TUHAN MENGUBAH HIDUP MANTAN PEDAGANG NARKOBA CILIK

Pencariannya terhadap kebaikan Tuhan belum berakhir karena kasih-Nya selalu baru tiap hari. Namun, pencariannya akan “siapa Tuhan” menemukan titik terang saat hidupnya ada di cabang jalan: antara hidup atau mati.

Akrab Narkoba
Namanya Sambang Satria (Instagram @satriasambang). Akrabnya, Sam. Teman-teman di gerejanya yang lebih junior memanggilnya Bang Sam. Sambang tidak tahu asal usul namanya. Saya mencari tahu sendiri lewat internet, dan muncul definisi yang menarik. Arti nama Sambang adalah kunjungan atau berjaga. Untuk nama keduanya, saya rasa semua orang Indonesia mengenal baik artinya: pahlawan. Singkat kata, Sambang Satria adalah sebuah nama yang gagah.

Namun, 10 tahun lalu dan jauh sebelumnya, Sam hanyalah seorang bulan-bulanan kehidupan. Dari pasangan junkies, 16 Desember 1992, Sam lahir dengan bawaan kelainan fisik yang cukup serius: katup jantungnya tidak menutup buka sempurna. “Awalnya, ayah saya bukan seorang ‘pemakai’. Ibulah yang drug addict. Ayah punya pekerjaan yang bagus waktu itu, tapi mereka kemudian pisah. Kakak ikut ibu yang kuliah lagi di Jakarta, saya dibawa ke Bali, lalu Malang. Itu terjadi waktu saya baru berusia dua tahun,” Sam mengenang masa kecilnya dengan mata yang menerawang. Tidak ada raut duka di wajahnya. Sesekali ia membuang pandangannya ke samping. Mungkin, di situ dia menaruh masa lalunya.

Sam melanjutkan kisah masa kecilnya, “Awalnya ayah menyambi jadi pengedar. Mungkin karena uang yang didapat cepat dan besar, akhirnya dia full-time di situ. Ayah tahu banget seluk beluk mendapatkan drugs, karena kan dia tahu gimana ibu mendapatkannya. Tapi seperti pepatah bilang, Menepuk Air di Dulang, Terpecik Muka Sendiri, ayah akhirnya ‘make’ juga. Tumbuh bersama pemakai dan pengedar membuat saya akrab dengan dunia tersebut sedari kecil. Kalau boleh dibilang, di usia sekecil itu, sadar atau enggak, saya sudah menjadi membantu ayah menjualkan. Ada yang ditaruh di kantong baju saya lah, tas saya lah, pokoknya, saya kerap ikut ayah melakukan ‘transaksi’.

Di usia tujuh tahun, ibu meninggal dunia karena komplikasi penyakitnya dengan overdosis drugs yang dipakainya. Karena sudah berpisah cukup lama dengan beliau, saya sama sekali enggak merasa sedih atau gimana gitu melihat ibu terakhir kali. Yang saya mengerti dan sadar di usia itu adalah saya sudah tidak punya ibu. Ibu meninggal. Tapi belum ada perasaan kehilangan atau apalah. Pulang menguburkan ibu, saya ikut balik ke Malang bareng ayah, melanjutkan hidup. Jualan narkoba.”

Narkoba menjadi penulis hidup Sam kecil. Sewaktu ayahnya masuk penjara, bukannya was-was atau berhenti, Sam menjadi kurir narkoba dan membawanya ke penjara. Di balik jeruji besi, roda bisnis narkoba ayahnya terus berputar, meski lambat, berkat Sam. Sam kecil bangga karena dia sudah membantu ayahnya. Di luar, Sam yang baru duduk di bangku kelas lima SD bekerja sebagai pencuci piring dengan upah yang cukup memberi makan. Sedangkan untuk tidur, ia berganti-ganti rumah rumah teman ayahnya. Kehidupan bagai nomad ini jelas tidak berdampak positif bagi prestasi akademik Sam. “Yah, asal bisa sekolah waktu itu,” ceplos Sam polos. “Tapi saya merasa yakin waktu itu, kalau kehidupan saya tidak akan sesulit ini,” nada suaranya terdengar mantap.

