JIKA ADA PRIBADI YANG PALING INGIN ANDA BERHASIL, ITU ADALAH TUHAN

Bahan renungan:

Mazmur 103:13 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

Jika ada Pribadi yang paling menginginkan bersekutu dengan Anda, itu adalah Bapa di Sorga. Jika ada Pribadi yang paling menginginkan Anda menikmati segala sesuatu yang baik dan berhasil dalam segala pekerjaan tangan Anda, itu adalah Bapa di Sorga.

(Baca juga: MENGAPA TUHAN YANG BAIK MENURUNKAN AIR BAH DAN MENGHANCURKAN SODOM GOMORA?)

Bapa Sorgawi adalah gembala yang baik, Pribadi yang paling repot memastikan agar Anda dalam keadaan baik-baik.

Anda tidak perlu menebak-nebak apa rencana Tuhan bagi hidup Anda. Firman Tuhan mengatakan Dia seperti seorang bapa yang sayang kepada anak-anaknya. Seorang bapa yang baik pasti mengusahakan segala yang terbaik untuk anak-anaknya.

Anda perlu berhenti mempertanyakan apakah Dia merancangkan hanya yang baik atau juga mengijinkan yang buruk? Bapa sudah menjawab pertanyaan tersebut ketika Dia mengaruniakan Yesus untuk menyelamatkan Anda.

Masalahnya, terkadang banyak orang lebih suka memilih jalannya sendiri, dan itu otomatis berarti mereka menolak jalan Tuhan. Mereka berpikir jalan mereka lebih baik dari jalan Tuhan. Mereka mengira mereka dapat memelihara dan menjaga diri mereka lebih baik dari Tuhan memelihara dan menjaga mereka. Apa tandanya? Sederhana, ketika mereka memilih tidak percaya kepada-Nya dan tidak turut perintah-Nya, ketika mereka memilih untuk menyimpang dari jalan-Nya, pergi, dan menjauh dari-Nya.

Ketika si bungsu pergi, dia memilih menolak penyediaan, penjagaan, pemeliharaan, dan perlindungan yang ditawarkan bapanya. Si bungsu mengira pilihannya lebih baik dari apa yang bapanya berikan. Ternyata si bungsu keliru, karena di luar rumah bapanya, si bungsu melarat dan menderita.

(Baca juga: CARA ANDA MUNGKIN BAIK, TETAPI CARA TUHAN PASTI JAUH LEBIH BAIK)

Bagaimana dengan Anda? Anda dapat memilih menjalani hidup seperti si bungsu, atau seperti Abraham yang meninggalkan segala sesuatunya karena percaya kepada Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

Advertisements

CARA ANDA MUNGKIN BAIK, TETAPI CARA TUHAN PASTI JAUH LEBIH BAIK

Bahan renungan:

Ibrani 11:29 Karena iman maka mereka telah melintasi Laut Merah sama seperti melintasi tanah kering, sedangkan orang-orang Mesir tenggelam, ketika mereka mencobanya juga.

Jika mengandalkan pemikirannya sendiri, menurut Anda, apa yang dapat Musa lakukan untuk menghindar dari kejaran tentara Mesir, sementara Laut Merah menghadang di depan? Melakukan perlawanan terhadap tentara Mesir mungkin saja dapat membuahkan hasil, tetapi pasti akan menelan banyak korban jiwa dari sisi Bangsa Israel. Namun, Musa menanggalkan pemikiran dan pertimbangannya, dan memilih percaya kepada Tuhan. Tuhan memiliki cara yang jauh lebih baik. Tuhan membelah lautan. Dahsyat!

(Baca juga: MENGAPA TUHAN YANG BAIK MENURUNKAN AIR BAH DAN MENGHANCURKAN SODOM GOMORA?)

Yesaya 55:8-9 mengatakan, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Teman, mungkin saja cara Anda baik, tetapi cara Tuhan sudah pasti jauh lebih baik. Jika mengandalkan cara pikir dan pertimbangan manusia, Nuh tidak akan sukses membangun bahtera di atas gunung, Daud tidak akan pernah menang melawan Goliat, Yosua tidak akan pernah menginjak Tanah Kanaan, dan Daniel tidak akan selamat dari gua singa. Namun, puji Tuhan semua tokoh di atas memilih untuk percaya kepada Tuhan daripada jalannya sendiri, sehingga mereka melewati semua masalah dengan keluar sebagai pemenangnya.

