ORANG YANG PERCAYA FIRMAN TUHAN PASTI BERTINDAK!

Bahan renungan:

Yohanes 2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Firman Tuhan hanya dapat mengubahkan kehidupan ketika kita memercayai Firman tersebut. Tidak peduli seberapa banyak Firman Tuhan yang kita ketahui, jika kita tidak memercayai-Nya, hal tersebut tidak akan membawa keuntungan apapun bagi hidup kita.

(Baca juga: JANGAN BIARKAN IBLIS BEROLEH KEUNTUNGAN DARI HIDUP ANDA)

Lalu, apa ciri-ciri atau tanda kita memercayai kebenaran? Perbuatan, tindakan, atau respons seseorang adalah hal yang membedakan antara orang yang mengetahui dengan memercayai Firman Tuhan. Orang yang percaya Firman Tuhan pasti bertindak sesuai dengan Firman yang dia percayai.

Banyak orang yang berasumsi, yang penting bertindak saja, sekalipun belum mengerti. Hal seperti itu keliru dan tidak alkitabiah. Justru, kita perlu mengerti kebenaran terlebih dahulu, lalu memercayai kebenaran tersebut, dan kemudian bertindak berdasarkan kebenaran tersebut. Itu alasan kita menyebutnya tindakan atau perbuatan iman. Dengan arti kata lain, tindakan atau perbuatan yang dilakukan akibat kita percaya kebenaran Firman Tuhan. Jadi, beriman terlebih dahulu, berbuat kemudian.

Mungkinkah kita percaya, tetapi tidak bertindak? Sangat tidak mungkin. Firman Tuhan nyatakan pada ayat di atas, iman hanya dapat ditunjukkan melalui perbuatan-perbuatan kita.

Saya berikan contoh. Jika kita lumpuh dan percaya kesembuhan, mungkinkah kita terus menerus berbaring di tempat tidur? Tentu saja tidak. Sampai satu titik, kita akan berusaha bangkit dari tempat tidur dan mulai mencoba berjalan. Itu tanda kita percaya. Jika kita terus menerus berbaring di tempat tidur, itu hanya menunjukkan bahwa kita tidak percaya kesembuhan.

(Baca juga: BUATLAH KEPUTUSAN BERDASARKAN FIRMAN TUHAN)

Sama halnya dengan kelimpahan. Jika kita percaya kita adalah orang yang diberkati dan sumber berkat kita adalah Tuhan, kita pasti memberi persembahan dan persepuluhan. Tidak memberi atau takut memberi adalah tanda kita tidak percaya bahwa kita adalah orang yang diberkati.

Orang yang percaya Firman Tuhan pasti bertindak. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

Advertisements

YESUS TIDUR DI TENGAH BADAI YANG HEBAT

Bahan renungan:

Matius 8:24-25 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”

Berkali-kali saya berusaha memahami peristiwa di atas, berkali-kali juga saya menemukan banyak “harta karun” di dalamnya. Dua kata yang belakangan terngiang di pikiran saya adalah “Yesus tidur”. Ya, Yesus tidur di tengah badai yang sangat hebat.

(Baca juga: SEKALIPUN TUHAN MENGASIHI KITA, PERBUATAN JAHAT KITA ADA KONSEKUENSINYA)

Saya mencoba mendramatisasi sedikit peristiwa di atas. Mungkin Yesus tahu ada badai dan Dia terbangun sebentar. Namun ketika melihat badai tersebut, Yesus hanya mengatakan, “Oh, ada badai,” lalu Dia kembali melanjutkan tidurnya.

Respons Yesus terhadap badai sungguh luar biasa. Dia tidak melihat badai seperti murid-murid-Nya melihat badai. Atau dengan kata lain, saya ingin katakan, Yesus tidak “mengagungkan” kehebatan badai itu seperti murid-murid-Nya. “Badai ini akan membinasakan kami,” teriak para murid “memuji” sang badai.

