DUA PENYEBAB MENGAPA HIDUP ANDA TERGONCANG

Bahan renungan:

Lukas 21:26 Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.

Setidaknya ada dua penyebab mengapa orang tergoncang di saat dunia tergoncang. Penyebab pertama adalah, karena mereka berpegangan atau mengandalkan dunia ini. Contoh. Jika Anda berpikir bahwa sumber berkat Anda adalah orangtua, jabatan, atau pekerjaan, maka pada saat hal-hal tersebut tidak lagi dapat diandalkan, hidup Anda akan mengalami masalah.

(Baca juga: KITA PERLU CEPAT MENGAMPUNI KESALAHAN ORANG LAIN)

Anggaplah suatu hari tempat Anda bekerja gulung tikar. Kalau Anda berpikir kantor Anda adalah sumber berkat, Anda akan mulai ketakutan dan kuatir. Namun, jika Anda menyadari bahwa sumber berkat Anda adalah Tuhan, saat kantor Anda bangkut, Anda dapat dengan teguh mengatakan, “Saya percaya Tuhan sudah menyediakan pekerjaan yang jauh lebih baik.”

Teman, Dia adalah Tuhan yang membuat mata air di tengah padang gurun. Dia sanggup memberkati Anda melalui banyak cara.

Penyebab kedua adalah gaya hidup yang seperti dunia ini. Yang saya maksud dengan gaya hidup adalah cara berpikir, bertingkah laku, dan berkata-kata. Jika teman Anda mengeluh dan Anda pun turut mengeluh, tidak heran hidup Anda mengalami masalah yang sama dengan teman Anda itu. Saat Anda larut bersama orang di kantor menggosipkan si bos, jangan heran jika Anda mengalami hal yang sama dengan orang-orang di kantor Anda. Sebaliknya, jika Anda hidup mengikuti teladan Kristus, Anda tidak akan ikut tergoncang saat sekeliling Anda tergoncang.

(Baca juga: TUHAN INGIN ANDA MENIKMATI YANG TERBAIK)

Yesus sangat bergantung kepada Bapa. Itu sebabnya, sekalipun di sekeliling-Nya ketakutan, kuatir, dan mengalami kesusahan, Yesus tidak mengalami hal tersebut. Yesus mengalami situasi yang buruk, lebih dari kebanyakan orang, tetapi Dia tidak dipengaruhi oleh situasi tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

KEMAMPUAN KITA UNTUK TINGGAL TENANG SANGAT KRUSIAL

Bahan renungan:

Matius 14:27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Saat masa-masa sulit datang, tantangan terbesar adalah tetap tenang. Secara alami, kita cenderung cepat merespons, takut, cemas, dan berusaha melakukan sesuatu untuk memerbaiki atau memecahkan masalah. Namun, kita perlu belajar untuk tinggal tenang, sehingga kita dapat berpikir jernih, bertindak bijaksana, dan membuat keputusan yang tepat.

(Baca juga: SEANDAINYA DI DUNIA INI TIDAK ADA MASALAH LAGI)

Musa pernah mengalami hal itu. Ketika pasukan Firaun mengejar Bangsa Israel, sementara di hadapan mereka terbentang Laut Merah, sepertinya tidak ada jalan. Bangsa Israel bersungut-sungut, marah, dan menuduh Musa hendak mencelakai mereka. Di tengah tekanan besar, Musa memilih untuk tinggal tenang dan berdoa meminta hikmat kepada Tuhan.

Hasilnya adalah sebuah perkataan iman yang sangat meneguhkan Bangsa Israel, perkataan yang melukiskan harapan dan kekuatan, “Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

Seandainya saja Musa tidak tenang dan memilih untuk cepat merespons, marah, panik, takut, atau kuatir, tentu kita tidak akan pernah mendengar kisah Laut Merah terbelah dan dua juta Bangsa Israel berjalan di tanah yang kering dengan penuh sorak sorai.

