YESUS BERANI MELAWAN ARUS

Bahan renungan:

Yohanes 18:20 Jawab Yesus kepadanya: “Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.”

Ketika hidup di antara Bangsa Israel, Yesus membawa gaya hidup yang baru, yaitu KASIH. Pada saat itu, Bangsa Israel sangat didominasi oleh gaya hidup Hukum Taurat, di mana ketika seseorang berbuat salah, mereka dijatuhi hukuman.

(Baca juga: WARISAN PALING BERHARGA BAGI ANAK CUCU KITA)

Meski membawa pesan yang melawan arus, Yesus tidak pernah takut atau gentar sedikit pun. Yesus tidak pernah sembunyi-sembunyi menceritakan tentang Bapa yang baik dan penuh kasih. Yesus tidak takut ditinggalkan oleh banyak orang ketika memberitakan kebenaran. Bahkan, dalam satu peristiwa, usai mengajar, orang banyak meninggalkan-Nya, kemudian Dia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yohanes 6:66-67).

Berbeda sekali dengan cara hidup sebagian orang di zaman ini, yang suka melakukan sesuatu sembunyi-sembunyi. Anehnya lagi, ada juga yang sembunyi-sembunyi karena melakukan sesuatu yang benar.

(Baca juga: APAKAH SALAH JIKA KITA MENGHARAPKAN BERKAT DARI TUHAN?)

Mari kita mencontoh Yesus. Ketika Dia berkata-kata atau berbuat sesuatu, Dia berani mempertanggungjawabkannya di hadapan banyak orang. Dia tidak pernah mengatakan “A” di depan banyak orang, lalu mengucapkan “B” di belakangnya. Yesus pun tidak pernah melakukan hal yang berbeda dari yang Dia ucapkan. Sungguh mengagumkan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

HIDUPLAH UNTUK SESUATU YANG BESAR DAN BERHARGA

Bahan renungan:

Yeremia 1:4-5 Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

Setiap kita hidup untuk sesuatu. Beberapa orang yang saya kenal hidup untuk keluarganya, beberapa untuk Tuhan, dan beberapa untuk dirinya sendiri. Saya tidak ingin membahas mengenai mana yang benar atau salah hari ini. Saya hanya ingin mengatakan kepada kita semua agar kita hidup untuk suatu tujuan yang besar dan berharga, karena untuk itulah kita diciptakan.

(Baca juga: BAGAIMANA CARA KITA HIDUP SANGAT PENTING)

Seperti yang Tuhan ucapkan kepada Yeremia. Tuhan telah mengenal Yeremia, menguduskannya, dan menetapkannya untuk sesuatu yang luar biasa. Demikian juga kita. Tuhan telah mengenal kita sebelum kita ada di dalam kandungan ibu kita, menguduskan kita, dan menetapkan kita untuk sesuatu yang besar dan berharga.

Saya tidak tahu apa rencana Tuhan bagi setiap kita. Yang saya tahu Tuhan telah menetapkan sesuatu yang besar dan berharga untuk hidup kita. Dia panggil kita ke dalam Kerajaan-Nya untuk sebuah tujuan mulia. Hiduplah untuk hal tersebut. Sehingga, setiap kali kita bangun pagi, kita bergairah untuk melakukan sesuatu yang kita sedang kerjakan; dan setiap kali kita tidur, kita terlelap dalam ucapan syukur dan mengharapkan sesuatu yang besar terjadi esok hari.

