HARGA YANG LOT HARUS BAYAR KARENA KEPUTUSANNYA

2 Petrus 2:7-8 tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja. Sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa.

Lot kehilangan istrinya akibat Lot memutuskan untuk tinggal di kota Sodom, yang merupakan simbol dari penolakan kepada Tuhan. Jika Anda membaca Kejadian 13:11-12, awalnya Lot berkemah di dekat Sodom, tetapi selang beberapa waktu, di dalam Kejadian 14:12, Lot sudah berdiam di Sodom.

Kematian istri Lot bukanlah bentuk penghukuman Tuhan kepada Lot seperti yang kebanyakan orang beritakan, justru Tuhan berusaha menyelamatkan Lot, serta anak dan istrinya dari Sodom. Kematian istri Lot terjadi akibat keputusan Lot untuk tinggal berlama-lama di kota yang penduduknya menolak Tuhan dan menyambut dosa.

Yang menarik, Alkitab mengatakan bahwa Lot adalah orang benar. Seperti yang sering kita bahas bahwa kita dibenarkan karena iman kepada Yesus, bukan karena perbuatan atau usaha kita (Roma 3:28, Roma 4:6). Lot disebut orang benar karena dia percaya kepada Tuhan.

Hal kedua yang menarik mengenai kisah Lot. Sekalipun Lot disebut orang benar, atau dengan kata lain, orang yang percaya kepada Tuhan, Firman Tuhan mengatakan jiwanya yang benar itu tersiksa. Jiwa Lot tersiksa karena dia bergaul dengan orang-orang yang hidupnya menolak Tuhan, dan setiap hari yang Lot lihat dan dengar adalah hal-hal yang negatif dan buruk.

Teman, pergaulan yang salah dan informasi yang negatif akan membuat jiwa kita tersiksa jika kita tidak segera meninggalkannya. Sedangkan, kabar baik dan pergaulan yang benar mendatangkan damai sejahtera, sukacita, dan membangkitkan iman.

Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Harga yang Lot harus bayar akibat keputusannya yang keliru sangatlah mahal. Mari kita belajar dari Lot, sehingga kita tidak perlu melewati penderitaan atau siksaan yang Lot alami. (penulis: @mistermuryadi)

DENGARKAN SUARA TUHAN DI TENGAH KESUNYIAN

Terkadang saat kita mengalami kekecewaan, sakit hati, atau kepahitan, berdiam diri di dalam sepi dapat membuat kita semakin menderita karena kita terus menerus memikiran hal-hal yang menyakitkan itu. Itu sebabnya, banyak orang menyibukkan diri dengan kegiatan atau teman-teman. Saya dapat mengerti akan hal itu.

Namun, berdasarkan pengalaman pribadi, seringkali mengalihkan perhatian kepada aktivitas dan teman-teman pun tidak menyelesaikan masalah atau pergumulan kita. Hanya membuat kita merasa lebih baik sementara waktu, tetapi tidak benar-benar membuat rasa sakit itu hilang.

Jika Anda sedang mengalaminya hari ini, Anda bukanlah orang pertama. Ada banyak kisah di Alkitab yang menceritakan hal seperti itu. Ayub kehilangan semua anak-anaknya. Daud kehilangan anak pertamanya dan di lain waktu, dia dikejar-kejar hendak dibunuh oleh anaknya yang lain. Hagar yang diusir oleh sang majikan ketika sudah tidak diperlukan lagi. Elia yang lari bersembunyi ketakutan dari Izebel.

Namun, di tengah pergumulan, tokoh-tokoh di atas tidak mengalihkan diri ke hal-hal lain, melainkan berdiam diri dan berlari ke Tuhan. Mereka tahu bahwa Tuhan tidak berdiam diri. Tuhan berbicara kepada mereka di dalam kesunyian, kepedihan, dan kesakitan mereka.

Pada saat kita bergumul, mungkin kita berpikir bahwa berdiam diri di dalam sepi adalah sebuah siksaan. Namun, jika kita berdiam diri di dalam Tuhan, memuji menyembah-Nya, merenungkan Firman-Nya, justru di dalam kesunyian kita akan menemukan kekuatan baru. Kekuatan untuk menghadapi pergumulan kita. Kekuatan untuk menang. (penulis: @mistermuryadi)