(Baca juga: MEMILIH PERCAYA TUHAN VS. MEMILIH JALAN SENDIRI (MAZMUR 91:15))

Saya ingin mengatakan bahwa memercayai Tuhan jauh lebih baik daripada memercayai diri sendiri. Hidup di dalam jalan-jalan Tuhan jauh lebih baik daripada hidup dalam jalan Anda sendiri. (penulis: @mistermuryadi)

IBLIS TIDAK INGIN ANDA MENIKMATI JANJI TUHAN

Bahan renungan:

Markus 12:7-8 Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu.

Sejak dulu sampai hari ini tujuan iblis hanya satu, dia ingin agar Anda dan saya, orang-orang yang percaya kepada Yesus, terpisah dari Bapa Sorgawi. Iblis tahu sekali bahwa ketika kita berada di dekat Bapa, kita dipulihkan, disembuhkan, dan diberkati.

(Baca juga: MENGAPA TUHAN YANG BAIK MENURUNKAN AIR BAH DAN MENGHANCURKAN SODOM GOMORA?)

Yohanes 10:10 memberikan garis batas yang jelas antara iblis dan Yesus. Iblis datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; tetapi Yesus datang, supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Dengan berbagai tipu daya, iblis ingin agar kita tidak menikmati warisan janji Tuhan. Cara yang paling sering iblis lakukan adalah membuat kita merasa tidak dikasihi. Membuat kita meragukan kasih Bapa kepada kita. Ketika kita merasa tidak dikasihi Tuhan, kita cenderung akan menjauhi Tuhan dan berprasangka buruk terhadap Tuhan. Akibatnya, ketakutan dan kekuatiran akan mendominasi kehidupan kita, dan hidup kita terisolasi oleh perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang negatif.

(Baca juga: PELAYANAN ADALAH TEMPAT TERBAIK UNTUK MELATIH KARAKTER KITA)

Kita perlu sering mendengar kabar baik mengenai Yesus. Yohanes 8:32 mengatakan, “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kebenaran Firman Tuhan membuat kita mengenali tipu daya si jahat. Kebenaran Firman Tuhan menuntun kita ke jalan yang benar. (penulis: @mistermuryadi)

PELAYANAN ADALAH TEMPAT TERBAIK UNTUK MELATIH KARAKTER KITA

Bahan renungan:

Efesus 4:16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Jika Anda ingin melatih dan mengembangkan karakter, pelayanan adalah tempat terbaik. Saya tidak mengatakan satu-satunya tempat, yang saya katakan adalah pelayanan merupakan tempat terbaik.

(Baca juga: MENGAPA TUHAN YANG BAIK MENURUNKAN AIR BAH DAN MENGHANCURKAN SODOM GOMORA?)

Mengapa demikian? Salah satu alasannya, karena di dalam pelayanan, Anda tidak dibayar. Anda dilatih untuk sabar, setia, tahan uji, ulet, pantang menyerah, memiliki kasih, rendah hati, murah senyum, dan lain sebagainya, tanpa bayaran.

Apa yang salah dengan dibayar?

Mari kita ambil contoh di kantor atau bisnis. Misalnya bos atau klien Anda marah. Karena Anda digaji oleh dia atau mendapatkan keuntungan dari dia, Anda dapat menahan amarah dan sabar terhadap bos atau klien Anda. Pernah ada seorang teman saya sedang konflik besar dengan istrinya, mereka saling mencaci satu sama lain, lalu saat atasannya menelpon dia, tiba-tiba nada suara teman saya yang tinggi tiba-tiba turun dan mendadak dia menjadi orang yang lembut. Kondisi seperti itu tidak dapat melatih karakter Anda. Selama ada motivasi uang, Anda tidak dapat benar-benar mengubah atau mengembangkan karakter.

Karakter hanya dapat dilatih dan dikembangkan ketika Anda disiplin melakukan sesuatu yang benar tanpa sedikit pun mendapatkan imbalan atau keuntungan. Menurut pengalaman saya, pelayanan adalah tempat terbaik untuk hal tersebut.

Saya sangat mendorong setiap orang percaya untuk terlibat aktif di dalam pelayanan. Di pelayanan, Anda dilatih bertanggung jawab, setia, tepat waktu, panjang sabar, saling mengasihi, dan lain sebagainya, mulai dari hal-hal yang kecil sampai yang besar.

