu yang kita tabur dan ciri-ciri roti adalah sesuatu yang kita makan atau gunakan. Mengenai seberapa banyak yang ingin kita jadikan benih untuk ditabur dan roti untuk dimakan, sepenuhnya Tuhan serahkan kepada kita. Kita yang memutuskan hal tersebut.

(Baca juga: PERLAKUKAN ORANG LAIN SEBAGAIMANA ANDA INGIN DIPERLAKUKAN)

Yang pasti, untuk setiap benih yang kita tabur, Tuhan janjikan pelipatgandaan, sedangkan untuk roti yang kita makan, tidak.

Saya berikan ilustrasi. Bayangkan kita punya kebun seluas satu hektar, uang 15 juta rupiah, dan kita ingin berbisnis kelapa sawit. Jika kita tidak menyisihkan uang kita untuk membeli benih kelapa sawit, uang kita hanya akan habis untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, roti yang kita makan tidak dapat berlipat ganda.

Anggaplah kita memutuskan untuk menggunakan uang kita untuk membeli bibit kelapa sawit senilai 5 juta rupiah. Sekarang, kita memiliki uang tunai 10 juta rupiah dan bibit kelapa sawit senilai 5 juta rupiah.

Bibit seharga 5 juta rupiah itu, jika kita tabur, akan menghasilkan uang lebih dari 5 juta rupiah. Atau dengan kata lain, akan terjadi pelipatgandaan. Semakin banyak uang yang kita belikan benih, semakin banyak yang akan kita tuai, tepat seperti yang Rasul Paulus katakan dalam 2 Korintus 9:6, “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”

Kita takut menabur (memberi persepuluhan dan persembahan), karena dunia mengajarkan cara untuk hidup berkelimpahan adalah dengan menyimpan berkat tersebut. Sungguh berbeda dengan cara yang Alkitab ajarkan.

(Baca juga: PENTINGNYA MEMILIKI CATATAN KHOTBAH)

Menurut kebenaran Firman Tuhan di atas, ternyata kita tidak akan semakin berkekurangan saat menabur, justru sebaliknya, kita akan semakin berlimpah. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

PEMAHAMAN MEMBERI MENURUT PERJANJIAN BARU

Bahan renungan:

2 Korintus 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Hari ini saya ingin kembali menjelaskan pemahaman memberi persembahan atau persepuluhan menurut Perjanjian Baru.

(Baca juga: ARTI KATA “BENIH” MENURUT BAHASA IBRANI)

Selama dibayang-bayangi hukuman dan binatang pelahap, memberi bukanlah sesuatu yang mendatangkan sukacita. Puji Tuhan, di dalam Perjanjian Baru, Tuhan tidak lagi mengutuk atau menghukum kita jika kita tidak memberikan persembahan atau persepuluhan. Karena, semua kutuk yang seharusnya kita tanggung, telah ditanggung oleh Tuhan Yesus 2000 tahun lalu.

Apakah itu artinya tidak masalah jika kita tidak memberi persepuluhan atau persembahan? Sekali lagi perlu saya katakan bahwa Tuhan akan tetap mengasihi kita sekalipun kita tidak memberi persembahan atau pun persepuluhan. Jadi, dari sisi Tuhan sama sekali tidak ada masalah jika kita tidak mau memberi, Dia tidak akan menghukum kita. Hanya saja kita akan kehilangan kesempatan untuk menerima berkat yang Tuhan sediakan jika kita memberi atau menabur.

Pada renungan kemarin saya menjelaskan mengenai arti dari kata benih menurut Bahasa Ibrani. Salah satu artinya adalah untuk menghasilkan lebih banyak benih. Ya, ada berkat pelipatgandaan yang Tuhan janjikan setiap kali kita menabur. Alkitab menjanjikan setiap benih yang kita tabur karena kita percaya dapat menghasilkan 30, 60, bahkan 100 kali lipat.

Memberi juga merupakan kesempatan bagi kita untuk percaya kepada janji pemeliharaan Tuhan. Ketika kita memutuskan untuk tidak memberi atas dasar takut, pada dasarnya kita sedang bersikap seolah kita dapat memelihara hidup kita lebih baik daripada Tuhan memelihara kita.

(Baca juga: JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN UNTUK HIDUP BERKELIMPAHAN)

Mari, saya mengajak kita semua untuk memberi kepada Tuhan dengan pemahaman yang benar. Supaya setiap kali memberi, kita tidak lagi digerakkan oleh perasaan takut dihukum atau binatang pelahap, melainkan karena kita percaya kepada janji pelipatgandaan dan pemeliharaan Tuhan. Dengan demikian, kita dapat memberi dengan rela hati dan sukacita. (penulis: @mistermuryadi)

ARTI KATA “BENIH” MENURUT BAHASA IBRANI

Bahan renungan:

Yesaya 30:23-24 Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak.

