BENIH ITU HARUS DITABUR AGAR BERLIPAT GANDA

Bahan renungan:

2 Korintus 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.

Menurut ayat di atas, Tuhan telah menyediakan benih dan roti kepada setiap kita. Ciri-ciri benih adalah sesuatu yang kita tabur dan ciri-ciri roti adalah sesuatu yang kita makan atau gunakan. Mengenai seberapa banyak yang ingin kita jadikan benih untuk ditabur dan roti untuk dimakan, sepenuhnya Tuhan serahkan kepada kita. Kita yang memutuskan hal tersebut.

(Baca juga: PERLAKUKAN ORANG LAIN SEBAGAIMANA ANDA INGIN DIPERLAKUKAN)

Yang pasti, untuk setiap benih yang kita tabur, Tuhan janjikan pelipatgandaan, sedangkan untuk roti yang kita makan, tidak.

Saya berikan ilustrasi. Bayangkan kita punya kebun seluas satu hektar, uang 15 juta rupiah, dan kita ingin berbisnis kelapa sawit. Jika kita tidak menyisihkan uang kita untuk membeli benih kelapa sawit, uang kita hanya akan habis untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, roti yang kita makan tidak dapat berlipat ganda.

Anggaplah kita memutuskan untuk menggunakan uang kita untuk membeli bibit kelapa sawit senilai 5 juta rupiah. Sekarang, kita memiliki uang tunai 10 juta rupiah dan bibit kelapa sawit senilai 5 juta rupiah.

Bibit seharga 5 juta rupiah itu, jika kita tabur, akan menghasilkan uang lebih dari 5 juta rupiah. Atau dengan kata lain, akan terjadi pelipatgandaan. Semakin banyak uang yang kita belikan benih, semakin banyak yang akan kita tuai, tepat seperti yang Rasul Paulus katakan dalam 2 Korintus 9:6, “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”

Kita takut menabur (memberi persepuluhan dan persembahan), karena dunia mengajarkan cara untuk hidup berkelimpahan adalah dengan menyimpan berkat tersebut. Sungguh berbeda dengan cara yang Alkitab ajarkan.

(Baca juga: PENTINGNYA MEMILIKI CATATAN KHOTBAH)

Menurut kebenaran Firman Tuhan di atas, ternyata kita tidak akan semakin berkekurangan saat menabur, justru sebaliknya, kita akan semakin berlimpah. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

PEMAHAMAN MEMBERI MENURUT PERJANJIAN BARU

Bahan renungan:

2 Korintus 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Hari ini saya ingin kembali menjelaskan pemahaman memberi persembahan atau persepuluhan menurut Perjanjian Baru.

(Baca juga: ARTI KATA “BENIH” MENURUT BAHASA IBRANI)

Selama dibayang-bayangi hukuman dan binatang pelahap, memberi bukanlah sesuatu yang mendatangkan sukacita. Puji Tuhan, di dalam Perjanjian Baru, Tuhan tidak lagi mengutuk atau menghukum kita jika kita tidak memberikan persembahan atau persepuluhan. Karena, semua kutuk yang seharusnya kita tanggung, telah ditanggung oleh Tuhan Yesus 2000 tahun lalu.

Apakah itu artinya tidak masalah jika kita tidak memberi persepuluhan atau persembahan? Sekali lagi perlu saya katakan bahwa Tuhan akan tetap mengasihi kita sekalipun kita tidak memberi persembahan atau pun persepuluhan. Jadi, dari sisi Tuhan sama sekali tidak ada masalah jika kita tidak mau memberi, Dia tidak akan menghukum kita. Hanya saja kita akan kehilangan kesempatan untuk menerima berkat yang Tuhan sediakan jika kita memberi atau menabur.

Pada renungan kemarin saya menjelaskan mengenai arti dari kata benih menurut Bahasa Ibrani. Salah satu artinya adalah untuk menghasilkan lebih banyak benih. Ya, ada berkat pelipatgandaan yang Tuhan janjikan setiap kali kita menabur. Alkitab menjanjikan setiap benih yang kita tabur karena kita percaya dapat menghasilkan 30, 60, bahkan 100 kali lipat.