(Baca juga: JIKA KITA BERBUAT JAHAT, APAKAH TUHAN TETAP MENGASIHI KITA?)

Alasan penting mengapa Anda perlu melatih karakter dan mental adalah agar ketika Anda berada di dunia pekerjaan, bisnis, sekolah, atau di mana pun, orang lain dapat melihat Kristus melalui gaya hidup Anda. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

MENGAPA TUHAN YANG BAIK MENURUNKAN AIR BAH DAN MENGHANCURKAN SODOM GOMORA?

Kita telah belajar bahwa Tuhan adalah kasih dan kasih-Nya kepada Anda dan saya tidak pernah berubah. Sejak awal dunia diciptakan sampai hari ini, Dia telah memutuskan untuk mengasihi Anda dan saya. Tuhan memiliki segala kuasa dan hak untuk menghukum kita, tetapi Dia memilih untuk mengasihi kita dan menjadikan kita kesayangan-Nya.

(Baca juga: APA KATA YESUS TENTANG HUKUM TAURAT?)

Meski demikian, di zaman Hukum Taurat, tepat setelah Musa turun dari Gunung Sinai membawa dua loh batu, Tuhan seolah berubah menjadi kejam dan jahat. Tuhan mulai melepaskan tulah, menurunkan bara api, mengutuk Bangsa Israel dengan sakit penyakit setiap kali mereka melanggar perintah-Nya. Kalau benar Tuhan adalah kasih, mengapa Dia melakukan hal tersebut? Saya sudah pernah menjawab pertanyaan itu dalam artikel-artikel sebelumnya. Jika Anda belum mengetahui jawabannya, saya sangat menyarankan Anda membacanya terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca artikel ini. Anda tinggal ketik kata “Hukum Taurat” di kolom search yang tersedia di pojok kanan atas.

Tidak lama setelah saya merilis tulisan-tulisan mengenai Hukum Taurat, saya menerima banyak surel yang menanyakan penjelasan mengenai peristiwa air bah pada zaman Nuh dan peristiwa hancurnya Sodom dan Gomora. Mengapa demikian? Karena, kedua peristiwa tersebut terjadi pada zaman sebelum Hukum Taurat, zaman di mana Tuhan mengabulkan doa Kain, si pembunuh pertama di muka Bumi; dan menyebut Abraham, yang meniduri Hagar dan menjual istrinya, sebagai bapak semua orang percaya.

Di dalam zaman Hukum Taurat, jelas bahwa seseorang dihukum ketika mereka melanggar hukum tersebut. Namun, bagaimana dengan zaman sebelum Hukum Taurat dan zaman setelah Hukum Taurat?

Bagi Anda yang baru membaca blog ini, Anda perlu mengerti bahwa zaman sebelum Taurat berlangsung selama 3000 tahun. Dimulai dari zaman Adam dan Hawa sampai peristiwa Musa naik ke atas Gunung Sinai. Turunnya Musa dari Gunung Sinai menandakan dimulainya zaman Hukum Taurat. Hal tersebut berlangsung selama 1000 tahun sampai kematian Yesus di atas kayu salib yang membatalkan segala perintah dan ketentuan Hukum Taurat (Efesus 2:15). Sejak kematian dan kebangkitan Yesus, kita memasuki zaman baru, yaitu zaman anugerah, di mana segala sesuatu yang Anda butuhkan seperti keselamatan, kesembuhan, kesehatan, berkat, kelimpahan, kuasa, Roh Kudus, mukjizat, pemulihan, umur panjang, dan masa depan yang indah telah dianugerahkan secara sempurna bagi kita yang percaya kepada Yesus.

Roma 5:13 mengatakan bahwa dosa sudah ada sebelum zaman Hukum Taurat, tetapi dosa tersebut tidak diperhitungkan karena belum ada Hukum Taurat. Mungkin gambarannya seperti ini. Pada saat belum ada peraturan bahwa semua pengendara mobil harus menggunakan sabuk pengaman, polisi tidak dapat menganggap hal tersebut sebagai pelanggaran, dan akibatnya, tidak ada hukuman yang dapat dijatuhi terhadap orang yang tidak menggunakan sabuk pengaman. Namun, setelah peraturannya keluar, semua pengemudi yang tidak menggunakan sabuk pengaman dijatuhkan sanksi.

