DUA ALASAN MENGAPA KITA PERLU MERESPONS PANGGILAN TUHAN

Bahan renungan:

Kejadian 12:1-2 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Di dalam Alkitab, banyak sekali kisah yang menceritakan mengenai Tuhan memanggil seseorang untuk pergi ke sebuah tempat atau keluar dari zona nyaman mereka. Misalnya, Abraham dipanggil dari tanah kelahirannya ke Tanah Perjanjian, Musa dipanggil dari padang gurun kembali ke Mesir untuk membebaskan Bangsa Israel, Petrus dari penjala ikan dipanggil menjadi penjala manusia, Saulus dari penganiaya orang percaya menjadi rasul, dan masih banyak kisah lainnya.

(Baca juga: PUJI TUHAN, TUHAN TIDAK BEKERJA SESUAI CARA KITA)

Setidaknya ada dua alasan mengapa Tuhan melakukan hal tersebut.

1. Ada bahaya yang mengancam jika kita tidak segera bergerak. Tuhan adalah gembala yang senantiasa memastikan kita selalu dalam keadaan yang terpelihara dengan baik. Jika ada sesuatu yang akan membahayakan hidup kita, tentu saja Dia tidak akan berdiam diri. Dia akan bertindak, karena Dia ingin menjaga hidup kita.

Jika Tuhan tidak memanggil Abraham pergi dari tanah kelahirannya, kemungkinan besar sepanjang hidupnya Abraham akan menyembah berhala. Jika Tuhan tidak memanggil Musa meninggalkan pekerjaannya sebagai penggembala kambing domba di padang gurun, kemungkinan besar Musa akan mati tua dalam perasaan bersalah, gagal, dan kehilangan tujuan hidupnya.

2. Tuhan menyediakan sesuatu yang jauh lebih baik. Tuhan telah menetapkan setiap kita untuk menjadi kepala, bukan ekor. Tuhan ingin kehidupan orang percaya selalu naik, bukan turun. Namun, adalah keputusan kita untuk merespons atau tidak terhadap penyediaan Tuhan tersebut.

Jika Petrus tidak meninggalkan jalanya, mungkin seumur hidup Petrus akan menjala ikan dan menjalani hidup seperti kebanyakan orang, yaitu lahir, tumbuh, berkeluarga, dan meninggal. Jika Saulus tidak merespons panggilan Tuhan, mungkin hidup Saulus akan berakhir tanpa meninggalkan sesuatu yang berguna bagi orang lain dan Kerajaan Sorga.

Saya tidak hanya berbicara mengenai hal-hal eksternal yang lebih baik, tapi juga hal-hal internal yang jauh lebih baik, yaitu karakter, pikiran, dan kehendak kita. Misalnya, saat kita merespons terhadap panggilan Tuhan untuk mendoakan orang sakit atau melayani orang yang sedang depresi. Hal tersebut mengubah sesuatu yang ada di dalam kita. Tuhan mengubah pikiran kita yang egois jadi memikirkan orang lain.

(Baca juga: APAKAH SALAH JIKA KITA MENGHARAPKAN BERKAT DARI TUHAN?)

Saya percaya, setiap kita dipanggil Tuhan untuk sebuah tujuan yang luar biasa. Sebuah tujuan mulia yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Kita perlu merespons panggilan tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

TANTANG DIRI ANDA UNTUK LEBIH DALAM BERSAMA TUHAN

Bahan renungan:

2 Korintus 11:23a Apakah mereka pelayan Kristus? –aku berkata seperti orang gila– aku lebih lagi! 

Tidak tahu dengan Anda, tetapi tahun ini saya menantang diri saya untuk hal-hal yang besar, hal-hal yang saya anggap mustahil. Hal-hal besar yang saya maksud bukan hanya berbicara mengenai hal yang besar saja, tetapi juga mengenai menerobos zona-zona nyaman di dalam hidup saya.

