JENIS-JENIS DOA DALAM ALKITAB

Berikut adalah jenis-jenis utama dari doa-doa dalam Alkitab:

Doa yang lahir dari iman: Yakobus 5:15 mengatakan, “Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia.” Dalam konteks ini, doa lahir dari iman seseorang yang sedang sakit, dan meminta Allah untuk menyembuhkannya. Ketika kita berdoa, kita harus percaya dalam kuasa dan kebaikan Allah (Markus 9:23).

Doa yang sehati (yang juga dikenal sebagai doa bersama): Setelah peristiwa kenaikan Yesus ke surga, murid-murid “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” (Kisah Para Rasul 1:14). Kemudian, setelah Pentakosta, gereja awal “bertekun” untuk berdoa (Kisah Para Rasul 2:42). Teladan mereka mendorong kita untuk berdoa bersama-sama.

Doa permintaan (atau permohonan): Kita harus membawa permohonan-permohonan kita kepada Allah. Filipi 4:6 mengajarkan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Bagian dari upaya untuk memenangkan peperangan rohani adalah “berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya” (Efesus 6:18).

Doa ucapan syukur: Kita melihat bentuk doa yang lainnya di Filipi 4:6, yaitu ucapan syukur atau terima kasih kepada Allah. “Tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Banyak contoh dari doa ucapan syukur ini dapat ditemukan di kitab Mazmur.

Doa penyembahan: Doa penyembahan mirip dengan doa ucapan syukur. Perbedaannya adalah doa penyembahan berfokus mengenai siapa itu Allah, sementara doa ucapan syukur berfokus pada apa yang telah dilakukan oleh Allah. Pemimpin gereja di Antiokhia berdoa dengan cara ini dibarengi dengan berpuasa: “Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.’” Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi” (Kisah Para Rasul 13:2-3).

Doa penyerahan atau konsekrasi: Kadang-kadang, doa adalah momen ketika kita menundukkan diri untuk mengikuti kehendak Allah. Yesus berdoa seperti ini pada malam sebelum penyaliban-Nya: “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ‘Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki’” (Matius 26:39).

Doa syafaat: Seringkali, di dalam doa-doa kita ada permohonan untuk kepentingan orang lain, seolah-olah kita sedang menjadi perantara bagi mereka. Kita diminta bersyafaat “untuk semua orang” dalam 1 Timotius 2:1. Yesus menjadi teladan bagi kita dalam hal memanjatkan doa syafaat ini. Keseluruhan dari Yohanes 17 adalah doa Yesus atas nama para murid-Nya dan bagi semua orang-percaya.

sumber: https://www.gotquestions.org/Indonesia/jenis-jenis-doa.html

APA ITU ALKITAB?

Alkitab merupakan salah satu buku yang paling berpengaruh di dunia, setidaknya bagi saya. Isinya menjelaskan pertanyaan-pertanyaan besar mengenai kehidupan. Buku ini telah menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal-hal yang besar, sekaligus di sisi lain, membuat orang kebingungan untuk memahaminya. Mungkin hal serupa juga terjadi kepada hidup Anda.

Jadi, apa itu Alkitab? Alkitab merupakan sebuah perpustakaan kecil berisi buku-buku yang menuliskan sejarah Bangsa Israel kuno. Jika dibaca sepintas, buku-buku itu seperti kebanyakan buku sejarah lainnya. Namun, jika kita membacanya dengan seksama, kita akan menemukan banyak perbedaan yang menakjubkan dibandingkan buku-buku mengenai sejarah kuno lainnya.

Salah satunya adalah mengenai keberadaan para nabi. Mereka melihat cerita mengenai Bangsa Israel sebagai sesuatu yang supranatural. Mereka melihat Bangsa Israel sebagai bagian penting dari apa yang Tuhan rencanakan bagi seluruh umat manusia. Dan, para nabi itu sangat jenius. Mereka pintar dalam menulis narasi dan puisi. Mereka juga sangat ahli dalam menyampaikan metafora dan cerita. Mereka menggunakan semua itu untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan sulit mengenai kematian, kehidupan, dan pergumulan batin manusia.