(Baca juga: JANGAN KERASKAN HATI ANDA TERHADAP KEBENARAN)

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sedang mengalami sebuah masalah yang besar? Tinggallah tenang di dalam janji Tuhan, jangan takut. Tuhan telah berjanji untuk menyertai kita sampai kesudahan zaman. Saya percaya Dia pasti membelah setiap “Laut Merah” yang menghadang kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

TUHAN INGIN KITA NAIK, BUKAN TURUN

Bahan renungan:

Ulangan 28:13 TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia.

Suatu hari ada seseorang yang saya layani mengatakan bahwa Tuhan ingin dia berhenti dari pelayanan agar dia dapat fokus mengurusi keluarganya. Ada juga yang mengatakan Tuhan ingin dia meluangkan hari minggu bersama keluarga, sehingga hanya dapat pergi ke gereja sesekali. Mungkin banyak di antara kita yang pernah atau sedang berpikir demikian.

(Baca juga: TUHAN INGIN KITA TERPESONA PADA KEBAIKANNYA)

Di saat orang-orang tersebut mengatakan bahwa Tuhan menyuruh mereka berhenti dari sesuatu yang tertulis di dalam kebenaran Firman Tuhan, di saat itu saya dengan segera mengenali bahwa suara tersebut pasti tidak berasal Tuhan yang saya kenal.

Tuhan selalu ingin kita naik, bukan turun. Tuhan akan tidak pernah menyuruh kita berhenti menghidupi kebenaran-Nya demi melakukan sesuatu yang lain.

Saya tidak mengatakan bahwa kita harus mengabaikan keluarga kita demi pelayanan atau pergi ke gereja. Tidak ada yang salah dengan fokus kepada keluarga kita. Malah, kita perlu melakukan hal tersebut, karena keluarga kita sangat penting bagi Tuhan. Yang saya maksud adalah, pasti ada jalan keluar lain yang jauh lebih baik tanpa harus mengorbankan hal lainnya. Saya sangat percaya di dalam Kristus ada 1000 jalan keluar untuk 1 masalah kita.

(Baca juga: INI KATA ALKITAB TENTANG PENYAKIT YANG TIDAK ADA OBATNYA)

Teman, saya sangat percaya Tuhan selalu membawa kita naik, bukan turun. Jika kita belum menemukan jalan keluar untuk sebuah masalah yang sedang kita hadapi, jangan terburu-buru mengambil langkah ekstrim seperti berhenti dari pelayanan, atau berhenti pergi ke gereja atau persekutuan. Tetaplah hidup di dalam kebenaran Firman Tuhan. Saya percaya, Yesus yang adalah sumber hikmat, dapat menuntun kita pada jalan keluar terbaik, tanpa perlu mengorbankan hal-hal yang sudah benar. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KENAPA HARUS MARAH KALAU ADA YANG MENGOMENTARI ANDA?

Bahan renungan:

Mazmur 37:8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

Sungguh rugi jika hati Anda sedih dan pikiran Anda terganggu hanya karena ada orang yang menjuluki Anda sebagai orang yang mudah tersinggung, suka gonta ganti pasangan, atau tukang umbar rahasia. Sungguh rugi jika Anda marah hanya karena ada orang yang memfitnah atau menjelek-jelekan Anda. Sungguh rugi jika Anda jadi mengalami dan merasakan hal-hal yang buruk hanya karena ada orang yang mengatakan Anda kurang ini dan itu.

(Baca juga: SATU-SATUNYA PENYEBAB TUHAN SEDIH TERHADAP KITA)

Setiap kali Anda mendengar komentar negatif mengenai diri Anda, jika hal tersebut benar, yang perlu Anda lakukan adalah akui, minta maaf, dan berubah. Namun, jika hal tersebut tidak benar, Anda tidak perlu marah, sedih, menyerang balik orang tersebut, atau bereaksi negatif lainnya, tetap tenang dan jadikan komentar tersebut sebagai pengingat supaya Anda tidak seperti itu.

Banyak orang lantas sibuk membela dirinya, menjelek-jelekan orang lain, dan mengumbar kelebihan dirinya demi membantah perkataan negatif orang lain. Sungguh reaksi yang emosional dan keliru.

