RESPONS RAJA YOSAFAT DI TENGAH TEKANAN

Bahan renungan:

2 Tawarikh 20:3 Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.

Apa yang terjadi dengan Yosafat mungkin mewakili sebagian besar dari kita. Kita mengalami masalah dan tekanan yang membuat kita takut dan kuatir. Ya, hampir semua kita pernah mengalami hal tersebut. Namun, yang terpenting adalah apa respons kita?

(Baca juga: TUHAN MAMPU DAN MAU MENYEMBUHKAN KITA)

Banyak orang mengambil respons marah, putus asa, kecewa, sakit hati, mundur dari Tuhan, menyendiri, dan lain sebagainya, tetapi Yosafat berbeda. Di tengah masalah yang taruhannya adalah nyawa banyak orang, dia mengambil sebuah keputusan yang sangat tepat, yaitu mencari Tuhan. Wow!

Dalam kisah di atas, Yosafat sedang diserang oleh bani Moab dan Amon. Bukannya memikirkan strategi perang atau cara menyelamatkan diri, Yosafat malah menyerukan kepada seluruh Yehuda untuk berpuasa.

Mungkin jika saya berada di posisi Yosafat, berpuasa bukanlah pilihan bagi saya. Tetapi, Tuhan berkata lain, dan Yosafat memilih untuk percaya kepada Tuhan. Sekali lagi, sungguh keputusan yang sangat tepat. Jika kita membaca keseluruhan cerita perang di atas, Yehuda keluar sebagai pemenangnya tanpa sedikit pun bersusah payah.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah di atas?

Bagi saya, sepenggal kisah tentang Yosafat di atas berbicara mengenai betapa pentingnya kita mengandalkan Tuhan di dalam setiap keadaan. Terkadang, mungkin menurut pemikiran kita, cara Tuhan terkesan aneh atau tidak masuk akal, tetapi percayalah, jika Tuhan yang mengatakannya, itu pasti cara terbaik, teraman, dan tercepat bagi kita.

(Baca juga: YESUS TELAH MENGHANCURKAN KUTUK KETURUNAN)

Seperti Yosafat, tidak sedikit pun dia meragukan Tuhan. Sementara musuh-musuhnya bernapsu menghancurkan Yehuda, Yosafat dan seluruh suku Yehuda malah berpuasa, mengikuti apa yang Tuhan katakan. Luar biasa! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

TESTIMONI YOSUA MENGENAI JANJI TUHAN

Bahan renungan:

Yosua 23:14 Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.

Yosua, seorang bujang yang menggantikan Musa memimpin Bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian. Tentu saja hal tersebut bukan tugas yang mudah. Melewati banyak masalah dan tekanan, baik masalah dari luar, yaitu musuh-musuh, dan dari dalam, yaitu tindak tanduk Bangsa Israel, Yosua akhirnya sampai di Tanah Kanaan dan menguasainya.

(Baca juga: TUHAN SENANG JIKA KITA BERGANTUNG KEPADANYA)

Melihat kisah hidupnya yang sangat berwarna, saya sangat percaya, Yosua mengalami pergumulan yang tidak semua kita alami. Namun, satu hal yang pasti, Yosua selalu bergantung kepada Tuhan.

Menjelang akhir hidupnya, Yosua mengatakan bahwa tidak ada satupun dari segala yang baik yang telah Tuhan janjikan kepadanya dan kepada Bangsa Israel yang tidak dipenuhi. Sungguh sebuah pernyataan yang sangat luar biasa. Itu testimoni yang lahir dari seseorang yang berjalan bersama-sama dengan Tuhan, tidak menyerah di tengah tekanan, dan sabar menantikan janji-janji Tuhan.

(Baca juga: ANDA ADALAH MUKJIZAT YANG TUHAN KIRIM UNTUK KELUARGA ANDA)

Sama seperti orang lain, Yosua bisa saja menyerah, dan kemudian mengeluh bahwa Tuhan tidak menepati janji. Namun, Yosua memilih setia sampai akhir. Yosua memilih untuk tetap ada di pihak Tuhan. Tidak peduli apa pun yang dia alami, Yosua tahu sekali bahwa Tuhan yang dia sembah adalah Tuhan yang baik, yang memelihara kehidupannya, dan yang tidak pernah ingkar terhadap janji setia-Nya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

YANG PERLU ANDA LAKUKAN SAAT BERADA DI LEMBAH KEKELAMAN

Bahan renungan:

Ulangan 8:7 Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung.

