ATUR EMOSI KITA SEBELUM EMOSI MENGATUR HIDUP KITA

Bahan renungan:

Ayub 15:12 Mengapa engkau dihanyutkan oleh perasaan hatimu dan mengapa matamu menyala-nyala …

Dalam satu waktu kita mungkin saja dapat merasakan senang atau sedih, bergairah atau patah semangat. Meskipun perasaan terkadang menuntut dituruti, kita tidak harus membiarkan perasaan-perasaan tersebut menguasai hidup kita.

(Baca juga: AYAT TERMANIS DI ALKITAB)

Kita dapat belajar mengatur emosi kita, sebelum emosi kita mengatur hidup kita. Hal itu merupakan salah satu kebenaran penting yang saya pelajari sejak saya menjadi orang percaya. Pada saat kita dapat menguasai emosi kita, terutama emosi negatif, kita dapat menikmati kehidupan yang Tuhan anugerahkan kepada kita secara konsisten.

Kalau kita membangun sebuah kebiasaan untuk bertindak berdasarkan perasaan, jangan heran jika hidup kita naik turun, dan maju mundur. Perasaan kita tidak menentu, itu sebabnya hidup kita juga jadi tidak menentu jika kita mengikutinya.

Suatu hari ada seorang pria ditinggal oleh kekasihnya. Pria ini membiarkan dirinya berlarut-larut dalam kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan. Akibatnya, pria ini depresi, hatinya penuh kepahitan, dan mengalami kesulitan untuk melihat bahwa Tuhan menyediakan pemulihan dan teman hidup yang lain bagi dirinya. Di tengah perasaannya yang tidak menentu, pria ini memilih bunuh diri.

Kejadian di atas ada di sekitar kita. Ketika seseorang membiarkan dirinya dituntun oleh perasaan, dampaknya, perlahan tetapi pasti, dapat menjadi sangat mengerikan.

(Baca juga: BERGAUL DENGAN ORANG YANG TEPAT DAPAT MENGUBAH HIDUP ANDA)

Namun bersyukurlah kita memiliki kebenaran Firman Tuhan, sehingga kita dapat membuat keputusan dan bertindak tidak hanya berdasarkan perasaan, melainkan berdasarkan kebenaran yang kita percayai. Tuhan akan senantiasa memberikan kita kekuatan ketika kita bergerak berdasarkan kebenaran-Nya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

AYAT TERMANIS DI ALKITAB

Bahan renungan:

Lukas 19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Bagi saya, ayat di atas adalah ayat termanis yang ada Alkitab. Dalam sebuah kalimat yang pendek, Lukas 19:10 menceritakan kepada kita mengenai alasan mengapa Yesus datang ke dunia. Dia datang untuk sebuah tujuan dan pekerjaan, yaitu untuk mencari dan menyelamatkan setiap orang berdosa.
Yesus tidak datang untuk menghukum atau menghakimi orang berdosa, melainkan untuk memberikan kehidupan yang kekal.
Melalui ayat di atas, sungguh tidak sulit untuk mengerti dam memahami isi hati Tuhan. Hati-Nya hanya berisi Anda dan saya, orang-orang berdosa. Dan, adalah keinginan Tuhan untuk melihat anak-anak-Nya senantiasa dalam keadaan yang baik.
Jika mencari dan menyelamatkan orang berdosa menjadi misi utama Yesus, sebagai orang percaya, kita juga perlu menjadikan hal tersebut sebagai misi utama hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

KEKUATAN DARI BERHARAP

Bahan renungan:

Roma 8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?

Kebanyakan orang tidak menyadari kekuatan dari berharap. Terkadang beberapa orang mengatakan, “Saya harap begitu,” sebagai ekspresi hampir menyerah terhadap situasi. Padahal pengharapan adalah pemicu iman, dan iman adalah satu-satu “alat” untuk menerima janji Tuhan.

(Baca juga: TUHAN SETIA TERHADAP JANJINYA UNTUK MENYELAMATKAN KITA)

Sebelum iman beroperasi, kita perlu berharap. Berharap adalah langkah awal sebelum kita beriman. Sebelum seseorang benar-benar percaya kabar baik mengenai keselamatan, dia perlu berharap terlebih dahulu bahwa hal tersebut benar adanya.

Sebelum kita percaya kita sembuh, kita perlu memiliki pengharapan akan kesembuhan.

Terkdang orang-orang yang berharap terkecoh dengan perkataan, “Kita tidak dapat sembuh jika hanya berharap, kita perlu percaya.”