Jadi, dosa sudah ada pada zaman sebelum Hukum Taurat, tetapi dosa tersebut tidak diperhitungkan. Atau dengan kata lain, Tuhan tidak menghukum manusia berdasarkan perbuatan dosa yang mereka lakukan. Hal tersebut menjelaskan mengapa Tuhan tidak menghukum Kain sang pembunuh, Abraham yang menjual istrinya, Yakub sang penipu, dan lain sebagainya.

Begitu juga halnya dengan zaman setelah Hukum Taurat. Ketika Yesus memberikan nyawa-Nya di atas kayu salib, Dia menanggung dan menebus setiap dosa dan pelanggaran kita. Yesus yang tidak berdosa, dihukum, menggantikan kita yang berdosa. Dia mengambil semua yang buruk dari kita agar kita dapat menerima semua yang baik yang Bapa sediakan. Bersamaan dengan itu, kehidupan Yesus telah menggenapi seluruh Hukum Taurat (Matius 5:17) dan kematian-Nya telah membatalkan Hukum Taurat (Efesus 2:15).

Roma 8:1 menegaskan bahwa tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Garisbawahi, bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Jadi, sama seperti zaman sebelum Hukum Taurat, perbuatan dosa masih tetap ada, tetapi Tuhan tidak lagi menghukum manusia berdasarkan perbuatan dosa mereka.

Saya tidak mengatakan tidak masalah berbuat dosa. Dosa tetap sesuatu yang jahat di mata Tuhan. Dosa telah menghancurkan banyak kehidupan manusia dan menjadi penghalang hubungan antara manusia dengan Tuhan. Pahami ini, Tuhan membenci dosa, tetapi dia mengasihi orang berdosa. Itu sebabnya Yesus datang menebus setiap dosa kita dan memberikan kita kuasa Roh Kudus agar kita dapat menang atas dosa.

Mari kita kembali ke masalah air bah dan Sodom Gomora.

Lalu, mengapa Tuhan menurunkan air bah dan menghancurkan Sodom dan Gomora? Jawaban dari pertanyaan tersebut sebenarnya sama dengan alasan mengapa Yesus menghukum mereka yang tidak percaya kepada-Nya di hari kedatangan-Nya yang kedua.

Ya, satu-satunya dosa yang dihukum di zaman sebelum dan setelah Hukum Taurat adalah dosa tidak percaya kepada nama Tuhan (pada zaman sebelum Hukum Taurat) atau nama Yesus (pada zaman anugerah). Itulah alasan mengapa Tuhan menurunkan air bah dan menghancurkan Sodom Gomora pada zaman sebelum Hukum Taurat, dan menghukum setiap orang yang tidak percaya kepada Yesus pada akhir zaman nanti.

Saya ingin mengajak Anda melihat lebih dekat lagi.

Dalam Kejadian 6:5 tertulis, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan (ra’ah) manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Lalu, dalam Kejadian 13:13, mengenai Sodom dan Gomora, dikatakan, “Adapun orang Sodom sangat jahat (ra’ah) dan berdosa terhadap Tuhan. Perhatikan kata di dalam kurung. Dalam bahasa Ibrani, kata “kejahatan” pada kedua ayat ditulis ra’ah. Terjemahan dari ra’ah bukanlah perbuatan dosa, melainkan tidak setuju atau menolak Tuhan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa akibat seseorang menolak, meninggalkan, atau menjauh dari Tuhan, mereka akan jatuh dalam berbagai macam dosa dan kejahatan. Contohnya adalah cerita si Bungsu yang pergi dari rumah ayahnya, cerita Kain setelah meninggalkan hadirat Tuhan, Lot yang tinggal di Sodom dan Gomora, dan lain sebagainya.

Di dalam Perjanjian Baru, kita mengenal istilah menolak atau meninggalkan Yesus dengan sebutan Anti-Kristus, dosa menghujat Roh Kudus (Markus 3:29, Lukas 12:10), atau dosa yang tidak dapat diampuni (Ibrani 10:26-35). Tidak percaya kepada Tuhan atau Yesus adalah satu-satunya dosa yang dihukum pada zaman sebelum Hukum Taurat dan pada hari kedatangan Yesus kedua kalinya nanti.