Yatim Piatu
Ayahnya keluar penjara saat Sam masuk SMP. Berbekal uang tabungan hasil bisnis narkoba, sang ayah membawa Sam hijrah ke Jakarta dan membuka bengkel motor kecil di bilangan Ciputat. Karena tempatnya tidak memadai bagi anak yang masih sekolah, Sam pun dititipkan di rumah eyangnya di Kebayoran Lama. Mondar-mandir Sam bertanya kapan ia bisa tinggal bersama ayahnya yang tidak lagi berdagang narkoba. Keinginan remaja tanggung untuk bersama ayahnya ini rupaya tinggal impian. Menginjak kelas dua SMP, ayah Sam juga berpulang. Wajah Sam adalah wajah yang terakhir dilihatnya. Ayah Sam dikuburkan di Malang, dan sekembalinya dari Malang, Sam menjajal bisnis narkoba. Jaringan dan kenalan ayahnya ditelusurinya. Trik dan strategi berbisnis barang haram ini telah dipelajarinya dengan baik. Hasilnya, tak sekalipun Sam tertangkap. “Saya hanyalah anak yang biasa-biasa saja di sekolah. Prestasi tidak menonjol, tidak juga nakal. Yah, ini menjadi strategi saya supaya tidak menarik perhatian guru,” kenang Sam sambil tertawa.

Berbisnis narkoba di usia remaja tentu memberinya uang yang tak sedikit. Hidup tanpa ayah dan ibu, terlebih mampu membeli apa saja yang dia inginkan, membuat Sam melakukan apa saja yang terlarang. “Semuanya saya lakukan karena saya bisa beli. Saya bahkan bisa memegang seorang “pentolan” sekolah, kakak kelas saya, yang saya ajak pesta drugs sepulang sekolah,” kenangnya dengan senyum hambar. “Terus terang saja, pengharapan saya untuk menjadi orang yang baik hilang. Ya sudahlah, saya pikir waktu itu, begini saja. Mau berhenti tentu saja sulit karena ini adalah bisnis yang enak. Lagipula, saya tidak pernah tertangkap karena saya benar-benar main aman,” tambahnya.

Mengenal Yesus
Di kelas dua SMA, Sam diajak teman sekelasnya untuk ikut persekutuan rumah. “Padahal, saya ini muslim. Dia juga tahu saya muslim. Hehehehe. Tapi, saya coba sajalah. Entah apa yang menggerakkan saya untuk ikut, tapi saya ikut saja. Mungkin karena dia teman baik saya. Di sana, pembicaranya mengatakan bahwa Tuhan Yesus itu nyata, Dia mau membuat hidup saya berubah menjadi baik. Kata-kata itu terngiang terus di kepala saya, bahkan ketika saya sudah pulang ke rumah.

Kebetulan eyang saya orang Kristen, cuma memang jarang sekali memengaruhi saya untuk masuk Kristen. Mungkin dia “nyerah” dengan saya yang nakal ini. Saya berdoa secara Kristen malam itu, dan ada sensasi supranatural. Yang saya rasakan. Saya ketagihan berdoa. Minggu depannya, saya ikut persekutuan lagi, dan lagi, lagi… sampai saya memutuskan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Saya menyadari betapa hebatnya Yesus. Saat saya mengenal-Nya, saya ini penyakitan berat. Bahkan, di retret pertama, para panitia sibuk mencarikan blender buat saya, karena saya hanya bisa makan makanan halus. Hahaha. Namun berangsur-angsur, semakin saya fokus pada Yesus dan mulai ikut pelayanan, saya tidak lagi merasakan penyakit saya ada. Tahu-tahu, saya sudah bisa makanan keras. Saya sehat. Itu baru dari kesehatan.

Di studi, saya yang tidak pernah belajar tentu memiliki nilai-nilai akademis yang tidak membanggakan. Namun, lagi-lagi, secara ajaib, Yesus membuat saya menjadi penerima beasiswa dari Universitas Trisakti jurusan Akutansi. Padahal semua nilai saya yang diperlukan untuk menerima beasiswa itu tidak memenuhi syarat. Sekolah saya saja sudah menolak aplikasi saya dan mengembalikannya ke saya. Namun, entah kenapa, ada bisikan dalam hati saya untuk tetap mengirimkannya. Saya mengikuti bisikan tersebut dan seminggu kemudian, saya menerima surat dari kampus Trisakti yang sudah terbuka. Saya baca sepintas saja dan merasa tidak diterima. Tapi mbah saya malah mengucapkan selamat. Saya buru-buru membaca kembali surat tersebut dan betapa saya ingin berteriak penuh kemenangan karena saya memang diterima!

Kejaiban-keajaiban terus mengikuti saya. Saya lupa terakhir kapan jualan drugs. Yang pasti, saya yakin Yesus sudah berbicara kepada saya sejak saya masih kecil. Yesuslah yang menaruh harapan ‘bahwa masa depan saya pasti baik. Saya akan menjadi orang baik’ waktu saya masih mencuci piring di warung untuk mengisi perut seadanya.

Kini, saya adalah salah seorang mentor, pemimpin, dan pembimbing rohani di gereja. Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan memiliki bisnis sablon yang sangat lumayan, dan yang pasti, saya punya masa depan yang indah. (penulis: @dollymuryadi)

SAYA SEMBUH DARI ALOPECIA AREATA!

