SAAT DALAM KESESAKAN, JANGAN MENGANDALKAN DIRI SENDIRI

Bahan renungan:

Mazmur 18:6 Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.

Jika hari ini Anda berada di dalam kesesakan, Anda perlu tahu bahwa Anda ada di tempat itu karena sesuatu yang Anda lakukan atau putuskan. Saya tidak bermaksud membuat Anda merasa tertuduh. Sebaliknya, saya ingin membantu Anda menemukan jalan keluar. Jadi, adalah bodoh jika Anda meneruskan perjalanan yang sesak itu dengan cara dan pemikiran Anda.

(Baca juga: PUJIAN KECIL YANG MEMBERI DAMPAK BESAR)

Anda perlu berhenti sebentar dan memikirkan jalan keluar yang lain. Berseru kepada Tuhan adalah keputusan yang paling tepat untuk Anda lakukan, karena Tuhan adalah sumber jawaban bagi hidup Anda dan semua orang yang membutuhkan.

Saya percaya orang-orang yang berhasil dan hebat di Alkitab bukan tidak pernah gagal. Mereka sama seperti Anda dan saya, melakukan banyak kesalahan dan hal yang bodoh, tetapi setelah menyadari hal tersebut, mereka berbalik kepada Tuhan. Mereka berhenti mengandalkan diri mereka dan mulai berseru kepada Tuhan.

(Baca juga: YESUS TIDUR DI TENGAH BADAI YANG HEBAT)

Abraham, Yakub, Yusuf, Daud, Daniel, Ruth, Ester, Musa, Petrus, dan Paulus, pernah mengalami kesesakan yang sangat hebat di dalam hidup mereka. Namun, mereka membuat pilihan yang cerdas, yaitu berseru kepada Tuhan. Mereka tahu bahwa Tuhan mendengar suara mereka dan menyediakan jalan keluar terbaik bagi kesesakan mereka.  Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

TUHAN SETIA MEMBERIKAN KITA KESEMPATAN UNTUK HIDUP YANG LEBIH BAIK

Bahan renungan:

Yoel 2:25-26 Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu. Maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya.

Cara mengatasi akibat dari serangkaian pilihan yang buruk adalah melalui membuat serangkaian pilihan yang benar. Satu-satunya cara untuk menang dari penderitaan yang kita akibatkan sendiri adalah melakukan hal yang sesuai dengan Firman Tuhan. Tidak ada cara lain.

(Baca juga: JIKA KITA MENGETAHUI KEKURANGAN SESEORANG, DOAKAN!)

Saya percaya setiap orang pernah mengalami kesusahan di dalam hidupnya akibat dari serangkaian pilihan yang keliru yang mereka buat. Solusinya sederhana, berbaliklah ke jalan yang benar.

Kita tidak dapat membuat serangkaian pilihan yang buruk, lalu mengharapkan mendapatkan hal yang benar di dalam hidup kita. Bukan karena Tuhan yang tidak menganugerahkan kehidupan yang baik. Tuhan sudah menganugerahkannya kepada kita jauh sebelum kita ada di dunia ini. Namun, kita perlu menginginkannya, dan hal tersebut terlihat dari pilihan-pilihan yang kita buat dalam hidup kita.

Apa pun kesulitan yang sedang kita alami hari ini, kita masih bisa memiliki kehidupan yang diberkati. Ada harapan untuk kita di dalam Kristus. Mungkin saja kita menderita kerugian, atau mungkin kita telah kehilangan sesuatu yang berharga, kita tidak dapat berbuat banyak untuk sesuatu yang sudah berlalu. Namun, kita dapat berbuat banyak bagi masa yang akan datang. Kita dapat mengubah masa depan kita sekarang.

(Baca juga: BUATLAH KEPUTUSAN BERDASARKAN FIRMAN TUHAN)

Saya percaya Tuhan sanggup mendatangkan kebaikan dalam setiap keputusan kita yang buruk jika kita mau berbalik kepada-Nya. Tuhan tidak henti-hentinya memberikan kita kesempatan untuk kehidupan yang jauh lebih baik. Yang perlu kita lakukan hanyalah kembali kepada-Nya, ke jalan-Nya yang benar, dan Dia akan menuntun kita ke padang yang berumput hijau dan air yang tenang. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

RESPONS ANDA ADALAH TANGGUNG JAWAB ANDA

Bahan renungan:

Mazmur 119:30 Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.