Perhatikan, yang dihukum bukan orang berdosa, melainkan orang yang menolak dan meninggalkan Dia. Hukuman terhadap perbuatan dosa hanya dilakukan pada zaman Hukum Taurat. Harus saya tegaskan sekali lagi bahwa ketika kita menolak atau meninggalkan Yesus, kecenderungan kita adalah berbuat dosa. Yesus mengingatkan kita dalam Yohanes 15:5 bahwa di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita tidak akan menang terhadap godaan untuk berbuat dosa, juga terhadap sakit penyakit dan kemiskinan. Hanya di dalam Yesus ada kemenangan atas dosa, ada hidup sehat, dan hidup dalam kelimpahan, karena Dia telah mengalahkan maut untuk selamanya.

Zaman Nuh hanyalah berjarak 10 generasi setelah Kain. Ketika Kain pergi meninggalkan Tuhan (Kejadian 4:16), Kain memilih jalannya sendiri dan memutuskan melawan Tuhan. Apa buktinya? Kejadian 4:17 mencatat bahwa Kain mendirikan sebuah kota supaya orang berkumpul. Sementara perintah Tuhan adalah supaya manusia memenuhi dan menaklukkan Bumi (Kejadian 1:28).

Perlahan tapi pasti, Kain mulai melahirkan keturunan-keturunan yang menentang dan melawan Tuhan. Apakah Tuhan berdiam diri melihat hal tersebut? Tentu tidak. Tuhan sangat mengasihi manusia. Tuhan melakukan segala macam cara agar manusia berbalik kepada-Nya. Salah satunya adalah melalui Nuh.

Kejadian 6:8 menuliskan, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Di dalam terjemahan bahasa Inggris-nya dikatakan, “But Noah found grace in the eyes of the Lord.” Jika kita membaca versi bahasa Indonesia seolah tersirat Tuhan memilih Nuh untuk diselamatkan. Banyak orang kemudian menerjemahkan Tuhan menyelamatkan Nuh karena Nuh hidup benar, tidak berdosa, dan berkenan di hadapan Tuhan. Namun, jika Anda membaca ayat itu dalam versi bahasa Inggris, dikatakan bahwa Nuh diselamatkan karena Nuh merespons terhadap keselamatan yang Tuhan anugerahkan.

Tuhan menebarkan kasih karunia-Nya kepada semua orang pada saat itu dan hanya Nuh yang memberikan respons. Tuhan ingin semua orang selamat, tetapi hanya Nuh yang mengatakan “iya” kepada Tuhan. Bagaimana dengan yang orang lainnya? Sampai akhir bahtera itu selesai dibangun, mereka tetap memilih jalan sendiri dan memutuskan tidak percaya kepada Tuhan.

Pintu pertobatan Tuhan tidak hanya datang satu kali dalam satu waktu, tetapi berkali-kali selama bertahun-tahun. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun bahtera di atas sebuah gunung. Bahtera sebesar enam kali lapangan sepakbola itu bukan untuk hanya untuk menampung hewan dan keluarga Nuh, tetapi semua orang yang hidup pada zaman itu. Saya membayangkan setiap hari, selama bertahun-tahun, Nuh dan keluarganya mengajak mereka untuk percaya kepada Tuhan agar diselamatkan. Namun, hasilnya nihil, manusia tetap memilih jalannya sendiri, bahkan sangat mungkin Nuh dan keluarganya diejek pada saat itu karena memercayai Tuhan.

(Baca juga: AYUB (bagian 02) – APA DAN SIAPA YANG SEBABKAN PENDERITAANNYA?)

Sebelum air bah itu turun, Tuhan mengucapkan satu kalimat ini dalam Kejadian 7:1, “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” Kata “benar” di situ diambil dari bahasa Ibrani tsadaq yang berarti memilih yang benar. Jadi, kehendak Tuhan adalah menyelamatkan semua orang, tetapi hanya keluarga Nuh yang memutuskan untuk percaya. Ibrani 11:7 mengatakan Nuh diselamatkan karena iman. Sederhananya, iman berarti memilih untuk memihak dan percaya kepada Tuhan.

Hal yang sama terjadi pada kota Sodom dan Gomora. Jika Anda membaca literatur mengenai kota itu, Anda akan tahu bahwa kota Sodom dan Gomora adalah kota tempat pelarian pada penjahat. Atau dengan kata lain, tempat berkumpulnya orang-orang yang memutuskan untuk hidup meninggalkan Tuhan.