Ada begitu banyak penulis di dalam Perjanjian Lama dan semua teks itu diproduksi dalam rentang waktu ribuan tahun. Dimulai dari sejarah awal Bangsa Israel di Mesir, berlanjut pada kisah-kisah kerajaan mereka dan Bait Suci pertama mereka. Namun sayangnya, mereka ditaklukkan oleh Kerajaan Babilonia, yang membuat mereka masuk ke dalam pembuangan. Lalu, pada bagian terpenting sejarah mereka, banyak di antara orang Israel yang kembali ke tanah kelahiran mereka dan membangun Bait Suci kedua. Mereka mulai membangun kembali identitas mereka sebagai sebuah bangsa dan pada saat itulah Perjanjian Lama mulai terbentuk.

Di dalam bahasa aslinya, Perjanjian Lama disebut TaNaKh (note: Bahasa Ibrani tidak mengenal huruf hidup/vokal. Huruf hidup ditambahkan supaya kita, yang bukan orang Yahudi, dapat membacanya).

Huruf “T” merupakan kepanjangan dari torah, yang artinya hukum. Semua itu ada di lima buku pertama Perjanjian Lama (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan). Huruf kedua “N” kepanjangaan dari nevi’im, yang artinya, para nabi. Bagian ini menuliskan sejarah Bangsa Israel dari sudut pandang para nabi. Dan yang terakhir, huruf “K” kepanjangan dari ketuvim, yang artinya adalah kumpulan tulisan. Ini merupakan campuran dari buku berisi puisi (Mazmur dan Kidung Agung), hikmat (Ayub, Pengkhotbah, Amsal), dan cerita (Ester, Rut, Daniel, Ezra-Nehemia, 1 dan 2 Tawarikh). Orang-orang Yahudi percaya bahwa melalui semua tulisan itu Tuhan berbicara kepada mereka.

Secara keseluruhan, tulisan-tulisan di dalam Perjanjian Lama menceritakan bagaimana Tuhan bekerja melalui Bangsa Israel untuk membawa perubahan dan keindahan bagi dunia yang kacau. Cerita itu diakhiri dengan dengan sebuah janji bahwa akan datang seseorang yang akan menjadikan segalanya baru.

Beberapa abad kemudian, lahirlah seseorang bernama Yesus. Dia mengklaim bahwa Dia akan menggenapi Tanakh.

Yesus melakukan banyak hal hebat, lalu Dia mati disalibkan, tetapi para pengikut-Nya bersaksi bahwa Dia bangkit dari kematian.

Mereka mengatakan Yesus adalah seseorang yang telah lama dinantikan yang akan merestorasi dunia. Para pengikut awal Yesus itu dikenal dengan sebuah Para Rasul. Mereka menuliskan banyak kisah mengenai Yesus. Mereka menyebutnya sebagai kabar baik, atau Injil. Mereka juga menulis buku Kisah Para Rasul yang merupakan kumpulan aksi bagaimana mereka menyebarkan kabar mengenai Yesus kepada orang-orang bukan Yahudi sampai ke penjuru dunia.

Para Rasul menulis kisah-kisah itu sebagai bagian (satu kesatuan) dan kelanjutan dari kisah-kisah luar biasa yang ada di dalam Tanakh. Mereka juga percaya bahwa Tuhan berbicara kepada orang-orang yang mengikuti Yesus melalui tulisan-tulisan mereka.

Itulah ringkasan pendek mengenai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang kita miliki hari ini.

HARAPAN KITA BERBANDING LURUS DENGAN PERENCANAAN DAN TINDAKAN KITA

Yohanes 17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.

Saya sangat mengagumi Yesus. Ya, memang setiap orang percaya pasti mengagumi Yesus. Maksud saya, salah satu hal yang membuat saya sangat kagum kepada Yesus adalah bagaimana Dia merencanakan pelayanan-Nya di dunia ini.

Bayangkan, Yesus hanya melayani selama tiga setengah tahun, tetapi Dia menggenapi seluruh nubuatan Perjanjian Lama mengenai diri-Nya. Bahkan, di tengah tekanan dan penderitaan di kayu salib, Yesus masih sempat menggenapi ucapan “Aku haus” (Yohanes 19:28). Sungguh mengagumkan!