(Baca juga: MENGELUH MERUGIKAN HIDUP ANDA)

Jangan hanya hidup untuk hari ini. Juga, jangan hanya hidup untuk mengejar uang, karir, atau keuntungan diri sendiri. Hiduplah untuk sesuatu yang besar dan berharga, yaitu sesuatu yang memuliakan Bapa di Sorga. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

BAGAIMANA CARA KITA HIDUP SANGAT PENTING

Bahan renungan:

1 Yohanes 2:4-5 Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.

Setiap orang dapat mengklaim mendengar suara Tuhan, “Tuhan berbicara ini ke saya,” atau “Tuhan mengatakan hal itu kepada saya.” Saya tidak mengatakan hal tersebut salah. Namun, seringkali orang menggunakan kalimat, “Kata Tuhan …” atau “Tuhan berbicara kepada saya …” sebagai cara untuk membuktikan kepada orang lain bahwa mereka mengenal Tuhan dan memiliki hubungan yang intim dengan-Nya.

(Baca juga: KITA DILAYAKKAN MENDAPATKAN BAGIAN DALAM KERAJAAN TERANG)

Sementara, Alkitab mengajarkan kepada kita, bahwa seseorang yang mengenal Tuhan pasti hidup seturut Firman-Nya. Bukan hanya diukur dari apa yang diucapkan orang tersebut, tetapi dari bagaimana dia hidup di dunia ini, seperti cara dia bertanggung jawab atas keuangan, memperlakukan suami atau istri, mendidik anak-anak, membuat keputusan, memilih pekerjaan, atau memperlakukan atasan atau bawahan. Yesus menyimpulkannya demikian, “Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”

Yesus mengajarkan kepada kita untuk hidup berdasarkan kasih. Yesus tidak memeras atau memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi. Semua yang Yesus lakukan bertujuan untuk membangun orang lain. Yesus menghidupi segala sesuatu yang Dia ucapkan.

(Baca juga: CAMPUR TANGAN KITA MEMBUAT MASALAH MAKIN RUNYAM)

Jika kita percaya kepada-Nya dan menyadari bahwa kita adalah anak-anak-Nya, kita akan melakukan hal yang sama dengan-Nya. Kita menghidupi kebenaran yang kita percayai dan memperhatikan bagaimana cara kita hidup di dunia ini. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

KITA DILAYAKKAN MENDAPATKAN BAGIAN DALAM KERAJAAN TERANG

Bahan renungan:

Kolose 1:12 … dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.

Makna dari kata “dilayakkan” adalah dianggap layak. Saya percaya, kita semua setuju bahwa kita dilayakkan hanya karena darah Yesus yang kudus, sehingga kita yang berdosa dapat memeroleh bagian dalam Kerajaan Sorga. Kita tidak dilayakkan oleh perbuatan baik kita, kita juga tidak dilayakkan oleh pemberian kita.

(Baca juga: SATU-SATUNYA CARA AGAR KITA MASUK SORGA)

Darah Yesus telah melayakkan kita untuk menjadi anak kesayangan Bapa Sorgawi, menerima setiap janji yang Dia pernah ucapkan kepada Abraham, dan mengambil bagian dalam penderitaan yang Yesus alami (melayani dan memberikan Injil). Setidaknya, kita dilayakkan atas ketiga hal itu, dan kita perlu mengucap syukur akan hal tersebut.

Saya ingin fokus ke sepenggal kalimat ini hari ini, “… yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian …” Kalimat itu berbicara mengenai tujuan mengapa Bapa melayakkan kita, yaitu untuk menerima bagian dalam apa yang telah ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam Kerajaan Terang. Dalam kata lain, kita dilayakkan agar kita terlibat terhadap apa yang sedang Tuhan kerjakan bagi dunia ini.

Tuhan memberikan kita identitas sebagai anak kesayangan agar kita dapat menunjukkan gaya hidup orang percaya kepada dunia. Tuhan melayakkan kita menerima janji Abraham agar kita dapat menjadi saluran berkat bagi orang-orang yang membutuhkan. Tuhan mau kita terlibat dalam pelayanan dan pemberitaan Injil agar banyak orang mendengar tentang Yesus dan karya salib-Nya.