Setiap kita selalu memiliki pilihan untuk hidup benar dan bersikap positif terhadap situasi dan keadaan yang terjadi. Yesus membuktikan hal tersebut. Apa pun situasi yang Dia hadapi, Dia selalu merespons dengan kasih dan pengampunan. Yesus bisa saja bersikap kasar atau sinis terhadap orang-orang yang menyakiti hati-Nya, tetapi Dia memilih untuk mengasihi mereka.

(Baca juga: JANGAN RAGU MENGHARAPKAN SESUATU YANG TUHAN JANJIKAN)

Seringkali, kita menyalahkan situasi dan kondisi untuk sikap negatif yang kita keluarkan. Padahal, kita tidak harus bersikap negatif di saat situasi dan kondisinya buruk. Kita dapat memilih untuk bersikap positif dan hidup benar.

Situasi dan kondisi yang terjadi di dalam hidup kita tidak selalu sepenuhnya berada di dalam kendali kita, tetapi respons kita terhadap situasi dan kondisi tersebut, sepenuhnya ada di dalam kendali kita. Kita bertanggung jawab 100% atas semua respons dan keputusan kita.

Ada seorang pelayan Tuhan yang saya kenal di Kalimantan. Suatu hari, saat sedang pergi melayani, istrinya dibunuh secara sadis di depan anaknya yang berusia dua tahun. Rekan saya sangat berduka atas peristiwa tersebut. Dia melaporkan peristiwa itu ke pihak berwajib, dan mengatakan kepada pihak keluarga dan gereja, bahwa dia mengampuni sang pembunuh. Sungguh sebuah respons kasih yang luar biasa.

Jika kita mengalami sakit hati, kepahitan, kecewa, marah, atau cemburu pada hari ini, itu sepenuhnya karena keputusan dan pilihan kita.

(Baca juga: TETAPLAH BERSYUKUR SEKALIPUN KITA DIRUNDUNG PENDERITAAN)

Mungkin kita mengatakan, “Tetapi, saya bersikap negatif seperti ini akibat kesalahan orang lain.” Teman, berhentilah menyalahkan orang lain. Orang lain dapat melakukan apa saja terhadap hidup kita, itu pilihan dan keputusan mereka, tetapi respons kita terhadap mereka sepenuhnya pilihan dan keputusan kita. Sama seperti Yesus, kita selalu dapat memilih unutk merespons dengan kasih. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

HIDUP MENURUT ROH VERSUS HIDUP MENURUT DAGING

Bahan renungan:

Roma 8:13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

Sampai satu titik, kita perlu memutuskan kehidupan seperti apa yang ingin jalani. Kita tidak dapat berdiri satu kaki untuk Tuhan dan satu kaki lainnya untuk dunia. Kita perlu memilih mau melewati hari-hari kita dengan cara yang sesuai dengan Firman Tuhan atau tidak.

(Baca juga: BAGAIMANA CARA MENDENGAR SUARA TUHAN?)

Ayat renungan kita hari ini mengajarkan jika kita hidup menurut daging, kita akan mati, tetapi jika kita hidup menurut Roh, kita akan hidup. Perhatikan kata “akan” yang terdapat pada ayat di atas. Kata tersebut menyiratkan sebuah proses. Keputusan kita untuk hidup menurut daging tidak akan langsung membuat kita mati, tetapi perlahan-tapi-pasti hidup kita akan semakin jauh dari Tuhan dan pada akhirnya kita mengakhiri hidup kita dengan banyak air mata. Sebaliknya, ketika kita memutuskan hidup menurut Firman Tuhan, tidak serta merta kehidupan kita langsung baik. Semua ada prosesnya. Namun bagi saya, jauh lebih menyenangkan jika saya mengetahui bahwa ujung dari jalan yang saya tempuh adalah sesuatu yang baik.

(Baca juga: TUHAN MEMBERIKAN KITA JALAN KELUAR, BUKAN MENCOBAI KITA)

Teman, pilihlah dengan bijak kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani. Pilihlah kehidupan yang menuntun kita kepada jalan-jalan yang sesuai Firman TUHAN, karena di jalan tersebut kita akan melihat banyak janji-janji Tuhan yang tergenapi bagi hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

ANDA TIDAK HARUS TAKUT SAAT MENGHADAPI MASALAH

Bahan renungan:

Mazmur 119:30 Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.

Saya percaya seburuk apa pun situasi hidup kita, selalu ada pilihan. Pilihan untuk menang atau kalah, pilihan untuk maju atau mundur, pilihan untuk lari atau lawan. Pilihan untuk percaya kepada janji Tuhan atau takut.