(Baca juga: KEHIDUPAN YANG BURUK DAPAT MENJADI BERKAT)

Harus saya akui, masih banyak area ketakutan dan kekuatiran di dalam hidup saya. Namun, saya tidak mau berdiam diri dan pasrah terhadap hal itu. Tuhan janjikan saya, juga Anda, kehidupan yang luar biasa, yang bebas dari rasa takut dan kuatir, dan saya ingin menikmati kehidupan seperti itu.

Saya percaya Tuhan ciptakan kita untuk perkara-perkara ajaib dan Dia memanggil kita untuk memuliakan nama-Nya.

Mari, saya mengajak kita semua untuk menantang diri kita untuk selangkah, atau dua langkah, lebih maju tahun ini. Jika Anda belum pernah berdoa untuk orang yang sakit, lakukan. Jika Anda belum pernah membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, lakukan. Jika Anda belum pernah memberi persepuluhan secara rutin, lakukan. Jika Anda ingin membuat persekutuan di rumah, lakukan. Jika Anda belum memiliki waktu khusus untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan, buatlah waktu khusus. Intinya, lakukan sesuatu yang radikal bersama Tuhan tahun ini. Lakukan hal-hal yang di luar zona nyaman Anda. Buat terobosan terhadap hal-hal yang selama ini takut Anda lakukan.

Juga, jika Anda belum pernah memeluk kedua orangtua Anda atau mencium mereka, lakukan. Jika Anda belum pernah memakai warna baju yang cerah, lakukan. Jika Anda belum pernah memiliki potongan rambut tertentu dan Anda ingin mencobanya, lakukan.

(Baca juga: JAWABAN DOA ANDA SELALU “YA” DARI TUHAN)

Tantang diri Anda keluar dari zona nyaman. Jangan biarkan ketakutan dan kekuatiran membatasi jiwa dan pikiran Anda. Saya percaya Anda akan belajar sesuatu yang berharga pada saat Anda melakukannya.(penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

ADA SEBUAH TEMPAT BERNAMA “DI SANA”

Bahan renungan:

1 Raja-raja 17:3-4 “Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana.”

Ada sebuah tempat bernama “di sana”. Tempat yang subur dan terdapat mata air yang tidak pernah berhenti mengalir. Tempat yang menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan di dalam kehidupan kita. Tempat yang penuh kemenangan dan tanda-tanda ajaib.

(Baca juga: MELANGKAH KELUAR DARI KETAKUTAN DAN KEKUATIRAN KITA)

Agar dapat sampai ke sana, kita perlu melangkah. Kita perlu keluar dari zona nyaman kita, ke-aku-an kita, dan cara pikir kita. Kita perlu keluar dari perahu yang sebentar lagi penuh dengan air dan tenggelam, dan mulai memberanikan diri untuk melangkah di atas air.

Tempat tersebut adalah sebuah kondisi kita memercayai dan mengandalkan Yesus.

Seperti saya tuliskan kemarin. Nabi Elia pergi ke sebuah tempat bernama Sarfat. Si janda miskin yang hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak “melangkah pergi” dengan cara menyerahkan hal tersebut kepada Nabi Elia. Abraham pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Musa pergi meninggalkan Mesir sebagai pangeran dan kembali kemudian sebagai pembebas. Si janda miskin melangkah ke sebuah tempat bernama “di sana” dengan membeli dua peser ke peti persembahan, yaitu seluruh harta miliknya.

