JENIS-JENIS DOA DALAM ALKITAB

Berikut adalah jenis-jenis utama dari doa-doa dalam Alkitab:

Doa yang lahir dari iman: Yakobus 5:15 mengatakan, “Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia.” Dalam konteks ini, doa lahir dari iman seseorang yang sedang sakit, dan meminta Allah untuk menyembuhkannya. Ketika kita berdoa, kita harus percaya dalam kuasa dan kebaikan Allah (Markus 9:23).

Doa yang sehati (yang juga dikenal sebagai doa bersama): Setelah peristiwa kenaikan Yesus ke surga, murid-murid “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” (Kisah Para Rasul 1:14). Kemudian, setelah Pentakosta, gereja awal “bertekun” untuk berdoa (Kisah Para Rasul 2:42). Teladan mereka mendorong kita untuk berdoa bersama-sama.

Doa permintaan (atau permohonan): Kita harus membawa permohonan-permohonan kita kepada Allah. Filipi 4:6 mengajarkan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Bagian dari upaya untuk memenangkan peperangan rohani adalah “berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya” (Efesus 6:18).

Doa ucapan syukur: Kita melihat bentuk doa yang lainnya di Filipi 4:6, yaitu ucapan syukur atau terima kasih kepada Allah. “Tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Banyak contoh dari doa ucapan syukur ini dapat ditemukan di kitab Mazmur.

Doa penyembahan: Doa penyembahan mirip dengan doa ucapan syukur. Perbedaannya adalah doa penyembahan berfokus mengenai siapa itu Allah, sementara doa ucapan syukur berfokus pada apa yang telah dilakukan oleh Allah. Pemimpin gereja di Antiokhia berdoa dengan cara ini dibarengi dengan berpuasa: “Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.’” Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi” (Kisah Para Rasul 13:2-3).

Doa penyerahan atau konsekrasi: Kadang-kadang, doa adalah momen ketika kita menundukkan diri untuk mengikuti kehendak Allah. Yesus berdoa seperti ini pada malam sebelum penyaliban-Nya: “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ‘Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki’” (Matius 26:39).

Doa syafaat: Seringkali, di dalam doa-doa kita ada permohonan untuk kepentingan orang lain, seolah-olah kita sedang menjadi perantara bagi mereka. Kita diminta bersyafaat “untuk semua orang” dalam 1 Timotius 2:1. Yesus menjadi teladan bagi kita dalam hal memanjatkan doa syafaat ini. Keseluruhan dari Yohanes 17 adalah doa Yesus atas nama para murid-Nya dan bagi semua orang-percaya.

sumber: https://www.gotquestions.org/Indonesia/jenis-jenis-doa.html

APA ITU ALKITAB?

Alkitab merupakan salah satu buku yang paling berpengaruh di dunia, setidaknya bagi saya. Isinya menjelaskan pertanyaan-pertanyaan besar mengenai kehidupan. Buku ini telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal-hal yang besar, sekaligus di sisi lain, membuat orang kebingungan untuk memahaminya. Mungkin hal serupa juga terjadi kepada hidup Anda.

Jadi, apa itu Alkitab? Alkitab merupakan sebuah perpustakaan kecil berisi buku-buku yang menuliskan sejarah Bangsa Israel kuno. Jika dibaca sepintas, buku-buku itu seperti kebanyakan buku sejarah lainnya. Namun, jika kita membacanya dengan seksama, kita akan menemukan banyak perbedaan yang menakjubkan dibandingkan buku-buku mengenai sejarah kuno lainnya.

Salah satunya adalah mengenai keberadaan para nabi. Mereka melihat cerita mengenai Bangsa Israel sebagai sesuatu yang supranatural. Mereka melihat Bangsa Israel sebagai bagian penting dari apa yang Tuhan rencanakan bagi seluruh umat manusia. Dan, para nabi itu sangat jenius. Mereka pintar dalam menulis narasi dan puisi. Mereka juga sangat ahli dalam menyampaikan metafora dan cerita. Mereka menggunakan semua itu untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan sulit mengenai kematian, kehidupan, dan pergumulan batin manusia.

Ada begitu banyak penulis di dalam Perjanjian Lama dan semua teks itu diproduksi dalam rentang waktu ribuan tahun. Dimulai dari sejarah awal Bangsa Israel di Mesir, berlanjut pada kisah-kisah kerajaan mereka dan Bait Suci pertama mereka. Namun sayangnya, mereka ditaklukkan oleh Kerajaan Babilonia, yang membuat mereka masuk ke dalam pembuangan. Lalu, pada bagian terpenting sejarah mereka, banyak di antara orang Israel yang kembali ke tanah kelahiran mereka dan membangun Bait Suci kedua. Mereka mulai membangun kembali identitas mereka sebagai sebuah bangsa dan pada saat itulah Perjanjian Lama mulai terbentuk.