Hari ini saya ingin mengupas mengenai arti kata “benih” pada ayat di atas. Benih yang saya bahas di sini berbicara mengenai persembahan dan persepuluhan Anda.

(Baca juga: ANAK TUHAN PASTI MENDENGARKAN SUARA TUHAN)

Kata “benih” berasal dari akar bahasa Ibrani ‘zara’ (baca: zaw-rah’). Kata itu dapat diartikan bibit, benih, mengandung, menabur, untuk dituai, untuk menghasilkan benih lagi, dan berserah.

Arti pertama dari benih yang ingin saya jelaskan adalah untuk dituai dan untuk menghasilkan benih lagi. Jadi, ketika Anda menabur, Anda pasti menuai. Benih yang Anda tabur karena percaya kepada janji Tuhan tidak akan gagal. Yang luar biasa, benih tersebut akan menghasilkan lebih banyak benih lagi. Perhatikan apa yang dikatakan oleh ayat di atas, “… dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah.”

Arti kedua mengenai benih yang ingin saya bahas adalah berserah. Apa hubungannya antara memberikan persembahan atau persepuluhan dengan berserah? Ternyata, kedua hal tersebut memiliki hubungan yang sangat erat.

Saat Anda memberi atau menabur, pada dasarnya Anda sedang memercayakan kehidupan dan masa depan Anda kepada pemeliharaan dan penjagaan Tuhan. Pada saat Anda memberi persembahan atau persepuluhan, kita bukan hanya memberikan uang, tetapi juga iman percaya Anda kepada Tuhan.

(Baca juga: YUSUF MENJADI PENGUASA ATAS ORANG NOMOR SATU DI MESIR)

Di dalam Perjanjian Baru, memberi tidak lagi dilakukan dengan tujuan menghindari binatang pelahap atau sebagai upaya agar Tuhan mencurahkan kebaikan-Nya atau mengabulkan doa, melainkan sebagai bentuk berserah dan percaya kepada Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

SEMUA BERKAT YANG KITA MILIKI BERASAL DARI TUHAN

Bahan renungan:

2 Korintus 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.

“Semua yang saya miliki hari ini adalah hasil keringat dan kerja keras saya.” Tidak benar demikian. Menurut Firman Tuhan, semua berkat yang kita miliki hari ini adalah anugerah dari Bapa Sorgawi. Dia yang menyediakan benih untuk kita tabur dan roti untuk kita nikmati.

(Baca juga: IMAN ADALAH SATU-SATUNYA KUNCI UNTUK MEMBUKA GUDANG PERSEDIAAN TUHAN)

Sebuah survei di Amerika mengatakan banyak orang Kristen yang pelit dalam memberikan tip kepada para pelayan restoran. Saya tidak tahu secara pasti apakah survei ini akurat atau tidak. Namun, itulah yang dunia ajarkan, bahwa semua yang kita miliki hari ini adalah milik kita, karena kita, dan untuk kita. Alasan ini yang membuat orang jadi pelit dan takut memberi.

Jika ada seorang kaya memberikan kita akses untuk menikmati semua hartanya, kira-kira apakah kita masih akan merasa takut atau kuatir saat memberi? Tentu saja tidak. Malah, kita akan menabur lebih banyak dari biasanya. Sama halnya jika kita menyadari bahwa uang yang kita miliki itu adalah milik Tuhan. Kita tidak akan takut dan kuatir kehabisan uang pada saat kita menabur.

Hari ini saya ingin kita menyadari, bahwa semua yang kita miliki adalah berasal dari Tuhan. Firman Tuhan mengatakan Dia yang menyediakan benih bagi kita dan melipatgandakannya untuk kita. Tuhan yang kita sembah adalah Sang Sumber Berkat. Dia ingin kita menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

(Baca juga: IMAN KITA MEMILIKI BENTUK YANG DAPAT DILIHAT DAN DIRASAKAN)

Saya tidak mengatakan kita tidak boleh menggunakan uang untuk kepentingan pribadi. Tentu saja boleh. Tuhan bukan hanya ingin kita menjadi berkat, Dia juga ingin memberkati kita. Namun, tidak semua yang uang kita miliki harus dihabiskan hanya untuk kepentingan kita. Kita perlu bijak dan bertanggung jawab menggunakannya. Contoh: Sebagian kita tabur sebagai benih (persembahan dan persepuluhan), sebagian untuk membantu orang lain, dan sebagian untuk keperluan kita dan keluarga. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.