Jika Anda sedang berada di lembah kekelaman, saya ingin Anda benar-benar merenungkan apa yang saya tulis hari ini.

(Baca juga: MENINGGALKAN JEJAK IMAN)

Jika Anda pernah berada di sebuah lembah dan memandang ke sekeliling, Anda pasti tahu bahwa pandangan Anda sangat terbatas. Anda tidak dapat melihat jauh ke depan atau sekeliling. Berbeda halnya jika Anda berada di atas gunung. Anda dapat melayangkan pandangan sejauh mungkin. Saat berada di lembah, satu-satunya pandangan jauh hanyalah pada saat Anda melihat ke atas.

Anda dapat mengartikan kata “lembah” di atas sebagai masa krisis, tekanan, masalah, dan lain sebagainya.

Situasi “lembah” itu dihadapi oleh para tokoh Alkitab. Daniel, misalnya, saat dijerumuskan ke kandang singa. Musa, saat diperhadapkan dengan Laut Merah dan dikejar oleh tentara Mesir. Elisa, saat tempat tinggalnya dikepung oleh ribuan musuh. Yesus, saat harus berhadapan dengan 5000 orang yang lapar. Si wanita pendarahan, saat menghadapi kenyataan bahwa penyakitnya bertambah buruk dan tidak ada satu tabib pun yang dapat menyembuhkan dia.

Satu-satunya arah pandang para tokoh di atas saat berada di lembah adalah ke atas, kepada Tuhan dan janji setia-Nya. Ya, ke sanalah hati dan pikiran semestinya kita arahkan. Hanya Tuhan yang sanggup membawa Anda keluar dari lembah kekelaman. Hanya Tuhan yang sanggup memulihkan kehidupan Anda.

Secara mata manusia sungguh sulit memikirkan jalan keluar saat berhadapan dengan situasi yang Musa hadapi. Namun, Musa mengarahkan pandangannya kepada Tuhan, dan Laut Merah terbelah. Begitu juga dengan di wanita pendarahan. Semua tabib sudah angkat tangan, tetapi ketika dia mendekat kepada Yesus, seketika itu juga dia disembuhkan.

(Baca juga: JANGAN TAKUT TERHADAP MASALAH. JADILAH KREATIF!)

Semakin lama Anda memandang kepada masalah, semakin Anda kehilangan gairah, dan akibatnya Anda stres, depresi, dan tertekan. Namun jika Anda memandang kepada Tuhan dan janji-Nya, mencari kebenaran-Nya, dan mendekat kepada-Nya, Anda akan menemukan kekuatan dan jalan keluar. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

PENTINGNYA MEMILIKI KARAKTER YANG BAIK

Bahan renungan:

Amsal 27:17 Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

Jika kita ingin menjadi orang yang berhasil, talenta dan karakter kita perlu berjalan beriringan. Kita tidak akan sukses jika kita hanya memiliki talenta yang baik, sementara karakter kita buruk.

(Baca juga: TUHAN INGIN ANDA MENIKMATI YANG TERBAIK)

Saya berikan contoh. Misalnya Anda memiliki suara yang indah, tetapi karakter Anda buruk. Anda sering terlambat saat pertunjukkan dan Anda jarang hadir saat berlatih bersama tim musik. Jika karakter itu tidak segera dibenahi, lambat laun tidak ada orang yang mau bekerjasama dengan Anda.

Bukan Tuhan yang menyebabkan Anda sepi panggung. Tuhan ingin Anda menjadi orang yang terkenal dan memberkati dunia dengan suara Anda. Dia sudah menyediakan hal besar tersebut bagi Anda. Karakter Anda yang buruklah penyebabnya.

Itu sebabnya, selain melatih talenta yang Tuhan percayakan, Anda juga perlu melatih karakter Anda.

Menurut ayat renungan di atas, karakter Anda hanya dapat diasah atau dilatih oleh sesama Anda, atau dapat juga diartikan oleh orang-orang yang dekat dengan Anda.

Anda butuh orang menyebalkan untuk membentuk karakter sabar, Anda butuh orang yang menuntut untuk membentuk karakter setia, Anda butuh orang yang kasar untuk membentuk karakter lemah lembut, dan lain seterusnya. Seringkali kita menghindari orang-orang seperti itu, padahal merekalah orang-orang yang dapat membantu melatih karakter kita.