(Baca juga: TUHAN MENGUBAH HIDUP MANTAN PEDAGANG NARKOBA CILIK)

Yesus memerintahkan amanat agung dengan sebuah kata yang tegas, “Pergilah …” agar kita keluar dari zona nyaman, keterbatasan, cara hidup yang salah, ketakutan, dan kekuatiran kita, dan beralih kepada percaya dan mengandalkan Dia sepenuhnya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

ABRAHAM KELUAR DARI ZONA NYAMAN KE TEMPAT YANG LEBIH NYAMAN

Bahan renungan:

Kejadian 12:1-2 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”

Tuhan memanggil Abraham ke sebuah negeri yang sama sekali belum pernah dilihat ataupun didengar olehnya. Untuk meyakinkan Abraham, Tuhan menyertai Abraham dengan janji-janji yang luar biasa, yaitu menjadikannya bangsa yang besar, memberkatinya, membuat namanya masyhur, dan menjadi berkat untuk bangsa-bangsa. Tanpa ragu sedikitpun, Abraham percaya kepada Tuhan dan menaati perintah Tuhan itu.

(Baca juga: JANGAN HIDUP MENURUT CARA MANUSIA)

Abraham adalah contoh orang yang berani keluar dari zona nyaman. Abraham tidak mempertanyakan Tuhan. Abraham memilih untuk percaya kepada perintah Tuhan dan janji setia-Nya.

Teman, perlu kita mengerti bahwa ketika Tuhan memanggil kita untuk keluar dari zona nyaman kita, seperti pergi ke sebuah tempat, melakukan sesuatu, atau meninggalkan sesuatu, Dia menyertai kita dengan janji-janji yang luar biasa. Tuhan ingin membawa kita keluar dari zona nyaman ke tempat yang jauh lebih nyaman.

Zona nyaman adalah sebuah situasi di mana kita tidak lagi menghadapi tantangan, tidak lagi mengalami kegagalan, atau tidak lagi mengambil risiko. Atau dengan kata lain, zona nyaman adalah sebuah tempat di mana kita perlu tidak lagi bergantung kepada Tuhan sepenuhnya. Contohnya jika kita memberi persembahan dengan jumlah sama dari tahun ke tahun. Hal itu membuat kita tidak lagi bergantung kepada Tuhan. Sebaliknya, jika kita memberikan jumlah dua atau tiga kali lipat lebih besar, itu membuat kita kembali bergantung kepada Tuhan. Begitu juga halnya ketika kita memutuskan terlibat ke dalam sebuah pelayanan. Hidup dengan rutinitas sehari-hari selama bertahun-tahun membuat kita lupa bahwa kita memerlukan Tuhan. Namun ketika kita mulai terlibat ke dalam pelayanan di sela-sela rutinitas kita, kita kembali memerlukan Tuhan.

Abraham tahu pasti bahwa ketika dia meninggalkan tanah kelahirannya menuju tanah yang Tuhan yang janjikan akan muncul tantangan-tantangan baru, tetapi Abraham tidak gentar, karena dia tahu siapa yang memegang hidupnya dan kepada siapa dia berpegang. Abraham percaya bahwa jika Tuhan yang memerintahkannya melakukan sesuatu, hal tersebut pasti mendatangkan kebaikan bagi dirinya.

(Baca juga: TUHAN SUDAH MENENTUKAN TAKDIR DAN NASIB MANUSIA)

Teman, Tuhan yang sama memanggil kita untuk memberkati kita dan menjadikan kita berkat bagi banyak orang. Sama seperti Abraham, maukah kita keluar dari zona nyaman kita dan mempercayakan hidup kita kepada tuntunan dan janji setia Tuhan? (penulis: @mistermuryadi)

TAHUN 2016: AYO, MOVE ON!

Bahan renungan:

Kejadian 23:1-3a Sara hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara. Kemudian matilah Sara di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya. Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan isterinya yang mati itu.

Saya tidak bisa membayangkan betapa pedih hati Abraham, bapa bangsa-bangsa ini, ketika sang istri, Sarah, meninggal dunia. Setelah hidup bersama hampir seratus tahun, kini mereka harus berpisah selamanya. Banyak hal yang telah Abraham lewati bersama-sama dengan Sarah. Mulai dari menjual Sarah sampai meniduri Hagar. Dan, yang paling luar biasa, Sarah tetap setia mendampingi Abraham sampai dia menutup mata.

