UTAMAKAN BENIH, ROTI KEMUDIAN

Bahan renungan:

2 Korintus 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan …

Semua petani, yang adalah para penabur, membutuhkan uang untuk melanjutkan kehidupannya, sama seperti kita. Namun yang membedakan, setiap kali mendapatkan uang, yang diingat para petani pertama kali adalah berapa uang yang akan dia sisihkan untuk membeli benih, dan baru kemudian dia memikirkan untuk membeli roti.

(Baca juga: MEMBERIKAN YANG TERBAIK KEPADA SANG JURUSELAMAT)

Menabur benih adalah prioritas para petani, sebelum dia membelanjakan uangnya untuk kebutuhan lain. Karena para petani tahu bahwa semakin banyak benih yang dia tabur, semakin banyak pula yang akan dihasilkannya kelak.

Teman, banyak orang berpikir sebaliknya. Mereka mengutamakan membeli roti, dan jika ada sisanya, barulah dijadikan benih. Saya tidak katakan gunakan semuanya untuk membeli benih, tentu saja tidak demikian. Firman Tuhan katakan TUHAN menyediakan roti untuk kita makan. Ya, TUHAN ingin kita menikmati berkat yang DIA berikan. Yang saya maksud adalah mengenai prioritas antara benih dan roti.

Beberapa waktu lalu ada seseorang menawarkan saya investasi dengan keuntungan 100% dalam setahun. Seketika itu juga saya terpikir untuk menunda jalan-jalan, menunda membeli barang tertentu, dan mengurangi pengeluaran sehari-hari, karena saya ingin mengutamakan investasi yang sangat menguntungkan tersebut. Saya membayangkan “tuaian” yang akan saya dapatkan tahun depan dari “benih” yang saya tabur.

(Baca juga: DUA KEUNTUNGAN MENJADI SEORANG PENABUR

Teman, bukankah TUHAN katakan kita akan menuai 30, 60, bahkan 100 kali lipat dari setiap benih yang kita tabur? Bukankah adalah investasi yang jauh lebih menjanjikan dari yang teman saya tawarkan? Karena keuntungannya 300%, 600%, bahkan 1000%, dengan tingkat risiko 0%. Jika demikian, kenapa kita tidak mulai berpikir seperti para petani, mengutamakan benih untuk ditabur, baru kemudian roti. (penulis: @mistermuryadi)

MEMBERIKAN YANG TERBAIK KEPADA SANG JURUSELAMAT

Bahan renungan:

Lukas 7:41-43 “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.”

Satu kali, ketika Yesus sedang bertamu di rumah seorang Farisi, seorang wanita yang terkenal sebagai pendosa datang menghampiri Yesus dan tidak henti-henti membasuh kaki YESUS dengan rambut dan minyak yang sangat mahal.

(Baca juga: BAGIAN ANDA PERCAYA, BUKAN MEMIKIRKAN CARANYA)

Apa penyebab wanita pendosa ini melakukan hal tersebut? Firman Tuhan katakan karena wanita ini menyadari bahwa dosanya yang besar telah diampuni dan dirinya sangat dikasihi.

Saya teringat sebuah kisah di mana Daud meminta air minum dari perigi Betlehem kepada triwiranya (2 Sam 23:15-16). Tanpa berlama-lama, ketiga pahlawan Daud ini menerobos perkemahan orang Filistin. Ya, hanya demi air minum. Menurut Anda, apa yang menggerakkan mereka? Bukan hanya karena perintah Daud semata, tetapi karena ketiga pahlawan ini menyadari bahwa dulu mereka adalah orang-orang buangan yang gagal di gua Adulam yang diselamatkan dan dilatih oleh Daud.

Teman, ternyata ada kaitan yang sangat erat antara rasa syukur kita dengan pemberian kita kepada TUHAN. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya ditebus, diselamatkan, diampuni, dan dikasihi, otomatis orang akan meluapkan syukurnya melalui pemberian. Semakin besar syukur kita akan kebaikan dan kemurahan TUHAN, semakin besar pula pemberian kita untuk TUHAN.

(Baca juga: TUHAN MEMBERKATI PEKERJAAN TANGAN ANDA)

Wanita pendosa di atas bukan hanya memberikan uang kepada YESUS, tetapi dia juga memberikan hidup dan masa depannya kepada YESUS. Bagaimana dengan Anda? (penulis: @mistermuryadi)

BAGIAN ANDA PERCAYA, BUKAN MEMIKIRKAN CARANYA

Bahan renungan:

Bilangan 14:11 TUHAN berfirman kepada Musa: “Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepadaKu, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka!”