(Baca juga: BAGIAN YANG TIDAK DILINDUNGI PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH)

Takut dan kuatir adalah dua respons terfavorit saat kita mengalami masalah, tekanan, atau pergumulan. Padahal, kita tidak harus memilih kedua respons tersebut.

Dalam banyak kasus, ketika anak kita belum pulang ke rumah tengah malam, kita memilih untuk takut dan kuatir. Ketika uang di tabungan habis, kita memilih takut dan kuatir. Ketika pekerjaan atau bisnis kita bermasalah, kita memilih takut dan kuatir. Ketika dokter mengatakan sakit kita tidak ada obatnya, kita memilih takut dan kuatir. Padahal pilihan di dalam hidup kita tidak hanya takut dan kuatir.

Hari ini saya ingin menyakinkan Anda bahwa Anda dapat memilih respons yang lain. Anda dapat memilih damai, sukacita, percaya, dan berpengharapan. Saya berikan beberapa contoh.

Ketika berhadapan dengan Goliat dan tentara Filistin, Saul dan seluruh tentara Israel memilih takut dan kuatir, tetapi Daud tidak. Ketika mengintai Tanah Kanaan, sepuluh pengintai memilih takut dan kuatir, tetapi Yosua dan Kaleb tidak. Ketika dihadang Laut Merah, dua juta Bangsa Israel memilih takut dan kuatir, tetapi Musa tidak. Ketika diperhadapkan dengan salib, semua murid lari ketakutan, tetapi Yesus dan Yohanes tidak.

Lihat, kita dapat memilih respons lain. Ya, takut dan kuatir adalah pilihan kita sendiri. Jadi, kalau ketakutan dan kekuatiran itu berbuahkan stres, depresi, sakit penyakit, bahkan kegilaan, itu sama sekali bukan karena Tuhan yang merancangkannya untuk kita, melainkan kita sendiri yang salah memilih respons.

(Baca juga: BAGAIMANA CARA MELAKUKAN TINDAKAN IMAN?)

Teman, sungguh wajar bagi orang yang tidak memiliki Yesus memilih takut dan kuatir setiap ada masalah, tetapi hal tersebut tidak wajar bagi orang yang memiliki Yesus. Saat bersama Yesus, kita dapat memilih untuk menari dan bersorak di tengah badai. (penulis: @mistermuryadi)

JIKA CARA ANDA GAGAL, INI SAATNYA MENCOBA CARA TUHAN

Bahan renungan:

Kisah Para Rasul 22:10 Maka kataku: Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu.

Berdasarkan pengalaman konseling yang saya lakukan, tidak sedikit orang yang kekeuh menyelesaikan masalah dan pergumulan mereka dengan cara dan pemikiran sendiri. Bagi beberapa orang, konseling hanya media untuk mencari opini kedua. Artinya, mereka sudah memiliki jawaban sendiri sebelumnya.

(Baca juga: TUHAN YANG KITA SEMBAH BUKAN TUHAN YANG MISTERIUS)

Namun, semua orang berhak membuat keputusan sendiri dan tentunya, menanggung akibatnya sendiri. Firman Tuhan mengingatkan kita dalam Yesaya 55:8-9, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Ya, jalan-jalan kita bukanlah yang solusi terbaik dari masalah dan pergumulan kita.

Suatu hari Saulus, yang dikenal dengan nama Paulus, bertemu Yesus di Damsyik. Selama ini Saulus mengira jalan hidupnya, yaitu menganiaya para pengikut Kristus (Kisah Para Rasul 22:4), adalah jalan yang benar. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Yesus dan mengakui kekeliruannya. Saulus dengan rendah hati bertanya, “Tuhan, apa yang harus kuperbuat?” Jawaban Tuhan atas pertanyaan ini menjadi titik tolak Saulus mengubah arah hidupnya. Saulus meninggalkan keangkuhannya di Damsyik dan menyongsong masa depan yang Tuhan rencanakan bagi hidupnya.

(Baca juga: KITA SPESIAL, KARENA KITA MEMILIKI YESUS)

Bagaimana dengan Anda? Masihkah Anda ingin mencoba hidup dengan cara dan pemikiran Anda sendiri? Tidak masalah, tetapi jika Anda sudah lelah dengan hidup Anda, ini saatnya mencoba cara Tuhan. Hiduplah sebagaimana Dia menciptakan Anda. Jika kita diciptakan menjadi anak Tuhan, tentu akan lebih mudah jika kita menjalani hidup sebagai anak Tuhan, dibandingkan sebagai yang lainnya. (penulis: @mistermuryadi)