Faktanya, ada langkah menuju iman, yaitu berharap. Mustahil kita dapat beriman jika kita tidak memiliki pengharapan. Dalam salah satu perumpamaan, Yesus menceritakan ini, “Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” Perkataan itu menunjukkan ada langkah-langkah sebelum menuai.

Sebelum kita dapat percaya seratus juta rupiah, kita perlu belajar percaya satu juta rupiah. Sebelum kita percaya satu juta rupiah itu, kita perlu mengharapkan hal tersebut.

(Baca juga: KEINGINAN DAGING HANYA AKAN MENUNTUN ANDA KEPADA MAUT)

Mari latihlah diri kita untuk memiliki pengharapan. Bukan sekadar mengharapkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi mengharapkan janji Tuhan terjadi. Karena, Firman Tuhan menjamin bahwa janji Tuhan YA dan AMIN bagi hidup kita. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

TUHAN SETIA TERHADAP JANJINYA UNTUK MENYELAMATKAN KITA

Bahan renungan:

Mazmur 18:19 Ia membawa aku ke luar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku.

Tidak terhitung seberapa banyak musuh dan bahaya yang dihadapi oleh Daud. Jika kita membaca kisahnya, berkali-kali Daud menghadapi situasi antara hidup dan mati, tetapi Daud selalu selamat. Semua pengalaman itu menunjukkan betapa setia Tuhan terhadap perjanjian-Nya kepada Daud.

(Baca juga: RESPONS KITA MENUNJUKKAN IMAN KITA)

Dalam Mazmur 16 Daud bernyanyi tentang sukacita dan tuntunan yang hanya dia temukan di dalam Tuhan, “Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” Sungguh indah.

Saya percaya perjanjian Tuhan dan kita melalui karya salib Kristus jauh lebih kuat daripada perjanjian-Nya dengan Daud. Jika Tuhan senantiasa setia menyelamatkan Daud, terlebih lagi terhadap Anda dan saya yang percaya kepada Kristus.

Apa pun situasi bahaya yang sedang kita hadapi saat ini, entah itu krisis finansial, sakit penyakit yang tidak kunjung sembuh, masalah keluarga, tantangan di dalam pelayanan, bisnis atau pekerjaan yang tidak berkembang, percayalah Tuhan ada di pihak kita. Dia berperang di depan kita.

(Baca juga: TUHAN INGIN ANDA SEHAT)

Seperti Daud, apa pun masalah yang dia hadapi, dia senantiasa bersandar kepada Tuhan. Bahkan, ketika dia jatuh ke dalam dosa, dia tetap mendekat kepada Tuhan. Daud bukanlah tokoh yang sempurna. Hidupnya penuh dengan lika liku. Namun, Alkitab mencatat, hatinya senantiasa terpaut kepada Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

RESPONS KITA MENUNJUKKAN IMAN KITA

Bahan renungan:

Matius 3:8 Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.

Saat orang lain mengetahui bahwa kita adalah orang Kristen, mereka cenderung memperhatikan hidup kita. Mereka ingin melihat standar yang kita miliki dan ingin tahu bagaimana cara kita hidup.

(Baca juga: LUANGKAN WAKTU UNTUK BERSEKUTU DENGAN TUHAN)

Orang-orang itu biasanya tidak terbuka untuk belajar mengenai iman kita sampai kita menunjukkan buah-buah yang baik dari hidup kita. Ketika kita menunjukkan buah-buah yang baik, barulah mereka mau mendengarkan apa yang kita katakan dan menerima apa yang kita sampaikan.

Kita dapat menunjukkan iman kita dengan cara memberikan respons yang baik terhadap kejadian-kejadian kecil sehari-hari. Saat seseorang menyenggol kita atau menginjak kaki kita, kita dapat merespons dengan sikap ramah. Bahkan, kita dapat tersenyum kepada orang yang tidak bermaksud menyenggol atau menginjak kaki kita itu. Orang lain dapat melihat iman kita dalam respons yang menyenangkan seperti itu.

(Baca juga: PATUTKAH KITA MENSYUKURI SAKIT PENYAKIT KITA?)

Semua orang dapat menunjukkan wajah marah, mengeluarkan desahan keberatan, dan kecewa atas kesalahan kecil. Namun, saya percaya, orang-orang percaya dipanggil untuk melampaui respons tersebut. Kita dapat mengembangkan kasih melalui perbuatan kita. Kasih yang kita lakukan dapat membuat orang lain tertarik kepada Sang Sumber Kasih yang tinggal di dalam diri kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

LUANGKAN WAKTU UNTUK BERSEKUTU DENGAN TUHAN

Bahan renungan:

Lukas 6:12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.