Oh, saya bisa merasakan betapa sedih dan rindu bercampur menjadi satu di hati Abraham pada hari kematian Sarah. Namun Firman Tuhan katakan di ayat yang ke-3, “Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan istrinya yang telah meninggal itu.” Dalam bahasa moderennya, Abraham memutuskan untuk move on.

Teman, saya bisa mengerti banyak orang takut untuk meninggalkan zona nyaman atau masa lalunya. Di satu sisi, pikirannya ingin move on, tetapi di sisi lain, hatinya takut sesuatu yang ada di depan tidak sebaik dengan apa yang ada di belakang. Sebuah dilema yang sama yang dihadapi Abraham. Bisa saja setelah meratap dan menangis, Abraham patah semangat dan menghabiskan hari-harinya di dalam pengasihanan diri. Tetapi bukan itu yang Abraham lakukan, setelah meratap dan menangis, dia move on.

Saya teringat sebuah kalimat dari Joel Osteen, “Anda harus membuat keputusan bahwa Anda akan move on. Hal tersebut tidak terjadi otomatis. Anda perlu bangkit dan berkata, “Tidak peduli seberapa beratnya hal ini, tidak peduli seberapa dalam saya kecewa, saya tidak akan biarkan hal tersebut mengambil yang terbaik dari hidup saya. Saya akan melanjutkan hidup saya.””

Satu kebenaran sederhana tentang masa lalu: tidak peduli seberapa keras Anda menangis atau seberapa lama Anda meratap, masa lalu Anda tidak akan berubah, malahan Anda akan mengorbankan masa depan Anda yang indah dan penuh dengan harapan. Teman, bahkan kehebatan dan kejayaan masa lalu Anda tidak sebanding dengan masa depan yang telah Tuhan sediakan bagi Anda. Berhenti menengok ke belakang, arahkan pandangan Anda ke depan. (penulis: @mistermuryadi)

KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Bahan renungan:

Lukas 5:4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”

Tuhan sangat ingin memberkati Petrus dan juga Anda. Itu sebabnya YESUS meminta Petrus, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu.” Di tempat yang dalam itu Petrus menemukan banyak sekali ikan yang tidak akan pernah dia temukan di sekitar tepi pantai. Bertolak ke tempat yang lebih dalam artinya Anda perlu meninggalkan zona nyaman Anda di tepi pantai.

Teman, Tuhan ingin Anda keluar dari zona nyaman dan mulai melangkah dengan iman yang DIA taruhkan di hati Anda. Keluar dari zona nyaman tidak selalu berarti melakukan perkara yang rumit. Bisa jadi itu hanyalah sesuatu yang sederhana, seperti rutin datang ke persekutuan, memutuskan terlibat di dalam pelayanan, ikut bimbingan pra-nikah, memulai bisnis sendiri, atau mungkin jujur terhadap sebuah masalah ke pembimbing rohani di gereja.

Selain mengatakan, “Bertolaklah ke tempat yang dalam,” Yesus juga mengatakan, “tebarkanlah jalamu.” Dalam terjemahan bahasa Inggris, kata “jala” dalam ayat ini ditulis dalam bentuk jamak. Teman, TUHAN ingin memberikan sesuatu kepada Anda lebih dari yang Anda butuhkan. RencanaNYA di dalam hidup Anda lebih besar dari semua yang pernah Anda rencanakan.

Maukah Anda seperti Petrus yang mendengarkan suara YESUS untuk keluar dari zona nyamannya? Mungkin secara logika, tidak ada kepastian ketika kita melangkah keluar dari zona nyaman, namun di sana ada YESUS yang berjalan bersama kita. YESUS adalah jaminan yang lebih dari cukup untuk memastikan bahwa ketika kita melangkah kita pasti berhasil. (penulis: @mistermuryadi)