Yesus tidur, sementara murid-murid ketakutan setengah mati. Badai tidak membangunkan Yesus dari tidurnya. Para muridlah yang membangunkan Yesus. Yesus bangun bukan untuk menenangkan badai, karena badai bukan masalah bagi Yesus. Yesus bangun untuk menenangkan para murid.

Pertanyaannya, apa yang dapat membuat Yesus setenang itu? Pada ayat 26 Yesus memberikan jawabannya. Dia mengatakan, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”

Takut membuat kita melihat masalah kecil menjadi besar. Takut membuat kita bertingkah laku berlebihan. Sebaliknya, percaya kepada Tuhan membuahkan ketenangan. Percaya kepada Tuhan membuat kita tidur nyenyak di tengah badai masalah.

Teman, jika percaya kepada Tuhan dan janji-Nya, tidak ada badai yang dapat menggoncang hidup Anda. Sekalipun situasi dan kondisi yang sedang Anda hadapi begitu mencekam, Anda dapat tetap tinggal tenang, karena Anda tahu bahwa mata Tuhan sepenuhnya tertuju kepada Anda, dan Dia, beserta ribuan malaikat-Nya, menjaga dan melindungi Anda dari malapetaka.

(Baca juga: MUSA, DAUD, ABRAHAM, DAN SAMUEL, HANYALAH ORANG BIASA)

Yesus sangat menyadari bahwa Bapa mengasihi Diri-Nya. Kebenaran itulah yang membuat Yesus tetap tidur di tengah badai. Daripada mengatakan, “Badai ini akan membinasakan Saya,” Yesus memilih berkata, “Saya percaya Bapa selalu ada bersama-sama saya, menyertai dan menjagai Saya.” (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

SATU-SATUNYA PENYEBAB TUHAN SEDIH TERHADAP KITA

Bahan renungan:

Yohanes 11:37-40 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

Martha, Maria, dan Lazarus adalah sahabat Yesus. Setiap kali melintasi Betania, Yesus selalu meluangkan waktu berkunjung kepada tiga sahabatnya itu. Suatu ketika Lazarus dikabarkan meninggal karena sakit. Seperti kebanyakan orang, Maria dan Marta menangis dengan sangat. Maria tersungkur di depan kaki Yesus dan berkata, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ayat 32).

(Baca juga: DARAH YESUS ADALAH MATERAI PERJANJIAN YANG BARU)

Ketika melihat Maria dan orang-orang di sekitar menangis, ayat 33 mengatakan, ” … maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu.” Kata masygullah artinya kesedihan yang mendalam. Anda pernah melihat orang yang sangat bersedih sampai-sampai tidak dapat meneteskan air mata? Itulah arti kata masygullah. Lalu di ayat 38 sekali lagi dikatakan, “Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu,” setelah beberapa orang mengatakan, “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” (ayat 37).

Banyak orang mengira Yesus bersedih karena sahabatnya, Lazarus, meninggal. Padahal bukan itu penyebab Yesus bersedih. Izinkan saya bertanya. Menurut Anda, apakah Yesus tahu Lazarus akan bangkit? Tentu saja. Kalau Anda membaca Yohanes 11:2, seusai mendengar berita kematian Lazarus, Yesus sengaja memperlambat kedatangan-Nya ke kubur Lazarus selama dua hari. Sangat jelas Yesus tidak bersedih karena Lazarus.

Yesus bersedih karena setelah sekian lama Dia menunjukkan tanda-tanda ajaib, masih banyak orang, bahkan orang-orang terdekatnya, seperti Maria dan Marta, yang tidak percaya kepada-Nya. Anda bisa membacanya di ayat 40-42, “Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, SUPAYA MEREKA PERCAYA, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

(Baca juga: APAKAH ANDA SUDAH TAHU UNTUK APA ANDA DICIPTAKAN?)