Yesus melakukan dan menyelesaikan begitu banyak hal ketika ada di dunia ini. Yesus selalu ada di waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan melakukan hal yang tepat. Dia menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, membangkitkan orang mati, bertamu ke rumah Zakheus, bertemu wanita Samaria, menyelamatkan wanita pelacur yang hendak dirajam batu, ke rumah Yairus, mengunjungi dan menyembuhkan ibu mertua Petrus, dan masih banyak hal lagi.

Hanya sedikit sekali ayat yang menuliskan Yesus tidur atau beristirahat, jauh lebih banyak ayat menceritakan aktivitas Yesus yang sangat padat setiap harinya. Jika sedang membaca kitab Matius, Markus, Lukas, atau Yohanes, peristiwa demi peristiwa yang saling bertalian satu sama lain, yang begitu padatnya, terkadang membuat saya lupa bahwa Yesus tidak melakukan semua hal itu hanya dalam satu hari.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita merencanakan hari-hari kita? Atau, ada hari-hari di mana kita tidak tahu harus melakukan apa, bahkan malas bergerak mengerjakan hal-hal yang sebenarnya perlu kita kerjakan? Jika demikian, tidak heran tidak banyak hal yang kita selesaikan di dalam kehidupan kita. Lebih banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Saya ingin kita tahu bahwa segala sesuatu yang kita harapkan sangat berbanding lurus dengan apa yang kita rencanakan dan kerjakan. Jika kita mengharapkan sesuatu, tetapi tidak membuat perencanaan dan tidak mengerjakannya, pada dasarnya kita tidak benar-benar mempercayai pengharapan kita akan terjadi. Kita sedang bermimpi.

Orang berharap dan bermimpi sama-sama menginginkan sesuatu yang besar. Yang membedakan adalah, orang yang berharap merencanakan dan bertindak, sedangkan yang bermimpi, bangun tidur dan kemudian kembali melanjutkan tidurnya.

Jika kita mengharapkan bisnis yang berkembang, belajar dari orang-orang yang sukses dalam bisnis dan mulai rencanakan sesuatu untuk bisnis itu. Buat target dan evaluasi. Jika kita mengharapkan studi kita berhasil, rencanakan jam-jam dan hari-hari kita belajar. Selamat merencanakan hari-hari Anda. (penulis: @mistermuryadi)

HARGA YANG LOT HARUS BAYAR KARENA KEPUTUSANNYA

2 Petrus 2:7-8 tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja. Sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa.

Lot kehilangan istrinya akibat Lot memutuskan untuk tinggal di kota Sodom, yang merupakan simbol dari penolakan kepada Tuhan. Jika Anda membaca Kejadian 13:11-12, awalnya Lot berkemah di dekat Sodom, tetapi selang beberapa waktu, di dalam Kejadian 14:12, Lot sudah berdiam di Sodom.

Kematian istri Lot bukanlah bentuk penghukuman Tuhan kepada Lot seperti yang kebanyakan orang beritakan, justru Tuhan berusaha menyelamatkan Lot, serta anak dan istrinya dari Sodom. Kematian istri Lot terjadi akibat keputusan Lot untuk tinggal berlama-lama di kota yang penduduknya menolak Tuhan dan menyambut dosa.

Yang menarik, Alkitab mengatakan bahwa Lot adalah orang benar. Seperti yang sering kita bahas bahwa kita dibenarkan karena iman kepada Yesus, bukan karena perbuatan atau usaha kita (Roma 3:28, Roma 4:6). Lot disebut orang benar karena dia percaya kepada Tuhan.

Hal kedua yang menarik mengenai kisah Lot. Sekalipun Lot disebut orang benar, atau dengan kata lain, orang yang percaya kepada Tuhan, Firman Tuhan mengatakan jiwanya yang benar itu tersiksa. Jiwa Lot tersiksa karena dia bergaul dengan orang-orang yang hidupnya menolak Tuhan, dan setiap hari yang Lot lihat dan dengar adalah hal-hal yang negatif dan buruk.

Teman, pergaulan yang salah dan informasi yang negatif akan membuat jiwa kita tersiksa jika kita tidak segera meninggalkannya. Sedangkan, kabar baik dan pergaulan yang benar mendatangkan damai sejahtera, sukacita, dan membangkitkan iman.

Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Harga yang Lot harus bayar akibat keputusannya yang keliru sangatlah mahal. Mari kita belajar dari Lot, sehingga kita tidak perlu melewati penderitaan atau siksaan yang Lot alami. (penulis: @mistermuryadi)

KEHIDUPAN IMAN YANG DIKENANG BANYAK ORANG

Kisah Para Rasul 13:22 "Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendakKu."

Sampai hari ini nama Raja Daud sangatlah harum. Perjalanan iman Daud bersama dengan Tuhan meninggalkan jejak yang berharga bagi kita semua.

Semua orang pasti akan meninggal suatu hari nanti. Yang menjadi masalah, setelah kita meninggal, jejak seperti apa yang kita tinggalkan?

Tokoh-tokoh Alkitab seperti Daniel, Musa, Paulus, Petrus, Yohanes dan juga para tokoh kebangunan rohani seperti Smith Wigglesworth, Corrie Ten Boom, dan David Livingstone, meninggalkan jejak yang sangat berharga untuk kita. Jejak iman mereka membuat kita dapat melihat kedahsyatan Tuhan.

Saya berikan contoh. Musa membelah Laut Merah dan apa yang dia lakukan dikenang sampai ribuan tahun. Paulus memutuskan untuk memberikan hidupnya bagi Kristus dan hal itu menginspirasi banyak orang untuk mengikut Kristus. Daniel berani mempertahankan imannya sekalipun dilempar ke kandang singa, dan keteguhannya diingat sampai hari ini.

Teman, jangan hidupi hidup kita hanya sekadarnya saja, apalagi jika kita hidup dengan cara yang sembarangan. Hiduplah sebagaimana Tuhan memanggil kita, yaitu menjadi garam dan terang dunia, menjadi kepala bukan ekor, sehingga suatu hari nanti, sekalipun kita sudah tiada, dunia masih dapat melihat jejak iman kita dan jejak itu menjadi berkat dan menginspirasi bagi banyak orang. (penulis: @mistermuryadi)

ANDA LEBIH BERHARGA DARI MATAHARI, BULAN, DAN BINTANG

Yesaya 43:4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.

Beberapa tahun lalu, istri saya diundang untuk berbagi cerita kepada para remaja wanita di sebuah acara gereja. Saat membagikan bahan presentasinya, dia bertanya kepada para peserta, “Seperti apa cantik menurut kalian?” Sebagian besar orang berpendapat, “Tinggi, putih, berkulit halus, dan memiliki wajah yang menarik.”

Dalam pertemuan itu, istri saya mengajarkan bahwa sungguh berbeda cara dunia memandang Anda dan cara Tuhan memandang Anda.

Sungguh betapa dahsyat dunia ini merusak cara berpikir anak-anak Tuhan. Istri saya bercerita bahwa banyak remaja yang berpikir dirinya berharga dan disukai jika foto di Facebook atau Instagram-nya mendapatkan banyak LIKE. Juga, ketika banyak orang yang memuji kulit, wajah, atau penampilan mereka.

Tahukah Anda bahwa semua manusia di muka Bumi ini hidup karena hembusan napas Tuhan? Anda dan saya jauh lebih berharga dari matahari, bulan, bintang, atau bahkan, dari para malaikat. Tidak ada satu pun makhluk yang kepadanya Tuhan pernah mengatakan, “Engkau berharga di mata-Ku dan mulia …” selain dari manusia.

Dunia berusaha menggantikan konsep BERHARGA dengan penampilan yang menarik, rambut yang berwarna-warni, kulit putih, tubuh langsing, wangi, dan lain sebagainya. Saya tidak mengatakan salah untuk berpenampilan menarik atau wangi. Saya pun suka dengan dunia fashion dan secara rutin menggunakan parfum. Namun, rasa berharga kita seharusnya tidak muncul dari situ. Rasa berharga kita seharusnya tidak hanya muncul pada saat ada yang memuji kita.

Rasa berharga yang benar semestinya datang karena kita tahu bahwa yang menciptakan kita adalah Tuhan, dan Dia sangat mengasihi kita. Kita berharga karena kita diciptakan demikian sejak awal dan Tuhan menyatakan demikian sampai hari ini.