Sekali lagi, perlu saya katakan bahwa bukan dosa yang membuat Tuhan marah, melainkan ketidakpercayaan kepada Tuhan. Ketika melayani di dunia, Yesus selalu bereaksi terhadap iman dan ketidakpercayaan seseorang. Terhadap iman, Yesus memuji; tetapi terhadap ketidakpercayaan, Yesus menghardik.

Satu hal mengenai ketidakpercayaan. Hal tersebut menjalar seperti kanker. Seseorang yang tidak percaya kepada Yesus dapat memengaruhi kehidupan orang yang percaya kepada Yesus. Nabi Yesaya menjelaskan hal tersebut dalam Yesaya 1:9, “Seandainya TUHAN semesta alam tidak meninggalkan pada kita sedikit orang yang terlepas, kita sudah menjadi seperti Sodom, dan sama seperti Gomora.” Atau dengan kata lain, jika Sodom dan Gomora tidak dihancurkan pada saat itu, mungkin semua orang sudah akan meninggalkan Tuhan dan jatuh ke dalam berbagai dosa dan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Sodom dan Gomora.

Yesus dalam Matius 24:22 mengatakan, “Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.”

Saya ingin memberikan sebuah ilustrasi mengenai hal di atas. Ada seseorang yang saya kenal harus menjalani proses amputasi kaki akibat terserang diabetes. Langkah amputasi ini harus dilakukan bukan karena para dokter yang merawat itu jahat dan menginginkan yang buruk terjadi terhadap pasien. Justru langkah amputasi ini dilakukan untuk menyelamatkan bagian tubuh lain agar tidak mengalami pembusukan serupa. Atau dengan kata lain, proses amputasi tersebut adalah tindakan kasih untuk menyelamatkan bagian tubuh yang masih sehat.

Saya percaya Tuhan sangat mengasihi Anda dan saya, dan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Firman Tuhan katakan, kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya. Tuhan adalah Bapa yang melakukan segala yang terbaik demi menyelamatkan, menjaga, melindungi, dan memelihara kita. Hal tersebut dibuktikan melalui pengorbanan Yesus di atas kayu salib.

Perlu Anda pahami bahwa menurunkan air bah dan menghancurkan Sodom dan Gomora bukanlah rencana awal Tuhan. Hal tersebut tidak ada di dalam cetak biru-Nya. Saya percaya tindakan Tuhan menyapu bersih dunia dengan air bah dan menurunkan api ke kota Sodom dan Gomora merupakan tindakan kasih untuk menyelamatkan mereka yang memutuskan percaya kepada-Nya.

Nehemia 9:17 menggambarkan kasih Tuhan dengan manis, “Mereka menolak untuk patuh dan tidak mengingat perbuatan-perbuatan yang ajaib yang telah Kaubuat di antara mereka. Mereka bersitegang leher malah berkeras kepala untuk kembali ke perbudakan di Mesir. Tetapi Engkaulah Allah yang sudi mengampuni, yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya. Engkau tidak meninggalkan mereka.” Berkali-kali dalam kitab Mazmur, Daud menuliskan, “Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia.”

(Baca juga: TUHAN ADALAH BAPA YANG SANGAT BAIK)

Akhir kata. Jika Anda adalah seorang percaya, Anda tidak perlu takut terhadap Tuhan. Dia adalah Bapa yang baik. Suatu hari kelak Dia akan datang menjemput Anda sebagai mempelai-Nya. Itu akan menjadi hari terindah dalam hidup Anda. Namun, jika Anda adalah seorang yang tidak percaya kepada Yesus, Anda perlu takut terhadap Hari Kedatangan Yesus yang kedua kali. Akan datang bagi Anda hari yang lebih mengerikan dari peristiwa air bah dan turunnya api yang menghanguskan Sodom Gomora. Selama hari tersebut belum tiba, kesempatan untuk percaya kepada Yesus masih terbuka lebar bagi setiap orang. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

JIKA KITA BERBUAT JAHAT, APAKAH TUHAN TETAP MENGASIHI KITA?