Sejak zaman Perjanjian Lama sampai hari ini TUHAN tetap mengharapkan hal yang sama dari manusia, yaitu mempercayaiNYA. TUHAN ingin manusia, karena keinginannya, memberikan sepenuhnya kendali hidupnya kepada TUHAN.

(Baca juga: BAGI ANDA MUNGKIN MUSTAHIL, TAPI BAGI TUHAN TIDAK)

Dalam Keluaran 14:16 dengan jelas TUHAN memberikan perintah kepada Musa atau dengan kata lain, TUHAN ingin Musa mempercayaiNYA, “Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering.” Lalu di ayat 21 dikatakan, “Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu.”

Anda lihat, bagian Musa bukanlah memikirkan bagaimana cara membelah lautan. Tentu saja Musa, si penggembala kambing domba ini, tidak mengerti cara membelah lautan. Bagian Musa adalah percaya kepada apa yang TUHAN katakan, dan membelah lautan adalah bagian TUHAN, sehingga seluruh Bangsa Israel berjalan di tanah yang kering.

Saya yakin kalau Musa yang memikirkan cara menyelamatkan Bangsa Israel hari itu, dia akan berpikir dapat selamat saja sudah bagus, tidak masalah tanahnya basah atau tidak masalah ada 1000-2000 orang yang menjadi korban, yang penting sebagian besar dapat diselamatkan dari kejaran tentara Firaun.

(Baca juga: MENGAPA TUHAN INGIN KITA KAYA DENGAN CARA MENABUR?)

Teman, bagian kita adalah percaya kepada TUHAN. Percayakan masalah, kekuatiran, dan ketakutan Anda kepada TUHAN. Firman Tuhan katakan dalam 1 Petrus 5:7, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNYA, sebab Ia yang memelihara kamu.” Ketika kuatir melanda, seringkali kita memikirkan bagaimana caranya supaya selamat, teman, serahkanlah semua itu kepada TUHAN. Bagian kita adalah percaya kepada TUHAN dan percaya kepada caranya TUHAN! (penulis: @mistermuryadi)

BAGI ANDA MUNGKIN MUSTAHIL, TAPI BAGI TUHAN TIDAK

Bahan renungan:

Mazmur 136:13 Kepada Dia yang membelah Laut Teberau menjadi dua belahan; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNYA.

Siapa di antara kita yang dapat membelah laut atau berani melawan raksasa? Tentu saja tidak ada. Anda pasti tahu bahwa bukan Musa yang membelah Laut Merah dan tentu Anda juga tahu bahwa bukan Daud yang mengalahkan Goliat, melainkan TUHAN semesta alam.

(Baca juga: INI CARA MEMBEDAKAN KASIH YANG BENAR DAN PALSU)

Jika di dalam hidup Anda, ada begitu banyak hal yang Anda anggap mustahil, bahkan untuk memikirkan kemungkinan berhasil pun Anda tidak berani. Teman, hari ini saya ada kabar gembira untuk Anda.

Saya percaya Musa dan Daud pun tidak pernah terpikir untuk melakukan perkara-perkara yang luar biasa itu seorang diri. Pada hari itu, di zaman mereka masing-masing, keduanya diperhadapkan oleh masalah yang secara mata jasmani mustahil untuk dilewati. Musa terjepit di antara Laut Merah dan tentara Mesir bersama dua juta orang Israel, dan Daud yang masih remaja ditantang oleh raksasa yang sejak kecil sudah terlatih berperang.

Bagi Musa, sungguh mustahil untuk dapat lolos dari kejaran tentara Firaun hari itu, begitu juga Daud, sungguh mustahil dia dapat bertahan hidup di ronde pertama. Namun, satu hal yang membuat mereka sanggup melewati semua tantangan itu dengan tenang dan percaya diri adalah mereka berjalan bersama TUHAN.

Teman, Lukas 1:37 mengatakan, “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Hati saya bersukacita setiap kali membaca ayat ini. Namun, ketika membaca Markus 9:23 di mana YESUS berkata, “Tidak ada mustahil bagi orang yang percaya,” hati saya meluap-luap dalam kegirangan.

(Baca juga: TERBANG TINGGI DAN SEMAKIN TINGGI)

Kita perlu menyadari, bahwa ketika kita berjalan bersama dengan TUHAN, tidak ada hal yang mustahil atau terlalu sulit untuk kita hadapi. Bersama TUHAN, Anda dan saya adalah orang-orang yang dapat membelah lautan dan mengalahkan raksasa. (penulis: @mistermuryadi)

INI CARA MEMBEDAKAN KASIH YANG BENAR DAN PALSU

Bahan renungan:

1 Korintus 13:4-7 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kata “kasih” telah menjadi kabur dan mengalami penurunan makna di dunia yang kita tinggali hari ini. Banyak orang dibingungkan untuk menentukan mana definisi KASIH yang benar. Ada orang yang mengaburkan kata “kasih” sebagai napsu, sebagian lagi mengatakan kekerasan adalah kasih yang disahkan oleh kitab suci.