Memberi juga merupakan kesempatan bagi kita untuk percaya kepada janji pemeliharaan Tuhan. Ketika kita memutuskan untuk tidak memberi atas dasar takut, pada dasarnya kita sedang bersikap seolah kita dapat memelihara hidup kita lebih baik daripada Tuhan memelihara kita.

(Baca juga: JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN UNTUK HIDUP BERKELIMPAHAN)

Mari, saya mengajak kita semua untuk memberi kepada Tuhan dengan pemahaman yang benar. Supaya setiap kali memberi, kita tidak lagi digerakkan oleh perasaan takut dihukum atau binatang pelahap, melainkan karena kita percaya kepada janji pelipatgandaan dan pemeliharaan Tuhan. Dengan demikian, kita dapat memberi dengan rela hati dan sukacita. (penulis: @mistermuryadi)

ARTI KATA “BENIH” MENURUT BAHASA IBRANI

Bahan renungan:

Yesaya 30:23-24 Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak.

Hari ini saya ingin mengupas mengenai arti kata “benih” pada ayat di atas. Benih yang saya bahas di sini berbicara mengenai persembahan dan persepuluhan Anda.

(Baca juga: ANAK TUHAN PASTI MENDENGARKAN SUARA TUHAN)

Kata “benih” berasal dari akar bahasa Ibrani ‘zara’ (baca: zaw-rah’). Kata itu dapat diartikan bibit, benih, mengandung, menabur, untuk dituai, untuk menghasilkan benih lagi, dan berserah.

Arti pertama dari benih yang ingin saya jelaskan adalah untuk dituai dan untuk menghasilkan benih lagi. Jadi, ketika Anda menabur, Anda pasti menuai. Benih yang Anda tabur karena percaya kepada janji Tuhan tidak akan gagal. Yang luar biasa, benih tersebut akan menghasilkan lebih banyak benih lagi. Perhatikan apa yang dikatakan oleh ayat di atas, “… dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah.”

Arti kedua mengenai benih yang ingin saya bahas adalah berserah. Apa hubungannya antara memberikan persembahan atau persepuluhan dengan berserah? Ternyata, kedua hal tersebut memiliki hubungan yang sangat erat.

Saat Anda memberi atau menabur, pada dasarnya Anda sedang memercayakan kehidupan dan masa depan Anda kepada pemeliharaan dan penjagaan Tuhan. Pada saat Anda memberi persembahan atau persepuluhan, kita bukan hanya memberikan uang, tetapi juga iman percaya Anda kepada Tuhan.

(Baca juga: YUSUF MENJADI PENGUASA ATAS ORANG NOMOR SATU DI MESIR)

Di dalam Perjanjian Baru, memberi tidak lagi dilakukan dengan tujuan menghindari binatang pelahap atau sebagai upaya agar Tuhan mencurahkan kebaikan-Nya atau mengabulkan doa, melainkan sebagai bentuk berserah dan percaya kepada Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

SEMUA BERKAT YANG KITA MILIKI BERASAL DARI TUHAN

Bahan renungan:

2 Korintus 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu.

“Semua yang saya miliki hari ini adalah hasil keringat dan kerja keras saya.” Tidak benar demikian. Menurut Firman Tuhan, semua berkat yang kita miliki hari ini adalah anugerah dari Bapa Sorgawi. Dia yang menyediakan benih untuk kita tabur dan roti untuk kita nikmati.

(Baca juga: IMAN ADALAH SATU-SATUNYA KUNCI UNTUK MEMBUKA GUDANG PERSEDIAAN TUHAN)

Sebuah survei di Amerika mengatakan banyak orang Kristen yang pelit dalam memberikan tip kepada para pelayan restoran. Saya tidak tahu secara pasti apakah survei ini akurat atau tidak. Namun, itulah yang dunia ajarkan, bahwa semua yang kita miliki hari ini adalah milik kita, karena kita, dan untuk kita. Alasan ini yang membuat orang jadi pelit dan takut memberi.