Bahan renungan:

Roma 5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Tuhan mengasihi kita semata-mata karena kita adalah anak-Nya, bukan karena kita baik atau telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi-Nya. Sama seperti bayi yang belum berjasa atau melakukan kebaikan apapun bagi kedua orangtuanya, tetapi orangtuanya sangat mencintainya. Semata-mata, hanya karena bayi tersebut adalah anak kesayangan mereka.

(Baca juga: JANGAN MENGANDALKAN MANUSIA)

Tuhan mengasihi kita bukan karena perbuatan kita, tetapi karena status kita sebagai anak-Nya. Banyak orang bertanya kepada saya, “Apakah ini berarti jika kita berbuat jahat Tuhan tetap mengasihi kita?” Jawabannya, YA, Dia akan tetap mengasihi kita sekalipun kita berbuat jahat.

Namun, kita perlu mengerti hal ini. Dia tetap mengasihi kita bukan karena Dia setuju dengan perbuatan jahat kita, melainkan supaya kita berhenti dan meninggalkan perbuatan jahat tersebut.

Apa yang terjadi pada Yudas Iskariot adalah satu satu contoh nyata apa yang saya maksud dengan pernyataan di atas.

Yesus tahu bahwa Yudas akan mengkhianati-Nya suatu hari nanti. Kalau saya menjadi Yesus, tentu saya tidak akan mengangkat orang yang akan membahayakan hidup saya menjadi salah satu murid. Namun Yesus memililiki pemikiran yang berbeda. Justru karena Yesus tahu Yudas akan mengkhianati-Nya, Yesus mengangkat Yudas menjadi salah satu murid-Nya. Selama tiga setengah tahun Yesus menunjukkan kasih, mukjizat, kasih, dan kebesaran-Nya kepada Yudas agar Yudas berubah dari seorang pengkhianat menjadi penjala manusia yang luar biasa.

Sama halnya dengan murid-murid Yesus yang lain. Jika kita perhatikan, sebagian besar murid Yesus adalah orang-orang yang terbuang, gagal, dan dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang pada saat itu. Namun Yesus mengangkat mereka menjadi murid-murid-Nya dan melatih mereka untuk menjadi penjala manusia.

(Baca juga: TIGA KATA INI SEHARUSNYA TIDAK DIUCAPKAN OLEH ORANG PERCAYA)

Yesus mengambil sebuah risiko besar untuk mengasihi para murid, terutama Yudas. Sama halnya Dia mengambil risiko untuk mengasihi kita, orang-orang yang berdosa dan sering memanfaatkan Dia. Yesus tahu bahwa ada kemungkinan besar kita tidak membalas kasih-Nya dan bahkan meninggalkan-Nya. Namun di sisi lain, Yesus melihat ada kemungkinan lain yang tidak kalah besarnya, yaitu kasih-Nya dapat mengubahkan hidup kita, dari seorang penjahat menjadi berkat bagi banyak orang. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

JANGAN MENGANDALKAN MANUSIA

Bahan renungan:

Mazmur 146:3-4 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.

Mungkin secara singkat ayat di atas mengatakan, jangan mengandalkan manusia, karena manusia terbatas dan tidak dapat memberikan jaminan pasti. Amsal 3:5 menegaskan, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

(Baca juga: ORANG YANG PERCAYA FIRMAN TUHAN PASTI BERTINDAK!)

Satu-satunya alasan mengapa kita senang mengandalkan manusia, karena manusia dapat dilihat dan disentuh. Kita berpikir hal yang dapat dilihat dan disentuh jauh lebih nyata daripada janji-janji Tuhan. Juga, kita mengira proses mengandalkan manusia lebih cepat daripada mengandalkan Tuhan.

Padahal, Yesus menyembuhkan orang-orang yang sakit sangat parah dan membangkitkan orang mati hanya dalam seketika saja. Si wanita pendarahan yang sudah mencari kesembuhan selama 12 tahun disembuhkan saat itu juga ketika dia memutuskan percaya kepada Yesus.

Mengandalkan Yesus adalah jalan termudah, tercepat, dan teraman bagi jiwa kita, sedangkan mengandalkan manusia awalnya mungkin terlihat cepat, tetapi prosesnya selalu berliku-liku dan biasanya berakhir dengan mengenaskan.

(Baca juga: DI TENGAH KETAKUTAN, PANDANGLAH YESUS)

Yeremia 17:7 mengatakan bahwa orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapannya kepada Tuhan, hidupnya diberkati. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.