Jika kita menganggap hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan yang berharga, tentu kita akan meluangkan waktu kita untuk bersekutu dengan-Nya. Entah itu berdoa, memuji menyembah-Nya, duduk diam mendengarkan suara-Nya, membaca dan merenungkan kebenaran-Nya, atau melakukan semuanya secara rutin.

(Baca juga: JERIH PAYAH KITA DI DALAM KRISTUS TIDAK PERNAH SIA-SIA)

Yesus sangat menghargai hubungannya dengan Bapa Sorgawi. Bagi Yesus, tidak ada yang lebih penting daripada bersekutu dengan Bapa. Yesus menunjukkan hal tersebut melalui ayat renungan kita di atas. Tidak peduli selelah apa pun, atau sepadat apa pun kegiatan-Nya, Yesus selalu meluangkan waktu untuk bersekutu dengan Bapa. Bahkan dicatat, Dia melakukan hal tersebut semalam-malaman. Hal itu menunjukkan bahwa Yesus menjalin hubungan tersebut bukan karena terpaksa, melainkan karena menginginkannya.

Yesus menggambarkan kedekatannya dengan Bapa di dalam Yohanes 5:19, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”

(Baca juga: NAMA YESUS JAUH LEBIH BERKUASA DARI SAKIT PENYAKIT ANDA)

Bagaimana dengan kita? Seberapa berhargakah hubungan kita dengan Bapa Sorgawi? Cara termudah untuk melihat nilai sebuah hubungan yang kita jalin adalah melalui seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan demi hubungan tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

JERIH PAYAH KITA DI DALAM KRISTUS TIDAK PERNAH SIA-SIA

Bahan renungan:

1 Korintus 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Suatu hari seorang teman terlihat sangat murung. Saya tidak tahu apa yang terjadi terhadapnya. Sebagai orang percaya, saya berusaha mendekatinya dengan maksud menanyakan kepadanya seandainya ada sesuatu yang dapat saya bantu. Singkat cerita, kami terlibat dalam sebuah percakapan membahas diri saya. Teman saya, tidak seperti biasanya, banyak bertanya mengenai keluarga saya, kondisi finansial saya, kehidupan saya, dan terutama, bagaimana respons saya terhadap kondisi tersebut.

(Baca juga: YESUS BERANI MELAWAN ARUS)

Saya menjawab semampu yang saya bisa. Saya mengatakan kepadanya bahwa situasi yang saya hadapi sungguh berat untuk anak seumur saya pada waktu itu. Membuat saya ingin pergi dari rumah. Namun, saya percaya bahwa Yesus memiliki rencana yang indah atas hidup saya dan keluarga saya.

Percakapan tersebut berlangsung selama kurang lebih satu jam, dan kemudian kami berpisah.

Tiga hari setelah itu, teman saya menghampiri saya dan mengucapkan terima kasih. Saya merasa heran pada saat itu. Teman saya bercerita bahwa tiga hari lalu, dia ingin bunuh diri. Dia sudah merencanakan sejak seminggu sebelumnya. Namun, ketika kami bercakap-cakap, dia merasa masalah yang saya hadapi lebih berat dari dirinya, sementara saya dapat merespons masalah-masalah tersebut lebih baik. Hal tersebut membuat dia mengurungkan niat untuk bunuh diri.

Yang ingin saya sampaikan untuk kita hari ini adalah, tanpa kita sadari, respons saya terhadap masalah dalam hidup kita dapat mengubah kehidupan orang lain. Saya pribadi merasa respons saya terhadap masalah-masalah saya biasa saja, tetapi bagi teman saya, itu lebih dari cukup untuk membuatnya mengurungkan niat bunuh diri.

(Baca juga: YANG BERSAMA KITA JAUH LEBIH BESAR DARI YANG MENGHADANG KITA)

Jangan pernah merasa bahwa hal kecil yang kita lakukan atas nama kebenaran Tuhan itu kecil. Segala sesuatu yang kita lakukan, sekecil apa pun, demi nama Yesus, adalah hal yang dapat memberikan dampak besar. Firman Tuhan di atas mengatakan, jerih payah kita di dalam Kristus tidak pernah sia-sia. Kita tidak pernah tahu bahwa Tuhan dapat memakai sepenggal kisah dalam hidup kita untuk menyelamatkan banyak nyawa di luar sana. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.