Sekitar satu tahun lalu, tahun 2011, ketika saya pulang dari tempat gunting rambut dekat rumah, ada sesuatu yang aneh di bagian kepala saya tepat di atas telinga sebelah kiri saya. Saya mengalami kebotakan. Saya baru tahu belakangan bahwa kebotakan yang saya derita itu bernama Alopecia Areata.

Di tengah kepanikan dan rasa malu, suatu siang, saya dihubungi oleh salah satu tempat treatment kepala untuk menikmati perawatan di tempatnya. Di tempat saya bekerja dulu, klien yang bekerjasama dengan kantor saya suka mengundang untuk menikmati produknya dan kebetulan sekali saat itu adalah treatment kepala. Saya pikir ini pasti jawaban Tuhan. Lewat cara inilah Dia ingin menyembuhkan saya.

Tibalah saya di tempat perawatan tersebut, didampingi oleh istri saya. Perawatan tersebut berlangsung selama 60 menit. Ketika seorang terapis mendatangi saya dan kemudian mulai memberikan perawatan di kepala saya, saya menceritakan mengenai apa yang terjadi dengan rambut saya. Terapis itu menjelaskan bahwa saya menderita Alopecia Areata, salah satu jenis kebotakan. Saya menanyakan kepadanya mengenai kemungkinan untuk sembuh dan terapis tersebut mengatakan dia tidak dapat menjamin hal tersebut. Dia memiliki pasien yang mengalami hal serupa selama empat tahun. Namun terapis tersebut mengatakan perawatan yang teratur dapat menghambat perambatannya. Harga treatment tersebut sekitar satu setengah juta rupiah per minggu.

Pulang dari tempat tersebut, saya bukan mendapat jawaban, malah sebaliknya, saya semakin merasa ketakutan. Saya mencari tahu di internet mengenai penyakit saya, dan berharap ada titik terang, tetapi semua berita yang saya baca sungguh membuat saya semakin takut, karena tidak ada orang yang pernah benar-benar sembuh dari penyakit itu. Saya juga teringat seorang teman di SMU pernah mengatakan bahwa di usia tua nanti rambut saya akan mengalami kebotakan, karena saya memiliki model kepala dan rambut seperti ayahnya.

Pikiran negatif semakin mendesak saya sampai membuat saya membayangkan bahwa diri saya akan botak. Bahkan, saya mulai membayangkan teman-teman, istri, orangtua, dan orang-orang yang kenal menertawakan saya.

Di tengah ketakutan itu, saya mulai menggunakan obat-obatan yang dapat membantu saya menumbuhkan rambut. Bahkan, saya menggunakan penumbuh alis milik istri saya.

Hal yang paling saya takutkan adalah ketika tiba waktunya menggunting rambut. Saya berpindah dari satu tempat guntung rambut ke tempat gunting rambut lainnya untuk menemukan tukang gunting rambut yang dapat mencukur dengan baik dan menutupi kebotakan saya itu. Saya pernah dua kali menggunting rambut dalam sehari.

Saya hidup di dalam ketakutan, kekuatiran, dan ketidakpercayaan yang amat sangat selama 7-8 bulan. Sementara, saya masih terus melayani Tuhan, mendoakan mereka yang sakit, menguatkan mereka yang lemah, tetapi saya sendiri tidak berdaya terhadap penyakit. Betapa ironis.

Suatu ketika, saat saya sedang berdiam diri, ada suara di dalam benak saya mengatakan, “Mengapa kamu tidak percaya dengan kata-kata yang kamu ucapkan untuk orang lain?” “Kamu menyembuhkan orang sakit, mendoakan mereka yang berbeban berat, tapi mengapa kamu tidak percaya kalau Firman itu dapat menyembuhkan dan memulihkan kamu?” Saya termenung sejenak, saya tahu Roh Kudus sedang berbicara di dalam hati saya, dan tubuh saya menunggu apa yang ingin diputuskan oleh pikiran saya, apakah saya akan percaya atau saya akan mengabaikan kata-kata itu dan memilih tetap hidup dalam ketakutan dan kekuatiran.

Saya memutuskan untuk percaya. Saya tersadar mengapa selama ini saya memikirkan hal-hal yang negatif, mengapa saya mengumpulkan hal-hal yang buruk di kepala saya, dan bukan justru berpegang kepada janji Firman Tuhan. Malam itu, saya mengatakan kepada istri saya bahwa saya yakin saya sudah sembuh dan hal tersebut akan menjadi kesaksian bagi banyak orang.