(Baca juga: ANDA ADALAH WARGANEGARA KERAJAAN SORGA)

Kita adalah orang-orang yang telah dilayakkan dan kita perlu mendapat bagian dalam Kerajaan Terang. Saya percaya kita tidak dipanggil Tuhan dari gelap kepada terang untuk menjadi orang yang pasif. Dia panggil kita untuk terlibat dalam kegerakkan yang sedang Dia lakukan bagi dunia ini. Lakukan apa yang dapat Anda lakukan bagi Kerajaan-Nya, libatkan diri Anda dalam kegerakkan yang membawa kemuliaan bagi nama-Nya, dan salurkan berkat yang Tuhan percayakan untuk memperlebar Kerajaan-Nya. Demikianlah bagian anak-anak terang di dalam Kerajaan Terang. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

DUA PENYEBAB MENGAPA HIDUP ANDA TERGONCANG

Bahan renungan:

Lukas 21:26 Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.

Setidaknya ada dua penyebab mengapa orang tergoncang di saat dunia tergoncang. Penyebab pertama adalah, karena mereka berpegangan atau mengandalkan dunia ini. Contoh. Jika Anda berpikir bahwa sumber berkat Anda adalah orangtua, jabatan, atau pekerjaan, maka pada saat hal-hal tersebut tidak lagi dapat diandalkan, hidup Anda akan mengalami masalah.

(Baca juga: KITA PERLU CEPAT MENGAMPUNI KESALAHAN ORANG LAIN)

Anggaplah suatu hari tempat Anda bekerja gulung tikar. Kalau Anda berpikir kantor Anda adalah sumber berkat, Anda akan mulai ketakutan dan kuatir. Namun, jika Anda menyadari bahwa sumber berkat Anda adalah Tuhan, saat kantor Anda bangkut, Anda dapat dengan teguh mengatakan, “Saya percaya Tuhan sudah menyediakan pekerjaan yang jauh lebih baik.”

Teman, Dia adalah Tuhan yang membuat mata air di tengah padang gurun. Dia sanggup memberkati Anda melalui banyak cara.

Penyebab kedua adalah gaya hidup yang seperti dunia ini. Yang saya maksud dengan gaya hidup adalah cara berpikir, bertingkah laku, dan berkata-kata. Jika teman Anda mengeluh dan Anda pun turut mengeluh, tidak heran hidup Anda mengalami masalah yang sama dengan teman Anda itu. Saat Anda larut bersama orang di kantor menggosipkan si bos, jangan heran jika Anda mengalami hal yang sama dengan orang-orang di kantor Anda. Sebaliknya, jika Anda hidup mengikuti teladan Kristus, Anda tidak akan ikut tergoncang saat sekeliling Anda tergoncang.

(Baca juga: TUHAN INGIN ANDA MENIKMATI YANG TERBAIK)

Yesus sangat bergantung kepada Bapa. Itu sebabnya, sekalipun di sekeliling-Nya ketakutan, kuatir, dan mengalami kesusahan, Yesus tidak mengalami hal tersebut. Yesus mengalami situasi yang buruk, lebih dari kebanyakan orang, tetapi Dia tidak dipengaruhi oleh situasi tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

GAYA HIDUP ANAK TUHAN VERSUS ANAK DUNIA

Bahan renungan:

Kejadian 26:28a Jawab mereka: “Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau …”

Suatu hari, raja dari Gerar bertemu dengan Ishak, dan raja itu berpendapat bahwa Ishak berbeda dari orang lain yang pernah dia temui. Firman Tuhan menyatakan rahasia yang membuat Ishak terlihat berbeda adalah karena Tuhan menyertai Ishak. Dan, Ishak menyadari sekali akan hal itu.