Di dalam bahasa aslinya, Perjanjian Lama disebut TaNaKh (note: Bahasa Ibrani tidak mengenal huruf hidup/vokal. Huruf hidup ditambahkan supaya kita, yang bukan orang Yahudi, dapat membacanya).

Huruf “T” merupakan kepanjangan dari torah, yang artinya hukum. Semua itu ada di lima buku pertama Perjanjian Lama (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan). Huruf kedua “N” kepanjangaan dari nevi’im, yang artinya, para nabi. Bagian ini menuliskan sejarah Bangsa Israel dari sudut pandang para nabi. Dan yang terakhir, huruf “K” kepanjangan dari ketuvim, yang artinya adalah kumpulan tulisan. Ini merupakan campuran dari buku berisi puisi (Mazmur dan Kidung Agung), hikmat (Ayub, Pengkhotbah, Amsal), dan cerita (Ester, Rut, Daniel, Ezra-Nehemia, 1 dan 2 Tawarikh). Orang-orang Yahudi percaya bahwa melalui semua tulisan itu Tuhan berbicara kepada mereka.

Secara keseluruhan, tulisan-tulisan di dalam Perjanjian Lama menceritakan bagaimana Tuhan bekerja melalui Bangsa Israel untuk membawa perubahan dan keindahan bagi dunia yang kacau. Cerita itu diakhiri dengan dengan sebuah janji bahwa akan datang seseorang yang akan menjadikan segalanya baru.

Beberapa abad kemudian, lahirlah seseorang bernama Yesus. Dia mengklaim bahwa Dia akan menggenapi Tanakh.

Yesus melakukan banyak hal hebat, lalu Dia mati disalibkan, tetapi para pengikut-Nya bersaksi bahwa Dia bangkit dari kematian.

Mereka mengatakan Yesus adalah seseorang yang telah lama dinantikan yang akan merestorasi dunia. Para pengikut awal Yesus itu dikenal dengan sebuah Para Rasul. Mereka menuliskan banyak kisah mengenai Yesus. Mereka menyebutnya sebagai kabar baik, atau Injil. Mereka juga menulis buku Kisah Para Rasul yang merupakan kumpulan aksi bagaimana mereka menyebarkan kabar mengenai Yesus kepada orang-orang bukan Yahudi sampai ke penjuru dunia.

Para Rasul menulis kisah-kisah itu sebagai bagian (satu kesatuan) dan kelanjutan dari kisah-kisah luar biasa yang ada di dalam Tanakh. Mereka juga percaya bahwa Tuhan berbicara kepada orang-orang yang mengikuti Yesus melalui tulisan-tulisan mereka.

Itulah ringkasan pendek mengenai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang kita miliki hari ini.

DENGARKAN SUARA TUHAN DI TENGAH KESUNYIAN

Terkadang saat kita mengalami kekecewaan, sakit hati, atau kepahitan, berdiam diri di dalam sepi dapat membuat kita semakin menderita karena kita terus menerus memikiran hal-hal yang menyakitkan itu. Itu sebabnya, banyak orang menyibukkan diri dengan kegiatan atau teman-teman. Saya dapat mengerti akan hal itu.

Namun, berdasarkan pengalaman pribadi, seringkali mengalihkan perhatian kepada aktivitas dan teman-teman pun tidak menyelesaikan masalah atau pergumulan kita. Hanya membuat kita merasa lebih baik sementara waktu, tetapi tidak benar-benar membuat rasa sakit itu hilang.

Jika Anda sedang mengalaminya hari ini, Anda bukanlah orang pertama. Ada banyak kisah di Alkitab yang menceritakan hal seperti itu. Ayub kehilangan semua anak-anaknya. Daud kehilangan anak pertamanya dan di lain waktu, dia dikejar-kejar hendak dibunuh oleh anaknya yang lain. Hagar yang diusir oleh sang majikan ketika sudah tidak diperlukan lagi. Elia yang lari bersembunyi ketakutan dari Izebel.

Namun, di tengah pergumulan, tokoh-tokoh di atas tidak mengalihkan diri ke hal-hal lain, melainkan berdiam diri dan berlari ke Tuhan. Mereka tahu bahwa Tuhan tidak berdiam diri. Tuhan berbicara kepada mereka di dalam kesunyian, kepedihan, dan kesakitan mereka.

Pada saat kita bergumul, mungkin kita berpikir bahwa berdiam diri di dalam sepi adalah sebuah siksaan. Namun, jika kita berdiam diri di dalam Tuhan, memuji menyembah-Nya, merenungkan Firman-Nya, justru di dalam kesunyian kita akan menemukan kekuatan baru. Kekuatan untuk menghadapi pergumulan kita. Kekuatan untuk menang. (penulis: @mistermuryadi)

PRAKTIKKAN CARA BARU MEMBACA FIRMAN TUHAN INI!

Mazmur 119:57 Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu.