Saya katakan dengan suara lantang bahwa saya yakin rambut tersebut pasti tumbuh. Kemudian, saya mengambil kamera saku saya dan mulai memotret bagian kepala yang botak. Saya ingin pada saat bersaksi nanti, saya memiliki bukti nyata.

Malam itu juga saya buang semua obat-obatan, dan saya putuskan untuk percaya kepada apa yang Yesus sudah lakukan 2000 tahun lalu, bahwa bilur-bilur darah-Nya sudah menyembuhkan saya. Saya katakan penyakit ini akan pergi bukan dengan obat, tapi dengan nama Tuhan Yesus.

Hampir setiap hari yang saya lakukan hanyalah melawan hal-hal negatif yang selama ini tertanam di pikiran saya dengan menggunakan Firman Tuhan. Saya mulai melawan kata-kata teman saya di SMU yang mengatakan saya akan botak, saya melawan artikel-artikel medis yang telah saya baca yang mengatakan jenis kebotakan saya ini tidak dapat disembuhkan, saya lawan semua itu dengan mengucapkan janji Tuhan.

Setiap kali saya mandi, saya selalu tunjuk bagian kepala saya yang botak itu sambil mengatakan, “Hai rambut, saya tidak meminta kamu untuk tumbuh, tapi saya perintahkan kamu untuk tumbuh di dalam nama Yesus.” Di lain kesempatan saya mengatakan, “Hai kebotakan, kepala saya adalah tempat Firman Tuhan yang hidup, kamu tidak dapat tinggal di situ, saya usir kamu dalam nama Yesus,” dan kata-kata iman lainnya yang hampir setiap hari saya ucapkan.

Sebulan setelah saya mengucapkan janji Tuhan dan mengusir sakit penyakit tersebut, Anda tahu, rambut saya tetap belum tumbuh, tapi lucunya di hati saya, saya sangat yakin bahwa saya sudah sembuh. Saya tidak lagi merasa bahwa saya sedang sakit, saya tidak ketakutan, ataupun kuatir bahwa penyakit ini tidak akan disembuhkan. Saya percaya tubuh saya sudah sembuh.

Yang sebelumnya pikiran saya hanya berisi ketakutan, kekuatiran, bahkan saya dapat melihat kepala saya botak dan banyak orang menertawakan saya, itu hilang! Pikiran dan imajinasi negatif itu hilang. Sebaliknya, saya mulai bisa mengimajinasikan rambut saya mulai tumbuh, saya mulai bisa melihat di pikiran saya bahwa saya sedang berdiri di depan banyak orang dan rambut saya kembali normal, bahkan saya melihat bahwa rambut saya bisa digunting 1 cm lagi dan kebotakan itu hilang. Saya melihat kesembuhan sudah terjadi di pikiran saya, di imajinasi saya, bahkan di dalam mimpi saya, meskipun pada kenyataannya, mata jasmani saya masih melihat rambut saya belum tumbuh.

Selang dua bulan sejak saya memutuskan untuk percaya janji Tuhan mengenai kesembuhan, tiba-tiba suatu pagi istri saya membangunkan saya dan berteriak, “Zaldy, lihat kepala kamu tumbuh rambut-rambut halus.” Saya spontan bangun dan berkaca, dan saya melihat rambut-rambut halus itu tumbuh. Bagian botak yang sebelumnya licin, kini mulai terlihat pori-porinya. Saya sangat bersukacita!

Setiap mandi saya terus mengatakan kepada penyakit itu, “Tuh ‘kan, saya sudah katakan kamu tidak dapat berlama-lama di situ.” Saya bersorak, bergirang, dan melompat. Sungguh saya bersukacita, tetapi saya tidak terkejut, karena saya tahu kesembuhan pasti terjadi. Saya sudah melihat diri saya sembuh jauh sebelum itu terjadi. Saya bersukacita dan bersyukur kepada Yesus yang telah menyelesaikan semua sakit penyakit saya di atas kayu salib 2000 tahun yang lalu. Kesembuhkan ini sama sekali bukan usaha saya, melainkan karena apa yang telah Yesus lakukan buat setiap kita yang percaya akan nama-Nya.

Sekarang saya sudah sembuh. Rambut saya sudah tumbuh normal seperti sedia kala. Saya sudah kembali menggunting rambut saya 1 cm, model cepak tentara. Hahaha. HALELUYA! 

Teman, ketika kita mengalami masalah, jangan pernah biarkan iblis mengambil janji Tuhan dari hidup kita. Jangan biarkan iblis menyisipkan pikiran-pikiran negatif yang membuat kita semakin ketakutan dan kuatir. Saat kita berpegang pada kebenaran Firman Tuhan dan tinggal di dalam Yesus, kita berdiri di atas kemustahilan dan ketidakmungkinan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.