Teman, jika ada hal yang dapat membuat Tuhan sedih, hal tersebut adalah ketidakpercayaan kita kepada-Nya. Ya, itu satu-satunya penyebab Tuhan sedih terhadap kita. (penulis: @mistermuryadi)

TINGGALKAN KETERBATASAN DAN KETIDAKPERCAYAAN ANDA

Bahan renungan:

Lukas 1:38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Jika kita dapat mempercayai TUHAN seperti Maria mempercayai kata-kata Gabriel dalam ayat di atas, pasti hidup kita akan jauh lebih baik dari hari ini. Jika seseorang tidak tumbuh di keluarga yang memiliki iman terhadap Tuhan dengan benar, saya yakin orang tersebut tumbuh dalam kondisi yang mengepankan keterbatasan dan ketidakpercayaan terhadap diri sendiri.

(Baca juga: PERCAYA KEPADA YESUS ADALAH SATU-SATUNYA CARA MASUK SORGA)

“Kamu tidak dapat melakukan itu. Jangan sekolah di sana, pelajarannya terlalu sulit. Jangan ambil jurusan itu, tidak ada masa depannya,” dan lain sebagainya. Seiring beranjak dewasa, tanpa disadari keterbatasan dan ketidakpercayaan menjadi bagian dari hidup orang itu. Akibatnya, setiap kali menghadapi tantangan, yang terlintas pertama kali adalah tidak bisa, tidak mungkin, atau tidak sanggup.

Tuhan, di sisi lain, tidak terbatas. Saat kita masuk ke dalam dunia Tuhan, yaitu dunia iman, kita perlu belajar untuk melepaskan keterbatasan dan ketidakpercayaan yang kita hidupi selama bertahun-tahun. Kita perlu memperbaharui pemikiran kita melalui membaca dan merenungkan kebenaran Firman Tuhan, supaya kita mengerti bahwa semua yang dikatakan Yesus mengenai orang percaya adalah benar. Firman Tuhan katakan orang sakit pasti sembuh saat orang percaya meletakkan tangan atas mereka (Markus 16:18) dan kita akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar, dan bahkan lebih besar, dari yang Yesus lakukan (Yohanes 14:12).

(Baca juga: ANDA DICIPTAKAN HEBAT DAN DAHSYAT)

Nabi Yeremia menulis, “Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku? (Yeremia 32:27).” Tentu saja jawabannya adalah tidak ada. Jika tidak ada yang mustahil bagi Bapa, berarti tidak ada yang mustahil bagi kita, anak-anak-Nya. Satu-satunya yang membatasi Tuhan bekerja di dalam hidup kita adalah pemikiran kita yang terbatas dan ketidakpercayaan kita terhadap kebenaran (Matius 13:58). Kita dapat mengubah pemikiran dengan cara percaya kepada apa yang dikatakan Firman Tuhan dan mulailah bertindak berdasarkan apa yang Firman Tuhan katakan. (penulis: @mistermuryadi)

PERCAYA DENGAN SEGENAP HATI

Bahan renungan:

Amsal 3:5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

Saya percaya satu ayat Firman Tuhan, jika Anda benar-benar mempercayainya, dapat mengubahkan kehidupan Anda sekali untuk selamanya. Sayangnya, beberapa orang hanya percaya satu hal kepada Firman Tuhan, namun ragu dalam hal yang lainnya.

Dulu, ada seorang teman saya yang percaya dengan ramalan bintang, mimpi, dan garis tangan. Namun lucunya, dia hanya mempercayai hal-hal yang baik dari ramalan tersebut, yang buruknya dia acuhkan. Kemudian saya katakan kepadanya, “Kamu tidak bisa hanya percaya sebagian. Kalau kamu percaya sesuatu, kamu harus percaya sepenuhnya.”

Kadang hal yang sama terjadi di gereja Tuhan. Beberapa orang hanya mau mempercayai yang mereka mau percayai, yang tidak mereka percayai, mereka anggap sambil lalu saja. Sungguh disayangkan kalau Anda mempercayain Firman Tuhan dengan cara ini.