Sekalipun dunia ini menganggap kita aneh, kurang gaul, tidak cantik, atau tidak ganteng, Tuhan semesta alam menganggap kita adalah anak kesayangan-Nya. (penulis: @mistermuryadi)

MENGATASI BADAI HIDUP DENGAN TENANG

Matius 8:24-25 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”

Petrus adalah nelayan handal. Dia tahu jenis-jenis angin yang berbahaya. Suatu hari, saat ada angin ribut mengamuk, Petrus dan para murid lain ketakutan. Mereka tahu angin itu dapat menghancurkan kapal mereka. Layaknya paduan suara, mereka kompak berteriak, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Sementara, Yesus tertidur dengan lelap.

Sangat kontras sekali respons Yesus dan para murid saat berhadapan dengan badai. Sangat kontras respons orang yang mendirikan rumah di atas batu dengan orang yang mendirikan rumah di atas pasir.

Teman, kapan terakhir kali Anda merespons badai kehidupan dalam hidup Anda dengan tenang dan dalam keadaan damai sejahtera?

2 Petrus 1:2 mengatakan kasih karunia dan damai sejahtera melimpah atas kita oleh karena pengenalan akan Kristus.

Banyak di antara kita ingin hidup melimpah dalam kasih karunia dan damai sejahtera, tetapi sangat sedikit sekali yang mau meluangkan waktu untuk mengenal Kristus.

Kita dapat tidur subuh demi menonton sepakbola, sementara paginya bekerja. Kita rela lembur sampai larut malam demi karir dan bisnis. Kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam dari satu rapat ke rapat berikutnya tanpa mengantuk sedikit pun. Sementara, pada saat membaca Alkitab atau mendengarkan khotbah, kita berkata, “Tuhan pasti mengerti kalau saya sedang capek.”

Jika kita pertahankan sikap seperti di atas, jangan heran setiap kali datang hujan, banjir, dan badai, kita selalu ketakutan. Mari kita ubah sikap kita memperlakukan kebenaran. Kita perlu memprioritaskan kebenaran dalam hidup kita. Lebih penting dari semua rapat kita, lebih berharga dari semua klien kita, dan lebih utama dari semua kegiatan kita. (penulis: @mistermuryadi)

DENGARKAN SUARA TUHAN DI TENGAH KESUNYIAN

Terkadang saat kita mengalami kekecewaan, sakit hati, atau kepahitan, berdiam diri di dalam sepi dapat membuat kita semakin menderita karena kita terus menerus memikiran hal-hal yang menyakitkan itu. Itu sebabnya, banyak orang menyibukkan diri dengan kegiatan atau teman-teman. Saya dapat mengerti akan hal itu.

Namun, berdasarkan pengalaman pribadi, seringkali mengalihkan perhatian kepada aktivitas dan teman-teman pun tidak menyelesaikan masalah atau pergumulan kita. Hanya membuat kita merasa lebih baik sementara waktu, tetapi tidak benar-benar membuat rasa sakit itu hilang.

Jika Anda sedang mengalaminya hari ini, Anda bukanlah orang pertama. Ada banyak kisah di Alkitab yang menceritakan hal seperti itu. Ayub kehilangan semua anak-anaknya. Daud kehilangan anak pertamanya dan di lain waktu, dia dikejar-kejar hendak dibunuh oleh anaknya yang lain. Hagar yang diusir oleh sang majikan ketika sudah tidak diperlukan lagi. Elia yang lari bersembunyi ketakutan dari Izebel.

Namun, di tengah pergumulan, tokoh-tokoh di atas tidak mengalihkan diri ke hal-hal lain, melainkan berdiam diri dan berlari ke Tuhan. Mereka tahu bahwa Tuhan tidak berdiam diri. Tuhan berbicara kepada mereka di dalam kesunyian, kepedihan, dan kesakitan mereka.

Pada saat kita bergumul, mungkin kita berpikir bahwa berdiam diri di dalam sepi adalah sebuah siksaan. Namun, jika kita berdiam diri di dalam Tuhan, memuji menyembah-Nya, merenungkan Firman-Nya, justru di dalam kesunyian kita akan menemukan kekuatan baru. Kekuatan untuk menghadapi pergumulan kita. Kekuatan untuk menang. (penulis: @mistermuryadi)

PERHATIKAN KESEHATAN JIWA KITA

Amsal 15:14 Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan.