Saya berikan ilustrasi. Seandainya Anda memasak kwetiaw goreng sapi. Seusai masak, Anda tawarkan ke beberapa teman Anda dan kemudian Anda mengatakan,”Saya bilang juga apa, kwetiaw buatan saya adalah yang paling enak.” Menurut Anda, apakah ada yang janggal dengan pernyataan itu? Anda yang masak sendiri dan Anda juga yang memuji masakan tersebut. Bagi saya, seperti inilah orang yang suka membela diri dan mengumbar kebaikan mengenai dirinya demi membantah perkataan negatif orang lain.

Yesus tidak pernah membela Diri-Nya sekalipun Dia memiliki banyak sekali kesempatan untuk membela diri. Firman Tuhan katakan Dia seperti domba yang kelu (Kisah Para Rasul 8:32). Sekalipun dicaci, diludahi, disiksa, dipukul, dan dihina karena melakukan hal yang sama sekali tidak Dia lakukan, Yesus tetap tenang, tidak membela diri, dan tetap merespons dengan kasih. Bagi Yesus, marah, kecewa, sakit hati, atau menyerang balik bukanlah respons yang tepat.

(Baca juga: APAKAH PLAYLIST LAGU ANDA MENCERITAKAN PENGHARAPAN?)

Teman, kita perlu belajar mengendalikan respons kita dalam hal ini, supaya kita dapat tetap tenang dan tetap merespons dengan kasih setiap kali ada orang yang memberikan komentar negatif mengenai hidup kita. Lagipula, kitalah yang paling diuntungkan ketika tetap tenang dan tetap merespons dengan kasih. (penulis: @mistermuryadi)

SELESAIKAN MASALAH ANDA DENGAN TENANG, BUKAN DENGAN EMOSI

Bahan renungan:

Yesaya 30:15 … dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.

Suatu hari, ketika sedang melayani, seseorang datang kepada Yesus membawa berita buruk, yaitu Lazarus, sahabat-Nya, mengalami sakit parah (Yohanes 11). Mendengar berita tersebut, Yesus tidak bergegas mendatangi Lazarus, melainkan sengaja tinggal dua hari lagi di tempat Dia berada (ayat 6). Yesus memilih untuk tetap tenang, tidak terburu-buru membuat keputusan, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

(Baca juga: JANGAN MEMERCAYAI MATA DAN TELINGA ANDA LEBIH DARI FIRMAN TUHAN)

Kira-kira, bagaimana reaksi Anda jika mendapatkan kabar buruk tersebut? Seseorang menyampaikan bahwa orang terdekat Anda mengalami kecelakaan parah atau sudah nyaris tutup usia. Kebanyakan orang membiarkan kegelisahan, ketakutan, dan kekuatiran menguasai hati mereka.

Teman, Firman Tuhan katakan dalam tinggal tenang terletak kekuatan kita. Perhatikan, kekuatan kita tidak akan muncul ketika kita takut, kuatir, gelisah, marah, kasar, atau pahit hati. Banyak orang merasa sedang menunjukkan kekuatannya ketika sedang marah atau bertindak kasar. Oh, itu salah besar. Justru mereka sedang menunjukkan kelemahan mereka jika mengedepankan emosi-emosi negatif.

Ketika Yesus datang ke rumah Lazarus, ternyata Lazarus sudah meninggal selama empat hari (ayat 17), tetapi Yesus tetap memilih untuk tenang. Yesus tahu pasti kuasa yang menyertai-Nya. Tidak ada situasi yang dapat menekan Yesus. Yesus tahu bahwa janji Tuhan jauh lebih besar dari masalah yang Dia hadapi. Seperti yang kita ketahui, Lazarus bangkit.

(Baca juga: SAAT KITA SERAHKAN KEPADA YESUS, YANG BIASA MENJADI LUAR BASA)

Selama kita hidup di dunia, pasti ada masalah. Anda tidak bisa menghindarinya. Bagian kita adalah menghadapi. Anda dapat menghadapi masalah dengan dua cara: dengan tenang atau dengan takut dan kuatir. Pilihlah tenang. Sebelum Anda bertindak atau memutuskan sesuatu, tenang sebentar, dan lihat terlebih dahulu apa kata Firman Tuhan. Selesaikanlah masalah Anda sesuai yang tertulis di dalam kebenaran, bukan emosi Anda. (penulis: @mistermuryadi)