Saya pun baru dalam hal yang saya mau bahas ini. Mari kita belajar bersama-sama. Beberapa waktu belakangan, saya mencoba cara yang baru dalam membaca Firman Tuhan, terutama ketika saya bersaat teduh.

Biasanya saya membaca satu atau dua ayat, atau maksimal satu pasal sekaligus dari sebuah kitab. Kemudian, keesokan harinya saya membaca dengan cara yang sama, tetapi dari kitab yang berbeda. Tidak ada yang salah dengan cara itu. Saya melakukannya selama bertahun-tahun.

Namun, saya menemukan metoda baru yang membuka cakrawala pikiran saya, yaitu dengan membaca satu kitab sekaligus dari pasal awal sampai pasal akhir. Saya baru saja menyelesaikan seluruh kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan dalam dua bulan terakhir. Hasilnya, saya baru benar-benar menyadari konteks utuh dari banyak ayat yang sebelumnya pernah saya baca secara terpisah-pisah.

Perlu kita pahami bahwa setiap kitab di Alkitab ditulis dengan sebuah konteks tertentu. Hal itu baru dapat kita pahami ketika kita membaca sebuah kitab secara utuh. Tentu saja ada kitab-kitab yang memerlukan pembelajaran lebih lanjut karena ada istilah, kisah, puisi, dan bahasa yang tidak umum bagi kita.

Misalnya saja kitab Galatia. Kitab itu ditulis oleh Paulus untuk mengingatkan jemaat Tuhan di Galatia untuk berhati-hati terhadap ajaran palsu yang mengharuskan non-Yahudi disunat untuk menjadi pengikut Kristus. Paulus menuliskan argumennya mengenai pentingnya iman kepada Kristus dibandingkan ritual jasmani keagamaan.

Sama halnya ketika kita membaca buku Harry Potter dan The Lord of The Rings. Agak sulit membahami isi kedua buku itu jika hari ini kita membaca buku Harry Potter halaman 15-16, lalu esok harinya membaca buku LOTR halaman 30-35, dan keesokannya lagi kita membaca buku Narnia halaman 100-105.

Mari, saya ingin mengajak Anda untuk mencoba cara baru di atas. Cari satu kitab yang ingin Anda baca, kemudian ambillah komitmen untuk membaca kitab itu dari awal sampai akhir. Tidak harus membaca seluruhnya dalam satu waktu, tetapi pastikan Anda membacanya secara berkesinambungan. Seperti contoh saya di atas membaca kitab Galatia yang terdiri dari 6 pasal dalam tiga hari.

Jika Anda belum memiliki ide, membaca salah satu dari kitab Matius, Markus, Lukas, atau Yohanes dapat menjadi titik awal yang baik untuk metoda baru ini. Selamat mencoba! (penulis: @mistermuryadi)

INILAH JANTUNG KEHIDUPAN MURID KRISTUS

Markus 6:1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.

Selama tiga tahun setengah, para murid mengikuti Yesus. Mereka melihat dan mendengar apa yang Yesus lakukan, ucapkan, dan putuskan. Yesus mengajarkan cara hidup yang benar dan para murid berusaha mengikuti cara hidup itu.

Saya rasa itulah jantung kehidupan seorang murid, yaitu mengikuti gurunya.

Saya ingin mengajukan satu pertanyaan untuk kita renungkan. Siapakah yang sedang ikuti hari ini? Apakah Yesus atau hal lain?

Dalam hal kasih, Yesus mengajarkan untuk berdoa dan mengasihi musuh kita. Dalam hal materi, Yesus mengajarkan kemurahan hati. Dalam hal gaya hidup, Yesus mengajarkan untuk memiliki gaya hidup yang selaras dengan kebenaran. Dalam hal perkataan, Yesus mengajarkan untuk mengucapkan berkat.

Apakah kita sedang mengikuti Yesus? Apakah kita sedang belajar untuk semakin serupa dengan-Nya?

Alkitab penuh dengan kisah-kisah luar biasa dari para tokoh yang memutuskan untuk mengikuti Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mengorbankan kepentingan, cita-cita, dan impian pribadi. Mereka menyatukan diri dengan rencana besar Tuhan.

Abraham meninggalkan tanah kelahirannya ke sebuah negeri yang tidak pernah dia lihat dan dengar sebelumnya. Musa meninggalkan zona nyamannya dan merelakan diri untuk mengurusi jutaan Bangsa Israel yang degil hati. Paulus meninggalkan kejayaannya demi menyebarkan Injil Kristus.

Satu kesamaan yang saya temukan dari kisah-kisah orang yang memutuskan mengikuti Tuhan, yaitu mereka tidak pernah ditinggalkan. Dalam kesengsaraan, Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan. Dalam kekurangan, Tuhan mencukupi. Dalam kegelapan, suara-Nya menuntun mereka. Dalam kesuksesan, Tuhan dan seisi Sorga turut bersorak. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)