Mata dan telinga kita adalah pintu ke jiwa kita. Jika melihat hal-hal yang negatif dan mendengarkan hal-hal yang melemahkan iman kita, pada dasarnya kita sedang memberi makanan yang tidak sehat kepada jiwa kita. Akibatnya, kita akan sulit untuk menjadi orang-orang yang kuat menghadapi masalah dan tekanan.

Di dalam ilmu diet, dikatakan bahwa kita adalah apa yang kita makan. Saya rasa hal yang sama berlaku juga untuk jiwa kita. Sehat atau tidaknya jiwa kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita lihat dan dengar.

Jika tidak hati-hati, dengan mudah kita dapat melihat dan mendengar informasi yang berpotensi merusak jiwa kita. Ada banyak acara di televisi, website di internet, musik, film, buku, dan games yang dapat mempengaruhi kesehatan jiwa kita.

Perhatikan apakah yang setiap hari kita lihat dan dengarkan membuat hidup kita menjadi lebih baik dan membangun kita semakin kuat. Jika tidak, kita perlu melakukan perubahan agar jiwa kita semakin hari semakin sehat dan produktif. (penulis: @mistermuryadi)

PRAKTIKKAN CARA BARU MEMBACA FIRMAN TUHAN INI!

Mazmur 119:57 Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu.

Saya pun baru dalam hal yang saya mau bahas ini. Mari kita belajar bersama-sama. Beberapa waktu belakangan, saya mencoba cara yang baru dalam membaca Firman Tuhan, terutama ketika saya bersaat teduh.

Biasanya saya membaca satu atau dua ayat, atau maksimal satu pasal sekaligus dari sebuah kitab. Kemudian, keesokan harinya saya membaca dengan cara yang sama, tetapi dari kitab yang berbeda. Tidak ada yang salah dengan cara itu. Saya melakukannya selama bertahun-tahun.

Namun, saya menemukan metoda baru yang membuka cakrawala pikiran saya, yaitu dengan membaca satu kitab sekaligus dari pasal awal sampai pasal akhir. Saya baru saja menyelesaikan seluruh kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan dalam dua bulan terakhir. Hasilnya, saya baru benar-benar menyadari konteks utuh dari banyak ayat yang sebelumnya pernah saya baca secara terpisah-pisah.

Perlu kita pahami bahwa setiap kitab di Alkitab ditulis dengan sebuah konteks tertentu. Hal itu baru dapat kita pahami ketika kita membaca sebuah kitab secara utuh. Tentu saja ada kitab-kitab yang memerlukan pembelajaran lebih lanjut karena ada istilah, kisah, puisi, dan bahasa yang tidak umum bagi kita.

Misalnya saja kitab Galatia. Kitab itu ditulis oleh Paulus untuk mengingatkan jemaat Tuhan di Galatia untuk berhati-hati terhadap ajaran palsu yang mengharuskan non-Yahudi disunat untuk menjadi pengikut Kristus. Paulus menuliskan argumennya mengenai pentingnya iman kepada Kristus dibandingkan ritual jasmani keagamaan.

Sama halnya ketika kita membaca buku Harry Potter dan The Lord of The Rings. Agak sulit membahami isi kedua buku itu jika hari ini kita membaca buku Harry Potter halaman 15-16, lalu esok harinya membaca buku LOTR halaman 30-35, dan keesokannya lagi kita membaca buku Narnia halaman 100-105.

Mari, saya ingin mengajak Anda untuk mencoba cara baru di atas. Cari satu kitab yang ingin Anda baca, kemudian ambillah komitmen untuk membaca kitab itu dari awal sampai akhir. Tidak harus membaca seluruhnya dalam satu waktu, tetapi pastikan Anda membacanya secara berkesinambungan. Seperti contoh saya di atas membaca kitab Galatia yang terdiri dari 6 pasal dalam tiga hari.

Jika Anda belum memiliki ide, membaca salah satu dari kitab Matius, Markus, Lukas, atau Yohanes dapat menjadi titik awal yang baik untuk metoda baru ini. Selamat mencoba! (penulis: @mistermuryadi)