Semua barang berharga, seperti emas, permata, berlian, dan mutiara, terbentuk oleh karena adanya tekanan yang sangat besar. Saya percaya Tuhan menciptakan kita tidak untuk lari dari tekanan atau masalah, melainkan untuk menghadapi dan menang terhadap tekanan atau masalah itu. Salah satu tujuannya adalah supaya karakter ilahi kita terbentuk.

(Baca juga: MEMINDAHKAN GUNUNG DENGAN PERKATAAN KITA)

Saya percaya semua orang ingin berhasil di dalam hidupnya. Jika Anda juga menginginkannya, Anda dapat mulai melatih talenta yang Tuhan berikan dan karakter Anda hari ini. Suatu hari Anda akan melihat bagaimana Tuhan, melalui talenta dan karakter yang Anda latih hari ini, membawa Anda ke tempat-tempat tinggi, ke perkara-perkara besar, yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. (penulis: @mistermuryadi)

ANDA TIDAK HARUS TAKUT SAAT MENGHADAPI MASALAH

Bahan renungan:

Mazmur 119:30 Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.

Saya percaya seburuk apa pun situasi hidup kita, selalu ada pilihan. Pilihan untuk menang atau kalah, pilihan untuk maju atau mundur, pilihan untuk lari atau lawan. Pilihan untuk percaya kepada janji Tuhan atau takut.

(Baca juga: BAGIAN YANG TIDAK DILINDUNGI PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH)

Takut dan kuatir adalah dua respons terfavorit saat kita mengalami masalah, tekanan, atau pergumulan. Padahal, kita tidak harus memilih kedua respons tersebut.

Dalam banyak kasus, ketika anak kita belum pulang ke rumah tengah malam, kita memilih untuk takut dan kuatir. Ketika uang di tabungan habis, kita memilih takut dan kuatir. Ketika pekerjaan atau bisnis kita bermasalah, kita memilih takut dan kuatir. Ketika dokter mengatakan sakit kita tidak ada obatnya, kita memilih takut dan kuatir. Padahal pilihan di dalam hidup kita tidak hanya takut dan kuatir.

Hari ini saya ingin menyakinkan Anda bahwa Anda dapat memilih respons yang lain. Anda dapat memilih damai, sukacita, percaya, dan berpengharapan. Saya berikan beberapa contoh.

Ketika berhadapan dengan Goliat dan tentara Filistin, Saul dan seluruh tentara Israel memilih takut dan kuatir, tetapi Daud tidak. Ketika mengintai Tanah Kanaan, sepuluh pengintai memilih takut dan kuatir, tetapi Yosua dan Kaleb tidak. Ketika dihadang Laut Merah, dua juta Bangsa Israel memilih takut dan kuatir, tetapi Musa tidak. Ketika diperhadapkan dengan salib, semua murid lari ketakutan, tetapi Yesus dan Yohanes tidak.

Lihat, kita dapat memilih respons lain. Ya, takut dan kuatir adalah pilihan kita sendiri. Jadi, kalau ketakutan dan kekuatiran itu berbuahkan stres, depresi, sakit penyakit, bahkan kegilaan, itu sama sekali bukan karena Tuhan yang merancangkannya untuk kita, melainkan kita sendiri yang salah memilih respons.

(Baca juga: BAGAIMANA CARA MELAKUKAN TINDAKAN IMAN?)

Teman, sungguh wajar bagi orang yang tidak memiliki Yesus memilih takut dan kuatir setiap ada masalah, tetapi hal tersebut tidak wajar bagi orang yang memiliki Yesus. Saat bersama Yesus, kita dapat memilih untuk menari dan bersorak di tengah badai. (penulis: @mistermuryadi)

BAGIAN YANG TIDAK DILINDUNGI PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH

Bahan renungan:

Efesus 6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

Jika Anda membaca mengenai perlengkapan senjata Allah dalam Efesus 6:14-17, Anda akan tahu bahwa hampir seluruh bagian tubuh kita dilindungi oleh perlengkapan itu. Mulai dari ikat pinggang kebenaran, baju zirah keadilan, kasut kerelaan, perisai iman, ketopong keselamatan, sampai pedang roh. Namun, ada bagian tubuh kita yang tidak terlindungi dengan baik, yaitu tubuh bagian belakang kita.