Teman, tidak ada area abu-abu di dalam Firman Tuhan. Hanya ada dua pilihan: percaya atau tidak percaya, hidup di dalam Tuhan atau di luar Tuhan. Kebenaran senilai 99% bukanlah kebenaran. Begitu juga percaya 99% bukanlah percaya. Alkitab mengajarkan percaya kepada TUHAN itu artinya mempercayai DIA dengan segenap hati. (penulis: @mistermuryadi)

JANGAN MEMPERTANYAKAN JANJI SETIA TUHAN

Bahan renungan:

1 Korintus 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Tidak jarang ketika kita menghadapi masalah yang pelik, baik dengan keluarga, pekerjaan, atau pun dengan rekan di gereja, kita menggerutu, mengeluh, mempertanyakan, meragukan, dan tidak sedikit yang meninggalkan TUHAN. Kita lupa terhadap janji di atas, bahwa segala yang kita lakukan di dalam TUHAN tidak akan sia-sia. Bahwa doa, pengharapan, dan penantian kita di dalam DIA tidak akan mengecewakan.

Selama 25 tahun Abraham dengan sabar dan yakin menanti janji TUHAN akan seorang keturunan. Meski caranya salah, namun tindakannya terhadap Hagar merupakan salah satu bukti bahwa Abraham tidak meragukan janji TUHAN akan memberikannya seorang keturunan.

Saya tidak membenarkan tindakan Abraham terhadap Hagar, saya hanya ingin mengatakan bahwa Abraham tidak mempertanyakan janji TUHAN dengan berkata, “TUHAN mana janjiMU? Mana buktinya?” Melainkan Abraham berpikir, “TUHAN sudah berjanji, itu pasti terjadi. Mungkin saja tidak melalui Sarah, tetapi Hagar.” Anda mengerti maksud saya? Abraham tidak meragukan janji Tuhan, hanya saja cara yang dia lakukan untuk memperoleh janji tersebut melalui Hagar keliru.

Jangan biarkan iblis membuat kita mempertanyakan apakah yang kita lakukan di dalam TUHAN sia-sia. Percayalah hal tersebut tidak sia-sia, karena janji TUHAN itu YA dan AMIN. Apa yang TUHAN sudah janjikan, tidak mungkin DIA ingkari. Janji itu pasti terjadi. (penulis: @mistermuryadi)

BELUM MELIHAT, NAMUN PERCAYA

Bahan renungan:

Kejadian 12:1-2 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Jika pertanyaan yang sama datang kepada Anda hari ini, kira-kira apa respons Anda? Pertama kali TUHAN memanggil Abram, TUHAN tidak memberitahukan kepada Abram di mana letak negeri yang dijanjikan itu. Bahkan TUHAN tidak memberitahukan ke mana Abram harus pergi. TUHAN hanya mengatakan supaya Abram pergi dari negerinya, dari sanak saudaranya, dan dari rumah bapanya.

Tidak seperti Abram, seringkali manusia berpikir suara TUHAN atau Firman TUHAN tidaklah cukup untuk membuat kita percaya kepada TUHAN. Di dalam ketidakpercayannya, manusia sering berpikir butuh hal yang lain untuk menguatkan apa yang dia baca, dengar, atau dapatkan dari Firman Tuhan. Padahal kita semua tahu bahwa Firman Tuhan adalah TUHAN sendiri (Yohanes 1:1).

Teman, marilah kita belajar untuk percaya kepada TUHAN seperti Abram. Sekalipun Abram belum melihat apa pun dengan matanya saat janji tersebut diberikan, namun dia mau percaya kepada suara TUHAN (Firman Tuhan). Buat Abram, suara TUHAN adalah bukti yang lebih dari cukup untuk membuat kakinya melangkah ke negeri yang dijanjikan.

Abram percaya ketika TUHAN mengucapkan sesuatu baginya, itu pasti terjadi. Abram tidak meragukan sedikit pun janji TUHAN kepadanya. Abram memulai perjalanan IMAN-nya bersama TUHAN tanpa melihat bukti dengan mata jasmani. Namun di dalam IMAN-nya, janji itu sangat nyata baginya. (penulis: @mistermuryadi)