(Baca juga: TUHAN MELIHAT HATI, TETAPI MANUSIA MELIHAT HIDUP ANDA)

Saya sangat setuju dengan pernyataan raja dari Gerar di atas. Seharusnya, kehidupan orang yang percaya Tuhan berbeda dengan dunia. Misalnya, pada cara kita mengambil keputusan dan karakter yang kita tunjukkan. Ketika dunia berpacaran “keluar jalur”, semestinya kita menjaga kekudusan. Ketika dunia mudah kecewa, kepahitan, dan sakit hati, semestinya kita mudah mengampuni dan mengasihi. Ketika dunia bergosip dan mencaci maki atasan, semestinya kita mengucapkan berkat untuk kantor kita. Ketika dunia melakukan cara curang, semestinya kita setia dengan cara Tuhan.

Kita sering mengumandangkan di gereja bahwa Tuhan kita berbeda, Tuhan kita hidup. Kalau Tuhan yang kita sembah berbeda, normalnya, hidup kita pun berbeda dengan yang tidak memiliki Tuhan. Jika kita mengatakan bahwa Tuhan kita penuh kasih, jangan sampai hidup kita lebih kejam dari orang yang mengenal Tuhan. Jika kita mengatakan Tuhan kita panjang sabar dan murah hati, jangan sampai kita menjadi “bersumbu pendek” dan suka mengingat-ingat kesalahan orang lain.

(Baca juga: INILAH PENYEBAB UTAMA KITA DEPRESI)

Jika benar kita menyembah Tuhan yang hidup dan penuh kasih, mari kita tunjukkan gaya hidup yang berbeda dengan dunia. (penulis: @mistermuryadi)

TUHAN MELIHAT HATI, TETAPI MANUSIA MELIHAT HIDUP ANDA

Bahan renungan:

1 Samuel 16:7 “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Menurut ayat di atas, setidaknya ada dua pribadi yang memperhatikan kita. Pribadi pertama adalah Tuhan, dan yang kedua adalah manusia. Karena alasan tersebut, Alkitab mengajarkan dua cara berbeda untuk “menyenangkan” hati Tuhan dan manusia.

(Baca juga: DAMAI SEJAHTERA TUHAN VERSUS DAMAI SEJAHTERA DUNIA)

Terhadap Tuhan, yang kita butuhkan adalah iman. Ibrani 11:6 mengatakan, “Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” Tuhan tidak menilai kita berdasarkan kemampuan, karakter, atau perbuatan kita. Ketika Abraham percaya kepada Tuhan, saat itu juga Tuhan memperhitungkan hal tersebut sebagai kebenaran (Roma 4:3). Tuhan menyatakan Abraham benar pada saat Abraham percaya, bukan pada saat Abraham berbuat sesuatu.

Berbeda halnya dengan manusia. Manusia melihat apa yang ada di depan mata mereka. Di mata orang lain, penampilan, karakter, perilaku, tutur kata, dan kemampuan kita sangatlah penting. Begitu juga saat kita memandang orang lain.

Ayat 1 Timotius 4:12 mengajarkan bahwa kita ditinggikan atau direndahkan berdasarkan apa yang kita perlihatkan di hadapan orang lain. Saya berikan contoh. Jika kita tidak disiplin atau tidak bekerja dengan baik, tidak peduli seberapa dekat hubungan kita dengan Tuhan, atasan kita di kantor tidak akan mempromosikan kita. Begitu juga jika kita pemarah, sombong, kasar, suka bicara kotor, dan berbau tidak sedap, orang tidak akan mau berada di dekat kita.

Kita mungkin berkata, “Tidak masalah hidup saya berantakan, toh Tuhan melihat hati saya,” Ya benar, Tuhan memang melihat hati. Tuhan tetap mengasihi kita sekalipun hidup kita berantakan. Namun, orang di sekitar kita tidak akan menghargai jika hidup kita berantakan, dan akibatnya kita tidak menikmati kehidupan di Bumi seperti di Sorga.

(Baca juga: ADA YANG LEBIH HEBAT DARI DEWA MAMON)

Teman, penting bagi kita untuk memahami kedua perbedaan di atas, supaya kita dapat hidup seperti Yesus, yang dikasihi oleh Bapa dan manusia (Lukas 2:52). (penulis: @mistermuryadi)