Jika ada seorang kaya memberikan kita akses untuk menikmati semua hartanya, kira-kira apakah kita masih akan merasa takut atau kuatir saat memberi? Tentu saja tidak. Malah, kita akan menabur lebih banyak dari biasanya. Sama halnya jika kita menyadari bahwa uang yang kita miliki itu adalah milik Tuhan. Kita tidak akan takut dan kuatir kehabisan uang pada saat kita menabur.

Hari ini saya ingin kita menyadari, bahwa semua yang kita miliki adalah berasal dari Tuhan. Firman Tuhan mengatakan Dia yang menyediakan benih bagi kita dan melipatgandakannya untuk kita. Tuhan yang kita sembah adalah Sang Sumber Berkat. Dia ingin kita menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

(Baca juga: IMAN KITA MEMILIKI BENTUK YANG DAPAT DILIHAT DAN DIRASAKAN)

Saya tidak mengatakan kita tidak boleh menggunakan uang untuk kepentingan pribadi. Tentu saja boleh. Tuhan bukan hanya ingin kita menjadi berkat, Dia juga ingin memberkati kita. Namun, tidak semua yang uang kita miliki harus dihabiskan hanya untuk kepentingan kita. Kita perlu bijak dan bertanggung jawab menggunakannya. Contoh: Sebagian kita tabur sebagai benih (persembahan dan persepuluhan), sebagian untuk membantu orang lain, dan sebagian untuk keperluan kita dan keluarga. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

MEMBERI ADALAH MASALAH PERCAYA ATAU TIDAK KEPADA TUHAN

Bahan renungan:

1 Petrus 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Memberi adalah masalah kita percaya atau tidak kepada Tuhan, bukan masalah kita memiliki uang atau tidak. Faktanya, si janda miskin berani memberi dari kekurangannya, yaitu seluruh nafkahnya (Lukas 21:1-4). Sebaliknya, ada orang yang memiliki uang jauh lebih banyak dari si janda miskin di atas, tetapi takut memberi.

(Baca juga: BERISTIRAHATLAH SEJENAK DARI KESIBUKAN ANDA)

Saya berikan ilustrasi. Anggaplah ada seorang kaya, misalnya Bill Gates, yang sangat dekat dengan Anda dan dia berjanji untuk selalu menyediakan uang pada saat Anda membutuhkannya. Saya yakin Anda tidak akan takut sedikit pun untuk memberi persembahan atau persepuluhan. Bahkan, kemungkinan besar Anda akan memberi jauh lebih banyak dari biasanya.

Permasalahannya adalah yang menjamin untuk memelihara Anda adalah Tuhan yang tidak kelihatan, bukan Bill Gates yang kelihatan. Kebanyakan orang cenderung lebih mudah memercayai jika yang memberi jaminan dapat dilihat dan disentuh, seperti saudara, rekan bisnis, bos, pinjaman bank, atau sahabat.

Jika Anda tidak terlalu mengenal Tuhan dan memilih lebih memercayai yang kelihatan, sudah pasti Anda akan kesulitan untuk percaya kepada janji Tuhan. Akibatnya, Anda takut dan kuatir. Matius 6:32 dengan sangat jelas mengatakan bahwa orang yang kuatir adalah orang yang tidak mengenal Tuhan, atau dengan kata lain, tidak percaya kepada Tuhan.

Hari ini saya ingin Anda tahu sesuatu mengenai Tuhan. Tuhan yang menjamin masa depan Anda indah dan penuh harapan adalah Tuhan yang menciptakan Bill Gates dan semua orang kaya yang ada di dunia. Tuhan yang berjanji untuk memelihara Anda adalah Tuhan yang menciptakan dan memiliki alam semesta. Tuhan yang menjaga Anda adalah Tuhan yang merelakan Anak-Nya yang tunggal demi menebus dan menyelamatkan Anda.

