YANG KITA UCAPKAN MENUNJUKKAN IDENTITAS KITA

Bahan renungan:

Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

Sungguh tidak sulit mengetahui apa yang kita percayai. Salah satu cara termudah adalah melalui perkataan kita. Apa yang kita ucapkan mewakili bagaimana cara kita melihat diri kita, atau dengan kata lain, menunjukkan identitas kita yang sesungguhnya.

(Baca juga: ALASAN YUSUF MENOLAK GODAAN ISTRI POTIFAR)

Contoh. Jika kita sering berkata kotor, sebenarnya, seperti itulah kita memandang diri kita. Karena orang yang menyadari dirinya diberkati, dikasihi Tuhan, dan ciptaan baru, tidak akan mengucapkan kata-kata yang kotor yang menjatuhkan. Lukas 6:45 dengan gamblang mengatakan, apa yang diucapkan melalui mulut kita, meluap dari hati kita. Apa yang diucapkan melalui mulut kita menunjukkan hati kita.

Hal penting lain mengenai perkataan adalah, apa yang kita ucapkan merupakan sebuah “senjata” yang sangat ampuh jika kita menggunakannya dengan benar. Ya, hanya dengan mengucapkan sesuatu yang baik, seperti pujian, berkat, atau syukur, kita dapat membangun kehidupan orang lain, juga kehidupan kita.

(Baca juga: APA PUN YANG KITA ALAMI, TUHAN SENANTIASA MEMEGANG TANGAN KITA)

Jika hari kita hanya mengucapkan sumpah serapah, kata-kata kotor, kutuk, gosip, dan sejenisnya, saya percaya hidup kita hanya berpindah dari satu stres ke stres lainnya, dari satu tekanan ke tekanan berikutnya. Sebaliknya, jika kita mengucapkan hanya yang baik, seperti mengucapkan janji Tuhan, kata-kata yang membangun, saya percaya sekalipun kita dalam situasi kurang baik, damai sejahtera dan sukacita selalu menyertai. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

TETAPLAH BERSYUKUR SEKALIPUN KITA DIRUNDUNG PENDERITAAN

Bahan renungan:

1 Tesalonika 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Situasi bisa saja menjadi buruk dan tidak terkendali, tetapi tidak berarti kita berhenti mengucap syukur. Tidak berarti mulut kita mendapat “lampu hijau” untk melepaskan kutuk. Teman, Firman Tuhan katakan mengucap syukurlah dalam segala hal. Ini artinya mulut kita perlu senantiasa mengucapkan syukur sekalipun kita di dalam duka, kecewa, pahit, lembah kekelaman, atau pun bahagia, senang, atau gembira.

(Feature Article: ORANG BERMENTAL MISKIN BUKAN BUTUH UANG, MELAINKAN YESUS)

Teman, yang saya maksud bukan mengucap syukur untuk sakit penyakit atau penderitaan seperti yang dilakukan kebanyakan orang. “Tuhan, terima kasih saya diijinkan mengalami sakit ini. Saya percaya ini adalah rencana Tuhan,” atau “Puji syukur Tuhan memberikan saya penderitaan ini, Dia ingin saya belajar setia. Terima kasih Tuhan.” Bukan, bukan yang seperti itu.

Mengucap syukur di dalam kesedihan atau penderitaan artinya di tengah situasi buruk, Anda dapat menemukan hal baik yang dapat Anda syukuri. Begini, jika Anda mengarahkan pandangan Anda kepada hal-hal yang buruk, yang timbul bukanlah ucapan syukur, melainkan sungut-sungut, keluh kesah, dan ketakutan.

Maria, sebut saja begitu, adalah anak yang tegar. Usianya sepuluh tahun, rambutnya warna cokelat, tatapan matanya ramah, dan senyum tidak pernah pudar dari wajahnya. Maria memiliki buku tentang mukjizat yang dia alami. Dia mencatatnya setiap dua atau tiga hari sekali di tengah perawatan intensif atas disfungsi pankreas yang dia alami. Dari skala satu sampai sepuluh, Maria mengalami sakit di skala dua belas setiap hari, begitu kata dokter yang merawatnya.

Maria senang menunjukkan buku mukjizatnya kepada setiap orang yang datang menjenguk. Kadang Maria sedikit memaksa supaya orang lain mau membacanya. Bagi Maria mukjizat adalah:

“Tadi malam, aku dapat tidur pulas tanpa terbangun.”

“Ayah berhasil menyelundupkan anak anjing ke kamarku. Lucu sekali.”

“Ibu sedang memasang pohon Natal di kamarku, aku suka hiasannya.”

“Suster hari ini memberiku makanan yang enak. Hore.”

(Baca juga: MEMULAI DAN MENGAKHIRI HARI DENGAN HAL YANG BAIK)

Meski tubuhnya kesakitan, bahkan wajah orangtuanya selalu memancarkan kekuatiran, Maria memutuskan untuk hanya mengucapkan syukur melalui mulutnya, bukan penderitaan atau masalahnya. Maria mengucap syukur untuk mukjizat-mukjizat yang Tuhan lakukan bagi hidupnya.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda mengucap syukur hari ini? (penulis: @mistermuryadi)