(Baca juga: TUHAN ADALAH “RUMAH” BAGI ORANG YANG MEMBUTUHKAN)

Untungnya kita memiliki Firman Tuhan, sehingga kita dapat mengenali mana kasih yang benar dan mana tipu muslihat iblis.

Firman Tuhan katakan kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita terhadap ketidakadilan, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Di luar hal-hal ini, saya sungguh meragukan bahwa hal tersebut adalah kasih.

(Baca juga: APA YANG MEMBUAT KITA LAYAK MASUK SORGA?)

Teman, hati-hati dengan orang-orang yang mengatasnamakan kasih dengan mengatakan, “Aku mengasihi kamu” atau “Aku mencintai kamu,” namun yang mereka lakukan atau ucapkan jauh dari apa yang Firman Tuhan jelaskan di atas. (penulis: @mistermuryadi)

TUHAN ADALAH “RUMAH” BAGI ORANG YANG MEMBUTUHKAN

Bahan renungan:

Mazmur 91:1-2 Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

Daud menyadari bahwa TUHAN bukanlah sekadar sebuah “tempat singgah”, melainkan “rumah” bagi hidupnya. Ketika dia dalam masalah, membuat masalah, atau dikejar-kejar, dia tahu ke mana dia harus pulang dan mencari perlindungan. Daud menyadari bahwa TUHAN tidak pernah membuang atau meninggalkannya sendirian. Ketika semua orang menolak, dia tahu SATU PRIBADI yang selalu setia kepadanya dan selalu ada baginya.

(Baca juga: DUA KEUNTUNGAN MENJADI SEORANG PENABUR)

Ketika mengalami hal-hal yang baik, Daud mengatakan, “Tinggikanlah diriMu mengatasi langit, ya Allah, dan biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi (Mazmur 108:5).” Ketika hal-hal buruk terjadi, Daud berkata, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi (Mazmur 121:1-2).”

Daud bukanlah orang yang sempurna. Daud berbuat dosa, kesalahan, pelanggaran, sama seperti Anda dan saya, namun Daud selalu menyadari, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya (Mazmur 73:26).”

(Baca juga: BERSYUKUR ADALAH OBAT PALING MUJARAB)

Dengan kata lain Daud mengatakan bahwa dia tidak sanggup jauh dari TUHAN yang merupakan sumber kehidupannya. Anda tahu, terhadap orang yang memiliki sikap hati seperti ini TUHAN mengatakan, “AKU berkenan … (1 Samuel 13:14).” (penulis: @mistermuryadi)

DUA KEUNTUNGAN MENJADI SEORANG PENABUR

Bahan renungan:

2 Korintus 9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

Saya akan tutup topik kita mengenai menabur dan menuai dengan renungan hari ini. Teman, ketika kita menabur, kitalah yang sesungguhnya diuntungkan. Saya percaya ketika TUHAN memerintahkan kita melakukan sesuatu, itu adalah untuk kebaikan kita.

(Baca juga: MENGAPA TUHAN INGIN KITA KAYA DENGAN CARA MENABUR?)

Sekali lagi, ayat di atas mengatakan, ketika kita menabur banyak, kita akan menuai banyak juga. Kata “banyak” dalam ayat ini ditulis dengan kata eulogia dalam bahasa Yunani, yang artinya adalah banyak, namun bukan hanya dalam hal material saja. Jika demikian, berarti tepat seperti yang kita pelajari seminggu ini, bahwa ketika menabur, kita bukan hanya mendapatkan tuaian saja, tetapi juga karakter yang seperti Kristus.

Kata eulogia sendiri memiliki arti: hati yang bersukacita; mulut penuh ucapan syukur, pujian, dan berkat; dan kehidupan yang bergantung kepada TUHAN.

Melakukan satu hal, namun mendapatkan banyak hal. Sungguh luar biasa bukan apa yang bisa Anda dapatkan dengan menjadi seorang penabur.

(Baca juga: SEBUAH HUKUM BERNAMA TABUR DAN TUAI)

Baiklah, suatu hari, saya percaya Anda akan menjadi orang-orang yang sukses dan tentu saja, kaya. Dan pada saat semua itu terjadi di dalam kehidupan Anda, saya sangat berharap Anda tetap berada di jalan TUHAN, menomorsatukan TUHAN, dan mengasihi TUHAN. (penulis: @mistermuryadi)