(Baca juga: DUA CARA MENJALANI HIDUP: DENGAN TAKUT ATAU SUKACITA)

Suatu hari saya bertanya-tanya, Tuhan mengapa demikian. Roh Kudus memberikan pengertian hal tersebut bahwa kita tidak pernah ditakdirkan untuk lari dari musuh. Ketika kita lari dari musuh, maka tubuh bagian belakang kita menjadi sasaran empuk. Tuhan takdirkan kita untuk menang setiap kali kita maju berperang dan menghadapi musuh.

Ketika Daud berjalan bersama dengan Tuhan di Lembah Tarbantin itu, tempat Goliat dan pasukan Filistin berada, Daudlah raksasanya, bukan Goliat. Pertarungan itu sungguh tidak adil bagi Goliat. Goliat mendatangi Daud dengan pedang dan lembing, sementara Daud mendatangi Goliat bersama Pribadi yang menciptakan Goliat. Sungguh tidak adil.

Jika Anda percaya kepada Yesus, maka Roh yang gagah perkasa tinggal di dalam Anda. Jika demikian, saya ingin katakan, Andalah raksasanya di sini, bukan sakit penyakit, bukan kemiskinan, bukan hutang yang besar, dan bukan masa depan yang buruk.

(Baca juga: SELALU INGAT SIAPA YANG MENYERTAI ANDA SENANTIASA)

Lalu, kenapa kita takut? Masalah boleh bergejolak, tekanan boleh mendesak, tetapi kita tidak harus takut. Kita dapat memilih menghadapinya dengan gagah berani. Kita punya Tuhan yang besar yang tinggal di dalam hati kita. Jangan pasrah terhadap kondisi yang buruk. Berdirilah tegak dan hadapi. Usir sakit penyakit di dalam nama Yesus sampai tubuh Anda sembuh dan perintahkan berkat-berkat datang di dalam nama Yesus sampai bisnis dan pekerjaan Anda berbuah manis. (penulis: @mistermuryadi)

DUA CARA MENJALANI HIDUP: DENGAN TAKUT ATAU SUKACITA

Bahan renungan:

Filipi 4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

Suka atau tidak, kita semua harus menjalani kehidupan ini. Kita perlu melewati setiap masalah, tekanan, dan tantangan yang ada. Dalam setiap keputusan yang kita lakukan, kita pasti menghadapi konsekuensi. Entah itu konsekuensi yang baik, atau pun yang buruk.

(Baca juga: JIKA ANDA SAKIT, TERIAKAN NAMA YESUS)

Bagi saya, ada dua cara menjalani kehidupan: dengan takut dan kuatir atau dengan sukacita.

Cara pertama. Anda dapat memilih melewati setiap pergumulan dan tantangan hidup Anda dengan hati yang penuh ketakutan dan kekuatiran. Menurut saya, cara hidup seperti ini sangatlah berat. Kita harus menanggung beban hidup yang nyata, juga menanggung beban hidup yang belum ada.

Ketakutan dan kekuatiran adalah bentuk beban hidup yang tidak nyata, bahkan dalam banyak kasus, ketika beban itu menjadi kenyataan, ternyata tidak semenakutkan yang dipikirkan. Contohnya orang takut dan kuatir terhadap masa depannya. Orang ini takut dan kuatir terhadap sesuatu yang belum ada. Matius 6:34 mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Jika hari ini Anda menghadapi masalah, saran saya berhentilah menggunakan cara dan pemikiran sendiri, dan mulai ikuti cara Tuhan, supaya masalah Anda selesai, sehingga hari esok Anda lebih indah. Sayangnya, banyak orang tidak mau menyelesaikan masalahnya. Akibatnya, dia dihantui ketakutan dan kekuatiran akan hari depannya.

Cara kedua. Jalani hidup dengan hati yang penuh sukacita. Orang yang bersukacita juga memiliki masalah. Bedanya, mereka tidak membebani pikiran mereka dengan hal-hal yang tidak perlu.

Orang-orang yang melewati hari dengan sukacita, memutuskan untuk mengatakan “selesai” terhadap jalan-jalan dan cara hidup mereka yang salah, kemudian berbalik kepada jalan-jalan Tuhan, sehingga mereka dapat memiliki harapan akan masa depan yang indah.

(Wajib baca: BAGAIMANA CARA MELAKUKAN TINDAKAN IMAN?)

Kira-kira Anda lebih suka melewati hari-hari Anda dengan cara yang mana? Saya sarankan untuk menggunakan cara yang kedua. Ketika kita hidup di dalam jalan-jalan Tuhan, Dia memberikan jaminan dan harapan yang pasti. (penulis: @mistermuryadi)