(Baca juga: MENJADI ORANG YANG LEMBUT TIDAK BERARTI LEMAH)

Jika Anda mengenal Tuhan yang Alkitab maksud di atas, Anda tidak akan pernah takut atau kuatir soal uang dan memberi. Justru Anda bergairah, karena Anda percaya bahwa janji-Nya mengenai pelipatgandaan, pemeliharaan, penjagaan, dan masa depan Anda tidak akan gagal. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

YANG MEMELIHARA MASA DEPAN KITA BUKAN UANG, TETAPI TUHAN

Bahan renungan:

Markus 12:43-44 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Tuhan tidak menginginkan uang kita. Yang Dia inginkan adalah hati yang percaya kepada segala ucapan, perintah, dan janji-Nya.

(Baca juga: JANGAN BIARKAN SATU MASALAH MERAMPAS SUKACITA DI HATI ANDA)

Jika kita membandingkan jumlah pemberian semua orang kaya dalam kisah di atas, tentu saja pemberian si janda miskin ini tidak ada apa-apanya. Namun, di mata Yesus justru terbalik. Yesus melihat pemberian semua orang kaya tersebut tidak sebanding dengan pemberian si janda miskin itu.

Yesus melihat ada sesuatu yang lain yang diberikan oleh si janda miskin tersebut ketika dia memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Yesus melihat si janda miskin itu bukan hanya memberikan uang, tetapi juga masa depan, hidupnya, hatinya, dan segala kekuatirannya akan hari esok.

Jika kita berada di posisi si janda miskin di atas, mungkin banyak di antara kita yang akan memilih untuk tidak memberi, karena takut dan kuatir akan hari esok. Keputusan seperti itu pada dasarnya disebabkan karena kita memercayai bahwa yang menyelamatkan hari esok kita adalah uang yang kita miliki.

(Baca juga: MAHALNYA HARGA SEBUAH KEMALASAN)

Si janda miskin di atas memiliki keyakinan yang berbeda. Terlihat dari keputusannya untuk memberikan seluruh nafkahnya. Pemberian si janda miskin itu menunjukkan bahwa dia percaya yang memelihara masa depannya bukanlah uang, melainkan Tuhan, Sang Gembala Agung. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

JANGAN MAU DIPERBUDAK OLEH UANG

Bahan renungan:

Ibrani 13:5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Apakah Anda pernah melihat orang yang diperbudak oleh uang? Ciri-cirinya sederhana, orang tersebut akan menuruti apa pun yang uang perintahkan, ikut ke mana pun uang pergi, dan ketakutan jika tidak memilikinya.

(Baca juga: JIKA YESUS SUDAH MENEBUS DOSA KITA, APAKAH KITA BEBAS BERBUAT DOSA?)

Ketika saatnya persepuluhan atau persembahan tiba, uang biasanya mulai memerintah orang-orang yang bersedia menjadi hambanya, “Jangan memberi, nanti kamu kekurangan,” “Kalau kamu memberi, bagaimana dengan minggu depan?” Orang-orang yang diperbudak oleh uang akan menuruti uang dan mengurungkan pemberiannya.

Padahal janji Tuhan adalah Dia pasti memelihara hidup kita dan ketika kita menabur benih, kita pasti menuai berkali-kali lipat.

Uang adalah benda mati, tetapi manusia seringkali memberikan kuasa yang luar biasa kepada uang. Sama seperti kecoa. Kecoa tidak lebih besar dari telapak tangan kita. Namun, ada orang-orang yang “dikalahkan” oleh kecoa. Mereka histeris, ketakutan, bahkan pingsan ketika menyentuh kecoa. Sekali lagi, uang atau kecoa tidak memiliki kuasa, tetapi mereka seolah memiliki kuasa karena manusia memposisikannya demikian.

(Baca juga: UANG ADALAH TUAN YANG BURUK, TETAPI HAMBA YANG BAIK)

Di dalam Lukas 16:13, uang digambarkan sebagai dewa yang bernama Mamon. Dewa adalah makhluk sesembahan yang dipuja oleh orang yang tidak percaya dan mengenal Yesus. Matius 6:32 mengatakan bahwa orang yang mengejar harta benda dan kuatir jika tidak memilikinya adalah orang yang tidak mengenal Tuhan. Karena, jika kita mengenal Tuhan, kita pasti percaya kepada janji dan kebenaran-Nya, dan mendahulukan-Nya di atas segalanya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.